Kabar itu ternyata berjalan jauh lebih cepat dari sepeda Ayu.
Baru dua hari setelah keluarga Pak Parja datang ke rumah, seluruh kampung sepertinya sudah mengetahuinya. Buktinya pagi itu, begitu Ayu memarkir sepedanya di samping pos kamling, ibu-ibu yang biasa menunggunya langsung menyambut dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Ada yang menepuk-nepuk lengannya, ada yang menarik tangannya untuk melihat cincin, ada pula yang langsung menyalaminya seolah Ayu sudah menikah hari itu juga.
“Neng Ayu… Ibu denger-denger, katanya sudah dilamar sama anaknya Pak Parja ya? Bener?”
“Iya Bu…” jawab Ayu sambil tersenyum malu. Ia buru-buru mengeluarkan botol-botol s**u dari dalam keranjang anyaman supaya tangannya punya kesibukan.
“Wah, alhamdulillah… Ibu kan udah bilang, Neng Ayu ini udah baik, sopan, rajin lagi… Pantes kalo dapet Pak Guru,” kata Ibu berkerudung coklat, disambung suara tawa dan doa-doa yang saling bersahutan.
“Hebat kamu Neng… banyak lho anak gadis di sini yang naksir sama Mas Bagus. Eh, malah kamu yang dilamar duluan.”
“Amiin… doanya aja ya Bu…” ucap Ayu.
Sepanjang jalan pulang Ayu terus memikirkan kalimat itu. Banyak yang naksir Mas Bagus. Rasanya seperti ada yang mengganjal di dada. Semua orang di kampung ini menganggapnya beruntung. Semua orang menganggapnya mendapat rezeki besar. Hanya Ayu sendiri yang merasa sedang menerima sesuatu yang bukan miliknya.
Beberapa kali Ayu memandangi cincin di jari manisnya sambil mengayuh sepeda. Cincin itu tidak berat, tapi entah kenapa tangannya terasa lebih berat setiap kali ia mengayuh.
***
Malam harinya, seperti biasa Ayu membantu Triningsih di dapur. Sanjoko sudah tidur lebih awal karena besok pagi harus berangkat lebih pagi ke perkebunan. Kinanti dan Haikal sudah lelap di kamar. Hanya terdengar suara air mengalir dan gesekan sabut cuci di dasar panci.
“Bu…” panggil Ayu pelan.
“Hmm?”
“Ibu dulu… waktu nikah sama Bapak, Ibu udah cinta belum sama Bapak?”
Triningsih menghentikan tangannya sejenak. Ia menoleh ke arah putrinya, lalu tersenyum tipis dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu Nduk?”
“Ndak papa Bu… pengen tau aja.”
Triningsih menaruh panci yang sudah bersih ke atas rak, lalu mengeringkan tangannya dengan lap yang tersampir di bahunya. Ia menarik kursi kecil dan duduk di dekat Ayu.
“Ibu jujur ya… waktu Ibu nikah sama Bapak kamu, Ibu ndak cinta. Ibu cuma kasihan. Kasihan sama Bapak kamu yang harus kerja dari pagi sampe sore, kasihan sama kamu yang waktu itu masih kecil, sering nangis nyariin Ibu kamu. Ibu ndak pernah kepikiran bakal jadi istrinya.”
Ayu menghentikan cucian di tangannya dan menoleh. Baru kali ini ibunya bercerita sejauh itu.
“Trus Bu?”
“Ya trus dijalani. Awal-awal ya canggung. Ibu sering nangis diem-diem di dapur ini. Tapi lama-lama Ibu lihat, Bapak kamu itu ndak pernah bohong, ndak pernah main tangan, ndak pernah pegang uang buat dirinya sendiri. Uang hasil metik teh, dianter ke Ibu semua. Nah, dari situ Nduk. Cinta itu ndak selalu dateng duluan. Kadang dia dateng belakangan, pelan-pelan, lewat hal-hal kecil yang kamu ndak sadari.”
“Tapi kalo sampe ndak dateng-dateng gimana Bu?”
Triningsih terdiam. Ia mengusap punggung tangan putrinya.
“Berarti kamu belum ngasih dia kesempatan. Coba dulu Nduk, kenali dulu orangnya. Jangan buru-buru bilang ndak bisa padahal belum dicoba. Nak Bagus itu orang baik, dan orang baik itu ndak banyak.”
Ayu mengangguk pelan. Nasehat ibunya masuk akal, terlalu masuk akal malah, sampai Ayu tidak punya alasan untuk membantahnya. Tapi tetap saja ada satu bagian di dadanya yang tidak mau ikut mengangguk.
***
Keesokan paginya, saat mereka berdua mengayuh sepeda beriringan menuju perkampungan, Dian menyerempetkan sepedanya ke arah Ayu.
“Yu, kamu udah bilang ke Ratna belum?”
“Belum…” jawab Ayu pendek.
“Lho, kok belum? Nanti keburu dia denger dari orang lain gimana? Kampung kita ini kan kaya radio, Yu. Ndak ada yang bisa disimpen.”
“Aku tau Dian… tapi aku ndak tau harus mulai dari mana.”
“Ya mulai dari yang paling gampang. Bilang aja apa adanya. Ratna itu ngga sejahat yang kamu pikir kok.”
“Bukan Ratna yang aku takutin,” kata Ayu lirih. “Aku takut sama diri aku sendiri. Aku takut nanti aku salah ngomong, trus dia salah paham, trus habis itu udah, ndak bisa dibalikin lagi.”
Dian tidak menjawab. Ia hanya menghela napas, lalu kembali mengayuh sepedanya lebih cepat karena pelanggan pertamanya sudah menunggu di ujung gang.
***
Sore itu, sepulang berjualan, Ayu duduk di bale bambu depan rumah sambil memegang hp jadulnya. Layarnya kecil, warnanya sudah pudar, dan baterainya harus dicabut kalau tiba-tiba mati sendiri. Tapi benda itu satu-satunya cara Ayu menghubungi Ratna di Jakarta.
Sudah tiga kali ia mengetik pesan, dan tiga kali pula pesan itu ia hapus lagi.
Rat, aku mau cerita sesuatu. Hapus.
Rat, kamu kapan pulang? Aku kangen. Hapus.
Rat, aku dilamar orang. Hapus, hapus, hapus.
Bukan begini caranya, batin Ayu. Masa kabar seperti ini disampaikan lewat sms.
Akhirnya Ayu memberanikan diri menekan tombol panggil. Terdengar nada sambung yang panjang sekali, sampai Ayu hampir mematikannya.
“Halooo… Ayuuu?” terdengar suara Ratna di seberang, bercampur dengan suara berisik entah dari mana. “Bentar ya, aku pindah tempat, ini rame banget.”
“Iya Rat, santai aja…”
“Nah, gimana? Ada apa? Tumben banget kamu nelfon. Biasanya juga aku yang nelfon duluan.”
Ayu menelan ludah. Semua kalimat yang sudah ia susun sejak siang tadi hilang begitu saja.
“Aku… mmm… kamu apa kabar Rat?”
“Ya ampun Yu, kamu nelfon jauh-jauh cuma mau nanya kabar?” Ratna tertawa. “Aku lagi sibuk banget nih. Minggu depan sidang. Doain ya, kalo lancar aku bisa pulang lebih cepet. Aku pengen banget makan bakso di pasar kampung kita, sumpah kangen.”
“Iya… pasti aku doain.” Ayu ikut tertawa, tawa yang dipaksakan. “Rat, nanti kalo kamu udah pulang, kita ngobrol ya. Ada yang mau aku omongin, tapi ndak enak kalo lewat telfon.”
“Wih, serius amat. Apaan sih? Kasih bocoran dong.”
“Ndak ah. Nanti aja kalo ketemu.”
“Ih, kamu tuh dari dulu ya, paling bisa bikin orang penasaran. Ya udah, aku tunggu. Eh, aku ditungguin temen nih, mau ke perpus. Nanti aku telfon lagi ya. Bye Ayuuu!”
Sambungan terputus sebelum Ayu sempat menjawab. Ayu menurunkan hp dari telinganya dan menatap layarnya yang perlahan meredup.
Pengecut, batin Ayu menyalahkan dirinya sendiri.
Sebenarnya bukan itu masalahnya. Ayu memang berniat menunggu Ratna pulang seperti yang disarankan Dian. Ia ingin mengatakannya langsung, sambil menatap wajah Ratna, sambil menggenggam tangannya, sambil meminta maaf kalau memang harus meminta maaf. Bukan lewat suara yang terputus-putus di telepon, di sela-sela kesibukan sahabatnya menghadapi sidang.
Tapi Ayu juga tidak bisa membohongi dirinya. Ada rasa lega yang aneh setiap kali ia berhasil menunda. Dan rasa lega itulah yang justru membuatnya merasa bersalah.
***
Sanjoko yang sedari tadi duduk di ruang keluarga sambil mendengarkan radio, memanggil Ayu ketika putrinya masuk ke dalam rumah.
“Nduk, tadi Bapak ketemu Pak Parja di jalan.”
“Iya Pak?” Ayu duduk di kursi seberang ayahnya.
“Beliau nanya, kapan Nak Bagus boleh ngajak kamu keluar. Katanya biar kalian saling kenal dulu. Menurut Bapak sih ndak papa, asal kamu pamit, asal ndak sampe malem, sama ndak ke tempat yang sepi-sepi. Kamu ini sudah dipinang orang Nduk, jadi jaga sikap.”
“Iya Pak…”
“Bapak ndak pernah ngelarang kamu, tapi Bapak juga ndak mau denger omongan orang. Kamu ngerti kan?”
“Ngerti Pak.”
Ayu masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping Kinanti yang sudah tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.
Kata ibunya, cinta itu bisa datang belakangan. Kata ayahnya, ia harus menjaga sikap. Kata ibu-ibu di pos kamling, ia gadis paling beruntung se-kampung. Semua orang punya kalimat masing-masing, dan semua kalimat itu mengarah ke satu tempat yang sama.
Ya Allah… kalo memang Mas Bagus jodoh saya, tolong tumbuhkan rasa itu di hati saya, doa Ayu dalam hati sebelum memejamkan mata. Saya mau belajar, tapi tolong bantu saya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak cincin itu melingkar di jarinya, Ayu tertidur dengan satu keputusan kecil di kepalanya. Ia akan mencoba. Setidaknya ia akan mencoba.