Dela sudah terisak mendengar cerita Artea, meski ia diam saja, dan terus melamun. Namu pendengarannya sangat jelas dengan cerita kisah hidup Areta.
Sementara Areta, tak sadar kalau orang yang ia ajak bicara tengah mendengarkan dan sudah menangis, karena Aretapun demikian, bercerita sembari menitikkan air mata mengingat masa lalunya.
“Gue masih punya mamah, yang juga butuh kekuatan dari gue, gue masih ada Didi dan abang-abang gue. Sejak itu gue mau untuk belajar menyembuhkan rasa sakit itu, meski secara perlahan. Karena gue ingin keluar dari luka Del, gue brsunguh-sungguh mencoba dan terus mencoba, sampai akhir nya gue bisa nerima kenyataan. Bukan gue gak sayang sama ayah, tapi pasti ayah juga pengen liat gue gak kaya gitu terus, menutup diri dan larut dalam luka.” Areta merasa sakit jug