Kenapa ada orang yang menyukai senja? Dan kenapa aku membencinya?
Cahaya orange yang berada di timur memberikan kehangatan dan keromantisan pada hidup, itu hanya berlaku bagi mereka yang menyukainya bukan?
Aku bersyukur ini bulan Desember yang diselimuti awan hitam saat senja. Bagiku warna keabu-abuan yang menyelimuti langit membuat dunia dipenuhi kesuraman, kegelisahan, dan putus asa, itu menggambarkan hati manusia sesungguhnya.
Tatapanku beralih pada cangkir teh dengan tatakan keramik berwarna hitam, aromanya tercium dengan cuping hidung. Harum dan menghangatkan. Sayang, itu hanya sebentar. Karena tidak ada yang abadi didunia ini.
Kekosongan
Kehampaan
Dan kesedihan
Mereka selalu menemani lamunanku.
Sayup-sayup rengekan kecil menyentuh telingaku. Suaranya nyaris tidak terdengar namun benar-benar memekakkan telinga. Aku beranjak dari kursiku dan menghampirinya. Dia menangis, kemudian aku menatapnya, ku sentuh pipinya yang halus, kemudian tangisannya mengencang. Untuk berkata-kata pun rasanya suaraku terikat aku tidak mampu. Aku tidak sanggup.
'Diam mawar kecil'
Ucapanku mungkin sampai pada hatinya, Bayi itu langsung terdiam dan menatapku yang masih terpaku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Melihat senyumannya rasanya menyakitkan.
"JANGAN MENGEJEKKU!" aku berteriak padanya tanpa sadar. Jeritannya yang keras menyadarkanku. Tangisannya semakin keras begitupun tangisku.
"Diam, jangan membuat hidupku sulit. Kumohon diamlah!" Aku berbisik pada telinga bayi kecilku.
Kupangku bayi itu dengan sayang, ku ciumi wajahnya, hidungnya, dan matanya yang indah. Air mataku berjatuhan pada pipinya yang lembut kemudian dia tertidur dalam pangkuanku. Aku masih terisak dalam kesuraman hidup. Rasanya aku memilih mati daripada harus menerima ini.