Aku tersenyum menatap gaun pengantin yang akan kukenakan ini. Gaun yang indah dan tentunya akan sangat membantuku untuk sedikit memberi kejutan pada suamiku nanti.
Bukan karena ingin memancing emosi Rafka. Tapi karena aku memang sudah jatuh cinta sejak awal pada design-nya. Gaun ini terbilang sederhana, walau harus kuakui cukup terbuka. Tapi ini pernikahanku. Tentunya aku ingin sesuatu yang terbaik di hari bersejarah seperti hari ini.
Bisa dibayangkan bagaimana wajah murka Rafka nantinya ketika melihat ku mengenakan sesuatu yang tidak dia sukai. Tetapi apa yang bisa diperbuat seorang Rafka Kalandra selain diam dan menahan emosi? Tidak mungkin Rafka meledak dan melampiaskan emosinya. Yang artinya sama saja Rafka menghancurkan resepsi yang sudah dia atur sedemikian rupa.
Sudah pernah aku katakan bukan? Bahwa Rafka lah yang mengatur semua acara pernikahan kami.
Dan harus ku akui, semakin mengenal Rafka, aku jadi tau sisi lain dari diri Rafka yang sebenarnya. Dia tidak semenyebalkan seperti saat pertama kali kami bertemu. Bahkan terkadang, sikapnya masih agak kekanakan. Mungkin karena dia merupakan anak tunggal yang pasti sangat dimanja kedua orangtuanya. Atau mungkin juga karena pengaruh Tante Rina sebagai mamanya yang bersifat tak kalah kekanakan dari Rafka. Hanya Om Ibra yang memiliki sifat lebih tenang dibanding istri dan putranya.
Om Ibra dan Tante Rina? Sepertinya aku harus segera mengganti panggilan itu dengan panggilan Papa dan Mama. Mereka orang tua Rafka, otomatis mereka juga sudah menjadi orangtuaku saat ini. Apalagi mereka menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri.
Hal itu lah yang membuatku menyukai keluarga Rafka. Aku seperti kembali mendapatkan kasih sayang orangtua sejak mengenal mereka. Mereka begitu tulus menyayangiku bahkan sebelum aku resmi menjadi menantu mereka. Dan mereka lah alasan yang menguatkanku untuk menjalani pernikahan ini.
"Aduhhh.., cantiknya anak Mama," puji Mama Rina. "Rafka pasti pangling lihat kamu secantik ini, Calista."
"Mama berlebihan.." kataku pelan.
Bukannya pangling, Rafka malah akan meledak jika melihat penampilanku seperti ini.
"Berlebihan gimana sih, Sayang? Kamu itu beneran cantik loh. Mama nggak nyangka bisa punya menantu secakep kamu. Berasa ketiban durian runtuh itu si Rafka. Kamu yang kayaknya rada sial dapet suami kayak anak Mama itu. Kamu cantik luar biasa kayak gini, lah si Rafka mah biasa banget."
Aku tertawa kecil mendengar gerutuan Mama Rina. Aku tau Mama hanya bercanda. Karena mana ada orangtua yang tega menjelekkan anaknya sendiri di depan orang lain.
Tau darimana kamu, Calista? Memangnya orangtuamu seperti itu?
Aku tersenyum getir mengingat hal itu. Lihat saja sekarang, bahkan Mama tak berada di ruang riasku saat ini. Aku hanya ditemani seorang make-up artis, Mama Rina dan Bu Darmi.
Tiba-tiba Mama Rina mwmegabg kedua bahuku, dan berbicara dengan begitu lembut.
"Kamu tahu, Sayang. Mama dan Papa beneran bahagia atas pernikahan kalian. Mama berharap ini pernikahan pertama dan satu-satunya bagi Rafka dan kamu. Kamu bukan orang lain. Kamu juga anak Mama mulai sekarang. Jadi jangan pernah ragu untuk cerita apapun ke Mama kalau kamu lagi ada masalah ya, Sayang."
Mataku memanas mendengar semua kalimat yang keluar dari bibir indah Mama Rina. Wanita yang masih cantik di usianya yang mendekati angka lima puluh ini memang selalu tulus memperlihatkan kasih sayangnya kepadaku. Sikapnya sama sekali tidak pernah dibuat-buat dan terkesan terpaksa.
"Loh kok malah jadi nangis. Kasian Mbak ini harus benerin make-up kamu lagi," ujar Mama Rina seraya menunjuk seorang wanita yang usianya mungkin lima tahun di atasku.
Aku bangkit dari kursi dan memeluk Mama Rina. " Calista sayang sama Mama. Makasih, Ma.. Mama udah mau nerima Calista seperti anak Mama sendiri."
"Apaan sih kamu. Kamu itu memang anak Mama, bukan 'seperti' lagi."
Aku bisa melihat Bu Darmi yang tersenyum bahagia ke arahku. Dia tau aku kini bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu lagi. Walau sebenarnya kasih sayang yang diberi Mama Rina takkan bisa sama dengan kasih sayang dari ibu kandungku sendiri.
***
Aku berjalan diiringi Mama Rina dan Bu Darmi mendekati Rafka. Rafka berdiri terpaku menatap ke arahku. Tak lama kemudian rahangnya mengeras dengan sorot mata yang menunjukkan seberapa emosinya dia melihat penampilanku malam ini. Tetapi aku sama sekali tidak menggubrisnya. Justru aku memasang senyum polos seakan tidak mengerti apa maksud tatapan tajam suami tampanku itu. Ya, harus ku akui, pria yang saat ini telah resmi menjadi suamiku itu terlihat begitu tampan dan berkharisma.
Dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia menggandeng tanganku, menuntunku berjalan menuju ballroom tempat diadakannya resepsi pernikahan kami malam ini. Sesekali aku bisa melihat senyuman palsu yang dia lemparkan saat bertatapan dengan para tamu. Namun tetap saja Rafka akan mendelik tajam jika mendapati tatapan pria yang menatapku penuh minat.
Rafka benar-benar pria posesif.
Itu yang ku tau saat ini. Dia pernah mengatakan padaku bahwa dia tidak suka membagi sesuatu yang menjadi miliknya.
Dan Rafka menganggap aku sebagai miliknya.
Mungkin dia melupakan profesiku yang merupakan seorang model. Profesi yang menuntutku untuk membagi keindahan bentuk tubuhku pada masyarakat banyak.
Itu pendapatku, jadi jangan diprotes. Kalian boleh memiliki pandangan berbeda mengenai profesi seorang model. Negara kita kan memberi hak kepada setiap warganya untuk bebas mengeluarkan pendapat. So, aku yakin masing-masing dari diri kita memiliki pandangan berbeda terhadap profesi yang ku geluti saat ini. Baik pandangan yang bernilai positif maupun yang negatif.
Rafka masih tetap bungkam saat kami sudah berada di kursi pelaminan. Ide yang cukup konyol terlintas di pikiranku. Aku tidak pernah terpikir untuk melakukan ini sebelumnya. Tapi sepertinya sedikit mengerjai Rafka cukup menyenangkan untuk ku lakukan saat ini.
"What happen, Hubby?" tanyaku sok polos.
Sebenarnya aku agak jijik dengan panggilanku pada Rafka barusan. Hubby? Oh, No. Sampai mati pun aku tidak akan lagi memanggil Rafka dengan panggilan menjijikkan itu.
"Anda nggak suka gaunnya, ya? Bagus kok. Saya suka."
Rahang Rafka kembali mengeras mendengar gaya bicara sok polosku. Jangankan Rafka, aku pun sebenarnya membenci gaya bicaraku saat ini. Tapi tidak mungkin aku berbicara datar seperti biasa jika ingin mengerjai Rafka.
"Bahannya tebal, panjang, dan tidak transparan. Makasih ya sudah merekomendasikan butik tersebut pada saya. Sepertinya saya bisa menjadikannya salah satu designer pribadi saya."
Aku berpura-pura menilai kualitas gaun yang ku pakai ini. Namun Rafka masih tetap bungkam di tempatnya. Dia masih tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak melihatku memakai gaun ini. Bukan karena terlalu terpesona tapi karena terlalu emosi.
"Kenapa jadi diam begini sih? Bukannya anda yang sangat ingin menikahi saya? Kenapa sekarang justru anda yang mendiamkan saya? Saya salah ya?" tanyanya pura-pura bodoh.
Lama-lama aku jadi kesal sendiri karena diacuhkan Rafka. Ya, aku tau memang ini salahku. Sudah tau Rafka bakalan marah, tapi aku tetap memilih gaun ini dan tidak memilih..
Aaah, aku ingat sesuatu. Sesuatu yang kuyakin pasti bisa mengeluarkan satu protes dari mulut Rafka.
"Sebenarnya waktu itu Tante Lisa menawarkan sebuah design gaun lain untuk saya. Tapi saya kurang suka dengan designnya. Mm, Anda mau melihatnya? Sebentar saya cari dulu."
Aku mengambil handphone-ku yang terselip di kursi pelaminan kami. Belum ada tamu yang berjalan menuju pelaminan untuk bersalaman dengan kami lagi, makanya aku bisa berbicara dengan Rafka dengan sangat santai seperti saat ini.
Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku lalu menunjukkan padanya. Dan rahang Rafka kembali mengeras. Emosinya mungkin sudah sampai di ubun-ubun.
"Kenapa bukan yang ini?" tanyanya menahan geram.
Aku tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Rafka bersuara.
"Saya tidak suka, designnya terlalu biasa. Pas akad kan sudah pakai warna putih. Masa' resepsinya putih lagi," jawabku sok polos.
"Terserah kamu," katanya, mungkin merasa lelah jika harus berdebat denganku.
Kami kembali berdiri menyalami tamu yang jumlahnya entah berapa banyak. Aku kan sudah bilang kalau aku hanya ikut ambil andil tentang gaun pernikahanku. Selebihnya, itu urusan Rafka. Jadi jangan bertanya padaku berapa undangan yang disebar, apa souvenir yang disiapkan, atau berapa budget yang dikeluarkan Rafka untuk pernikahan ini. Tanyakan langsung kepada Rafka jika ingin mendapat jawaban yang memuaskan.
"Kak Brii.."
Athafariz, adikku satu-satunya berlari riang ke arahku. Maklum sajalah, dia hanya bocah 10 tahun yang belum begitu mengerti tentang acara yang berlangsung saat ini. Dia terus bermain dengan teman sepermainannya sejak tadi.
Hal yang tidak pernah ku dapatkan sejak dulu.
"Kak Bri cantik banget, deh. Om nya juga ganteng," ujarnya.
Aku tertawa kecil mendengar Fariz memanggil Rafka dengan sebutan 'Om', sementara Rafka sudah mendengus kesal mendengarnya.
"Saya suami kakakmu, Fariz. Berarti saya kakak iparmu, dan tidak seharusnya kamu memanggil saya 'Om'. Apa wajah saya sudah setua itu?"
Fariz mengangguk cepat dan Rafka melotot ke arah Fariz.
Aku yakin Rafka masih terbawa emosi karena apa yang kulakukan malam ini. Dia berusaha menahan emosinya hanya agar tidak mengacaukan pesta malam ini. Dan sekarang Fariz malah menambah kekesalannya dengan mengatakan dirinya 'tua'.
Fariz hanya bercanda, aku sangat tahu itu. Bahkan dia sengaja membuat Rafka kesal agar Rafka mau menanggapi ucapannya itu. Fariz menyukai Rafka, Fariz seperti menemukan sosok 'abang' yang bisa diajaknya bermain. Karena mereka memiliki perilaku yang cenderung sama. Itulah yang menyebabkan Fariz menyukai Rafka. Berbeda dengan Mas Rayyan yang lebih tenang dan kalem, sehingga mungkin Fariz merasa segan untuk mengajaknya bercanda.
"Terserah, deh. Kakak beradik sama aja. Sama-sama bikin emosi," gerutu Rafka pelan.
Setelah sukses membuat Rafka kesal, Fariz turun dari pelaminan. Dan saat ini, pasangan pengantin baru yang menikah empat bulan yang lalu itu berdiri di depanku. Jika bukan karena banyak tamu yang hadir saat ini, aku pasti akan berlari menghindar dari mereka.
Selama ini, aku sengaja pulang larut malam untuk menghindari interaksi langsung dengan mereka. Aku akui kalau aku memang belum bisa menerima kenyataan bahwa sekarang, dia telah menjadi kakak iparku. Tidak sekarang dan mungkin selamanya.
"Selamat ya, Calista," katanya sambil menjulurkan tangan kanannya.
Aku menatap tangannya ragu, antara membalas atau membiarkan tangan itu menggantung di udara. "Makasih," kataku membalas uluran tangannya.
Perasaan itu masih ada dan tetap sama. Aku kembali merasakan getaran aneh saat telapak tanganku bersentuhan langsung dengan telapak tangannya. Namun sikapnya masih sama, bersikap tenang seperti tidak merasakan getaran yang aku rasakan.
Kini giliran istrinya yang berdiri di depanku dengan perutnya yang mulai nampak membuncit. Tanpa kata dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku terpaku dan tidak bisa menolak pelukannya yang sejujurnya sangat ku rindukan.
"Kakak menyayangimu, Calista. Kakak sangat menyayangimu. Maafkan Kakak kalau Kakak ada salah sama kamu. Tapi apapun yang terjadi Kakak tetap akan menyayangimu dan selalu mendo'akan kebahagiaanmu, Calista."
Mataku memanas mendengar ucapannya. Aku tau dia menyayangiku dari dulu sampai sekarang. Tapi rasa iriku terhadapnya sangat besar, hingga aku menutup mataku dari perhatian dan kasih sayang yang dia berikan.
Katakanlah aku salah. Hanya karena rasa iri yang menumpuk, aku jadi menampik semua kasih sayang yang berusaha diberikan kakak kandungnya sendiri selama ini.
Wanita itu lalu turun dari pelaminan, menggandeng tangan suaminya yang masih begitu ku cintai. Aku tau dia kecewa karena aku sama sekali tidak membalas pelukannya. Aku tau aku telah berbuat salah. Tapi sekali lagi kukatakan rasa iri ku terhadap semua yang dia dapatkan terlalu besar.
Aku baru bisa bernapas lega saat tak lagi melihat mereka di dekatku. Tapi pemandangan berikutnya malah membuatku mual, dan ingin memuntahkan semua isi perutku ke wajah wanita di depanku ini.
Demi Tuhan, wanita ini benar-benar memuakkan. Bagaimana bisa dia berpelukan mesra dengan pria beristri di depan istri pria tersebut? Sudah putuskah urat malunya?
"I miss you so badly, Baby Rafka.. You make me surprised. Kamu mengirimkan undangan pernikahanmu sementara kamu tahu aku masih sangat mencintaimu. I hate you, but I love you, Honey.."
Wanita menjijikkan ini terus saja bergelayutan di lengan Rafka, sama sekali tidak memedulikan Rafka yang risih dengan sikap menjijikkannya itu. Dia juga tidak memedulikan tatapan berbagai arti dari tamu yang hadir.
Benar-benar w***********g.
"Stephanie, berhenti. Kamu nggak malu bersikap seperti ini?"
"I don't care about them. You are mine."
"I'm married, Stephanie. I'm not yours."
"Excuse me, Miss. Can't you get away from my husband?"
Rafka tampak terkejut mendengarnya. Lalu aku melihat sudut bibirnya yang terangkat sebelah.
Mengira aku cemburu, heh?
Maaf saja, aku bukannya cemburu. Kalau Rafka bisa mengatakan bahwa dia tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi miliknya, aku pun bisa mengatakan hal serupa. Aku tidak suka membagi sesuatu yang sudah menjadi milikku. Well, Rafka sudah menjadi suamiku kan? Jadi tidak ada yang salah jika aku mengatakan bahwa dia adalah milikku.
Satu lagi yang menyebabkan aku harus mengatakan demikian. Aku sudah membuat Rafka sangat kesal padaku malam ini. Fariz juga ikut menambah emosi Rafka yang harus dia tahan sampai acara ini selesai. Dan aku tidak memerlukan bantuan pihak lain untuk menambah kekesalan Rafka.
Dengan kesal, wanita yang tidak ku ketahui namanya itu turun dari pelaminan dan bahkan tidak mengucapkan selamat padaku.
"Cemburu, huh?" goda Rafka.
"In your dream, Sir.."
Dia tertawa kecil melihatku. Sepertinya dia mengira aku beneran cemburu.
Kekesalanku ternyata belum berakhir. Bukan hanya ada satu w***********g yang diundang Rafka malam ini. Karena entah sudah berapa wanita yang berdiri di depan kami bukan untuk mengucapkan selamat, melainkan protes karena Rafka lebih memilih menikahiku dan tidak bersama mereka yang setia menunggu Rafka kembali.
Sepertinya aku melupakan sebuah fakta bahwa pria di sampingku ini adalah seorang playboy. Baiklah, kita lihat saja ada berapa banyak lagi w***********g seperti mereka.
"Maaf karena harus bertemu dengan mantan-mantan saya," ucapnya sambil tersenyum geli. Ya, dia tidak sungguh-sungguh mengatakan maaf. Karena sebenarnya dia ingin menunjukkan padaku betapa hebatnya dia dalam hal menaklukkan hati wanita.
"Hm.." gumamku.
"Saya suka kalau kamu cemburu seperti ini."
"Sudah saya katakan kalau saya tidak cemburu. Jangan terlalu berharap yang tidak akan mungkin terjadi," tegasku.
"Selamat ya, Rafka dan..,"
Seorang wanita bergaun biru kini berdiri di depan kami. Bukan karena wajah cantiknya atau gaunnya yang menarik perhatianku. Tapi gaya bicaranya yang seolah tidak mengenalku.
Dia tidak mengenalku? Seorang Calista Sabria Halim sang supermodel tidak dikenal oleh seorang wanita biasa yang jelas-jelas kecantikannya masih sangat jauh dibandingku. Demi apa pun yang ada di langit dan bumi. Nih orang cari masalah samaku?
Rafka tertawa kecil melihat wajah cemberutku. "Calista, istriku." kata Rafka menjawab si wanita tadi.
"Ah iya, Mbak Calista. Kenal Rafka berapa lama, Mbak? Kok bisa sampai dinikahi?" Wanita itu mendekatiku dan berbisik. "Hanya ada dua kemungkinan penyebabnya. Mbak dijodohin atau udah hamil duluan?"
Mataku melotot tajam padanya. Mudah sekali dia berasumsi seperti itu. Hamil? Astaga.. Dia pikir aku wanita apa? Jangan karena profesiku sebagai model dia mengira aku juga menjual tubuhku untuk pria b******k di luar sana.
"Sekali lagi selamat ya Rafka dan Mbak Calista. Dan semoga bisa bertahan lebih lama sama yang ini."
Aku kembali mendelik tak suka padanya. Kalimat terakhirnya itu lebih seperti peringatan bahwa Rafka tak pernah bisa berkomitmen dengan satu wanita, dan nantinya dia akan mencampakkanku seperti wanita-wanita sebelumnya. Well, kita lihat nanti siapa yang akan dicampakkan. Aku.. atau Rafka?
Aku dan Rafka kembali duduk setelah wanita itu pergi.
"Berapa banyak lagi?" tanyaku ketus.
"Apa? Tamunya? Tuh kamu bisa lihat sendiri, tamunya masih sangat banyak."
"Maksud saya mantan pacar Anda," jawabku kesal.
"Oh.." jawabnya sambil tertawa kecil. "Saya tidak tahu pasti ada berapa banyak lagi. Mungkin satu, dua atau bahkan lebih. Entahlah. Yaah, begini lah resiko menjadi pria tampan."
Puas-puaskan saja kamu tertawa, Rafka. Kita lihat nanti, apakah malam ini kamu masih bisa tertawa setelah mendapat kejutan yang akan kuberikan.
***
Selesai acara resepsi, aku masuk ke dalam kamar yang telah disediakan hotel. Aku lalu menghapus riasan di wajahku dan mengganti gaunku dengan sebuah piyama tidur. Rafka entah ada dimana saat ini. Setelah ikut mengantarku ke dalam kamar, dia keluar dan menjawab panggilan telepon dari ponselnya.
Aku sudah bersiap tidur saat mendengar pintu kamar yang terbuka.
"Kamu sudah mau tidur?" tanyanya.
Posisiku membelakanginya saat ini, hingga dia tidak melihat seringai iblis di wajahku.
The show begins..
"Hm.." gumamku pelan. "Nggak mandi dulu?" tanyaku lalu membalikkan badan ke arahnya.
"Nanti saja," jawabnya sambil berjalan mendekatiku.
Korban mendekat, siapkan plan A.
Dia lalu duduk di ranjang, bersebelahan denganku. Aku masih pada posisiku, berbaring miring ke arahnya dengan menumpukan lengan kananku sambil menatapnya intens. "Cape?" tanyaku dengan nada yang agak...sensual.
Dia agak terkejut dengan aksi dadakanku. Jangankan dia, aku pun kaget. Ah bukan kaget, lebih tepatnya jijik.
Dia menggeleng kaku.
Rafka sudah duduk di ranjang dengan tubuh kakunya. Aku lalu mengelus kedua pipinya bergantian. Dan aku bisa merasakan tubuhnya yang semakin kaku karena ulahku itu. "Anda terlihat tampan hari ini," bisikku pelan di telinganya.
Terkutuklah aku dengan semua tingkahku malam ini. Bagaimana bisa aku bersikap layaknya w*************a seperti ini? Sikapku ini bisa saja membangunkan sesuatu pada diri Rafka.
Bukankah itu tujuanmu malam ini Calista?
Jangan berpikir yang macam-macam dulu. Cukup lihat dan simak apa yang akan aku lakukan pada Rafka.
"Anda ingin sesuatu?" tanyaku dengan nada yang sangat menjijikkan sementara tanganku masih bermain di sekitar wajahnya.
Dia masih terdiam dan sama sekali tidak memberikan respon atas apa yang aku lakukan.
Aku memberanikan diri untuk mengecup bibirnya. Hanya sebatas kecupan dan tidak lebih. Tapi ternyata dia yang melakukan lebih padaku. Dia menciumku dengan tergesa-gesa sampai aku hampir kehabisan napas.
Aku bersorak riang dalam hati karena telah berhasil melakukan rencanaku. Walau dengan harus bersikap seperti w*************a.
"Sa..saya menginginkan kamu," katanya dengan napas terengah-engah. Matanya menggelap akibat ciuman yang baru saja kami lakukan. Matanya terlihat penuh dengan gairah yang tak mungkin bisa dihentikan.
I did it.
Aku tersenyum puas karena berhasil membangkitkan gairah Rafka.
"Saya ingin mendapat hak saya malam ini."
"Ternyata Anda tidak suka berbasa-basi ya?" kataku kembali tersenyum mengejek. "Menginginkan saya, huh?"
Dia mengangguk antusias karena mungkin junior-nya sudah berhasil kubangunkan.
"Sayang sekali..," kataku sambil menepuk pipinya pelan. "Sepertinya Anda harus menundanya terlebih dahulu," kataku tanpa rasa bersalah.
"Maksudnya?"
"Saya kedatangan tamu bulanan saya."
Dia terdiam, mungkin agak syok mendengarnya. "Se..sejak kapan?"
"Shubuh tadi," jawabku santai.
Rahangnya mengeras mendengar jawaban santaiku. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Karena Anda tidak menanyakannya."
"Ka..kau.."Rafka berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya. Ya ya.., aku tahu ini salahku. Dengan sengaja membangkitkan gairah Rafka tapi malah tidak memberikan apa yang pria itu butuhkan.
Anggap saja ini balasan karena telah membuatku kesal saat resepsi tadi.
Bukankah kamu memang ingin memberi tahu Rafka mengenai siklus bulananmu, Calista?
Ya, tadinya aku hanya ingin memberi tahu Rafka dengan cara baik-baik. Tapi semua rencanaku berubah setelah bertemu barisan para mantan Rafka yang terlihat lebih seperti deretan perempuan jalang itu. Apalagi ekspresi Rafka yang tampak senang melihat wajah kesalku. Dia sangat menyebalkan dan pantas mendapat balasan.
"Sepertinya Anda butuh mandi air dingin, Tuan Rafka. Saya istirahat duluan dan selamat malam.."
Aku membalikkan badan dan memunggungi Rafka. Tak lama setelah itu, aku mendengar suara pintu kamar mandi yang dibanting kasar.
Maafkan aku, Suamiku..