Waktu terus berjalan, berganti hari menjadi minggu, berganti minggu menjadi bulan, hingga akhirnya tahun demi tahun berlalu begitu saja. Empat tahun lamanya, waktu yang terasa begitu panjang, melelahkan, dan sepi bagi Larasati. Namun, selama itu pula, tidak pernah sekalipun kesetiaan dan kasih sayang Laras berkurang sedikit pun, baik untuk taman bunga warisan ibunya maupun untuk rasa cinta yang tersimpan rapat di dalam hatinya untuk Galang.
Setiap pagi, saat embun masih membasahi kelopak-kelopak bunga, Laras sudah bangun dan berada di taman itu. Dengan pakaian sederhana dan senyum yang selalu ia paksakan tetap merekah, ia melakukan rutinitas yang sama berulang kali: menyiram, membersihkan rumput liar, memotong bagian yang kering, dan memastikan setiap tanaman tumbuh sehat dan indah. Bagi orang lain, ini hanyalah pekerjaan mengurus kebun biasa. Namun bagi Laras, setiap tetes air yang ia siramkan adalah doa-doa inda yang ia panjatkan untuk keselamatan dan kebahagiaan Galang di tempat yang jauh di sana. Setiap bunga yang tumbuh mekar adalah cerminan rasa cintanya yang semakin hari semakin besar dan subur, tak pernah layu meski diserang rasa sepi dan rindu yang mendalam.
Sudah menjadi kebiasaan Laras, setiap sore menjelang matahari terbenam, ia akan duduk diam di bangku kayu tua yang terletak tepat di tengah hamparan bunga matahari. Tempat itu adalah tempat favorit mereka berdua dulu, tempat di mana mereka sering duduk berjam-jam hanya untuk mengobrol, tertawa, atau sekadar menikmati angin sore. Di sana, Laras akan menatap lurus ke arah jalan setapak yang menghubungkan desa mereka ke kota besar, jalan yang menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan orang yang ia tunggu.
"Galang... hari ini udah masuk tahun keempat ya kepergian kamu," gumam Laras pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin sore. Jemarinya mengusap lembut kelopak bunga matahari yang kini tumbuh jauh lebih besar, lebih rimbun, dan lebih indah dibandingkan empat tahun lalu. "Lihat nggak? Aku tepati janjiku. Aku rawat taman ini sebaik mungkin, aku jaga semua bunganya tetap mekar dan wangi. Aku juga jagain hati ini tetap utuh, tetap bersih, dan tetap cuma buat kamu. Kamu... kapan pulang?"
Tak ada jawaban, hanya suara angin yang berhembus di antara dedaunan dan kicauan burung yang pulang ke sarangnya. Namun bagi Laras, keheningan itu terasa seperti bisikan semesta yang meyakinkannya bahwa Galang akan segera kembali, bahwa kesetiaannya ini takkan sia-sia.
Selama kepergian Galang, komunikasi mereka memang tak seintens dulu. Galang yang sibuk dengan studi dan kegiatannya, membuat surat atau kabar yang datang ke desa itu makin jarang dan makin singkat. Kadang sebulan sekali, kadang berbulan-bulan baru ada kabar. Tapi hal itu tak pernah sedikit pun mengurangi keyakinan Laras. Ia selalu beralasan, 'Galang pasti sibuk. Galang pasti sedang berjuang keras demi masa depannya. Aku harus sabar, aku harus mengerti.'
Bahkan, saat tetangga atau teman-teman desa mulai banyak yang berbisik-bisik, mengasihani Laras yang sudah menunggu bertahun-tahun sendirian, atau menyarankan agar ia membuka hati untuk orang lain, Laras hanya akan tersenyum tipis dan menggeleng tegas. Baginya, hati ini sudah terisi penuh dan tertutup rapat hanya untuk satu nama: Galang. Tak ada celah sedikit pun untuk orang lain masuk.
Suatu sore, saat Laras sedang sibuk memetik bunga melati yang mekar harum, Bu Siti tetangga sebelah rumah datang membawa sepiring gorengan hangat. Wanita paruh baya itu menatap Laras dengan pandangan penuh kasih sayang sekaligus rasa prihatin yang mendalam.
"Laras... nak, istirahatlah dulu sebentar. Sudah sore, nanti kamu sakit kalau kerjanya terus menerus begini," panggil Bu Siti lembut, lalu duduk di bangku kayu itu bersama Laras.
Laras tersenyum ramah, lalu mencuci tangannya sejenak. "Iya, Bu. Sebentar lagi juga selesai kok. Ini melatinya lagi mekar banget, sayang kalau nggak dipetik dan disimpan."
Bu Siti menghela napas panjang, menatap hamparan taman yang sangat indah dan terawat itu. "Taman ini memang makin lama makin indah ya, Ras. Bunga-bunganya subur sekali, seolah-olah mereka tahu kalau kamu sayang banget sama mereka. Tapi... Bu Siti lihat, kamu sendiri yang makin kurus dan makin sering melamun belakangan ini. Masih menunggu Galang ya, Nak?"
Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada sangat halus, tapi cukup menusuk hati Laras. Senyum di bibirnya sedikit memudar. Ia menunduk menatap bunga di tangannya. "Iya, Bu. Aku janji sama dia. Aku tunggu dia pulang. Lagipula... aku yakin banget, sebentar lagi dia pasti pulang. Kan udah waktunya dia selesai kuliah."
"Ras... dengerin Ibu ya," Bu Siti memegang tangan Laras dengan lembut, menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Mencintai dan menunggu itu memang mulia, tapi jangan sampai kamu lupa bahagia ya, Nak. Ibu cuma khawatir, kalau nanti kenyataan yang datang nggak sesuai sama apa yang kamu harapkan... kamu bakal sakit hati banget. Ibu nggak mau kamu terluka sendirian."
Hati Laras sedikit bergetar mendengar kata-kata itu. Ada rasa cemas yang samar-samar muncul, rasa takut yang entah dari mana asalnya. Namun, ia segera menepis rasa itu jauh-jauh. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum kembali.
"Nggak bakal ada kenyataan yang bikin aku sakit, Bu. Karena aku yakin sama Galang. Dia orang yang tepati janji. Dia pasti ingat sama aku, sama taman ini, dan sama semua kenangan kita. Dia pasti pulang buat nemuin aku," jawab Laras penuh keyakinan, meski di dasar hatinya rasa takut itu masih bersembunyi diam.
Bu Siti hanya bisa mengangguk pasrah dan tersenyum sedih. "Ya sudah, kalau itu keputusan kamu. Ibu cuma berdoa semoga apa yang kamu harapkan terwujud ya, Nak. Semoga penantian panjangmu ini berakhir indah dan bahagia."
Setelah Bu Siti pulang, Laras kembali menatap jalanan kosong itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan kembali hatinya yang sempat bergolak. Ia berjalan mendekati bunga mawar merah yang tumbuh di dekat pagar, bunga yang dulu sering ditanam dan disiram bersama oleh dirinya dan Galang.
"Galang... cepatlah pulang," bisiknya pelan sambil menyentuh kelopak mawar itu. "Aku sudah siapkan semuanya. Taman ini indah banget, harum banget, sama kayak hati aku yang penuh cinta buat kamu. Aku cuma mau denger satu kalimat dari mulut kamu: kalau kamu juga punya rasa yang sama kayak aku. Kalau rasa rindu dan cinta ini juga ada di hatimu."
Malam itu, bintang-bintang bersinar sangat terang di langit desa yang bersih dari polusi. Di dalam kamarnya yang sederhana, Laras menulis surat lagi, seperti biasa. Surat yang takkan pernah dikirim, surat yang menjadi catatan perasaannya setiap hari.
'Galang, malam ini langit cerah banget. Aku ingat dulu kita sering baringan di sini ngitung bintang. Kamu bilang, bintang yang paling terang itu adalah harapan. Sekarang, bintang paling terang di hatiku cuma satu: harapan buat ketemu kamu lagi. Empat tahun itu lama banget, Galang. Rindu ini makin besar sampai rasanya sesak di d**a. Tapi aku bertahan, aku sabar, karena aku yakin... di balik perpisahan ini, ada pertemuan yang jauh lebih indah yang Tuhan siapkan buat kita. Pulanglah cepat ya... taman bunga di hatimu udah penuh mekar nungguin kamu.'
Laras menyimpan surat itu di dalam kotak kayu kecil yang berisi ratusan surat serupa lainnya. Kotak itu adalah harta paling berharga baginya, saksi bisu empat tahun penantian panjang dan cinta dalam diamnya.
Ia belum tahu, bahwa keesokan harinya, kabar yang ia tunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga. Kabar bahwa Galang akan pulang. Namun, kabar itu tak datang sendirian. Ia membawa serta kenyataan pahit yang akan mengubah seluruh hidup dan isi hati Laras selamanya.
Keesokan paginya, saat matahari baru saja menyingsingkan cahayanya, suara kendaraan bermotor terdengar memecah keheningan pagi desa. Sebuah mobil penumpang berwarna hitam mengkilap melaju perlahan masuk ke jalan utama desa, menuju arah rumah Galang yang tak jauh dari rumah Laras.
Jantung Laras seketika berdegup kencang tak beraturan saat mendengar suara itu. Tangannya yang sedang menyiram bunga berhenti bergerak. Air dari selang itu terus mengalir membasahi tanah, tapi Laras tak lagi menyadarinya. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah jalan masuk itu.
"Galang...?" batinnya bergetar hebat, campuran antara rasa bahagia yang meluap dan rasa gugup yang luar biasa. Kakinya melangkah perlahan mendekati pagar, matanya tak lepas menatap mobil yang kini berhenti tepat di depan rumah tetangganya itu.
Pintu mobil terbuka perlahan. Dan sosok yang pertama kali turun dari sana adalah sosok yang begitu ia rindukan, begitu ia cintai, dan begitu ia tunggu selama empat tahun lamanya. Galang.
Pemuda itu tampak jauh lebih gagah, lebih dewasa, lebih tampan, dan berwibawa. Pakaiannya rapi, penampilannya bersih, dan senyum lebar yang selalu ia rindukan itu kembali menghiasi wajahnya.
Laras tersenyum bahagia, air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia hampir saja berteriak memanggil nama itu, hampir saja berlari keluar pagar untuk menyambut kepulangan sahabat sekaligus pujaan hatinya itu.
Namun, langkah kaki Laras terhenti mendadak, senyum di bibirnya mati seketika, dan napasnya tercekat tertahan di tenggorokan.
Karena dari sisi lain mobil itu, pintu penumpang terbuka. Dan keluarlah seorang wanita muda yang sangat cantik, sangat anggun, berpenampilan modis, dan sangat manis. Wanita itu tersenyum indah, lalu dengan sangat wajar dan akrab, langsung menggandeng lengan Galang dengan erat, menempelkan tubuhnya di sisi pemuda itu.
Dan yang paling menghancurkan hati Laras adalah saat Galang, tanpa ragu sedikit pun, mengelus lembut punggung tangan wanita itu, menatapnya dengan pandangan penuh cinta, lalu berjalan masuk ke halaman rumahnya bersama wanita itu, seolah tak ada orang lain yang menunggunya dengan penuh harap dan kesetiaan di seberang jalan sana.
Di detik itu juga, dunia Laras serasa runtuh seketika. Taman bunga yang indah di sekelilingnya tiba-tiba terlihat layu, berwarna kelabu, dan tak bernyawa lagi. Dan di detik itu pula, Laras sadar... bahwa penantian panjangnya selama empat tahun itu ternyata sia-sia belaka.