"Saat hadirnya tak perlu dipinta. Saat bantuannya selalu ada. Saat dia yang selalu menjaga dari kejauhan dengan ketulusan. Di sana lah cinta tulus itu ...."
***
Putri Fidelya Zianah Milatul Firdaus, seorang gadis yang kembali ke kota kelahiran setelah insiden yang menyisakannya seorang diri. Tanpa siapa pun lagi, Lya tumbuh dewasa menjadi pribadi yang kuat.
Dia bukan lagi pohon, melainkan sebuah bangunan yang kokoh. Karena itu, angin kencang tak akan mampu menggoyangkannya. Hanya yang tertentu dan pastinya spesial yang benar-benar bisa membuat bangunan itu goyang, atau bisa juga roboh seketika, angin p****g beliung misalnya.
Karena tahu dirinya bisa roboh, Lya berusaha untuk terus memperkukuh fondasi. Memaafkan orang-orang di masa lalu yang pernah mengkhianati memang sudah dilakukan, tetapi apa salah jika dia tidak melupakan hal tersebut?
Eza, pemuda itu berhasil membuat degupan jantung Lya berpompa lebih cepat dari biasanya. Karena cinta? Bukan, lebih ke rasa benci yang sangat mendalam.
"Eza!"
Lya terkejut begitu mendapati kepalanya berselimut jaket dengan sang mantan. Tidak! Bagaimana dengan kekasihnya? Lya gegas membuka jaket itu untuk melihat Iqbal. Namun, cahaya terang di sana mengingatkannya pada kecelakaan tempo silam.
Bruk!
Tubuhnya tak berdaya di pelukan seorang pemuda yang memakai masker. Lya digendong menjauhi kerumunan.
Bagian keamanan restoran pun sudah mengamankan beberapa pengunjung yang ricuh. Eza dan Iqbal disidang sang pemilik.
"Kenapa sampai buat pengunjung seperti tadi, sih?"
Wanita dengan setelan kemeja putih dan celana hitam itu berkacak pinggang. Di teman sang ponakan dengan laki-laki yang diketahuinya mempunyai misi untuk menyembuhkan orang yang disayang.
"Kalian harusnya ngga seserius itu."
"Biar lebih natural, Tan," jawab Eza sekenanya. Duduk di kursi sambil berpangku dagu.
"Kamu, ya ... plak!"
Tamparan dari adik ibunya itu mendarat di otot lengan, Eza mengaduh, tetapi jadi melirik Iqbal yang sejak tadi masih berdiam diri.
"Lo emosi, Bal?"
Iqbal mendecak. Berdiri dan siap meluapkan emosinya pada sebelah wajah Eza yang masih putih mulus. Gegas, Eza memundurkan kursi menjauh.
Menghela napas. Pemilik nama lengkap Baihaqi Iqbal Aditya itu menurunkan kepalan tangannya.
"Coba lo pikir, Za. Lya nolongin lo, yang berarti ... gue ngga tau lagi harus gimana, Za."
Bugh!
"Wow! ... kamu tahu berapa harga meja ini?" Amira si pemilik restoran itu menatap nanar benda persegi yang rusak sebagian itu.
"Akan saya ganti."
Eza terkekeh. Pandangan mengarah ke lantai, benar-benar tak menyangka Iqbal akan seemosi itu. Padahal ....
"Lo pikir masih ada gue di pikirannya? Lo salah, Bal."
Eza menyandarkan punggungnya ke kursi empuk itu. Helaan napas berat keluar dari bibirnya. Wajah dialihkan ke sembarang arah.
"Pas dia buka mata dan tau itu gue, dia langsung beralih dan cepat-cepat ke lo. Jadi, lo tau sendiri, lah."
"Gue kenal dia dari kecil, Za. Spontanitas yang dia miliki itu tindakan dari hati."
Gerakan Iqbal yang kembali mendekati Eza membuat Amira melangkah cepat menyusul. Karena itu, terlihat dirinya sebagai orang Bodoh.
"Tante tenang aja. Gue bakal tau kok, kalau dia mau nyerang," kata Eza menenangkan, lalu beralih menatap Iqbal. "Jadi menurut lo, gue masih ada harapan?"
Iqbal mengangkat kepalan tangannya kembali. Tertahan di udara.
"Mau gue buat bibir lo robek?"
Eza meraih tangan Iqbal dan menurunkan. "Santai," katanya, kembali terkekeh.
Tawa kecil dari mantan kekasih Lya itu membuat Iqbal makin panas. Walau mungkin bagi Eza hanya karena lucu saat dia cemburu, tetapi tidak begitu baginya. Iqbal dipenuhi amarah yang siap ditumpahkan pada samsak yang tergantung di pojok kamar.
"Masalah keributan kalian, saya sudah bereskan untuk tidak ada satu pun berita yang akan beredar. Bagaimana juga citra kalian itu sangat penting. Jangan sampai ada skandal."
Iqbal mengangguk, kemudian melenggang pergi keluar dari ruangan besar itu.
"Tan, apa gue boleh ngejar Putri lagi?" Eza berkata tanpa mengalihkan pandangan dari pintu yang baru saja ditutup Iqbal.
"Silakan saja."
Wajahnya beralih ke arah sang tante. Dengan lirikan tajam, dia bertanya, "Benar, Tan?"
"Bukannya memang tidak apa-apa selama belum ada ikatan pernikahan?"
Eza jadi mendecih. Tahu bagaimana kisah asmara Amira hingga menikahi pemuda yang dicintainya. Tantenya benar-benar nekat.
"Tante benar dan selalu benar, jadi ... gue ngga mau ikutin jejak Tante."
Si kerempeng ini berdiri. Membenarkan letak dasinya, lalu pergi mengikuti Iqbal. Tinggallah adik dari Ibu Eza itu, yang berakhir tertawa saat menyadari apa yang diucapkan sang keponakan.
"Ternyata dia sudah dewasa," monolognya.
Tangan lentik itu kemudian meraih ponsel disaku untuk menghubungi sekretarisnya. Meja yang dirusak Iqbal itu perlu diganti segera. Baru saja menyampaikan maksud, sang sekretaris mengatakan sudah ada barang yang sama diantar atas nama Iqbal.
"Baiklah, bereskan ruangan saya segera. Dan ingat tata letak tidak boleh berubah."
"Baik, Bu Bos."
Bip!
Ketukan pintu terdengar, langkah kaki membawanya ke benda persegi yang berdiri tegak di sana.
"Sore, Bu Bos. Sudah saya persiapkan semuanya."
"Baik. Terima kasih Maura." Amira melangkah pelan. Baru saja 2 langkahan, dia berbalik menolehkan wajah ke asistennya.
"Oh iya, Maura, bagaimana dengan jadwal saya?"
"Untuk sore ini tidak ada Bu Bos, malamnya ada dinner persahabatan dengan beberapa pemegang saham."
Amira mengangguk-angguk. Kata iya dikeluarkannya, lalu menyuruh Maura menghandle urusan di restoran itu. Kakinya kembali di bawa menuju sebuah ruangan. Ditempat itu, dia meminta dikirim rekaman CCTV saat kejadian Iqbal dan sang ponakan.
Keluar dari sana, Amira membuka tasnya mengambil kunci mobil. Tidak lama dari itu, pesanannya tiba. Email yang berisi salinan video kejadian terkirim ke ponselnya.
Begitu memperhatikan dengan saksama, wanita ini jadi membatu. Matanya membelalak tidak percaya. Kepala menggeleng beberapa kali. Kembali video itu diputarnya untuk memastikan.
"Beneran dia, ternyata." Tawa kecil menghiasi kata terakhirnya.
Menaruh kembali ponsel ke dalam tas, dia memilih melanjutkan langkah ke tempat di mana mobilnya diparkirkan.
Senyuman dan terkadang tawa kecil masih menghiasai bibir tipisnya. Tante Eza ini seolah tak menduga pada apa yang baru saja dia tonton.
"Kalau seperti ini, saingan kamu nggak main-main, Za. Berhubungan dengan keluarga mereka ... gadis mana saja kayaknya tak bisa menolak."
**
Sepulang dari rumah makan milik keluarga Eza, Iqbal langsung minta anter sopirnya ke rumah sakit. Tempat di mana Lya berada, Iqbal tidak boleh tidak menemaninya.
"Pak Rendi pulang aja. Sampai-in ke Mamah, tapi jangan ngagetin."
Pesan dari sang majikan diangguki lelaki bernama Rendi itu.
Tanpa berlama-lama, Iqbal bergegas membawa kedua kakinya memasuki pintu rumah sakit. Bau obat-obat sudah memasuki indra penciuman. Kakinya terus menyusuri koridor-koridor. Nama ruangan Lya berada sudah berada dalam genggamannya. Dan, dia juga menjadi hafal ruangan-ruangan rumah sakit itu karena dalam berapa bulan belakangan sering dikunjungi.
Saat hadir diri saja masih membuat orang yang dicinta terluka, lalu bagaimana jika tidak? Iqbal dilema harus dengan cara apa lagi menjaga Lya dari rasa trauma. Lagi dan lagi sakit gadis itu karenanya.
"Udah bangun, yah, sayangnya Iqbal."
Menutup pintu, didapati sang gadis sedang seorang diri sambil memegang ponselnya. Berjalan mendekati, Iqbal menggeleng dengan apa yang terlihat.
"Kamu itu masih butuh istirahat, Sayang."
"Sudah baikkan, kok," jawab Lya tanpa mengalihkan pandangannya.
Iqbal mengangguk saja. Mengambil ponsel dari tangan Lya, kemudian membiarkan dia yang menanggung beban benda persegi itu. Lya tersenyum tipis, pink pucat bibirnya membuat rasa sedih menyapa hati Iqbal.
"Sudah disuruh minum obat belum, Sayang?"
"Tadi udah, kok."
Lya tersenyum, perlahan meraih ponselnya dari tangan pemuda berambut pirang.
"Ada pemberitahuan di GC w******p, bentar doang, Bal," alibinya.
Lya sudah beralih kembali fokus pada layar ponsel. Tidak lama, pesan video masuk. Ditayangkannya adegan tabrak lari. Seketika sakit di kepala belakang menghampiri. Lya mendudukkan diri, mengaduh dan memegangi kepalanya.
"Bal ... Iqbal ...."
Gegas, pemuda yang saat ini berstatus kekasih itu memeluknya. Tombol merah di dekat brankar tak lupa Iqbal tekan. Tiap kali di posisi kesakitan, nama yang selalu disebutnya adalah Iqbal.
Potongan adegan tiga tahun silam dia dapatkan. Dalam tangisan dan ketakutan, Lya berakhir kembali tak sadarkan diri. Iqbal membawa tubuh gadis dalam pelukannya itu untuk direbahkan. Dokter datang setelahnya.
Selesai dengan pemeriksaan ulang, Dokter meminta Iqbal untuk membicarakan kesehatan Lya di ruangannya.
"Maaf, Kak. Karena Lya tidak ada yang menjaga, saya pilih untuk menjaga dia terlebih dahulu."
"Perawat kepercayaan saya yang akan menjaganya, bagaimana?"
Iqbal menimang, lalu memilih menyetujui. Lagi pula, Dokter Aiden adalah teman Rayan. Jika berani macam-macam, maka Iqbal dan Rayan tidak akan tinggal diam. Namun, begitu pintu dibuka tampaklah sang mamah dan sahabatnya. Iqbal menyapa, tidak lupa Rayan di sana.
"Apakah ada gejala serius? Apa akan jadi semakin bahaya untuk Lya?"
"Tante tenang dulu, ya. Mari kita bicarakan di ruangan saya."
Ketiga manusia itu berjalan menuju ruangan di mana mereka biasa berkonsultasi.
**
'VVIP' Tertulis di pintu depan tempat Lya berbaring. Gadis itu masih di alam bawah sadarnya saat seorang pemuda dan ibu rumah tangga menemani di sampingnya.
"Dia begitu cantik bukan?"
"Ya, karena itu aku jatuh cinta dan tak bisa berpaling darinya."
"Rayan sadarlah."
"Bun, apa pernah Rayan tidak sadarkan diri?"
"Sejak kamu memilih dia daripada Maura. Bunda hanya meyakini bahwa kamu selalu tidak sadar."
"Bunda berlebihan." Rayan mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Setetes cairan keluar dari matanya.