Bunga Aurum terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Seperti biasa, ia menatap langit-langit kamar selama beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Di sampingnya, Arka Pradipta masih tertidur membelakanginya.
Sudah satu tahun mereka menikah. Namun, jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada dua orang asing yang baru bertemu.
Bunga menoleh ke arah suaminya. Wajah Arka terlihat tenang saat tidur. Hanya pada saat-saat seperti itulah Bunga bisa memandangi pria itu tanpa merasa ditolak.
Ia pun tersenyum tipis, mengagumi ciptaan Tuhan yang maha agung.
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa baginya. Hari ini tepat satu tahun sejak mereka mengucapkan janji pernikahan di hadapan penghulu. Meski pernikahan itu terjadi karena permintaan kakek dan nenek mereka, Bunga tetap menyimpan harapan.
Ia percaya, bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Ia yakin ketulusan pada akhirnya akan meluluhkan hati Arka.
Setelah beranjak dari tempat tidur, Bunga segera menuju dapur.
Rumah itu masih sepi. Hanya suara jam dinding yang terdengar di antara kesunyian pagi.
Bunga membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan-bahan yang sudah disiapkannya sejak semalam. Ia ingin membuat sarapan istimewa.
Tangannya bergerak lincah memotong sayuran, menumis bawang putih, dan menyiapkan kopi favorit Arka.
Aroma masakan perlahan memenuhi ruangan.
Di sela-sela kesibukannya, ingatan Bunga melayang pada hari pernikahan mereka.
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup seorang wanita. Namun, bagi Bunga, hari itu adalah awal dari perjuangan panjang yang tak pernah ia bayangkan.
"Aku menerima perniknikahnya dan menghormati keputusan Kakek. Tapi jangan berharap lebih dariku."
Kalimat pertama yang diucapkan Arka setelah akad nikah masih teringat jelas dalam benaknya.
Saat itu mereka berada di ruang pengantin.
Bunga yang masih mengenakan gaun putih hanya mampu terdiam.
Ia mencoba meyakinkan dirinya, bahwa Arka hanya membutuhkan waktu.
Sayangnya, waktu tidak mengubah apa pun.
Hari demi hari berlalu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Namun, Arka tetap menjadi Arka yang dingin dan sulit dijangkau.
Ia tidak pernah bersikap kasar secara terang-terangan. Tidak pernah membentak tanpa alasan. Akan tetapi, sikap acuh tak acuhnya jauh lebih menyakitkan dari pada kemarahan.
Pukul tujuh pagi, semua hidangan telah tersusun rapi di meja makan.
Bunga memandangi hasil kerjanya dengan puas.
Hari ini harus berbeda. Hari ini Arka pasti akan mengingat hari pernikahan mereka. Itu Pasti. Bunga sangat yakin.
Suara pintu kamar terbuka membuat Bunga segera berdiri. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Arka menuruni tangga dengan kemeja abu-abu dan jas hitam yang menggantung di lengan kirinya.
Pria itu tampak tampan seperti biasa.
Sangat tampan hingga membuat Bunga jatuh cinta berulang kali, meski cinta itu sering kali hanya bertepuk sebelah tangan.
"Selamat pagi, Mas," sapa Bunga dengan senyuman tulus.
Arka hanya mengangguk singkat seraya berkata, "Pagi."
Bunga segera menarik kursi untuk suaminya itu.
"Silakan duduk," titahnya.
Arka duduk lalu mengambil gelas berisi air putih di depannya.
Tatapan pria itu bahkan tidak sempat memperhatikan dekorasi kecil yang sengaja dibuat Bunga.
Sebuah vas bunga putih dan lilin aromaterapi menghiasi meja makan.
Semua itu disiapkan sejak subuh.
"Dimasak sendiri?" tanya Arka datar.
Bunga mengangguk antusias.
"Iya. Aku membuat makanan kesukaan Mas."
"Hm."
Lagi-lagi hanya itu. Tidak ada pujian. Tidak ada senyuman. Tidak ada rasa penasaran.
Arka mulai makan dengan tenang.
Sementara Bunga memperhatikannya dengan harapan yang perlahan tumbuh.
"Mas," panggil Bunga akhirnya.
"Hm?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?" pinta Bunga dengan nada sedikit ragu.
Sementara Arka mengangguk tanpa menatapnya.
"Hari ini hari apa?"
Pertanyaan ini sengaja Bunga ajukan untuk melihat reaksi serta daya ingat Arka tentang hubungan sakral mereka.
Tetapi, pria itu justru mengernyit.
"Hari Senin," jawabnya singkat, datar, dingin.
Mendengar itu, Bunga terkekeh pelan, walau hatinya terasa nyeri.
"Bukan itu maksudku, Mas," cicit Bunga.
Lantas Arka meletakkan sendoknya, menatap Bunga dengan tatapan dingin.
"Lalu?"
Bunga menunggu beberapa detik. Berharap suaminya mengingat momen akad mereka.
Lalu beberapa detik lagi. Namun, tidak ada tanda-tanda Arka mengingat sesuatu.
"Aku tidak tahu," cetus Arka akhirnya. Seolah tak ada hari istimewa dalam hidupnya.
Hati Bunga mencelos. Hari yang sudah ia nantikan selama berminggu-minggu ternyata sama sekali tidak berarti bagi Arka.
Lebih tepatnya, dialah yang tak berarti di mata Arka.
"Hari ini ulang tahun pernikahan kita, Mas," ungkap Bunga akhirnya.
Tetapi, wajah Arka terlihat datar. Meski Bunga telah memberitahu hari pernikahan mereka.
"Oh."
Hanyan satu kata sederhana itu yang keluar dari bibir Arka. Dan rasanya seperti pisau yang menusuk tepat ke jantung Bunga.
Bunga hanya bisa memaksakan senyuman.
"Mas benar-benar lupa?" tanya Bunga, sembari menahan getir di dadanya.
"Aku sedang banyak pekerjaan, Bunga."
Jawaban itu membuat tenggorokan Bunga terasa sesak.
"Setahun pernikahan kita..."
Bunga mencoba untuk mengungkapkan isi hatinya, walau hal itu berulang kali dilakukan sejak dulu. Dan jawaban Arka masih tetap sama... Dingin.
"Aku tahu," potong Arka cepat.
"Tapi Mas lupa," seloroh Bunga dengan nada yang dipaksakan. Seolah Arka peduli.
Nyatanya ia tahu persis, bahwa pria itu tidak memiliki empati sama sekali terhadapnya.
Arka menghela napas. Seakan percakapan itu mengganggu kenyamanannya.
"Bunga, jangan mempermasalahkan hal-hal seperti ini," ucap Arka tanpa beban.
Hal-hal seperti ini?
Bagi Arka, hari pernikahan mereka hanyalah hal kecil yang tidak perlu dipermasalahkan. Namun bagi Bunga, hari itu adalah satu-satunya pengingat bahwa dirinya masih memiliki hubungan dengan pria yang dicintainya itu.
Setelah sarapan selesai, Arka berdiri dan memeriksa jam tangannya.
"Aku berangkat," kata pria itu datar.
"Mas," panggil Bunga dengan nada memelas.
Arka pun menoleh. Namun, tatapan pria itu seakan tak sampai kepada Bunga.
Melihat raksi suaminya yang begitu dingin, Bunga menggenggam ujung bajunya sendiri dengan gugup.
"Apa selama satu tahun ini Mas tidak pernah mencoba menerima aku?"
Walau sejak awal Bunga sudah tahu jawaban atas pertanyaan ini, tetapi melihat sikap Arka yang acuh setiap hari, rasanya begitu menyakitkan.
Kini tatapan Arka berubah. Untuk sesaat, Bunga berharap pria itu akan mengatakan sesuatu yang mampu menghapus semua kesedihannya. Namun, harapan itu kembali hancur.
"Aku sudah menjalankan kewajibanku, Bunga," jawab Arka akhirnya dengan suara baritonnya yang tegas.
"Itu bukan jawaban yang aku tanyakan, Mas," protes Bunga.
"Bunga."
Kini suara Arka terdengar lebih tegas. Membuat hati Bunga tersayat.
"Pernikahan ini terjadi karena keinginan keluarga kita," lanjut Arka.
"Tapi kita sudah menikah, Mas."
"Aku tahu."
"Kalau begitu kenapa Mas selalu menjaga jarak dariku?"
Pertanyaan bodoh ini keluar begitu saja dari bibir Bunga tanpa aba-aba.
Arka terdiam beberapa saat. Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat dunia Bunga runtuh.
"Karena aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Tiba-tiba udara seolah berhenti bergerak.
Bunga tidak mampu berkata apa-apa.
Meski sudah sering merasakan penolakan, mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan. Sangat menyakitkan.
"Aku pergi," pamit Arka akhirnya.
Arka melangkah menuju pintu. Kali ini Bunga tidak mencoba menghentikannya.
Ia hanya berdiri mematung sampai suara mobil Arka menghilang dari halaman rumah.
Begitu rumah kembali sunyi, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.
Satu tetes. Dua tetes. Lalu semakin banyak.
Bunga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak.
Bunga sudah berusaha. Selama satu tahun penuh ia berusaha menjadi istri yang baik. Ia memasak. Membersihkan rumah. Mengurus kebutuhan Arka. Menghafal makanan kesukaannya.
Mengingat setiap jadwal penting suaminya. Namun, semua itu tidak pernah cukup.
Di mata Arka Pradipta, ia tetap hanya seorang wanita yang dipaksakan masuk ke dalam kehidupannya. Tidak lebih. Tidak kurang.
Lalu Bunga berjalan perlahan menuju ruang keluarga. Tatapannya jatuh pada foto pernikahan yang terpajang di atas lemari.
Di foto itu, ia tersenyum sangat bahagia.
Sedangkan Arka hanya menunjukkan ekspresi datar.
Saat itu Bunga mengira suaminya hanya gugup. Kini ia sadar. Arka memang tidak bahagia menikah dengannya.
Perlahan, Bunga mengusap bingkai foto tersebut.
"Haruskah aku terus bertahan, Mas?" bisiknya lirih. Namun, tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian yang menemani.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, sebuah pertanyaan besar muncul di dalam hati Bunga.
Jika keberadaannya tidak pernah dianggap, apakah ia masih memiliki alasan untuk tetap bertahan dalam pernikahan ini?
"Mas, apa yang harus aku lakukan agar kau bersedia membuka hatimu? Ataukah kau ingin aku merelakan pernikahan kita?" lirih Bunga seorang diri.