Langit sudah berwarna jingga ketika Ayu memarkir sepedanya di samping rumah. Kabut tipis mulai turun dari arah perbukitan, membawa dingin yang khas kalau sore sudah lewat di kampung itu. Belum juga Ayu melepas sandalnya, Haikal sudah berlari menyongsongnya dari dalam rumah.
“Mbak Ayuuuu…!”
“Hayo… kok belum mandi?” tanya Ayu sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya tinggi-tinggi supaya tidak tersenggol.
“Itu apa Mbak?” Mata Haikal langsung tertuju ke kantong plastik di tangan kakaknya.
“Ini… donat. Tapi buat anak yang udah mandi aja.”
“Haikal mandi sekalang! Haikal mandi!” pekik Haikal sambil berlari ke belakang, membuat Kinanti yang sedang melipat pakaian di ruang keluarga tertawa terbahak-bahak.
Triningsih keluar dari dapur sambil membawa lap. Ia melirik kantong plastik itu, lalu melirik putrinya.
“Dari Nak Bagus?”
“Iya Bu… katanya buat Kinanti sama Haikal,” jawab Ayu sambil meletakkan donat-donat itu di atas meja.
“Duh, jadi ngerepotin. Lain kali bilang, ndak usah repot-repot.”
“Udah Ayu bilang kok Bu.”
Sanjoko yang baru selesai mandi ikut keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia duduk di kursi kesayangannya, kursi kayu yang salah satu kakinya sudah diganjal potongan kayu.
“Gimana tadi Nduk?” tanya Sanjoko.
“Ya… ngobrol aja Pak. Nanya kabar, nanya jualan.”
“Trus soal pernikahan gimana? Ada dibicarain?”
Ayu terdiam sebentar. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang, tapi tetap saja ia belum siap menjawabnya.
“Mmm… kata Mas Bagus, nanti biar dia yang ngomong sama Bapak Ibu sama orangtuanya.”
Sanjoko mengerutkan dahinya. “Lho, ngomong apa?”
“Ya… soal waktunya Pak.”
“Waktunya kenapa? Bukannya kemarin sudah dibilang, secepatnya?”
“Iya Pak, tapi…” Ayu menunduk. Ia memilin ujung sweaternya. “Ayu masih pengen bantu Bapak sama Ibu dulu. Ayu masih pengen jualan.”
Ruangan itu hening beberapa saat. Triningsih berhenti melipat baju. Kinanti diam-diam menyingkir ke dapur.
“Nduk,” kata Sanjoko akhirnya, suaranya pelan tapi berat. “Bapak sama Ibu ini masih kuat kerja. Kamu ndak usah mikirin Bapak. Yang harus kamu pikirin itu masa depan kamu sendiri.”
“Iya Pak…”
“Ya sudah. Kalo memang Nak Bagus mau ngomong sendiri, ya Bapak tunggu. Bapak ndak mau kalo nanti dikira ngatur-ngatur keluarga orang.”
Ayu mengangguk. Ia bersyukur ayahnya tidak marah, tapi entah kenapa nada suara ayahnya barusan justru terasa lebih menekan daripada kalau ia dimarahi.
***
Keesokan paginya, Dian sudah menunggu di depan pagar rumah Ayu sebelum matahari benar-benar naik. Wajahnya sudah menyimpan senyum yang aneh sejak Ayu keluar menuntun sepedanya.
“Apa?” tanya Ayu curiga.
“Ndak apa-apa,” jawab Dian sambil menahan tawa. “Cuma denger-denger, ada yang kemarin sore jalan berdua di pinggir kali.”
“Ya ampun Dian… kamu tau dari mana?”
“Dari mana lagi. Dari Mba Romlah. Katanya kalian serasi banget, kaya di sinetron.”
Ayu menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil mengayuh sepedanya lebih cepat, membuat Dian harus mengejarnya sambil tertawa.
“Yu, tunggu! Trus gimana? Enak ndak ngobrol sama Mas Bagus?”
“Enak sih…” jawab Ayu setelah Dian berhasil menyusul. “Mas Bagus itu orangnya sabar banget Dian. Aku minta waktu, dia langsung ngerti. Ndak marah, ndak maksa.”
“Nah! Kan aku bilang apa. Kamu tuh beruntung.”
“Iya…” Ayu terdiam sebentar. “Tapi ya cuma gitu Dian. Aku pulang dari situ ya biasa aja. Ndak ada yang beda.”
Dian menoleh ke arah sahabatnya. Ia ingin menghibur, tapi ia juga tahu, kalimat penghiburan yang sama kalau diulang-ulang lama-lama akan kehilangan gunanya.
“Ya udah, dijalanin dulu aja,” ucap Dian akhirnya. “Wong baru sekali ketemu. Masa langsung mau berbunga-bunga.”
Ayu tertawa kecil. Setidaknya ada satu orang di dunia ini yang bisa ia ajak berkata jujur.
***
Di desa sebelah, di ruang makan rumah Pak Parja, pembicaraan yang hampir sama juga sedang berlangsung. Santi meletakkan piring nasi di depan putranya dengan agak keras.
“Jadi maksud kamu, pernikahannya mau diundur gitu Gus?”
“Bukan diundur Bu, wong tanggalnya aja belum ada,” jawab Bagus sabar. “Bagus cuma minta waktu. Kasihan Ayu, dia belum siap.”
“Belum siap apanya? Wong cuma nikah, bukan disuruh angkat batu.”
“Buuu…” Bagus menghela napas sambil tersenyum kecil. Ia sudah hafal betul bagaimana ibunya kalau sudah punya keinginan.
Pak Parja yang sedari tadi menyimak sambil membaca koran akhirnya ikut bersuara. “Sudah tho Bu, kalo anaknya minta waktu ya dikasih. Wong yang mau menjalani itu mereka, bukan kita.”
“Ya tapi kan orang-orang sudah pada tau Pak. Nanti kalo kelamaan, gimana? Nanti orang malah mikir yang macem-macem. Dikira ada apa-apanya. Ibu ndak mau lho ada omongan ndak enak soal calon mantu Ibu.”
“Ndak akan ada omongan apa-apa selama kita jaga sikap Bu,” kata Bagus. “Nanti biar Bagus yang jelasin sendiri sama Bapak Ibunya Ayu. Bagus ndak mau kalo Ayu yang harus nanggung.”
Santi mendengus, tapi tidak membantah lagi. Ia tahu putranya itu jarang berkeras, dan justru karena jarang, kalau sudah berkeras biasanya sulit dibelokkan.
“Ya sudah, terserah kamu. Tapi Ibu titip pesen, jangan kelamaan. Ibu ini pengennya cepet nimang cucu, bukan nunggu-nunggu ndak jelas.”
Bagus hanya tersenyum sambil menyendok nasinya. Di dalam hatinya, ia sebenarnya juga ingin cepat. Tapi ia lebih ingin Ayu datang ke pernikahan itu dengan hati yang lapang, bukan dengan wajah yang tertunduk seperti malam ketika ia meminangnya dulu.
***
Beberapa hari berikutnya berjalan seperti biasa. Ayu tetap berangkat pagi-pagi, tetap mengambil s**u di tempat Babeh Rojali, tetap berkeliling dari gang ke gang sambil berteriak menjajakan dagangannya. Bedanya, sekarang hampir setiap pelanggan punya satu pertanyaan tambahan untuknya.
“Kapan nikahnya Neng?”
“Doain aja ya Bu…” Itu jawaban aman yang akhirnya Ayu hafal di luar kepala.
Sore itu, seperti biasa Ayu mengantarkan lima botol s**u ke rumah Bu Parja, pelanggan terakhirnya. Kali ini Santi sendiri yang membukakan pintu.
“Eh, Ayu… masuk dulu tho Nduk,” ajak Santi sambil menarik tangan Ayu.
“Ndak usah Bu, ini masih ada yang harus Ayu anter,” tolak Ayu halus, padahal keranjangnya sudah kosong.
“Sebentar aja. Ibu bikin kolak, banyak banget ini. Bawa pulang buat adik-adik kamu ya.”
Akhirnya Ayu menunggu di teras sementara Santi masuk ke dalam. Tak lama Santi keluar membawa rantang plastik yang sudah penuh.
“Nih… Nduk, Ibu mau ngomong sedikit ya,” kata Santi sambil duduk di kursi teras. “Ibu ini seneng banget kamu mau sama Bagus. Bagus itu anak semata wayang Ibu. Ibu cuma pengen dia bahagia. Kalo ada apa-apa, kamu jangan sungkan cerita sama Ibu. Anggep aja Ibu ini ibu kamu sendiri.”
“Iya Bu… makasih banyak,” jawab Ayu.
“Tapi kamu jangan lama-lama ya. Ibu ini sudah tua Nduk. Kalo bisa, Ibu masih pengen liat cucu Ibu lari-lari di rumah ini.”
Ayu tersenyum, senyum yang sudah semakin ia kuasai belakangan ini. Senyum yang tidak berasal dari mana-mana.
Sepanjang jalan pulang, rantang kolak itu bergoyang-goyang di keranjang sepedanya. Ayu memikirkan kalimat Santi tadi. Semua orang begitu baik kepadanya. Justru itu yang membuatnya semakin tidak enak. Kalau saja mereka jahat, mungkin Ayu punya alasan untuk mundur. Tapi mereka tidak. Mereka baik, sangat baik, dan kebaikan itu perlahan-lahan mengunci pintu di belakangnya satu per satu.
***
Malam itu Ayu kembali tidak bisa tidur cepat. Ia memandangi langit-langit kamar sambil mendengarkan napas Kinanti yang teratur di sebelahnya.
Sudah hampir tiga minggu sejak malam lamaran itu, dan sampai sekarang Ratna belum juga pulang. Beberapa kali Ayu mengirim sms, dan Ratna membalasnya dengan pesan-pesan pendek. Sibuk. Nanti kalo udah kelar. Doain ya. Ratna bahkan belum sempat menceritakan hasil sidangnya.
Ayu bangun, mengambil hp dari bawah bantal, lalu menatap layarnya sebentar. Tidak ada pesan baru. Ia meletakkannya kembali.
Rat, cepet pulang, batin Ayu. Aku pengen ngomong sama kamu. Sebelum kamu denger dari orang lain.
Ayu menarik selimutnya sampai ke dagu. Di luar terdengar suara kentongan ronda dipukul dua kali, tanda malam sudah semakin larut. Ia memejamkan mata, dan sekali lagi berdoa dengan doa yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Semoga besok ada kabar. Semoga besok Ratna pulang. Dan semoga, ketika hari itu tiba, ia punya cukup keberanian untuk mengatakan semuanya.