Aku, Ji-Hyun, duduk di teras rumahku yang sederhana di pedesaan. Mataku memandang kebun kecil di depan rumah, penuh dengan bunga dan sayuran. Aku merasa damai dan bahagia dengan kehidupan baruku.
Tiga tahun lalu, aku masih berjuang melawan keinginan orang tuaku. Mereka ingin aku menjadi perfeksionis, juara di segala bidang, dan penerus perusahaan mereka. Tapi aku tidak ingin itu. Aku ingin menjadi guru, mengajar anak-anak di pedesaan, dan hidup sederhana.
Aku ingat betapa beratnya perjuanganku. Aku harus menghadapi bullying dari teman-temanku, tekanan dari orang tuaku, dan stres yang luar biasa.
Tapi aku tidak menyerah. Aku terus berjuang, mencari cara untuk mencapai cita-citaku. Aku mengambil kursus guru di universitas, sambil terus menghadapi tekanan dari orang tuaku.
Suatu hari, aku bertemu dengan seorang pria bernama Min-Soo. Dia adalah seorang seniman, yang hidupnya sederhana dan damai. Kami jatuh cinta, dan aku merasa bahagia. Tapi, Min-Soo memiliki rahasia yang tidak aku ketahui. Dia memiliki pacar lain, dan dia hanya menggunakan aku untuk melupakan kesedihannya.
Aku merasa hancur ketika mengetahui kebenaran. Aku merasa dikhianati dan sakit hati. Tapi, aku tidak menyerah. Aku terus berjuang, mencari cara untuk mencapai cita-citaku.
Dan akhirnya, aku berhasil. Aku menjadi guru di sebuah sekolah dasar di pedesaan. Aku hidup sederhana, tapi aku merasa bahagia. Aku memiliki teman-teman yang baik, dan aku merasa dicintai oleh anak-anakku.
Tapi, kehidupan baruku tidak semudah yang aku bayangkan. Aku masih menghadapi stres dan tekanan, tapi kali ini dari diriku sendiri. Aku merasa harus menjadi perfeksionis, harus menjadi guru yang terbaik, dan harus membuat anak-anakku bahagia.
Aku tidak ingin kehilangan kendali lagi. Aku ingin menjadi diriku sendiri, tanpa tekanan dan stres. Aku ingin hidup sederhana, tapi bahagia.
Dan kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupku selamanya...
Aku masih duduk di teras rumahku, menikmati keindahan alam pedesaan. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku menoleh, dan aku melihat seorang pria berusia akhir 20-an dengan senyum yang manis.
"Selamat pagi, Ji-Hyun," katanya dengan suara yang lembut.
Aku tersenyum balik. "Selamat pagi, Tae-Oh. Apa kabar?"
Tae-Oh adalah tetanggaku yang baru saja pindah ke pedesaan ini. Kami sudah berteman baik, dan aku merasa nyaman dengan kehadirannya.
"Aku baik-baik saja, terima kasih. Aku ingin meminta bantuanmu," katanya dengan senyum.
Aku penasaran. "Apa yang bisa aku bantu?"
Tae-Oh duduk di sebelahku. "Aku ingin membuka sekolah musik di pedesaan ini. Aku ingin mengajar anak-anak bermain musik, tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana."
Aku tersenyum. "Aku bisa membantumu. Aku memiliki beberapa kontak dengan orang tua muridku yang mungkin tertarik dengan sekolah musikmu."
Tae-Oh tersenyum bahagia. "Terima kasih, Ji-Hyun. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu."
Aku merasa senang bisa membantu Tae-Oh. Kami berbicara lebih lanjut tentang sekolah musiknya, dan aku merasa semakin dekat dengan dia.
Tiba-tiba, aku menyadari bahwa aku merasa lebih dari sekedar teman dengan Tae-Oh. Aku merasa... jatuh cinta?
Aku tidak bisa percaya diriku sendiri. Aku baru saja keluar dari hubungan yang menyakitkan dengan Min-Soo, dan sekarang aku sudah merasa jatuh cinta dengan Tae-Oh?
Aku mencoba menghilangkan perasaan itu, tapi semakin aku mencoba, semakin kuat perasaan itu. Aku merasa bahagia ketika Tae-Oh ada di sekitarku, dan aku merasa sedih ketika dia tidak ada.
Aku memutuskan untuk berbicara dengan Tae-Oh tentang perasaanku. Aku tidak ingin menyembunyikan perasaanku lagi, seperti yang aku lakukan dengan Min-Soo.
Aku mengajak Tae-Oh untuk berjalan-jalan di pedesaan. Kami berjalan melewati sawah dan kebun, menikmati keindahan alam pedesaan.
"Tae-Oh, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu," kataku dengan suara yang lembut.
Tae-Oh menoleh kepadaku. "Apa itu, Ji-Hyun?"
Aku mengambil napas dalam-dalam.
"Aku... aku merasa jatuh cinta denganmu."
Tae-Oh terkejut. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatapku dengan mata yang lebar.
Aku merasa cemas. Apakah Tae-Oh merasakan hal yang sama? Atau apakah dia hanya menganggapku sebagai teman?
Aku masih menunggu jawaban Tae-Oh. Dia masih menatapku dengan mata yang lebar, seperti terkejut dengan pengakuanku.
Aku mulai merasa cemas. Apakah aku terlalu terbuka? Apakah aku harus menyembunyikan perasaanku?
Tae-Oh akhirnya berbicara. "Ji-Hyun, aku... aku tidak tahu harus berkata apa."
Aku merasa sedih. Mungkin Tae-Oh tidak merasakan hal yang sama dengan aku.
Tapi kemudian, Tae-Oh melanjutkan. "Aku harus bilang, aku juga merasa tertarik padamu. Tapi aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak."
Aku merasa lega. Tae-Oh juga merasakan hal yang sama dengan aku!
Aku tersenyum. "Aku pikir ini benar. Aku merasa bahagia ketika kamu ada di sekitarku."
Tae-Oh tersenyum balik. "Aku juga merasa bahagia ketika kamu ada di sekitarku."
Kami berdua diam, menikmati kebahagiaan yang kami rasakan. Tiba-tiba, Tae-Oh mengambil tanganku.
"Ji-Hyun, aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Apakah kamu sudah siap untuk memiliki hubungan lagi setelah apa yang terjadi dengan Min-Soo?"
Aku merasa sedih ketika mengingat Min-Soo. Tapi aku juga merasa lega karena Tae-Oh peduli padaku.
"Aku sudah siap, Tae-Oh. Aku ingin memiliki hubungan dengan kamu."
Tae-Oh tersenyum. "Aku senang mendengarnya, Ji-Hyun. Aku ingin memiliki hubungan dengan kamu juga."
Kami berdua diam, menikmati kebahagiaan yang kami rasakan. Tiba-tiba, Tae-Oh mengajak aku untuk berjalan-jalan di pedesaan.
"Ji-Hyun, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ikut aku," katanya dengan senyum.
Aku penasaran. "Apa itu, Tae-Oh?"
Tae-Oh hanya tersenyum. "Kamu akan lihat."
Kami berdua berjalan melewati sawah dan kebun, menikmati keindahan alam pedesaan. Setelah beberapa menit berjalan, kami tiba di sebuah tempat yang indah.
Ini adalah sebuah danau kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang rindang. Air danau itu sangat jernih, sehingga aku bisa melihat ikan-ikan yang berenang di dalamnya.
"Aku suka tempat ini, Tae-Oh. Ini sangat indah," kataku dengan kagum.
Tae-Oh tersenyum. "Aku juga suka tempat ini. Aku sering datang ke sini untuk berpikir dan menenangkan diri."
Kami berdua diam, menikmati keindahan danau itu. Tiba-tiba, Tae-Oh mengambil tanganku lagi.
"Ji-Hyun, aku ingin bilang sesuatu padamu. Aku... aku sangat menyukaimu. Aku ingin kita bisa bersama-sama selamanya."
Aku merasa bahagia. "Aku juga sangat menyukaimu, Tae-Oh. Aku ingin kita bisa bersama-sama selamanya juga."
Tae-Oh tersenyum. "Aku senang mendengarnya, Ji-Hyun. Aku ingin menciummu sekarang."
Aku merasa sedikit gugup, tapi aku juga merasa bahagia. Aku ingin Tae-Oh menciumku.
Tae-Oh mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan aku bisa merasakan napasnya yang hangat di pipiku. Aku menutup mataku, menunggu ciuman pertama kami.
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku membuka mataku, dan aku melihat seorang wanita yang tidak aku kenal.
"Maaf, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua," katanya dengan senyum yang tidak tulus.
Tae-Oh menoleh ke arah wanita itu. "Halo, Soo-Young. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Wanita itu, Soo-Young, tersenyum. "Aku hanya ingin berjalan-jalan. Tapi aku tidak tahu bahwa kamu sedang bersama... pacarmu."
Aku merasa sedikit tidak nyaman dengan kata-kata Soo-Young. Tae-Oh tidak pernah memberitahuku tentang wanita ini sebelumnya.
"Tae-Oh, siapa dia?" tanyaku dengan penasaran.
Tae-Oh terlihat tidak nyaman. "Soo-Young adalah... mantan pacarku."
Aku merasa sedikit terkejut. Tae-Oh tidak pernah memberitahuku tentang mantan pacarnya sebelumnya.
Soo-Young tersenyum. "Ya, aku adalah mantan pacarnya. Dan aku masih menyukainya sampai sekarang."
Aku merasa tidak nyaman dengan kata-kata Soo-Young. Tae-Oh tidak pernah memberitahuku bahwa mantan pacarnya masih menyukainya.
Tae-Oh terlihat tidak nyaman juga. "Soo-Young, aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak memiliki perasaan padamu lagi. Aku sudah memiliki pacar baru sekarang."
Soo-Young menatapku dengan mata yang dingin. "Ya, aku tahu. Aku melihatnya. Tapi aku tidak percaya bahwa kamu bisa meninggalkan aku untuk gadis seperti dia."
Aku merasa sedikit marah dengan kata-kata Soo-Young. Tae-Oh memegang tanganku dan menarikku mendekat.
Soo-Young, aku minta kamu untuk tidak mengganggu kami berdua. Aku sudah tidak memiliki perasaan padamu lagi, dan aku sudah bahagia dengan Ji-Hyun.
Soo-Young tersenyum. "Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku tidak akan menyerah, Tae-Oh. Aku akan membuat kamu kembali padaku."
Soo-Young berbalik dan pergi, meninggalkan aku dan Tae-Oh sendirian lagi. Aku merasa sedikit lega, tapi juga sedikit tidak nyaman.
Tae-Oh memandangku. "Maafkan aku, Ji-Hyun. Aku tidak ingin kamu bertemu dengan Soo-Young seperti ini."
Aku tersenyum. "Tidak apa-apa, Tae-Oh. Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi antara kamu dan Soo-Young?"
Tae-Oh menghela napas. "Kami bertemu di universitas. Kami jatuh cinta dan menjadi pacar. Tapi kemudian, aku menyadari bahwa Soo-Young tidak seperti yang aku pikir. Dia sangat posesif dan tidak ingin aku berteman dengan siapa pun selain dia. Aku mencoba untuk meninggalkannya, tapi dia tidak ingin melepaskanku."
Aku mendengarkan cerita Tae-Oh dengan saksama. Aku bisa melihat bahwa Tae-Oh sangat tidak nyaman ketika membicarakan Soo-Young.
Tae-Oh melanjutkan. "Aku akhirnya berhasil meninggalkannya setelah beberapa bulan. Tapi sepertinya, dia masih belum bisa menerima kenyataan itu."
Aku mengerti sekarang. Aku memahami mengapa Tae-Oh sangat tidak nyaman ketika Soo-Young muncul.
Aku memegang tangan Tae-Oh. "Tidak apa-apa, Tae-Oh. Aku ada di sini untukmu. Aku tidak akan pergi kemana pun."
Tae-Oh tersenyum. "Terima kasih, Ji-Hyun. Aku merasa lebih baik sekarang."
Kami berdua diam, menikmati keindahan danau itu. Tiba-tiba, Tae-Oh memandangku dengan mata yang lembut.
"Ji-Hyun, aku ingin menciummu sekarang. Apakah kamu tidak keberatan?"
Aku tersenyum. "Tidak, aku tidak keberatan. Aku ingin kamu menciumku."
Tae-Oh mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan aku bisa merasakan napasnya yang hangat di pipiku. Aku menutup mataku, menunggu ciuman pertama kami.
Tae-Oh menciumku dengan lembut, dan aku bisa merasakan cinta dan kasih sayangnya. Aku merasa bahagia dan nyaman di dalam pelukannya.
Kami berdua berpelukan, menikmati ciuman pertama kami. Aku tahu bahwa aku telah menemukan cinta sejatiku, dan aku tidak akan pernah melepaskannya.
Setelah beberapa lama, kami berdua berpisah. Aku merasa bahagia dan puas, dan aku bisa melihat bahwa Tae-Oh juga merasakan hal yang sama.
Tae-Oh tersenyum. "Aku suka ciumanmu, Ji-Hyun. Aku ingin menciummu lagi."
Aku tersenyum balik. "Aku juga suka ciumanmu, Tae-Oh. Aku ingin kamu menciumku lagi juga."
Tae-Oh mendekatkan wajahnya ke wajahku lagi, dan kami berdua berciuman lagi. Aku merasa bahagia dan nyaman di dalam pelukannya.
Setelah beberapa lama, kami berdua berpisah lagi. Aku merasa lelah tapi bahagia, dan aku bisa melihat bahwa Tae-Oh juga merasakan hal yang sama.
Tae-Oh tersenyum. "Aku rasa kita sudah cukup berciuman untuk hari ini. Bagaimana kalau kita pulang dan beristirahat?"
Aku tersenyum balik. "Itu ide yang baik, Tae-Oh. Aku sudah cukup lelah untuk hari ini."
Kami berdua berjalan kembali ke rumah, berpegangan tangan dan berbicara tentang hal-hal yang kita sukai. Aku merasa bahagia dan nyaman di samping Tae-Oh, dan aku tahu bahwa aku telah menemukan cinta sejatiku.
Setelah beberapa menit berjalan, kami tiba di rumahku. Aku membuka pintu dan mempersilakan Tae-Oh masuk.
Tae-Oh tersenyum. "Terima kasih, Ji-Hyun. Rumahmu sangat indah."
Aku tersenyum balik. "Terima kasih, Tae-Oh. Aku senang kamu suka."
Kami berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat, tapi aku juga ingin menghabiskan waktu dengan Tae-Oh.
Tae-Oh memandangku. "Ji-Hyun, aku ingin menghabiskan malam ini di sini. Apakah kamu tidak keberatan?"
Aku tersenyum. "Tidak, aku tidak keberatan. Aku ingin kamu menghabiskan malam ini di sini juga."
Tae-Oh tersenyum balik. "Baiklah, aku akan menghabiskan malam ini di sini. Terima kasih, Ji-Hyun."
Kami berdua berpelukan dan beristirahat di sofa. Aku merasa bahagia dan nyaman di dalam pelukannya, dan aku tahu bahwa aku telah menemukan cinta sejatiku.
Setelah beberapa jam, aku dan Tae-Oh terbangun dari tidur kita. Aku merasa segar dan siap untuk menghadapi hari baru.
Tae-Oh tersenyum. "Selamat pagi, Ji-Hyun. Aku harap kamu tidur dengan nyenyak."
Aku tersenyum balik. "Selamat pagi, Tae-Oh. Aku tidur dengan sangat nyenyak berkat kamu."
Tae-Oh memandangku dengan mata yang lembut. "Aku senang bisa membuat kamu bahagia, Ji-Hyun. Aku akan selalu membuat kamu bahagia."
Aku merasa bahagia dan nyaman dengan kata-kata Tae-Oh. Aku tahu bahwa aku telah menemukan cinta sejatiku.
Tae-Oh melanjutkan. "Aku harus pergi sekarang. Aku memiliki janji dengan teman-teman aku."
Aku tersenyum. "Baiklah, Tae-Oh. Aku akan menunggu kamu kembali."
Tae-Oh menciumku sebelum pergi. Aku merasa bahagia dan nyaman dengan ciumannya.
Setelah Tae-Oh pergi, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang spesial untuknya. Aku ingin membuatnya bahagia dan terkejut.
Aku memutuskan untuk membuat makan malam spesial untuk Tae-Oh. Aku akan membuat masakan favoritnya, yaitu bibimbap.
Aku pergi ke pasar dan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Aku sangat bersemangat untuk membuat Tae-Oh terkejut dan bahagia.
Setelah aku membeli semua bahan, aku kembali ke rumah dan mulai memasak. Aku memasak dengan sangat hati-hati dan teliti agar masakan aku sempurna.
Saat aku sedang memasak, aku mendengar pintu depan terbuka. Aku berpikir bahwa itu pasti Tae-Oh yang sudah kembali.
Aku tersenyum dan berjalan ke arah pintu depan. Tapi, ketika aku membuka pintu, aku terkejut melihat seseorang yang tidak aku harapkan.
Di depan pintu, berdiri Soo-Young, mantan pacar Tae-Oh. Aku merasa tidak nyaman dan terkejut.
Soo-Young tersenyum. "Halo, Ji-Hyun. Aku harap aku tidak mengganggumu."
Aku merasa tidak nyaman dengan kata-kata Soo-Young. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan.
Aku bertanya. "Apa yang kamu inginkan, Soo-Young? Aku sedang sibuk memasak untuk Tae-Oh."
Soo-Young tersenyum. "Aku tahu bahwa kamu sedang memasak untuk Tae-Oh. Aku ingin berbicara dengan kamu tentang dia."
Aku merasa tidak nyaman dengan kata-kata Soo-Young. Aku tidak ingin berbicara dengan dia tentang Tae-Oh.
Aku bertanya. "Apa yang ingin kamu bicarakan tentang Tae-Oh? Aku tidak ingin membicarakan tentang dia dengan kamu."
Soo-Young mendekatkan dirinya kepadaku. "Aku ingin memberitahukan bahwa Tae-Oh masih menyukaiku. Dia tidak pernah benar-benar meninggalkan aku."
Aku merasa terkejut dan tidak percaya. Aku tidak ingin percaya bahwa Tae-Oh masih menyukai Soo-Young.
Aku bertanya. "Mengapa kamu bilang seperti itu? Aku tidak percaya bahwa Tae-Oh masih menyukaimu."
Soo-Young tersenyum. "Karena aku masih memiliki foto-foto kami berdua, dan aku masih memiliki pesan-pesan yang dia kirimkan padaku. Dia tidak pernah benar-benar meninggalkan aku, Ji-Hyun."
Aku merasa terkejut dan tidak percaya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Aku merasa sangat terkejut dan tidak percaya. Aku tidak ingin percaya bahwa Tae-Oh masih menyukai Soo-Young.
Soo-Young melanjutkan. "Ji-Hyun, aku ingin kamu tahu bahwa Tae-Oh tidak pernah mencintaimu. Dia hanya menggunakan kamu untuk melupakan aku."
Aku merasa sangat sedih dan terkejut. Aku tidak ingin percaya bahwa Tae-Oh hanya menggunakan aku.
Aku bertanya. "Mengapa kamu bilang seperti itu? Aku tidak percaya bahwa Tae-Oh hanya menggunakan aku."
Soo-Young tersenyum. "Karena aku tahu Tae-Oh sangat baik. Dia tidak akan pernah mencintai kamu seperti dia mencintai aku."
Aku merasa sangat sedih dan terkejut. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Aku berpikir bahwa itu pasti Tae-Oh yang sudah kembali.
Aku berjalan ke arah pintu depan dan melihat Tae-Oh berdiri di depan pintu. Aku merasa sangat sedih dan terkejut.
Tae-Oh tersenyum. "Halo, Ji-Hyun. Aku kembali."
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih.
Tae-Oh mendekatkan dirinya kepadaku dan memandangku dengan mata yang lembut. "Ji-Hyun, apa yang terjadi? Kamu terlihat sedih."
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih.
Tae-Oh memegang tanganku dan memandangku dengan mata yang lembut. "Ji-Hyun, tolong beritahu aku apa yang terjadi. Aku ingin membantumu."
Aku akhirnya bisa menjawab. "Soo-Young baru saja pergi. Dia bilang bahwa kamu masih menyukainya dan hanya menggunakan aku untuk melupakan dia."
Tae-Oh terkejut dan melepaskan tanganku. "Apa? Itu tidak benar! Aku tidak pernah menggunakan kamu, Ji-Hyun. Aku mencintaimu!"
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. "Mengapa Soo-Young bisa bilang seperti itu? Apakah ada kebenaran di dalam kata-katanya?"
Tae-Oh menggelengkan kepala. "Tidak, tidak ada kebenaran di dalam kata-katanya. Aku tidak pernah menggunakan kamu, Ji-Hyun. Aku mencintaimu dengan tulus."
Aku masih menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai.
Tae-Oh mendekatkan dirinya kepadaku dan memandangku dengan mata yang lembut. "Ji-Hyun, aku tahu kamu sedang bingung dan sedih. Tapi tolong percayai aku, aku tidak pernah menggunakan kamu. Aku mencintaimu dengan tulus."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku ingin percaya padanya, tapi aku masih ragu-ragu.
Tae-Oh melanjutkan. "Ji-Hyun, aku ingin membuktikan pada kamu bahwa aku tidak pernah menggunakan kamu. Aku akan melakukan apa saja untuk membuat kamu percaya padaku."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Tae-Oh mengambil napas dalam-dalam dan melanjutkan. "Ji-Hyun, aku ingin kamu tahu bahwa aku telah putus dengan Soo-Young sejak lama. Aku tidak pernah menyukainya lagi. Aku hanya menyukaimu, Ji-Hyun."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku ingin percaya padanya, tapi aku masih ragu-ragu.
Tiba-tiba, aku ingat sesuatu. Aku ingat bahwa Soo-Young pernah bilang bahwa dia masih memiliki foto-foto Tae-Oh dan pesan-pesan yang dia kirimkan padanya.
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. "Tae-Oh, aku ingin tahu sesuatu. Apakah kamu pernah mengirimkan pesan-pesan pada Soo-Young setelah kamu putus dengannya?"
Tae-Oh terkejut dan menatapku dengan mata yang lembut. "Ji-Hyun, aku... aku tidak ingin menyembunyikan apa pun dari kamu. Aku memang pernah mengirimkan pesan-pesan pada Soo-Young setelah kami putus, tapi itu hanya untuk membuatnya paham bahwa aku sudah tidak menyukainya lagi."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai.
Tae-Oh melanjutkan. "Ji-Hyun, aku tahu kamu sedang bingung dan sedih. Tapi tolong percayai aku, aku tidak pernah menggunakan kamu. Aku mencintaimu dengan tulus. Aku ingin membuktikan pada kamu bahwa aku tidak pernah menggunakan kamu."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku ingin percaya padanya, tapi aku masih ragu-ragu.
Tiba-tiba, Tae-Oh mengambil ponselnya dan menunjukkannya padaku. "Ji-Hyun, aku ingin kamu melihat ini. Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menggunakan kamu."
Aku menatap layar ponsel Tae-Oh dan melihat bahwa dia sedang menunjukkan chatnya dengan Soo-Young. Aku melihat bahwa Tae-Oh memang pernah mengirimkan pesan-pesan pada Soo-Young, tapi pesan-pesan itu hanya untuk membuatnya paham bahwa Tae-Oh sudah tidak menyukainya lagi.
Aku melihat satu pesan yang membuat aku terkejut. Pesan itu berbunyi: "Soo-Young, aku sudah tidak menyukaimu lagi. Aku mencintai orang lain sekarang."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai.
Tae-Oh memandangku dengan mata yang lembut. "Ji-Hyun, aku tahu kamu sedang bingung dan sedih. Tapi tolong percayai aku, aku tidak pernah menggunakan kamu. Aku mencintaimu dengan tulus."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih. Aku ingin percaya padanya, tapi aku masih ragu-ragu.
Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Aku berpikir bahwa itu pasti Soo-Young yang sudah kembali.Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih dan khawatir. Aku tidak ingin Soo-Young kembali dan membuat keadaan semakin rumit.
Tae-Oh memandangku dengan mata yang lembut dan memelukku. "Ji-Hyun, jangan khawatir. Aku akan menghadapi Soo-Young dan membuatnya paham bahwa aku tidak menyukainya lagi."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang sedih dan khawatir. Aku ingin percaya padanya, tapi aku masih ragu-ragu.
Tiba-tiba, Soo-Young muncul di depan pintu dan menatapku dengan mata yang dingin. "Ji-Hyun, aku kembali. Aku ingin berbicara dengan Tae-Oh lagi."Aku menatap Soo-Young dengan mata yang sedih dan khawatir. Aku tidak ingin dia berbicara dengan Tae-Oh lagi.
Tae-Oh melepaskan pelukannya padaku dan menatap Soo-Young dengan mata yang serius. "Soo-Young, aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak menyukaimu lagi. Aku mencintai Ji-Hyun sekarang."
Soo-Young menatap Tae-Oh dengan mata yang dingin. "Tae-Oh, kamu tidak bisa meninggalkan aku. Aku masih menyukaimu dan aku tidak akan pernah melepasmu."
Tae-Oh menggelengkan kepala. "Soo-Young, aku sudah tidak menyukaimu lagi. Aku mencintai Ji-Hyun dan aku tidak akan pernah kembali padamu."
Soo-Young menatap Tae-Oh dengan mata yang marah. "Tae-Oh, kamu tidak bisa meninggalkan aku! Aku akan melakukan apa saja untuk membuat kamu kembali padaku!"
Aku merasa khawatir dengan kata-kata Soo-Young. Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu yang bodoh.
Tae-Oh menatap Soo-Young dengan mata yang serius. "Soo-Young, aku minta kamu untuk tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Aku tidak akan pernah kembali padamu, dan aku akan selalu mencintai Ji-Hyun."
Soo-Young menatap Tae-Oh dengan mata yang marah. "Tae-Oh, kamu tidak bisa meninggalkan aku! Aku akan membuat kamu kembali padaku, tidak peduli apa pun yang harus aku lakukan!"
Aku merasa sangat khawatir dengan kata-kata Soo-Young. Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu yang bodoh dan menyakiti Tae-Oh.
Tiba-tiba, Soo-Young mengeluarkan sebuah benda dari tasnya. Aku terkejut ketika melihat bahwa benda itu adalah sebuah pisau.
Tae-Oh juga terkejut dan berusaha untuk menjauhkan diri dari Soo-Young. "Soo-Young, apa yang kamu lakukan? Berhenti itu!"
Soo-Young menatap Tae-Oh dengan mata yang marah. "Tae-Oh, kamu tidak bisa meninggalkan aku! Aku akan membuat kamu kembali padaku, tidak peduli apa pun yang harus aku lakukan!"
Aku merasa sangat takut dan khawatir. Aku tidak ingin Soo-Young menyakiti Tae-Oh.
Aku berusaha untuk menjauhkan diri dari Soo-Young dan melindungi Tae-Oh. "Soo-Young, berhenti! Jangan lakukan sesuatu yang bodoh!"
Soo-Young menatapku dengan mata yang marah. "Ji-Hyun, kamu adalah penyebab semua ini! Kamu yang membuat Tae-Oh meninggalkan aku!"
Soo-Young berusaha untuk mendekatkan diri kepadaku, tapi Tae-Oh menghalanginya. "Soo-Young, jangan sentuh Ji-Hyun! Aku tidak akan membiarkan kamu menyakitinya!"
Tae-Oh berusaha untuk melindungiku dari Soo-Young, tapi Soo-Young terlalu kuat. Dia mendorong Tae-Oh ke samping dan mendekatkan diri kepadaku.
Aku merasa sangat takut dan khawatir. Aku tidak ingin Soo-Young menyakitiku.
Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Aku berpikir bahwa itu pasti orang lain yang datang untuk membantu kami.
Soo-Young juga mendengar suara itu dan menoleh ke arah pintu. Aku melihat kesempatan itu dan berusaha untuk menjauhkan diri dari Soo-Young.
Aku berhasil menjauhkan diri dari Soo-Young dan berlari ke arah pintu. Aku melihat seorang polisi berdiri di depan pintu dan aku merasa lega.
Polisi itu menatap Soo-Young dengan mata yang serius. "Soo-Young, kamu ditangkap karena tindakanmu yang mengancam nyawa orang lain."
Soo-Young terkejut dan berusaha untuk melawan, tapi polisi itu sudah siap. Mereka menangkap Soo-Young dan membawanya pergi.
Aku merasa lega dan syukur bahwa semuanya sudah berakhir. Aku berpikir bahwa aku sudah aman sekarang.
Tae-Oh mendekatkan diri kepadaku dan memelukku. "Ji-Hyun, aku sangat khawatir tentangmu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Aku menatap Tae-Oh dengan mata yang bahagia. "Tae-Oh, aku juga khawatir tentangmu. Aku tidak ingin kehilanganmu juga."
Kami berdua berpelukan dan menikmati kebersamaan kami.