Mireia
Dengan cepat mataku mendarat pada sosok lelaki yang mondar mandir di pelataran toko. Senyumku terkembang.
Tanpa sadar, aku mengambil keuntungan saat Hendra belum menyadari kehadiranku di sini. Memperhatikan bagaimana jaket yang membalut tubuhnya tidak dapat meyembunyikan pundaknya yang lebar, dadanya yang bidang dan tubuhnya yang berotot. Tidak berlebihan. Semua otot yang ada di tubuhnya terlihat pas dan menonjolkan kemaskulinitasnya.
Meskipun tadi Siska mengatakan baju yang dikenakan Hendra lusuh, aku tidak menyetujui tentang hal itu. Baju yang dikenakan Hendra memang kelihatan tidak baru dan rapi, tapi mengingat pekerjaannya yang berkutat dengan oli dan mesin, bisa kubilang baju yang dikenakan sudah termasuk bersih.
“Hendra?” panggilku. Menyaksikan betapa cepatnya Hendra membalikkan tubuh untuk menghadapku. Mengamati senyumnya yang mengembang cerah begitu mendapatiku berdiri di hadapannya.
“Hei...kok di sini? Ada apa?” tanyaku. “Mau beli kue?” sambungku kembali. Mataku bergerak. Beredar mengamati Hendra yang terkekeh kecil dan menggelengkan kepala.
“Mau jemput kamu,” sahut Hendra. Senyum kecil masih tertinggal di bibirnya. Aku terkesiap kecil.
“Oya?” kepala Hendra mengangguk kuat. “Kerjaanmu gimana? Kamu nggak mungkin ninggalin kerjaan buat jemput aku kan? Ini…” sahutku sambil melirik arloji di pergelangan tanganku. “Masih jam kerja nggak sih?” kataku lagi.
Hendra melangkah menghampiriku. Tubuhku bergeming. Hanya mataku yang bergerak mereguk dirinya yang sekarang berada tepat di hadapanku. Sama seperti tadi pagi, dia memakaikan helm di kepalaku dan menguncinya.
“Karena ini masih jam kerja, makanya kita mesti cepet pulang. Ayo,” tanpa menunggu diriku, Hendra segera berjalan dan menaiki motornya.
“Hemm? Maksudnya gimana, Hen?” tanyaku begitu aku sudah duduk dengan nyaman di jok belakang motornya.
“Ada suku cadang yang udah mulai nipis di bengkel. Ian nyuruh aku buat beli lagi. Tokonya sekitar sini kok. Makanya sekalian aja sama jemput kamu,” tukasnya. Alisku terangkat mendengar penjelasan Hendra.
“Oya?” nadaku yang terdengar sangsi pasti tertangkap oleh Hendra karena sejurus kemudian dia mengangguk kuat.
“He eh. Ian itu orangnya konvensional. Dia lebih suka dateng dan ngecek langsung barang itu daripada lewat internet ato telepon. Karena kadang barang yang dateng nggak sesuai sama permintaan. Dia nggak mau rugi,” jelas Hendra kembali. Aku menganggukkan kepala.
“Aaah….gitu…” gumamku. Yah, cara bisnis tiap orang berbeda. Jadi bukan tempatku untuk menyamaratakan semuanya.
“Ini mau dianterin sampe rumah ato gimana?” gelengan kepalaku muncul sebagai jawaban atas pertanyaan Hendra.
“Sampe halte bus aja ya. Aku nungguin Liam pulang. Dia...kayaknya bentar lagi sampe halte deh,” tukasku lirih.
“Pegangan, Reia. Aku ngebut dikit ya. Biar Liam nggak kelamaan nunggu,” suara Hendra kembali terdengar tegas. Reia.. dia manggil aku Reia lagi. Selain Miran, nggak ada orang lain yang manggil aku Reia hatiku membatin. Senyum kecilku terukir.
Kedua tanganku bergerak ke samping pinggangnya. Jemariku menyentuh jaketnya dan berdiam di sana. Namun saat aku sudah menaruh jemariku di sana, aku merasakan satu tangan Hendra lepas dari stang motor dan menumpang di atas tangan kiriku. Melepaskan cengkramanku dari samping pinggangnya dengan halus. Perlahan menarik tanganku hingga berhenti di bagian depan jaketnya. Tidak lagi di samping pinggangnya. Sebelum kemudian melepaskan sentuhannya.
“Yang satunya juga ya. Pegangan yang kenceng. Jangan ngantuk lho,” tukasnya tanpa menyentuhku lagi.
Tidak lama. Sekitar dua puluh menit kemudian Hendra sudah mematikan mesin motornya dan aku bergerak turun.
“Liam..mana? Belum sampe ya?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling halte.
“Kayaknya belum sampe. Aku tunggu di sini aja,” ujarku. Pandanganku beralih pada halte yang kosong dan mulai bergeser. “Makasih banyak ya, Hen. Kamu jadi repot-repot jemput aku. Langsung balik aja nggak apa. Ntar dicariin Ian,” sahutku kembali sambil tersenyum melihatnya. Tanganku melambai.
Namun, bukannya membalas lambaian tanganku, Hendra malah turun dan menjajariku. Melangkah mendahuluiku dan duduk di kursi halte. Matanya menatapku dengan polos.
“Aku temenin sampe Liam dateng,” ujarnya. Alisku terangkat. “Cewek nunggu sendirian di sini. Bahaya. Ntar kalo ada apa-apa gimana?” tukasnya sambil pura-pura bergidik.
“Biasanya juga nggak ada apa-apa, Hendra. Aman,” tukasku sambil mengedikan bahu. “Jangan kesel ntar kalo kamu dimarahin Ian. Aku udah ngingetin kamu lho,” kekehannya terdengar begitu ucapanku terlontar.
“Ian nggak bakal marah. Oya, gimana tadi kerjaan di bakery? Lancar?” pertanyaan Hendra membuat mataku mengerjap. Teringat kotak kue yang kubawa.
“Mana tangan?” tanpa banyak kata, Hendra mengulurkan kedua tangannya ke arahku. Kubuka hand sanitizer milikku dan kusemprotkan kepadanya. Imut banget sih batinku saat mengamati Hendra yang mengikuti instruksiku tanpa kata. “Coba makan. Gimana menurutmu?” tanyaku sambil mengulurkan kotak yang sudah terbuka.
Hendra mencomot dan menyuapkannya langsung. Mengunyah dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Enak. Biasanya aku nggak terlalu suka manis. Tapi yang ini enak. Pas nggak kemanisan. Kamu yang bikin?” ujarnya. Aku mengangguk.
“Besok mau dimasukin ke website. Kalo responnya bagus, aku bisa bikin kue yang lain lagi,” sahutku.
“Wah...selamat, Reia. Keren. Tapi beneran. Ini enak banget,” puji Hendra tulus. Matanya masih menatapku. Senyum masih bertahan di bibirnya.
“Makasih, Hen. Moga Liam juga suka,” ujarku sambil kembali menyodorkan kotak itu lagi. “Ambil lagi. Ntar keburu diabisin Liam,” tukasku. Hendra terkekeh.
“Tante…..” suara nyaring Liam membuatku dan Hendra menoleh bersamaan. Tanganku terangkat dan melambai padanya.
“Liam udah dateng, makasih udah nemenin,” gelengan Hendra menunjukkan reaksinya atas ucapanku.
“Aku yang makasih, kamu udah mau aku temenin. Balik dulu ya. Udah nggak apa-apa kan, aku tinggal?” tanya Hendra sambil menegakkan tubuhnya. Aku mengangguk kecil.
“Tante, udah lama nunggu? Aku laper, Tante. Beli jajan yuk,” celotehan Liam membuatku dan Hendra menyengir. “Om Hendra? Kok di sini?” tanya Liam begitu menyadari ada Hendra di sampingku.
“Iya, Om Hendra nemenin tante Mireia bentar. Karena Liam udah dateng, jadi gantian Liam yang nemenin tante ya,” aku tersenyum mendengar sahutan Hendra. “Reia, aku balik dulu ya. Kamu ati-ati jalannya,” ujar Hendra sambil mulai melangkah ke tempat motornya terparkir. Matanya masih menatapku. Aku mengangguk.
“Liam juga, kalo naik sepeda jangan sampe ke tengah jalan. Oke?” sergahnya sambil menunggu respon dari Liam. Ibu jari Liam yang terangkat dan cengiran lebarnya membuat Hendra mengangguk puas. Dia berbalik dan mulai menaiki motornya. Hanya dalam beberapa detik, motornya sudah tak lagi terlihat dari tempat kami berdiri.
“Tante punya kue enak. Siapa yang sampe rumah lebih cepet, dia bisa makan semuanya,” selorohku membuat Liam memekik dan berlari menuju sepedanya yang terparkir.
***
Felicia
“Kamu di kantor kan? Di atas?” aku diam menunggu sahutan dari Hendra.
“Aku di bawah bawa makanan. Aku langsung ke atas ya?” senyumku terkembang. Aku bergumam dan mengangguk. Dengan cepat kumatikan panggilanku dan kutekan tombol lift.
Mengambil langkah awal untuk mendekati Hendra, benar-benar membuatku berdebar. Sering aku datang ke mari dan bertemu Hendra ataupun ayahnya. Namun, saat itu aku hanya menemui dia sebagai seorang sahabat.
Tapi tidak untuk kali ini. Karena sejak beberapa waktu belakang, perasaanku pada Hendra telah berubah. Aku ingin Hendra melihatku sebagai seorang wanita.
“Fe..kok tumben sih ke sini? Nganggur ya?” suara Hendra yang menyambutku di pintu ruangannya membuatku tersenyum lebar. Tanganku terangkat dan mengulurkan kotak pizza untuknya.
“Tau aja sih. Bosen aku di rumah, Hen. Yang lain nggak ada yang bisa diajak maen,” jawabku santai. Hendra terkekeh. Tangannya meraih kotak itu dan menyuruhku masuk. Mataku beredar dan mendapati dua orang lelaki yang masih berada dalam ruangan tim.
“Hei, Damar. Johan. Makan bareng yuk. Aku bawa banyak nih,” ajakku. Sorakan mereka terdengar cepat.
“Felicia.. Lama nggak main ke sini nih,” kekehanku terlepas mendengar ucapan Johan.
“Lama apaan sih. Baru juga bulan lalu ya, Hen, kalo nggak salah. Aku ke sini,” ujarku sambil menarik kursi.
“Iya, rasanya. Bulan lalu. Mungkin,” tukasnya sambil cengengesan. Jemariku terangkat dan menepuk lengannya sekilas.
“Sialan. Gitu aja udah lupa,” tukasku pura-pura kesal. Jemariku meraih kotak dan membukanya. Aroma pizza menguar dan menyerbak ke seluruh penjuru ruangan.
“Kok tau aku masih ada di sini, Fe?” Hendra bertanya sambil menyuapkan sepotong pizza.
“Tadi aku tanya bunda. Bunda bilang kamu belom pulang. Biasa pulang jam berapa sih?” tanyaku sambil mengunyah.
“Jam delapan biasanya. Mar, saos sambalnya bawa sini dong,” aku megikuti pandangan Hendra dan melihat Damar yang mengulurkan bungkusan saos pada Hendra. “Kok nggak ngabarin aku dulu kalo mau ke sini?” tanyanya lagi. Aku meringis kecut.
“Udah aku chat dari tadi. Tapi kamu nggak bales-bales. Malah kayaknya belum kamu baca deh,” sungutku. Mataku menyipit dan melihatnya dengan pandangan kesal. Hendra hanya tertawa tanpa menghentikan makannya.
“Sori-sori. Nggak sempet ngecek handphone sama sekali tadi,” sahutnya. Keningku mengernyit.
“Emang sibuk banget ya?” tanyaku kembali.
“Kamu nggak tau, Fel?” ucapan Johan membuatku menoleh ke arahnya. Alisku terangkat naik. “Cowok ini tiap sore mesti keluar. Sejam. Paling lama dua jam. Ntar abis itu balik lagi ke kantor. Tiap hari kayak gitu,” sambung Johan. Kepalaku menoleh ke arah Hendra.
“Oya? Bener, Hen? Ngapain? Kok nggak pernah cerita sih?” tanyaku. Dia hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Ada lah,” jawabnya singkat masih dengan tersenyum. “Pinggirannya kok nggak dimakan sih? Aku makan ya,” tanpa menunggu jawabanku, Hendra langsung mengambil pinggiran pizzaku. Aku hanya meringis dan membiarkannya.
“Dulu aku pikir kalian tuh pacaran lho. Abis keliatan deket banget sih,” aku menoleh dan menyunggingkan senyum saat mendengar ucapan Damar.
“Nggak lah. Aku sama Fe tuh udah temenan dari kecil. Sahabatan. Nggak ada yang kayak gitu,” ujar Hendra santai.
Aku menelan ludah. Merasakan kepedihan perlahan menggores hatiku. Kuambil nafas panjang dan kupasang senyumku.