Suara mesin mobil Pajero itu terdengar semakin jauh, lalu hilang sama sekali di ujung jalan desa. Rangga masih berdiri di halaman pesantren, menatap gerbang yang baru saja ditutup kembali oleh penjaga tua itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rangga merasa benar-benar ditinggal.
“Mas Rangga, mari saya antar ke kamar,” kata seorang santri berbadan kurus dengan sarung kotak-kotak yang dilipat rapi di pinggangnya.
Rangga menoleh malas. “Iya.”
Mereka berjalan menyusuri lorong yang lantainya masih plester kasar. Rangga menyeret kopernya, koper hitam bermerek yang jelas tidak cocok dengan lingkungan itu. Beberapa santri melirik, ada yang berbisik, ada pula yang langsung menyapa dengan ramah. Rangga hanya mengangguk seadanya.
“Nama saya Roni,” kata santri kurus itu sambil menunjuk sebuah ranjang besi di dekat jendela. “Mas Rangga di sini ya. Sebelah saya. Nanti kalo butuh apa-apa bilang aja.”
Rangga memandangi ranjang itu. Kasurnya tipis, mungkin setebal dua jari, dengan sprei bermotif bunga yang warnanya sudah memudar. Di sampingnya berdiri sebuah lemari kayu yang sepertinya baru, salah satu dari lemari sumbangan ayahnya sendiri.
Gila. Kasur gue di rumah aja lebih tebel dari ini, batin Rangga.
Malam itu Rangga tidak bisa tidur sama sekali.
Bukan hanya karena kasurnya yang keras, tapi juga karena semuanya terasa salah. Di rumahnya di Jakarta, kamar Rangga punya pendingin ruangan, pintu yang bisa dikunci, dan tidak ada satu pun orang yang boleh masuk tanpa mengetuk. Di sini, satu ruangan besar diisi puluhan orang. Ada yang mendengkur, ada yang mengigau, ada yang bangun tengah malam untuk sholat, ada pula yang berbisik-bisik sampai larut.
Rangga berguling ke kanan. Ranjang besinya berbunyi. Berguling ke kiri, berbunyi lagi. Semakin ia mencoba diam, semakin ia merasa gerah.
Akhirnya ia mengambil hp dari bawah bantal, menyelinap ke pojok ruangan yang paling gelap, lalu menelepon.
“Anjir, jam segini lo nelfon?” terdengar suara temannya di seberang, dengan suara musik yang menghentak di belakangnya.
“Berisik lo. Gue ngga bisa tidur,” bisik Rangga. “Serius deh, ini tempat kaya pengungsian. Tidurnya bareng-bareng, ngga ada pintu, ngga ada AC.”
“Ya udah, kabur aja.”
“Ngga bisa. Bokap gue nitipin ke Pak Kyai. Malu gue.”
“Lah, tumben lo mikirin malu.”
Rangga tidak menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok dingin sambil mendengarkan temannya bercerita tentang kegiatan mereka malam itu, tentang jalanan Jakarta yang basah, tentang segala hal yang sekarang jauh sekali dari tempatnya berdiri.
Baru saja ia hendak menutup telepon, terdengar bunyi dari salah satu lemari di ujung ruangan. Kriieeekkk… brakk. Kriieeekkk… brakk. Berulang-ulang, seperti orang yang lupa sudah membuka atau menutup lemarinya.
“Woy! Siapa sih?!” bisik Rangga kesal.
Bunyi itu berhenti sebentar, lalu terdengar lagi. Kriieeekkk… brakk.
Rangga mengumpat pelan, mematikan teleponnya, lalu kembali ke ranjangnya sambil menarik selimut menutupi kepala. Sampai matanya benar-benar terpejam, bunyi engsel itu masih sesekali terdengar, disusul suara cekikikan yang ditahan.
***
Rasanya baru saja Rangga tertidur ketika terdengar suara pengeras suara dari arah mushola. Belum juga ia membuka mata sepenuhnya, seseorang sudah menepuk-nepuk kakinya.
“Mas Rangga, subuh Mas… ayo…”
“Bentar…” gumam Rangga.
“Ndak ada bentar-bentaran di sini,” kata suara lain, kali ini disertai tawa. Seorang santri berbadan gempal dengan wajah yang sulit terlihat serius sedang berdiri di ujung ranjangnya sambil membawa handuk. “Aku Ardi. Ayo bangun. Airnya dingin, tapi lama-lama juga kebal kok.”
Rangga bangkit dengan berat. Ketika air dari kran itu menyentuh wajahnya, ia hampir memaki. Dingin sekali, seperti air es. Di sebelahnya, seorang santri lain berwudhu dengan tenang, seolah air itu hangat-hangat saja.
“Kalo baru pertama emang kaget,” kata santri itu sambil tersenyum. “Namaku Miftah. Aku juga dulu gitu.”
Miftah, Roni, dan Ardi. Tiga nama itulah yang paling sering Rangga dengar di hari-hari pertamanya. Usia mereka tidak terpaut jauh darinya. Miftah bahkan sudah kuliah di kota kecamatan dan hanya pulang ke pesantren untuk mengajar mengaji anak-anak selepas magrib.
Hari-hari pertama Rangga di pesantren berjalan seperti orang yang salah masuk rumah. Ia bangun paling akhir, mengaji paling terbata-bata, dan hafalannya paling pendek di antara semua santri baru. Beberapa kali ia melipat sarungnya dengan cara yang salah sampai Ardi tertawa terpingkal-pingkal.
Yang paling membuat teman-temannya heran adalah kebiasaan barunya. Hampir setiap sore, ojek online datang ke depan gerbang membawa kantong-kantong makanan atas nama Rangga. Ayam goreng, martabak, mie ayam, kadang sampai belasan bungkus sekaligus.
“Mas, ini kebanyakan,” protes Roni suatu sore.
“Ya udah, bagi-bagi aja,” jawab Rangga santai sambil membuka bungkusnya sendiri.
“Sayang lho Mas, uangnya. Di sini makan kan udah disediain.”
Rangga tidak menjawab. Ia sendiri sebenarnya tidak begitu lapar. Ia hanya butuh sesuatu untuk dilakukan, sesuatu yang membuatnya merasa masih punya kendali atas hidupnya sendiri.
Malam harinya, ketika Rangga duduk sendirian di teras belakang, Kyai Harso lewat sambil membawa senter kecil.
“Belum tidur, Nak Rangga?”
“Belum Pak Kyai.”
Kyai Harso duduk di samping Rangga tanpa diminta. Beliau tidak bertanya apa-apa, tidak menasehati, tidak menyuruh masuk. Beliau hanya duduk di sana, menatap halaman yang gelap, cukup lama.
“Di sini memang ndak enak buat orang yang belum siap,” kata Pak Kyai akhirnya. “Tapi ndak ada yang saya paksa. Kalo besok Nak Rangga masih ndak betah, ya ndak papa. Yang penting hari ini, Nak Rangga masih di sini.”
Rangga menoleh. Ia sudah menyiapkan seribu alasan untuk membantah kalau dinasehati, tapi kalimat itu sama sekali tidak bisa dibantah.
***
Di ujung kampung yang lain, Ayu sedang menjalani hari-hari yang tak kalah beratnya.
Sudah lewat sepuluh hari sejak Ratna meninggalkannya di depan warung Ci Weni. Sepuluh hari itu Ayu tetap berkeliling menjajakan s**u, tetap menyapa orang-orang, tetap tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya, dan orang-orang yang sudah lama mengenalnya bisa melihat perbedaan itu dengan mudah.
“Kamu sakit ya?” tanya Babeh Rojali suatu pagi sambil memperhatikan wajah Ayu.
“Ndak kok Beh… cuma kurang tidur.”
“Hmm…” Babeh Rojali tidak bertanya lagi, tapi pagi itu ia sengaja memberi Ayu beberapa botol lebih sedikit dari biasanya.
Sudah belasan sms yang Ayu kirim, tidak satu pun dibalas. Sudah berkali-kali ia menelepon, dan selalu hanya nada sambung yang menjawabnya.
Sampai akhirnya sore itu Ayu memberanikan diri mengayuh sepedanya ke rumah Ratna. Ia menekan bel di pagar, sekali, dua kali, tiga kali. Mba Umi keluar dengan langkah tergopoh-gopoh seperti biasa, tapi kali ini wajahnya terlihat serba salah.
“Ratnanya ada Mba?” tanya Ayu.
“Anu… Mba Ratna udah ngga di sini Yu.”
“Maksudnya Mba?”
“Kemarin pagi berangkat ke Jakarta. Katanya mau nyari kerja di sana.”
Ayu terdiam. Tangannya masih memegang jeruji pagar besi itu.
“Kok cepet banget Mba? Bukannya kemarin katanya mau kerja di sini?”
Mba Umi menunduk. “Mba Umi ndak tau Yu. Ndak enak juga nanya-nanya.”
Sepanjang jalan pulang Ayu mengayuh sepedanya pelan-pelan. Langit sudah mulai gelap, dan gerimis kecil mulai turun, tapi Ayu tidak juga mempercepat kayuhannya.
Di persimpangan, Dian menyusulnya. Rupanya sahabatnya itu sudah mencarinya sejak tadi.
“Kamu dari rumah Ratna ya?”
Ayu mengangguk. Matanya sudah memerah.
“Dia udah ke Jakarta Dian… dia pergi tanpa pamit sama aku.”
Dian menghentikan sepedanya dan memegang lengan Ayu.
“Yu, dengerin aku. Nanti biar aku yang ngomong sama Ratna. Aku yang jelasin semuanya dari awal, dari waktu kamu belum tau apa-apa soal perasaan dia. Kamu jangan nangis di jalan gini, malu diliatin orang.”
“Kalo dia tetep ndak mau maafin aku gimana?”
“Ya udah, berarti belum waktunya,” jawab Dian. “Tapi kamu jangan berhenti nunggu. Ratna itu keras, tapi dia ndak pernah bisa marah lama.”
Ayu mengusap wajahnya dengan lengan bajunya yang sudah basah oleh gerimis, lalu kembali mengayuh sepedanya. Malam itu, untuk kesekian kalinya, Ayu tidur dengan hp yang ia genggam sampai pagi, berharap ada satu pesan masuk yang tak kunjung datang.