Sudah lebih dari setengah jam aku menangis di bangku ini. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kalau aku sudah meninggalkan tempat pesta. Mereka tentu masih asyik mengobrol dengan kerabat atau rekan kerja mereka yang lain. Mereka sama sekali tidak peduli apakah aku masih di sana atau tidak. Bahkan Varen, orang yang sudah seperti kakak sendiri bagiku, juga tidak menyadari ketidakhadiranku di sana.
Tapi aku merasa seseorang mendekatiku lalu duduk disampingku. Saat aku mengangkat kepalaku, barulah aku tahu kalau orang itu adalah Bu Darmi.
"Bu.." panggilku dengan suara serak. Bahkan pastinya suaraku terdengar sangat lirih karena terlalu banyak menangis.
"Kenapa kamu menangis, Nak? Ada apa? Ceritakan sama Ibu?"
Aku menggeleng di pelukan Ibu. Aku tak mau sampai ada orang lain yang tau bahwa aku mencintai Mas Rayyan. Cukup aku dan istrinya yang tahu.
"Bia mau pulang ke rumah, Bu. Bia nggak mau lama-lama di sini."
"Tapi pekerjaan Ibu masih banyak di sini, Nak. Ibu nggak mungkin pergi begitu saja. Tuan sama Nyonya bisa marah sama Ibu."
Benar apa yang dikatakan Bu Darmi. Beliau tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkan pesta itu.
"Bia pulang sendiri aja, Bu."
"Tapi Tuan sama Nyonya nanti marah sama kamu, Nak. Tunggulah sampai pesta ini selesai. Satu jam lagi.."
Aku mengangguk dan kembali memeluk Ibu. Untung aku masih memilikinya. Karena dia benar-benar tulus menyayangiku. Dia selalu memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Bahkan saat aku kecil dulu, dialah orang pertama yang akan mengucapkan selamat ulang tahun untukku.
"Bia sayang sama Ibu. Makasih, Bu. Ibu selalu memperlakukan Bia dengan baik selama ini."
"Ibu juga sangat menyayangi kamu, Bia. Sudah.., berhenti menangis. Nanti cantiknya luntur loh."
"Kecantikan Bia ini permanen, Bu. Nggak mungkin luntur," jawabku bercanda.
"Nah.., ini baru Bia anak Ibu," serunya sambil mengeratkan pelukannya.
***
"Calista, Kakak mau bicara sama kamu."
Dia menahan tanganku yang langsung ku tepis kasar. Dia lalu menghela napasnya dan berjalan beberapa langkah di depanku. Aku mengikutinya berjalan menuju taman belakang rumah.
Sudah seminggu sejak mereka menikah, dan mereka masih tinggal di rumah ini. Papa tidak mengizinkan mereka menginap di hotel karena rumah yang akan mereka tempati belum selesai direnovasi. Jadilah selama seminggu ini aku terus menghindar dari pasangan pengantin baru ini.
"Kakak mau minta maaf sama kamu, Lista." ujarnya.
"Nggak ada yang perlu dimaafin. Nggak ada yang salah juga kan?"
"Tapi kenapa kamu semakin menghindari Kakak, Lista?"
"Kamu tahu sendiri jawabannya."
"Calista.." panggilnya lemah.
"Udah nggak ada lagi yang perlu dibicarain kan? Aku sibuk," ketusku lalu berjalan menjauhinya.
"Mas Rayyan tahu, Lis. Mas Rayyan tahu kamu suka sama dia."
Ucapannya tersebut sontak menghentikan langkah kakiku.
"Dia tahu, Lista. Kakak udah cerita ke dia. Kakak udah ngasi tahu yang sebenarnya kalau kamu suka sama Mas Rayyan."
"Heh," dengusku. "Sayangnya aku bukan suka sama Mas Rayyan. Aku itu cinta sama dia."
"Tapi Mas Rayyan nggak bisa membalas rasa cinta kamu, Calista. Mas Rayyan menyayangimu sebagai adiknya. Sama seperti Kakak yang juga sayang sama kamu."
"Aku nggak perlu rasa sayang dari kalian berdua atau siapa pun. Dengar dan camkan itu baik-baik."
"Cal..Calista.." panggilnya pelan.
Aku sama sekali tidak menggubris panggilannya. Sampai dia memanggilku dengan panggilan lamaku yang sangat aku rindukan.
"Bia.."
"Jangan panggil aku dengan nama itu. Namaku Calista, bukan Bia."
Aku semakin mempercepat langkahku. Aku tak mau sampai pertahananku runtuh di rumah ini. Mereka pasti tertawa bahagia kalau sampai melihatku hancur.
Saat di dalam mobil, barulah aku menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan seluruh emosi yang kupendam sejak bertatap muka dengan wanita yang menjadi istri dari pria yang aku cintai. Aku sudah tidak bisa menahan tangisku. Apalagi saat mengingat bahwa Mas Rayyan mengetahui perasaanku ke dia. Namun kenapa dia tetap diam dan tidak berusaha berbicara langsung padaku.
***
Aku tiba di rumah pukul delapan malam. Mama, Papa dan yang lainnya sepertinya baru menyelesaikan ritual makan malam mereka. Aku sangat jarang ikut makan malam bersama mereka. Karena suasana makan malam dirumah ini selalu saja dingin. Sama sekali tidak ada kehangatan. Makanya aku lebih memilih makan malam diluar.
"Calista.., nanti setelah kamu selesai mandi, kamu temui Papa. Ada yang mau Papa bicarakan sama kamu."
"Hm.." gumamku tanpa melihat ke arah Papa. Aku bahkan sama sekali tidak merasa penasaran dengan apa yang akan Papa bicarakan denganku. Paling juga Papa menasehatiku karena sikapku yang tak mengacuhkan mereka. Salah siapa aku seperti itu? Mereka duluan kan yang mengacuhkanku?
Selesai mandi dan berganti pakaian, aku menemui Papa dan Mama yang tengah duduk di depan televisi. Jangan kira mereka akan duduk santai dan saling berangkulan mesra. Karena hal seperti itu tidak pernah terjadi. Mereka duduk santai dengan kegiatan mereka masing-masing. Papa menonton siaran berita di tv, dan Mama sibuk sendiri dengan ponsel di tangannya.
"Ada apa, Pa?" tanyaku. Aku memainkan ponselku, melihat berapa banyak likes yang kudapat dari postingan terakhirku di i********:.
"Papa mau bicara serius, Calista. Letakkan handphone-mu di meja," ujar Papa dengan nada tegas.
Mama sama sekali tidak tampak terganggu dengan nada tegas Papa. Mama hanya melirik sebentar ke arahku lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa sih? To the point aja deh, Pa," protesku. Tapi aku tetap mengikuti perintah Papa dengan meletakkan ponselku di atas meja.
"Ok, Papa nggak akan basa-basi. Papa mau kamu menikah dengan pria pilihan Papa."
Sebenarnya aku terkejut, sangat-sangat terkejut mendengarnya. Papa yang selama ini mengacuhkanku, tidak peduli dengan apapun yang aku lakukan, tiba-tiba saja memintaku untuk menikah dengan pria pilihannya. Tapi aku tidak menampakkan wajah kaget ku. Aku menutupinya dengan tetap memasang wajah datar.
"Eh, nggak bisa gitu dong, Pa. Papa nggak bisa seenaknya minta Calista menikah dengan orang yang tidak kita kenal. Karier Calista lagi bagus-bagusnya saat ini. Kok malah disuruh nikah? Enggak, Mama nggak setuju. Apapun alasannya Mama nggak setuju," protes Mama. Ia bahkan langsung meletakkan ponselnya ke meja sambil menatap Papa tajam.
"Kenapa Mama yang protes? Papa kenal dengan baik siapa orang nya. Dia pria yang baik, mapan dan bertanggung jawab. Papa rasa dia pantas untuk menikah dengan Calista."
"Gimana kalau setelah mereka menikah, dia melarang Calista berkarier. Enggak, Pa. Pokoknya Mama nggak setuju. Titik."
"Papa tidak menanyakan pendapat Mama. Setuju atau tidaknya, itu pilihan Calista."
Aku memutar mataku malas mendengar perdebatan mereka ini. Mereka sama-sama egois dan sama sekali tidak menghargai perasaanku.
"Lagian kenapa juga Papa tiba-tiba mau menikahkan Calista? Calista masih muda, Pa."
"Apa salahnya kalau aku meminta Calista menikah? Toh selama ini aku tidak pernah meminta apapun dari Calista."
Papa benar-benar sudah tersulut emosi. Papa bahkan menyebut dirinya 'aku' saat tadi bicara sama Mama.
"Jadi Calista.., Papa minta sama kamu untuk mau menikah dengan pria pilihan Papa. Hanya sekali ini Papa minta sesuatu dari kamu."
"Enggak, Mama nggak setuju. Calista tidak boleh menikah dengan siapapun dalam waktu dekat."
"FENITA.." bentak Papa.
"Ma..Pa.. Stop. Please, dengarkan aku dulu. Sebelumnya aku mau tanya ke Papa. Kenapa Papa tiba-tiba ingin menikahkan aku?" tanyaku.
"Perusahaan Papa membutuhkan suntikan dana dari seorang investor. Dan dia satu-satunya yang bisa menolong perusahaan Papa saat ini. Tapi sayangnya, dia hanya mau menanamkan sahamnya pada perusahaan Papa jika kamu bersedia menikah dengannya."
"Jadi Papa bermaksud menjual Calista? Begitu?" protes Mama lagi.
"Tutup mulutmu, Fenita."
"Ok, cukup. Aku nggak mau lagi mendengar pertengkaran Mama dan Papa. Aku harus bertemu dulu dengan pria itu, baru aku bisa memutuskan mau atau tidak menikah dengannya. Dan Mama.., jikapun nantinya aku menikah dengan pria itu, aku pastikan pria itu tidak akan bisa mengatur kehidupanku nantinya."
Aku meninggalkan Mama dan Papa yang masih diliputi aura permusuhan.
***
Papa benar-benar mengatur pertemuanku dengan pria itu. Bahkan tidak butuh waktu lama untuk bisa mempertemukan kami berdua. Papa langsung mempertemukan kami keesokan harinya.

Dan disinilah saat ini kami berada. Di sebuah restoran bintang lima yang memang diakui kelezatan makanannya.
Pria itu melihatku tanpa berkedip. Ia seperti menilai penampilanku saat ini.
"Silakan duduk," katanya sopan.
Kami duduk saling berhadapan. Dia memanggil waitress dan memesan beberapa jenis makanan, tentunya dengan bertanya padaku yang kujawab dengan kata 'terserah'. Setelah waitress tersebut pergi, pria ini kembali melihatku.
"Ada yang salah dengan penampilan saya?" tanyaku.
Dia tersenyum sinis. Mungkin baru menyadari gaya bicaraku yang selalu terkesan ketus. "Tidak. Kita hanya belum berkenalan sebelumnya. Saya Rafka Kalandra Lazuardy, panggil saja Rafka." Dia mengulurkan tangan kanannya.
"Calista," jawabku acuh tanpa membalas uluran tangannya.
Dia tampak sedikit salah tingkah karena penolakanku. Tapi dengan cepat, dia bisa mengatasi hal tersebut. Dia bahkan sudah terlihat lebih santai dari sebelumnya.
"Okey, saya kira kamu sudah mendengarnya dari orang tua kamu."
"Sebelumnya saya mau bertanya, apa motif di balik keinginan Anda untuk menikah dengan saya?" potongku.
"Saya tertarik pada kamu," jawabnya cepat.
Aku memutar bola mataku malas mendengar jawabannya. Alasan yang terlalu biasa.
"Jadi kamu ingin mendengar jawaban apa dari saya? Bahwa saya jatuh cinta sama kamu? Come on, saya tidak mungkin semudah itu jatuh cinta sama kamu."
"Bagaimana kalau keesokan hari Ada bertemu wanita lain yang lebih menarik dari saya? Apa Anda juga akan menikahinya?"
"Jadi kamu takut saya berselingkuh?" tanyanya dengan cengiran jahil.
Terlalu SKSD nih orang.
"Tidak sama sekali."
"Kamu tenang saja, saya ini pria yang setia. Dan bagi saya pernikahan juga bukan sebuah permainan. Pernikahan adalah hal yang suci dan sakral. Jadi, apa kamu bersedia menikah dengan saya?"
"Tidak sampai Anda mau jujur mengenai alasan Anda yang sebenarnya."
Pria ini tertawa dengan sangat menjijikkan. Ingin rasanya aku menyumpal mulutnya dengan vas bunga yang ada di meja ini. Tapi tawanya berhenti saat melihat mataku yang melotot tajam ke arahnya.
"Ok..ok, kayaknya kamu nggak suka basa-basi ya. Alasan saya memang karena saya tertarik sama kamu. Mungkin untuk menghindari perjodohan yang dilakukan ibu saya juga bisa saya jadikan alasan. Saya tidak suka menjalin satu hubungan dengan wanita asing yang tidak jelas asal-usulnya."
"Bagaimana dengan saya, bukankah saya juga wanita asing dan tidak jelas kehidupannya? Anda sendiri tidak mengenal saya dan mengetahui apa pun tentang kehidupan saya," potongku.
"Kamu berbeda, Calista. Ah, sebaiknya kita nikmati dulu hidangan ini."
Waitress tadi sudah kembali dan membawa berbagai hidangan yang cukup menggugah selera.
"Ini terlalu banyak dan berlebihan," protesku. Makanan yang dipesan pria ini bahkan sampai memenuhi meja. Sementara kami hanya makan berdua.
"Bukankah kamu tadi mengatakan terserah? So, jangan protes dan nikmati saja."
Sepertinya aku bakal membutuhkan kesabaran ekstra dalam menghadapi pria ini nantinya. Lihatlah, saat ini saja dia begitu santai menikmati makan siangnya tanpa peduli dengan tatapan tajamku.
"So? Apa keputusanmu?" tanyanya begitu kami menyelesaikan makan siang ini. Jangan tanya bagaimana nasib hidangan yang ada di hadapanku ini. Jelas saja lambungku dan lambungnya tak akan sanggup menghabiskan semua makanan ini.
"Baiklah, saya terima."
"Semudah itu?" tanyanya heran. Bukankah dari tadi dia yang sibuk menanyakan keputusanku.
"Saya kira kamu pasti akan memberi banyak alasan atau syarat tertentu sampai menerima saya untuk menikahi kamu."
"Tidak perlu. Saya kira saya juga membutuhkan Anda untuk bisa terbebas dari kungkungan orang tua saya."
"Marriage with benefit, huh?"
"Maybe, setidaknya tidak ada pihak yang dirugikan dalam pernikahan ini. Anda terlepas dari perjodohan yang dilakukan ibu Anda, dan saya pun terbebas dari kekangan ibu saya."
"Ok, tidak buruk juga sepertinya. Jadi kapan kamu bisa saya pertemukan dengan ibu saya?" tanyanya.
"Kapanpun Anda mau. Saya juga tidak terlalu sibuk minggu-minggu ini."
"Kalau begitu besok kita akan menemui ibu saya. Setelah itu malamnya saya akan melamar langsung ke rumah kamu. Dan akhir minggu ini, kita akan mengadakan acara pertunangan, lalu tiga bulan kemudian kita menikah," putusnya.
"Secepat itu?" tanyaku heran. Bagaimana dia bisa memutuskan hal besar seperti ini dengan begitu mudah.
"Saya tidak suka mengulur-ulur waktu. Lebih cepat lebih baik. Atau bagaimana kalau pernikahan kita diadakan bulan depan saja?" tantangnya.
"Baiklah, seperti yang Anda inginkan, Tuan."
Selesai makan siang, dia menawarkan diri untuk mengatarkan aku pulang. Aku sudah pasti menolaknya. Lagian aku bawa mobil sendiri, mau dititipkan di mana mobilku jika dia yang mengantarku pulang. Aku juga tidak langsung pulang ke rumah. Aku masih harus ke studio untuk melakukan pemotretan seperti biasanya.
***
Aku sudah menyampaikan keputusanku kepada Papa dan Mama. Papa tampak puas dengan keputusanku, tapi dia sama sekali tidak mengucapkan apapun. Kalau Mama? Tak perlu ditanyakan lagi, Mama sangat tidak suka dengan keputusan yang kuambil. Mama menyampaikan berbagai kekhawatirannya yang sangat berlebihan. Dan jawabanku atas kekhawatiran Mama hanya satu.
"Ini hidupku, dan aku yang menjalaninya. Salah atau benar keputusan yang kuambil, aku yang menanggung resikonya."
Mama tentu masih marah. Tapi ia tidak mengatakan apapun dan langsung masuk ke kamar.
Sesuai kesepakatan kami, hari ini aku dan Rafka menemui ibunya. Dia menjemputku ke rumah. Aku sudah berniat protes, tapi dia mengatakan bahwa tidak memiliki no hpku. Jadi satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya menjemputku ke rumah lebih awal. Bayangkan saja, dia datang ke rumahku pukul sembilan pagi. Astaga, menghadapi pria satu ini memang butuh kesabaran ekstra. Aku saja baru bangun tidur jam segitu, dia malah sudah duduk rapi di ruang tamu.
"Kamu harus bersikap sopan di depan orang tua saya. Jangan tunjukkan sifat angkuh kamu itu di depan mereka. Orangtua saya pasti langsung tidak menyukai kamu jika kamu bersikap acuh seperti ini," ucapnya di dalam mobil. Saat ini kami sedang di perjalanan menuju rumahnya.
"Dan perlu Anda ketahui, saya paling tidak suka disuruh berpura-pura. Jika orang tua Anda tidak menyukai saya, tidak masalah. Kita batalkan saja rencana pernikahan ini. Gampang kan?"
"Tidak semudah itu, Nona Calista. Sekali kamu sudah menyetujui untuk menjalin hubungan dengan saya, selamanya kamu tidak akan bisa terlepas dari saya."
"Oh ya? Kita lihat saja nanti," jawabku tak acuh.
Akhirnya aku tiba di rumah keluarga besar Lazuardy. Rafka mengulurkan tangannya untuk ku genggam. Namun aku sama sekali tidak memperdulikannya dan terus berjalan hingga sampai di depan pintu rumah. Rafka berdiri salah tingkah di belakangku sambil menggaruk tengkuknya yang aku yakin tidak gatal.
Dia lalu menekan bel rumah hingga seorang wanita yang mungkin berusia 40 tahun-an membuka pintu itu.
"Den Rafka, sudah pulang Den?" tanyanya.
"Udah, Mbok. Mama sama Papa ada di rumah kan, Mbok?"
"Ibu sama Bapak di dalam, Den? Ini pacarnya Aden ya. Wah.., cantik banget Den. Kayak bintang pelem di tipi."
Aku hampir tertawa mendengar gaya bicara pembantu di rumah Rafka ini. Selain karena terlalu banyak bicara dan terkesan sok akrab, tapi sepertinya pembantu Rafka ini lucu juga orangnya.
"Ayo, Calista," ajaknya.
Rafka membawaku menuju ruang keluarga di rumah ini. Disana terlihat sepasang pria dan wanita berumur tengah berangkulan mesra. Pemandangan yang entah kapan terakhir kali terjadi di rumahku. Aku jadi merindukan suasana seperti itu. Saat Mama dan Papa duduk bersantai berdua melihat aku dan Kak Nadhira yang sedang memainkan boneka.
"Ma..Pa.."
Mama dan Papa Rafka langsung mengalihkan pandangannya ke arah kami. Aku dapat melihat senyum bahagia di wajah ibunya Rafka dan wajah kaget dari ayahnya Rafka.
"Ada tamu ternyata, siapa dia Rafka?" tanya papanya Rafka.
"Ma.. Pa.. Kenalin, ini Calista, pacarnya Rafka."
Mamanya Rafka bangkit dari sofa dan menghampiriku. Ia memelukku begitu hangat. Aku sampai membeku di tempat, merasa begitu merindukan pelukan dari seorang ibu.
"Ta..Tante.." gumamku.
"Ah.., maafin Tante ya. Tante sampe segitu semangatnya meluk kamu. Tante senang banget karena akhirnya Rafka mau bawa pacarnya ke rumah. Mana pacarnya cantik banget gini. Aduh Calista.., kok kamu mau sih sama anak Tante yang biasa banget kayak dia? Seharusnya kamu bisa dapat yang jauh lebih ganteng dari si Rafka ini. Eh tapi jangan deh, kamu sama Rafka aja. Mau kan?"
Aku hampir tertawa mendengar celotehan mamanya Rafka. Ternyata baik majikan maupun pembantu di rumah ini, sama-sama bisa membuatku tertawa. Tidak ada kepura-puraan dari sikap mamanya Rafka. Mamanya Rafka terlihat begitu tulus saat berbicara denganku.
"Ma.., itu si Calista nya disuruh duduk dulu," ujar papanya Rafka.
"Ah iya.., Tante sampe lupa. Yuk, duduk dulu, Sayang."
Panggilan sayang yang diberikan mamanya Rafka seketika menghangatkan hatiku. Aku merasa diperlakukan sebagai anak sendiri oleh mamanya Rafka. Padahal ini pertemuan pertama kami.
"Tante sampe lupa, kita belum kenalan tadi. Hihi.. Nama Tante Khairina Pohan. Panggil saja Tante Rina, kalau nggak keberatan kamu boleh manggil 'mama' kok," ujar Tante Rina setengah berbisik di kalimat terakhirnya.
"Nah.., kalau pria tampan itu namanya Ibrahim Lazuardy, papanya Rafka. Disebelahnya, yang nggak ganteng-ganteng banget itu, Rafka Kalandra Lazuardy, putra Tante satu-satunya."
Aku kembali tertawa kecil mendengar Tante Rina yang sibuk mengenalkan keluarga kecilnya. Rafka hanya mendengus tidak suka dengan sikap Tante Rina. Padahal bukannya tadi dia yang memintaku untuk bersikap sopan di depan orang tuanya?
"Nama lengkap kamu siapa, Nak? Sepertinya Om tidak asing dengan wajah kamu."
"Saya Calista Sabria Halim, Om."
"Kamu model, ya." tanya Om Ibrahim setelah sempat berfikir sejenak.
"Iya, Om."
"Waah, pantes cantik banget," celetuk Tante Rina.
"Anak Agustian Halim?" tanya Om Ibrahim lagi.
"I..iya Om."
Om Ibrahim tersenyum lalu menanyakan pertanyaan lainnya. Orang tua Rafka tampak antusias menyambut kedatanganku. Mereka menanyakan berbagai hal padaku. Mulai dari karier, hingga kehidupan pribadiku.
Kalau Tante Rina termasuk pribadi yang ceria, banyak bicara dan agak terkesan childish, maka berbeda dengan Om Ibra yang terkesan tegas dan bijaksana. Tapi mereka berdua sangat asyik diajak bicara. Aku jadi merasa seperti berada di rumah sendiri. Aku suka dengan keakraban yang terjalin di rumah ini. Aku tidak harus berpura-pura 'manis' di depan mereka. Aku bahkan berulang kali tertawa mendengar banyolan Tante Rina.
"Ma.. Pa.., ada yang mau Rafka sampaikan."
Rafka mulai menginterupsi perbincangan kami. Aku sangat tau apa yang akan dikatakan Rafka.
"Kami berencana menikah secepatnya."
"Wah.., bagus dong, Rafka. Mama senang kalau akhirnya kamu menikah. Entar Mama bakal bantu mempersiapkan pernikahan kalian. Kalian mau-"
"Kapan rencananya?" potong Om Ibra.
"Kalau Mama dan Papa setuju, kami akan bertunangan minggu depan lalu pernikahannya akan diadakan tiga bulan kemudian," tegas Rafka.
Aku hanya diam mendengarkan Rafka bicara. Aku juga tak tau harus mengatakan apa. Biarlah Rafka yang menyampaikan sendiri pada orang tuanya. Toh ini semua dia sendiri yang memutuskan. Bukan atas keinginanku.
"Bagaimana bisa kamu memutuskannya sendiri, Rafka? Apa gunanya kami sebagai orangtuamu? Masalah pernikahan kalian harus dibicarakan oleh kedua keluarga, keluarga kita dan keluarga Calista. Atau mungkin kamu sudah membicarakan ini dengan orang tua Calista tanpa sepengetahuan Papa?"
"Rencananya malam ini Rafka mau mengajak Papa dan Mama bertemu orangtua Calista, Pa. Tapi Rafka tetap ingin semua berjalan sesuai rencana Rafka. Pernikahan akan diadakan tiga bulan setelah pertunangan kami."
"Kenapa harus terburu-buru? Calista tidak hamil kan?"
"Papa gimana sih? Bagus dong kalau mereka sudah memutuskan untuk menikah. Apalagi dalam waktu dekat. Lebih cepat lebih baikkan, Pa? Kita kan emang udah nggak sabar pengen Rafka cepat nikah. Lah masa' giliran Rafka bilang mau nikah, Papa ngomong gitu sih. Eh bentar, emang kamu beneran hamil Calista? Tapi nggak papa sih kalau kamu memang hamil. Malah bagus, Mama kan jadi nggak perlu nunggu lama untuk gendong cucu."
"Ma.. Pa.. Kalau Calista sekarang hamil, Rafka pasti langsung menikahinya minggu ini, bukan tiga bulan lagi. Jadi Mama dan Papa nggak perlu mencemaskan hal itu," jelas Rafka.
"Yaaah.. Gak jadi gendong cucu.."
Tante Rina sepertinya kecewa mengetahui kenyataan aku tidak hamil. Disaat seharusnya seorang ibu merasa tenang saat mengetahui putranya tidak berbuat demikian, berbeda dengan Tante Rina yang justru merasa kecewa. Aku tak habis pikir dengan cara berpikir Tante Rina yang memang luar biasa berbeda. Lagian bagaimana bisa aku hamil, sementara kami saja baru berkenalan kemarin.
"Ma.. Kami pasti ngasi Mama cucu kok. Tapi nanti, bukan sekarang. Ra..Rafka juga nggak mungkin melakukannya. Ka..kami kan belum me..menikah."
Ada perasaan hangat yang ku rasakan saat Rafka mengucapkan kata 'kami'. Seolah aku dan dia memang sepasang kekasih. Tapi kenapa Rafka malah jadi gugup? Ah.., mungkin saja karena dia bingung menghadapi kekecewaan Tante Rina.