Kebanyakan orang sedang tidur di Desa Pandansari, hanya beberapa lelaki dan pemuda yang berkeliling kampung untuk melakukan ronda malam. Sudah puluhan tahun tidak pernah ada ronda di Pandansari. Penduduk kini punya sistem keamanan rumah super canggih yang memastikan maling tidak akan bisa membobol masuk. Jika si maling memaksa, siap-siap saja kehilangan salah satu anggota tubuh. Yang manapun, suka-suka si sistem keamanan.
Tapi kali ini lain. Sudah tiga minggu gempa terus-menerus terjadi setiap hari, bahkan sudah seperti mandi dan sikat gigi, sehari dua kali atau lebih, memaksa warga desa untuk menyusun jadwal ronda demi keamanan bersama. Entah kenapa, bahkan 160 tahun setelah merdeka, belum juga ada perhatian khusus tentang kegawat daruratan bencana. Sosialisasi dan pelatihan evakuasi cuma diadakan seakan-akan untuk memenuhi surat pertanggungjawaban. Sampai sekarang rumah-rumah wargapun masih belum tahan gempa padahal jarak antara puncak semeru dan desa hanya duabelas kilometer.
Pukul dua dini hari, alarm bencana meraung. "ERUPSI!! ERUPSI!!" peserta ronda mulai menyebar dan berteriak-teriak membangunkan warga. Satu-persatu warga keluar rumah dengan wajah mengantuk. Ada yang menuntun anak balita, menggendong bayi, menyangklong tas yang sudah disiapkan untuk dibawa dalam keadaan darurat, dan ada yang berteriak menangis mencari anggota keluarganya.
Kay, gadis kecil yang masih delapan tahun, dan ayah serta ibunya keluar rumah dengan tas punggung berisi dokumen2 penting dan sedikit makanan instan. Kampung yang tadinya sunyi mendadak ramai seperti pasar malam di malam minggu. Tangisan dan suara panik makin lama terdengar makin keras dari sana sini sebelum ditelan oleh suara tegas tapi menenangkan dari system pengeras suara balai desa.
"Harap tenang Bapak Ibu dan adik-adik. Semuanya ambil bagian di barisan, dan silahkan berjalan dalam barisan mengikuti jalur evakuasi. Seperti yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya."
"Dilakukan sebelumnya apa? 10 tahun yang lalu? Kay saja masih 8 tahun dan dia jelas-jelas tidak tahu apa yang harus dilakukan," Ayah Kay menggerutu pada dirinya sendiri, tapi menggandeng dan menuntun Kay dan ibunya masuk barisan yang sudah mulai terbentuk didepan rumahnya. Ibu Kay hanya memberi senyum pengertian pada suaminya dan turut menggenggam tangan Kay erat agar si bocah tidak hilang.
Kay tidak menangis. Walaupun tidak pernah mengikuti simulasi bencana, Ia tau pasti apa yang harus dilakukan. Ia telah membacanya berkali-kali di buku pelajaran, juga selebaran yang sering dibagikan di sekolahnya setiap mereka mempelajari tema "bencana alam". Ia cuma perlu mencari tanda bertuliskan Jalur Evakuasi dan mengikuti petunjuk arahnya hingga sampai ke titik kumpul atau Assembly Point. Mudah.
Bumi bergetar lagi, kali ini tidak berhenti dalam hitungan menit seperti sebelumnya, melainkan bergetar terus menerus dengan getaran yang perlahan semakin keras hingga berubah menjadi guncangan besar. Kay sampai terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan diri. Untung ayahnya menarik tangannya, sehingga dengkulnya tidak harus menahan perih karena harus bertabrakan dengan kerikil dan batu2 yang berserakan di jalan. Tapi ketiak Kay sakit. Rupanya tarikan ayahnya telah membuatnya terkilir di bagian itu.
Dentuman besar dan kilatan cahaya merah memaksa Kay keluar dari benak pikir. Ia menoleh ke arah cahaya, ke arah timur, tempat sang Semeru berdiri, pasti tak terlihat di kegelapan malam andaikan ia tak menyemburkan lumpur membara ke udara. Mempesona. Tak ia pikir, Semeru bisa memuntahkan lava menyala. Kay menganggap Semeru hanyalah volkano membosankan yang akan menyemburkan asap dan gas saat meletus. Ternyata Semeru keren juga. Di titik lava itu meleleh keluar, Kay membayangkan disitulah puncak Jongring Saloka, puncak tertinggi di Jawa yang selalu ia impikan untuk didatangi.
"Ayo jalan Kay!" Ayahnya berseru. Sepertinya Kay melamun lagi. Mengerjapkan mata, iapun mulai berjalan mengikuti iring-iringan para calon pengungsi sambil mencuri-curi pandang pada lautan api yang meleleh turun mendekati mereka. Batu-batu berbagai ukuranpun mulai turun bagai dihujankan dari langit. Batu sebesar mobil menghantam rumah teman sekolahnya, Erik, membuat Kay menunduk menutup kepalanya karena reflek. Saat mengintip dan melihat rumah Erik bagai habis diratakan bulldozer, Kay hanya bisa berharap Erik dan keluarganya sudah tidak ada di rumah. Dia anak yang baik. Erik anak yang baik.