Laura menunggu sampai pagi berikutnya, ketika rumah kembali sepi dari tamu dan staf tambahan yang sejak dua hari lalu memenuhi setiap sudut. Ia menemui ayahnya di ruang kerjanya seperti biasa, ayahnya sudah rapi dengan setelan kerja meski belum ada jadwal keluar rumah pagi itu.
"Ayah punya waktu?" Laura berdiri di ambang pintu, tidak menunggu diundang masuk.
Konrad mengangkat pandangan dari berkas di mejanya. "Masuklah."
Laura duduk, kali ini dengan punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuannya, posisi yang selalu ia pakai saat ingin terlihat setenang mungkin, meski di dalam dadanya semalaman ini penuh dengan kalimat yang sudah ia susun ulang berkali-kali.
"Aku sudah pikirkan baik-baik," mulainya, "dan aku ingin mengajukan tawaran lain."
Konrad meletakkan pena di tangannya, memberi perhatian penuh satu kebiasaan yang selalu Laura hargai dari ayahnya, betapapun keras kepala pria itu, ia tidak pernah meremehkan Laura sampai tidak mau mendengarkan.
"Aku ingin Ayah memberiku kesempatan," lanjut Laura. "Bukan lewat pernikahan. Lewat posisi. Biarkan aku masuk ke perusahaan, belajar dari bawah kalau perlu, buktikan aku bisa memimpin ini tanpa harus menikah dengan orang yang bahkan baru kukenal kemarin."
Untuk sesaat, Konrad hanya menatapnya bukan menolak, bukan pula menyetujui, hanya menimbang.
"Kau pikir Ayah tidak pernah mempertimbangkan itu?"
"Kalau begitu kenapa tidak?"
Konrad menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Karena perusahaan sebesar ini Laura, tidak diwariskan lewat niat baik dan tekad semata. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami setiap sudutnya hukum, keuangan, negosiasi, politik internal yang bahkan Ayah sendiri masih belajar sampai sekarang. Kau baru dua puluh dua tahun."
"Umur bukan ukuran kemampuan," bantah Laura cepat. "Ayah sendiri yang selalu bilang begitu setiap kali aku ragu pada diriku sendiri sejak aku kecil."
"Ini berbeda."
"Kenapa berbeda?" Suara Laura mulai meninggi, kesabarannya yang semalaman ini ditata rapi mulai retak. "Karena sekarang taruhannya berbeda? atau karena sekarang ini bukan sekadar menyemangati anak kecil, tapi kalau benar begitu bukankah ayah sangat kejam?”
Konrad diam sejenak, matanya tidak lepas dari putrinya. "Kau belum siap."
Tiga kata itu jatuh seperti palu.
Laura merasa sesuatu di dalam dirinya membeku, lalu retak sepenuhnya. Bukan karena kata-kata itu terasa asing, ia sudah menduga sesuatu seperti ini akan keluar dari mulut ayahnya cepat atau lambat tapi karena mendengarnya diucapkan langsung, tanpa basa-basi, terasa jauh lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan.
"Belum siap," ulangnya pelan, nyaris berbisik. "Setelah bertahun-tahun aku duduk di setiap rapat yang Ayah izinkan aku hadiri. Setelah aku menghafal setiap detail bisnis ini sejak aku masih memakai seragam sekolah. Setelah aku…" Suaranya tercekat sebentar, lalu ia memaksakan diri melanjutkan, tidak mau berhenti di tengah kalimat seperti anak kecil yang kalah berdebat. "Setelah semua itu, jawaban Ayah tetap sama: aku belum siap."
"Laura, ini bukan soal meragukanmu…"
"Lalu soal apa?" potongnya, berdiri dari kursinya. "Karena dari sudut pandangku, Ayah baru saja bilang bahwa aku tidak cukup untuk memimpin bisnis keluargaku sendiri, tapi cukup untuk diserahkan pada orang asing yang bahkan Ayah temukan dari panti asuhan."
Sesuatu berubah di wajah Konrad mendengar kalimat terakhir itu cepat, nyaris tak kentara, tapi Laura yang sejak kecil terlatih membaca perubahan sekecil apapun di wajah ayahnya menangkapnya dengan jelas. Bukan marah. Lebih mirip terkejut, seolah Laura baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.
"Kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan," kata Konrad, suaranya lebih rendah dari biasanya.
"Kalau begitu jelaskan," tantang Laura. "Jelaskan kenapa Aresh. Kenapa bukan aku sendiri yang diberi kesempatan lebih dulu sebelum Ayah memutuskan menyerahkan segalanya pada orang lain."
Konrad membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ayahnya pria yang selalu memiliki jawaban untuk segalanya, yang tidak pernah terlihat kehabisan kata dalam rapat direksi paling sengit sekalipun tampak seperti sedang mencari kalimat yang aman untuk diucapkan.
"Waktunya belum tepat untuk menjelaskan semuanya," katanya akhirnya, pelan. "Tapi percayalah, Laura, keputusan ini bukan karena Ayah meragukan kemampuanmu."
"Lalu karena apa?"
Konrad tidak menjawab.
Diamnya itu lagi-lagi diam yang sama seperti dua malam sebelumnya, membuat sesuatu di dalam diri Laura semakin mengeras. Kalau dulu ia hanya curiga ada yang disembunyikan, sekarang ia yakin sepenuhnya.
"Baiklah," kata Laura akhirnya, suaranya kini dingin, jauh lebih dingin dari yang ia sadari bisa ia keluarkan pada ayahnya sendiri. "Ayah tidak mau menjelaskan. Tidak apa. Tapi jangan salahkan aku kalau aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenaran yang Ayah sembunyikan ini."
Ia berbalik dan melangkah keluar, tidak menunggu Konrad menjawab.
Di belakangnya, Konrad duduk diam lama sekali setelah pintu tertutup, tangannya mengepal di atas meja bukan karena marah pada putrinya, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu bagaimana caranya melindungi Laura tanpa harus menghancurkan gadis itu lebih dulu dengan kebenaran yang belum siap ia dengar.