Perusahaan itu bernama Aurelia Beauty, dan sebelum bulan itu Iris hampir tidak pernah mendengar namanya.
Mereka meluncurkan seri perawatan kulit pada Selasa pagi, dengan peluncuran besar di sebuah hotel, dan formula yang Iris kenali sampai ke urutan bahannya.
Formula After Storm. Yang belum diluncurkan. Yang bocor dari ruang server perusahaannya sendiri.
Yang membuat dada Iris panas bukan itu.
Di panggung yang sama, juru bicara Aurelia mengatakan kalimat yang esok harinya dikutip di mana-mana: bahwa mereka telah bekerja selama dua tahun, dan bahwa ada pemain besar yang akan segera meluncurkan produk yang sangat mirip dengan milik mereka.
Mereka menuduh After Storm sebagai peniru, sebelum After Storm sempat membuka mulut.
"Kita punya semuanya," kata kepala laboratorium di ruang rapat pagi itu, menumpuk sebelas buku catatan di meja. "Catatan harian, tanggal, tanda tangan, hasil uji tiap tahap. Dari dua tahun lalu."
"Berapa lama proses hukumnya kalau kita lawan?"
Pengacara mereka menarik napas. "Realistis? Delapan belas bulan. Bisa dua tahun."
Dan pasar tidak menunggu dua tahun.
Dalam sepuluh hari, empat distributor menunda pesanan. Dua di antaranya menunda dengan kalimat sopan yang artinya jelas: kami tidak mau namanya ikut disebut.
Richard datang ke kantor dengan saran yang sudah Iris duga.
"Selesaikan di luar," katanya. "Bayar mereka. Angkanya pasti jauh lebih kecil daripada kerugian dua tahun."
"Bayar orang yang mencuri dari kita?"
"Bayar supaya mereka diam, Iris. Ini bisnis, bukan pengadilan moral."
"Kalau kita membayar, mereka akan melakukannya lagi pada perusahaan lain," jawab Iris. "Dan setiap orang di laboratorium itu akan tahu bahwa kerja mereka bisa dijual untuk membeli ketenangan."
Richard tidak setuju. Tetapi ia tidak lagi punya kursi untuk memaksakannya.
Yang membongkar perkara itu justru Larissa.
Perempuan itu menghabiskan sebelas hari menelusuri laporan keuangan Aurelia yang terbuka untuk publik, lalu turun ke lapisan yang tidak terbuka: pembayaran kepada perusahaan konsultan kecil yang berganti nama dua kali dalam setahun.
"Ini," katanya, memutar layarnya ke arah Iris. "Tiga pembayaran. Tanggalnya persis di sekitar minggu kebocoran. Penerimanya perusahaan yang pemegang saham mayoritasnya Adrian Wijaya."
Iris menatap angka-angka itu lama.
"Kamu yakin?"
"Aku sudah mengeceknya empat kali. Aku tahu apa yang akan mereka lakukan kepadaku kalau salah."
Dan mereka memang melakukannya.
Pengacara Aurelia tidak membantah satu pun angka Larissa. Mereka menyerang orangnya. Dalam pernyataan kepada pers, mereka menyebut analisis itu berasal dari anak rahasia Richard Adinata, perempuan yang baru muncul setelah dua puluh tahun dan jelas sedang mencari bagiannya dari warisan keluarga.
Berita itu menyebar lebih cepat daripada berita formulanya.
Iris menemukan Larissa di ruang rapat malam itu, duduk sendirian dengan lampu yang belum dinyalakan.
"Aku bisa mundur dari perkara ini," kata Larissa. "Kalau namaku yang jadi masalah, buat apa aku dipertahankan."
"Kalau kamu mundur sekarang, mereka menang tanpa membantah satu angka pun."
"Iris, aku sudah dua puluh tahun menjadi bahan bisik-bisik orang. Aku tahu rasanya."
"Makanya kali ini kita tidak akan berbisik."
Konferensi pers digelar Kamis siang. Iris berdiri di podium dengan perut yang sudah tidak bisa disembunyikan oleh blazer mana pun.
Dan ia meminta Larissa berdiri di sebelahnya.
"Status keluarga seseorang tidak mengubah bukti digital," kata Iris, tanpa membaca teks. "Analisis yang dipertanyakan itu berdasarkan catatan pembayaran yang bisa diperiksa siapa saja. Silakan periksa."
Seorang wartawan bertanya tentang hubungan Larissa dan Richard.
"Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan formula," jawab Iris. "Dan saya punya pengumuman yang lebih berguna. Kami akan membuka seluruh catatan pengembangan produk ini, sejak halaman pertama, kepada pemeriksa independen yang dipilih bukan oleh kami."
Ruangan itu ribut selama beberapa detik.
Keputusan itu berbahaya. Membuka catatan pengembangan berarti membuka rahasia dagang kepada pihak luar, dan dua anggota dewan menelepon malam itu juga untuk menyebutnya gegabah.
Tetapi laboratorium independen itu bekerja tujuh minggu, lalu mengeluarkan pernyataan yang tidak bisa dibantah: formula After Storm dikembangkan lebih dahulu, dengan jejak dokumen yang utuh dan berurutan.
Aurelia diperintahkan menghentikan penjualan sementara.
Harga kemenangan itu datang dua hari kemudian, pukul empat pagi.
Iris terbangun karena perutnya mengeras. Bukan sakit yang tajam, hanya kencang, lalu mereda, lalu kencang lagi.
Dokter menyebutnya kontraksi ringan. Bukan darurat, tetapi peringatan.
"Dua minggu istirahat," katanya. "Tidak ke kantor. Tidak terbang. Tidak rapat yang membuat Ibu berdiri lebih dari sepuluh menit."
Iris menyerahkan pengelolaan perkara kepada timnya sore itu juga, lewat panggilan video dari ranjang, dengan catatan serah terima yang ia tulis sendiri.
Ia melakukannya bukan karena Gavin memaksa. Gavin tidak sekali pun memintanya berhenti. Ia melakukannya karena tubuhnya meminta jeda, dan ia belajar bahwa itu alasan yang cukup.
Gavin memindahkan seluruh pekerjaannya ke rumah selama dua minggu itu.
Iris memergokinya dua kali sedang membuka surel perkara di laptopnya sendiri, jari melayang di atas tombol balas. Dua kali pula Gavin menutup layar itu setelah menangkap tatapan istrinya.
"Perjanjian kita masih berlaku," kata Iris dari sofa.
"Aku hanya ingin membantu."
"Bantu dengan membuatkan teh."
Gavin menurut. Ia membuat teh, membawanya dengan dua tangan seperti pelayan hotel, dan tehnya terlalu manis.
Iris meminumnya sampai habis dan tidak mengatakan apa-apa.
Aurelia menyerah pada minggu ketiga. Mereka menawarkan permintaan maaf terbuka dan ganti rugi, dengan syarat perkaranya dihentikan.
Iris menerima, tetapi tidak seperti yang mereka ajukan.
"Permintaan maafnya dibacakan di kanal resmi mereka, bukan di siaran pers yang hilang dalam dua hari," katanya kepada pengacara. "Mereka menjalani audit etika oleh pihak ketiga selama setahun. Dan sebagian ganti rugi masuk langsung ke tim peneliti kami. Orang-orang itu yang namanya diseret sebagai peniru selama tiga bulan."
Aurelia menyetujui ketiganya.
Larissa mendapat posisi tetap di Adinata pada bulan berikutnya, diusulkan oleh komite, berdasarkan rekam kerjanya. Tidak ada satu pun kalimat tentang hubungan darah di dalam berkas pengangkatannya.
Hubungannya dengan Richard juga membaik perlahan. Mereka belum menjadi keluarga yang akrab; makan siang mereka masih canggung dan masih terlalu sopan. Tetapi mereka tidak lagi hidup sebagai rahasia.
Pada hari perkara itu resmi ditutup, Iris duduk di kursi dekat jendela dan meletakkan telapak tangannya di perutnya yang mulai membesar.
Setahun lalu ia akan bertahan sampai tubuhnya runtuh, hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak bisa disuruh berhenti.
Sekarang ia tahu kemenangan tidak selalu berbentuk begitu. Menyerahkan pekerjaan kepada orang yang tepercaya juga bentuk kekuatan.