Dua bulan lagi.
Angka itu terus berputar di kepala Ayu sejak malam kunjungan ke rumah Pak Parja. Dua bulan bukan waktu yang panjang, tapi juga bukan waktu yang pendek. Cukup untuk menyiapkan banyak hal, dan cukup pula untuk membuat seseorang berpikir terlalu banyak.
Pagi itu, seperti biasa, Triningsih berangkat ke perkebunan bersama Sanjoko. Tapi sejak dua hari yang lalu, ada satu kebiasaan baru di rumah kecil itu. Setiap pulang kerja, sebelum masak, sebelum mandi, Triningsih akan duduk di dekat jendela ruang keluarga sambil membawa sebuah bungkusan kain.
“Bu, itu apa sih?” tanya Ayu pada akhirnya.
Triningsih membuka bungkusan itu perlahan. Di dalamnya ada sehelai kebaya berwarna putih tulang, warnanya sudah agak kekuningan di beberapa bagian, tapi jahitannya masih rapi.
“Ini kebaya Ibu waktu nikah sama Bapakmu,” jawab Triningsih. “Ibu simpen dari dulu. Ibu pengen kamu yang pake.”
Ayu menyentuh kain itu dengan ujung jarinya. Halus, dingin, dan berbau kapur barus.
“Tapi ini kan bajunya Ibu…”
“Ya makanya Ibu mau permak sedikit. Ibu tambahin payet biar keliatan baru. Ibu ndak bisa beliin kamu kebaya kaya di kota, Nduk. Cuma ini yang Ibu punya.” Suara Triningsih terdengar lebih pelan di kalimat terakhir.
“Ini bagus banget Bu…” ucap Ayu cepat. “Ayu seneng kok. Beneran.”
Malam itu Ayu melihat ibunya menjahit sampai lewat pukul sebelas, dengan mata yang dipicingkan karena lampu ruangan yang kurang terang. Di sudut lain, Sanjoko duduk sambil menghitung uang di dalam sebuah kaleng biskuit bekas, dihitungnya berkali-kali, seolah kalau dihitung lagi jumlahnya akan bertambah.
Ayu menyaksikan semua itu dari ambang pintu kamarnya. Dadanya terasa sesak. Kedua orangtuanya begitu bersungguh-sungguh menyiapkan hari yang bahkan belum bisa ia bayangkan dengan gembira.
***
Beberapa hari kemudian, Sanjoko pulang dengan cerita baru dari perkebunan.
“Bu, itu anaknya Pak Gunawan udah bener-bener masuk pesantren,” kata Sanjoko sambil menikmati kopi buatan istrinya. “Tadi Pak Suryo cerita.”
“Yang katanya bandel itu ya Pak?” sahut Triningsih.
“Iya, Rangga namanya. Anak sulungnya.” Sanjoko menggeleng-gelengkan kepalanya. “Katanya di Jakarta itu kerjaannya cuma balapan liar sama teman-temannya. Pernah kena razia, diangkut Satpol PP. Orangtuanya udah bingung mau diapain, akhirnya dititipin ke Pak Kyai.”
Ayu yang sedang menyapu di dekat situ mendengar semuanya tanpa berniat mendengar.
“Ya Allah… padahal orangtuanya orang terpandang tho Pak,” ucap Triningsih.
“Ya itu Bu. Punya duit banyak itu ndak jaminan. Anak itu yang penting akhlaknya.” Sanjoko menoleh ke arah Kinanti yang sedang mengerjakan PR di lantai. “Kinan, denger ya. Nanti kalo kamu udah besar, milih temen itu yang bener. Jangan liat orangnya kaya atau ndak.”
“Iya Pak,” jawab Kinanti tanpa mengangkat kepala dari bukunya.
Ayu diam saja. Tapi di kepalanya tiba-tiba muncul kembali wajah pemuda yang dilihatnya di depan gerbang pesantren malam itu, saat mereka berangkat ke rumah Pak Parja dengan ojek. Pemuda bertubuh tinggi dengan potongan rambut yang jelas bukan potongan rambut orang kampung.
Oh, jadi itu yang namanya Rangga, batin Ayu. Pantesan.
***
Minggu sore, Bagus datang ke rumah membawa satu kantong rambutan dari kebun belakang rumahnya. Ia tidak lama, hanya duduk di teras sambil mengobrol dengan Sanjoko soal sekolah, soal murid-muridnya yang susah diatur, soal harga pupuk yang naik. Kinanti dan Haikal sudah terlanjur akrab dengannya sejak donat itu.
“Yu, kalo ada apa-apa yang kamu butuhin buat persiapan, bilang aja ya,” kata Bagus sebelum pamit.
“Iya Mas… makasih.”
“Ndak usah sungkan. Aku ini kan calon suami kamu.”
Ayu tersenyum dan mengangguk. Bagus mengucapkan salam, lalu menghidupkan motornya dan berlalu.
Sepeninggal Bagus, Ayu masih berdiri di teras beberapa saat. Ia mencoba memeriksa dadanya sendiri, seperti orang yang meraba saku untuk memastikan uangnya masih ada. Sopan, ia mengakuinya. Baik, ia mengakuinya. Tapi sekali lagi, tidak ada apa-apa.
Mungkin memang butuh waktu, batin Ayu, mengulang kalimat ibunya seperti orang menghafal doa.
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Ayu tetap berkeliling menjajakan s**u, tetap mengantar Kinanti ke sekolah lebih dulu, tetap menyapa siapa pun yang ia lewati.
Sampai suatu pagi, ketika Ayu menuntun sepedanya melewati pangkalan ojek di dekat simpang, langkahnya melambat dengan sendirinya.
Di bangku panjang tempat para tukang ojek biasa menunggu penumpang, duduk empat orang. Tiga di antaranya Ayu kenal, tukang ojek yang biasa mangkal di situ. Yang satu lagi tidak. Pemuda itu duduk dengan kaki disilangkan, mengenakan kaos oblong dan celana levis pendek selutut. Sarungnya tidak dipakai, hanya dililitkan begitu saja di leher seperti handuk. Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebatang rokok yang asapnya mengepul ke udara pagi.
Pemuda itu tertawa keras sekali menanggapi lelucon salah satu tukang ojek, tawa yang membuat orang-orang di warung seberang menoleh.
Ayu buru-buru menundukkan wajahnya dan mempercepat langkah.
Ya Allah… itu kan anaknya Pak Gunawan. Katanya dimasukin pesantren? Kok malah nongkrong sambil ngerokok di pinggir jalan, batin Ayu. Bener kata Bapak. Anak kota emang begajulan.
Yang Ayu tidak tahu, sejak sepedanya muncul dari tikungan tadi, pemuda itu sudah berhenti mendengarkan lelucon di sekitarnya. Rangga memperhatikan gadis itu melintas, memperhatikan keranjang sepeda yang penuh botol-botol kaca, memperhatikan cara gadis itu menundukkan wajah.
“Nah, itu Mang, yang saya bilang tadi,” celetuk salah satu tukang ojek, Mang Irsan, sambil menunjuk dengan dagunya. “Anaknya Pak Sanjoko. Rajin banget itu anak. Tiap pagi keliling jualan s**u.”
Rangga tidak menjawab. Ia hanya mematikan rokoknya di tepi bangku, lalu berdiri.
“Lho, mau ke mana Mas?”
“Balik,” jawab Rangga singkat.
***
Sore harinya, di halaman belakang pesantren, Ardi sedang menjemur sarung ketika Rangga menghampirinya sambil pura-pura tidak punya kepentingan apa-apa.
“Di, gue mau nanya.”
“Nanya apa?”
“Itu… yang jualan s**u pake sepeda. Yang tiap pagi lewat depan sini.”
Ardi menghentikan tangannya. Ia menoleh perlahan ke arah Rangga dengan senyum yang perlahan melebar sampai ke telinga.
“Ooohh…”
“Apaan sih ‘ooohh’. Gue cuma nanya.”
“Ndak papa, ndak papa. Cuma ‘ooohh’ aja kok,” kata Ardi sambil terkekeh. “Namanya Ayu. Anaknya Pak Sanjoko, buruh di perkebunan sana. Rumahnya di ujung kampung, deket kebon bambu.”
“Trus?”
“Trus apanya?”
“Ya… ceritanya gimana?”
“Lho, aku ini santri, bukan koran,” jawab Ardi sambil mengibaskan sarung basah ke arah Rangga. “Aku cuma tau namanya, sama tau kalo susunya enak. Udah, itu aja.”
Miftah yang baru keluar dari kamar mandi ikut menimpali. “Ada apa ini rame-rame?”
“Ini lho, Mas Rangga kita ini lagi kepo sama penjual s**u,” lapor Ardi dengan wajah paling puas sedunia.
“Sialan lo!” umpat Rangga sambil melempar sandal jepit ke arah Ardi, yang langsung dihindari dengan gesit.
“Wooo… tuh kan, marah. Berarti bener,” kata Ardi sambil berlari kecil ke balik jemuran, disusul suara tawa Roni yang sedari tadi menyaksikan dari teras.
Rangga akhirnya ikut tertawa, tapi begitu ketiga temannya pergi, senyumnya perlahan menghilang. Ia duduk di anak tangga sambil menatap pagar pesantren yang menghadap ke jalan.
Ayu.
Rangga mengulang nama itu di dalam kepalanya sekali lagi. Selama ini ia terbiasa dengan perempuan-perempuan yang berusaha keras supaya dilihat olehnya. Yang berdandan, yang mengirim pesan lebih dulu, yang tertawa terlalu keras kalau ia bicara. Baru kali ini ia bertemu perempuan yang bahkan tidak repot-repot menoleh ke arahnya.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuatnya tidak bisa berhenti menoleh.
***
Malam itu di rumah, Ayu mencoba kebaya jahitan ibunya untuk yang pertama kali. Triningsih mengukur panjang lengannya, menandai bagian yang harus dikecilkan dengan kapur jahit, lalu mundur selangkah untuk melihat hasilnya.
“Bagus tho?” tanya Triningsih.
“Iya Bu…”
“Kok mukanya gitu?”
“Ndak papa Bu. Cuma… ndak kerasa aja ya, dua bulan lagi.”
Triningsih tersenyum dan mengusap pipi putrinya. “Semua pengantin juga gitu Nduk. Nanti kalo harinya udah dateng, ilang sendiri gugupnya.”
Ayu mengangguk. Ia tidak berani mengatakan bahwa yang ia rasakan bukan gugup. Gugup itu ada ujungnya. Yang ini rasanya seperti berjalan menuju satu pintu yang sudah dibukakan lebar-lebar oleh semua orang, sementara kakinya sendiri tidak mau melangkah.