“Aku pulang dulu Mamah, Papah” Ayunda nampak mengerutkan keningnya saat melihat sang suami tamannya berpamitan pada ibu dan ayah mertuanya yang menggendong seorang wanita cantik yang nampak tertidur.
“Emm..Haris. Kenapa kamu membawa perempuan itu ke rumah ?” Ayunda bertanya sambil menatap ragu pada sosok yang sangat nyaman di gendongan suaminya tersebut.
Tetapi respon yang dia dapat sungguh mengejutkaan, dimana Haris berdecak tidak suka dan memutar malas kedua bola matanya. Dan tanpa menjawab pertanyaannya, suaminya tersebut melengos pergi ke arah mobil pernikahan mereka dan meninggalkan acara yang baru saja selesai.
Siapa sebenarnya yang menikah disini?
Yang ada dipikirannya kejadian sebelumnya adalah kejadian konyol yang tidak disengaja. Bukan maksud Haris memeluk dan mencium wanita cantik tersebut di acara pernikahan mereka.
Ia sudah mempersiapkan diri untuk malam pengantin mereka namun Haris malah memilih bersama wanita tadi di sepanjang acara mereka.
Ayunda melihat dengan jelas Haris dan wanita itu duduk di meja pojok dan berbincang dengan mesra. Seketika otaknya memproses ada sesuatu yang janggal disini. Ada yang tidak beres dengan pernikahannya ini.
Ia mengira Haris akan menerima pernikahan mereka mengingaat Haris menyetujui perjodohan ini pada akhrinya. Ia pikir Haris akan luluh dan menerima dirinya hingga akhirnya mau menerima pernikahan ini karena notabennya ia adalah penggemar rahasia Haris.
“H-Haris!!”
“Tunggu, Ayunda” Ayunda hendak mengejar suaminya tersebut namun lengannya sudah ditahan oleh sang ibu mertua.
‘Kamu akan pulang bersama kami, kerumah kami” Ayunda mengerutkan keningnya mendengar penuturan sang ibu mertua. Nadanya memang sangat lebut namun entah perasaanya saja tersirat rasa tidak suka dalam tatapan anita padanya.
“T-tapi mamah Anita..” ucap ayunda dengan memelas. Apa-apaan ini? Ia sudah dikejutkan dengan adegan mesra suaminya dengan wanita lain sekarang ia tidak boleh mengikuti suaminya ke rumah? Apa yang salah dengan mertuanya ini.
“Siapa wanita tadi? Kenapa mereka berciuman dan kenapa Haris malah membawa wanita itu bukan aku istrinya?” Tanyanya dengan nada penasaran dan menuntut. Sakit hatinya ia kubur dalam-dalam, ia cukup syok dengan banyak kejadian hari ini, ia tidak mau menambah hal yang berat lagi.
Anita mendengus dan melepaskan genggaman tanganya dengan Ayunda. Ia beralih menatap sang suami mengisyaratkan untuk menjelaskan sesuatu kepada Ayunda.
Agung yang mengerti menunduk dengan helaan nafas berat tanda kegusaran. Terlihat bingung bagaimana menjelaskan pada Ayunda tentang kenyataan yang ia tak tau.
Yang ia tahu hanya menikah dengan pria tampan yang dijodohkan dengannya. Selebihnya ia sungguh tidak tau apapun.
“Lebih baik kita pulag keruma dulu ya? Kita bicarakan ini dirumah”
…..
BRUK
“Hngh” Haris tersenyum mendengar erangan dari bibir wanitanya ini. Wanitanya selalu cantik di kondisi apapun bahkan dalam keadaan terlelap seperti ini.
Ia menunduk dan mengecup singkat bibir mungil itu sebelum bangkit menuju lemari pakaiannya.
Haris dengan cepat mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Setelah selesai ia menghampiri Galdis yang tertidur lelap di kasur.
Masih dengan gaun putih yang membuatnya nampak sangat cantik dimata Haris. Ia jadi mengingat saat mereka melangsungkan pernikahaan di pulau dewata bali. Konsep Intimate Wedding jadi pilihan mereka berdua saat itu. Mereka menyukai suasana yang lebih bersifat privasi, hanya keluarga, teman dekat dan beberapa kolega bisnis memang mereka pilih yang dapat menjaga rahasia dan privasi mereka.
Perlahan Haris menitikkan air matanya, sungguh ia sangat merasa berdosa karena sudah mengkhianati istrinya ini. Entah bagaimana dan siapa yang sudah memberitahu istri mungilnya ini tentang pernikahannya dan membuatnya menjadi pembawa cincin pernikahannya.
Seketika ia menatap cincin indah yang tersemat di jarinya. Dengan segera ia melepasnya dan melemparnya keluar jendela.
Membuat cincin berlian indah itu meluncur keluar rumah dan berakhir di atas rumput halaman rumah.
Haris segera menunduk untuk memeluk sosok cantik itu, mengecupi seluruh wajahnya dan bergumam permintaan maaf penyesalan disertai lelehan air mata yang mengalir deras di pipinya.
“Haris?..” Gladis yang awalnya terlelap akhirnya membuka matanya merasakan ada yang tidak beres. Lehernya terasa basah dan membuatnya sedikit tidak nyaman.
Dengan keadaaan setengah sadar ia membuka matanya yang berat dan berair. Mengangkat wajah tampan yang tengah menangis diatas bahu nya tersebut.
“Hey Har, kamu nangis? Kenapa, hm?” Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Jemari mungilnya mengelus rambut Haris dan bibirnya mengecup kedua bola mata yang sudah sembab itu. Wajahnya terlihat sudah basah oleh airmata .
“Maafkan aku sayang..” ucapnya lirih sambil memeluk erat istrinya itu. Sedikit menindihnya dan mengecupi bahu yang masih terbalut baju tersebut.
“Untuk?” Haris semakin erat memeluk tubuh mungil itu. Jemari besarnya membuka kancing dibagian belakang gaun tersebut.
“Maaf karena membuatmu sakit hati, harusnya aku tidak perlu menikahi perempuan itu” Gladis terkekeh mendengar rengekan suami tampannya itu. Lucu sekali pikirnya.
“Tak apa.. Asal kelinci nakal ini bersumpah untuk selalu mencintaiku” jawabnya sambil mengelus lembut punggung Haris.
“Aku mencintaimu sayang, sangat-sangat mencintaimu lebih dari apapun” Gladis tersenyum mendengar penuturan Haris. Ia memeluk leher Haris dan lebih mendekatkan wajah Haris agar ia dapat memagut bibir tipis Haris.
“Apa kita akan mengulang reka adegan malam pengantin kita sayang? Biar Tuhan tau bahwa hatimu memilihku dan janji sucimu hanya diitujukan untuk ku saja, tidak dengan siapapun di dunia ini” ucapnya sambil mengelus wajah Haris. Oh Tuhan, lihatlah hidung mancung ini berwarna merah, lucu sekali.
“Aku bahkan membentuk tanda pengingkaran janji sebelum mengucapkan janji tersebut” Gladis terkekeh melihat ekspresi Haris yang lucu diatasnya wajah nya. Mengadu seperti anak kecil.
“Aku ingin Tuhan tau bahwa ini bukan pernikahaan yang aku inginkan, dan aku juga ingin Dia tau bahwa aku terpaksa melakukannya” ucapnya lagi dengan wajah lucu.
“Tapi Har, Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia, bagaimana kalau kamu justru nantinya akan mencintai wanita itu?” Tanya Gladis penasaran.
“Tentu itu tidak mungkin, sayang. Tuhan tau mana janji suci yang benar tulus dan yang hanya formalitas. Jadi Tuhan tidak akan berani melakukan itu padaku. Aku hanya mencitaimu, sayang” ucap Haris sambil memeluk kembali Gladis dengan erat.
Gladis tersenyum mendengar penuturan suami tampannya ini. Biar nanti ia akan memberi paham kepada wanita itu.
Haris lalu memagut bibir tebal menggoda sang istri. Gladis hanya bisa terpejam dan pasrah untuk reka ulang adegan malam pengantin mereka.
Suasana dikamar sungguh sangan mendukung , ranjang yang dihiasi kelopak bunga mawar. Dengan suasana remang-remang menambah sensasi romantis diantara mereka berdua.
Menggantikan sosok wanita yang tak akan pernah bisa menggantikan posisinya dan juga status mereka. Haris tidak akan pernah memilih wanitu itu dan akan tetap menjadi miliknya bahkan jika ia mati sekalipun.