Laura tidak tidur semalaman.
Ia duduk di tepi ranjang sampai subuh, menatap koper yang masih belum sempat ia buka, pikirannya berputar pada kalimat terakhir ayahnya. Ini caranya Ayah menjagamu. Kalimat itu terlalu lembut untuk sesuatu yang terasa seperti hukuman.
Pukul sepuluh pagi, seorang staf mengetuk pintu kamarnya, mengabarkan bahwa Konrad menunggunya di ruang kerja. Laura turun dengan mata sembab yang sengaja tidak ia sembunyikan, biar saja ayahnya melihat betapa keputusan ini telah menghancurkannya.
Tapi yang menyambutnya di ruang kerja bukan hanya ayahnya.
Seorang pria berdiri di dekat jendela, membelakangi cahaya pagi yang menerobos masuk. Tinggi, sekitar seratus delapan puluh sentimeter lebih, dengan bahu yang tegap dan rahang yang tegas seolah dipahat dari batu. Kulitnya kuning langsat, sedikit kecoklatan tanda seseorang yang tidak asing dengan sinar matahari. Rambutnya hitam legam, dipotong rapi, wajahnya tipe tampan yang tegas dan matanya, Laura baru sadar ia menatap terlalu lama hitam pekat, tajam, tanpa satupun celah untuk ditebak.
Pria itu tidak tersenyum. Tidak juga membungkuk memberi salam seperti kebanyakan orang saat pertama kali bertemu calon mertua sekaligus calon istri. Ia hanya berdiri, tenang, seperti sudah terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha untuk itu.
"Laura," Konrad memulai, suaranya kembali datar seperti biasa. "Ini Aresh Reyvan Assa."
Nama itu menggantung di udara. Laura mengulanginya dalam hati Aresh mencoba mencocokkannya dengan sosok di depannya. Entah kenapa nama itu terasa terlalu sederhana untuk seseorang yang tatapannya saja sudah cukup membuat orang lain merasa sedang dinilai.
"Aresh," lanjut Konrad, "adalah orang yang akan mendampingi dan akan menjadi suamimu."
Aresh melangkah maju satu-dua langkah, cukup untuk berada dalam jarak sopan, tidak lebih. "Laura," katanya, singkat. Suaranya rendah, tenang, tanpa nada yang bisa Laura baca sebagai ramah atau tanda permusuhan. Hanya datar. Seolah menyebut namanya sama seperti menyebut nama proyek dalam rapat.
Laura menyilangkan tangan di depan d**a, menolak mengulurkan tangan untuk berjabat. "Jadi kau yang akan 'mendampingiku'." Ia sengaja menekankan kata itu dengan nada sinis. "Apa itu istilah halus untuk 'mengambil alih'?"
"Laura." Suara Konrad memperingatkan.
"Tidak apa," sela Aresh, tenang. Ia menatap Laura langsung, tidak berkedip, tidak juga tersinggung. "Kau boleh berpikir begitu. Aku tidak akan repot-repot meyakinkanmu."
Kalimat itu, begitu ringan diucapkan, begitu tidak peduli justru membuat Laura semakin geram. Ia terbiasa dengan orang-orang yang berusaha membujuknya, meluluhkannya, atau setidaknya berpura-pura peduli pada apa yang ia pikirkan. Pria ini bahkan tidak repot melakukan itu.
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku," kata Laura, "tapi kau sudah cukup percaya diri untuk menikahiku."
"Aku cukup tau." Aresh menjawab tanpa jeda, tanpa emosi yang naik sedikit pun di wajahnya. "Cukup untuk tahu bahwa ini bukan sesuatu yang ingin kau dengar hari ini."
"Lalu kenapa kau di sini?"
Untuk pertama kalinya, ada jeda sebelum Aresh menjawab singkat, hampir tidak kentara, tapi Laura menangkapnya. Sesuatu bergerak di balik mata hitam itu, lalu menghilang secepat ia muncul.
"Karena ayahmu memintaku," jawab Aresh akhirnya. "Dan karena aku setuju."
"Setuju." Laura tertawa kecil, getir. "Semudah itu? Kau setuju menikahi orang asing seolah menandatangani kontrak kerja?"
"Ya." Tidak ada keraguan dalam jawabannya. "Semudah itu."
Kalimat itu menohok lebih dari yang seharusnya. Laura merasakan sesuatu yang panas menjalar di dadanya bukan hanya amarah, tapi juga luka yang tidak ia mengerti kenapa bisa muncul untuk seseorang yang bahkan baru ia kenal lima menit.
"Bagus," katanya, suaranya tajam, "karena bagiku ini juga semudah itu. Aku tidak akan berpura-pura menerima ini, dan aku tidak akan membuatnya mudah untukmu."
Untuk pertama kali sejak masuk ruangan itu, sesuatu berubah di wajah Aresh bukan marah, bukan juga terluka. Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ia duga, dan justru merasa sedikit lega karena akhirnya diucapkan langsung.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku tidak mengharapkan lebih dari itu."
Konrad, yang sejak tadi hanya menyaksikan, akhirnya angkat bicara. "Pernikahan akan dilangsungkan dalam dua minggu. Persiapan akan segera diurus, kalian berdua tidak perlu memikirkan detailnya."
"Dua minggu?" Laura menoleh cepat ke arah ayahnya, suaranya kembali meninggi. "Ayah bahkan tidak memberiku waktu untuk…"
"Ini sudah diputuskan, Laura." Nada Konrad mengeras, mengakhiri perdebatan sebelum sempat dimulai.
Laura menatap ayahnya, lalu Aresh, lalu ayahnya lagi mencari satu saja celah, satu saja tanda bahwa keputusan ini masih bisa diubah. Tidak ada. Wajah kedua pria di hadapannya sama-sama tertutup rapat, seolah sudah sepakat jauh sebelum ia bahkan menginjakkan kaki di ruangan ini.
Ia menggigit dalam pipi bagian dalamnya, menahan diri agar tidak berteriak. Alih-alih, ia berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa berkata apa-apa lagi karena kalau ia bicara satu kata lagi, ia tidak yakin bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan dua orang itu.
Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, tidak menoleh ke belakang.
"Aku akan membuatmu menyesal setuju semudah itu," katanya, cukup pelan hingga hanya bisa didengar oleh dua orang di ruangan itu tapi cukup tajam untuk terdengar seperti sebuah janji, bukan ancaman kosong.
Ia tidak menunggu jawaban. Ia melangkah pergi, meninggalkan Aresh yang masih berdiri diam di dekat jendela, menatap punggungnya menghilang di balik pintu dengan ekspresi yang jika ada seseorang yang cukup dekat untuk melihatnya jauh lebih rumit daripada sekadar ketenangan yang ia tunjukkan sepanjang percakapan itu.