Marah kesal dan benci berbaur menjadi satu di pikiran Ilham. Kepada siapa lagi semua rasa itu kalau bukan kepada bapaknya yang menjadi salah satu dari b******n yang membuat Dela mengalami trauma.
Tangan Ilham mengepal, mengumpulkan emosinya di sana, ia menggebrak meja dan nyaris melemparkan semua benda yang ada di sana. Tapi aksinya terhenti sebab mendengar mendengar tarikan nafas di belakangnya. “Ibu.” Ia segera membopong ibunya yang sudah lemah dan terus menekan dadanya sakit.
Ilham segera membawa Bu Ningsih ke kamarnya dan merebahkannya di kasur. Bu Ningsih tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat Ilham dan menatap wajah putranya sambil menangis tersedu-sedu, air matanya terus mengalir sementara tangannya terus mengepal dan menekan dadanya.
Ilham juga sangat sedih dengan kenyataan ya