Craydon Cafe jaraknya tidak begitu jauh dari toko bunga tempat Sidney bekerja. Dia juga pernah beberapa kali ke tempat ini bersama teman-teman kuliahnya untuk mengerjakan tugas kelompok. Hal yang dia suka dari tempat ini adalah selain pengaturan tata ruangnya yang minimalis dan terkesan modern, menu pasta disini juga enak.
Gadis itu tiba di Craydon Cafe sepuluh menit lebih awal dari waktu janjian. Pria bernama Sean itu sepertinya belum datang, jadi dia memutuskan memilih meja dulu dan memesan orange juice.
Namun gadis itu tidak menunggu lama. Sean akhirnya muncul tidak sampai lima menit kemudian.
"Nona Sidney?"
"Tuan Sean. Selamat siang."
"Sudah lama sampai? Maaf sudah membuat Anda menunggu." Pria itu tersenyum mengambil tempat duduk berhadapan dengannya. Ekspresinya terlihat jauh lebih ramah daripada semalam yang jujur saja ini di luar perkiraani Sidney.
"Tidak apa-apa. Saya juga baru saja sampai kok."
Sidney sebenarnya cukup tercengang dengan perubahan sikap pria ini jika dibandingkan dengan sikapnya semalam yang agak kasar. Well, mungkin saja semalam mood-nya memang sedang sangat-sangat buruk, siapa yang tahu. Tapi apapun itu alasannya, kesan pertama yang ditunjukkan Sean semalam cukup membuatnya tidak ingin berurusan panjang dengan orang ini.
Sean datang mengenakan setelan celana jeans, turtleneck hitam yang dibalut blazer berwana abu-abu. Dan rambutnya di style rapi sedemikian rupa sehingga membuatnya terlihat rapi dan stylish. Sidney tidak akan terkejut jika profesi orang ini adalah seorang model atau aktor film. Sudah bertahun-tahun Sidney tidak menonton acara TV membuatnya buta soal dunia hiburan atau selebriti, jadi siapa tahu kan tebakannya benar?
Siapa pun yang melihatnya sekarang akan setuju jika pria ini memang tampan. Apalagi didukung dengan posturnya yang tinggi dan fit. Hal ini juga terbukti dari tatapan lapar para pengunjung kafe sekarang ini, terutama para wanita, yang sebagian besar tengah berbisik-bisik sambil melirik kagum ke arah Sean yang baru saja datang.
Seandainya diantara pengunjung café tiba-tiba ada yang mendatanginya untuk meminta foto, Sidney tidak akan kaget.
Bahkan pelayan perempuan yang mencatat menu pesanan Sean tidak bisa melepaskan tatapannya dari pria itu sambil menahan tersenyum. Sidney melirik Sean yang terlihat acuh, cenderung tidak mempedulikan tatapan lapar pengunjung cafe. Mungkin situasi ini sudah sering dihadapinya.
“Anda mau memesan menu lain?” Tawar Sean.
“Saya… hmm, Aglio e Olio, please.”
Dari pertemuan pertama mereka, sebenarnya Sidney bisa menilai jika Sean ini adalah orang kaya. Meskipun Sidney tidak begitu paham soal barang-barang bermerk, tapi dia tahu brand mobil yang ditumpangi Sean semalam adalah mobil mewah yang biasa dikendarai oleh orang berada.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa tujuan dari pertemuan ini? Apa yang diinginkan dari Sean? Jika ingin menuntut ganti rugi lebih kemungkinannya kecil. Kemarin Sidney ‘mempersilahkan’ Sean untuk menghubunginya kapan saja jika dirasa uang ganti ruginya kurang. Jika dipikir-pikir sekarang, sikapnya semalam terasa memalukan. Apalagi kata-kata terakhirnya yang berbalik menyalahkan pria itu atas kecelakaan yang menimpa keponakannya.
Ya tuhan, apa yang dia pikirkan semalam sampai mengatakan itu semua? Benar-benar memalukan!
Kini Sidney merasa bodoh. Padahal keuangannya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja tapi malah dengan entengnya menawarkan ganti rugi yang lebih.
“Tuan Sean…”
“Sean. Panggil aku Sean saja. Mari kita ngobrol dengan santai saja. Let’s drop the formality.”
Walaupun agak bingung, Sidney menuruti saja permintaan Sean.
“Oke. Hmm, Sean… Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
Pria menghela nafas perlahan. “Pertama-tama, aku ingin meminta maaf soal semua perkataanku semalam. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya.”
Semalam gadis itu sebenarnya sempat sedih atas ucapan pria itu soal orangtuanya saat di Klinik. Bahkan saat itu dia tidak bisa membela diri dan hanya terpaku diam saat dicecar Sean.
“Ya, tidak apa-apa.“ Well, setidaknya dia mengakui kesalahannya. “Aku paham Kamu pasti sangat menyayangi keponakanmu.”
“Iya, keponakanku satu-satunya. By the way, nama keponakanku Alana.”
“Ah, Alana… Oh iya, bagaimana kondisi dia?”
“Justru itu yang ingin aku bahas.”
“Jangan bilang… kalau keadaannya tidak membaik?”
Sean diam sejenak sambil menghela nafas berat dan mengangguk dengan wajah sedih.
“Aku sempat mengira dia sudah membaik.”