“Kalau Bapak?”Kali ini Ilham beralih menanyai bapaknya.
Lelaki berkumis itu menoleh sesaat tapi kemudian beralih melihat ke arah lain.
“Pak?” Ilham menunggu jawaban.
“Nggak kok, gak ada siapa-siapa di rumah, hanya keluarga kita, sama mbok dan sopir di depan.” Dan itu bukan Pak Rasyid yang menjawab, melainkan Bu Ningsih.
Sementara Pak Rasyid, otak ceteknya yang sejak tadi memilih jawaban yang tepat tapi tak kunjung dapat. Ia juga masih menetralkan kegelisahannya.
“Kenapa emangnya?” tanya Bu Ningsih lagi, penasaran.
Pak Rasyid membetulkan duduknya.
“Gak apa-apa, Bu, cuman nanya aja.” Ilham memilih untuk menutup mulut saja, dari pada harus panjang urusannya jika bercerita dengan kedua orang tuanya, apalagi Bu Ningsih yang selalu khawatir dan pasti akan terus selalu mewawancara Ilham