Serum itu dikerjakan selama satu setengah tahun.
After Storm meluncurkannya pada Kamis pagi dengan cara yang sudah menjadi ciri khas Iris: tanpa pesta, tanpa artis, hanya data uji dan daftar bahan yang bisa dibaca siapa saja di kemasannya.
Dalam sepuluh hari, stok gelombang pertama habis.
Pada hari keempat belas, seorang staf layanan pelanggan mengetuk pintu ruangan Iris dengan wajah yang membuat Iris langsung berdiri.
"Bu, ada keluhan. Banyak."
Kemerahan. Rasa terbakar. Ruam yang muncul dua sampai tiga hari setelah pemakaian. Awalnya tujuh laporan, lalu dua puluh tiga sebelum makan siang, lalu lebih dari lima puluh menjelang malam.
Iris menghentikan penjualan sore itu juga. Seluruh saluran, dalam jaringan maupun toko fisik, dalam tempo empat jam.
Hasil laboratorium belum keluar.
Rapat dewan darurat digelar malam itu dan suasananya buruk sejak menit pertama.
"Kita belum tahu apa penyebabnya," kata salah satu anggota dewan. "Bisa jadi pemakaian yang salah. Bisa jadi kulit sensitif. Kalau kita tarik sekarang, kerugiannya bukan cuma stok. Ada kontrak distribusi tiga negara."
"Angkanya berapa?" tanya Iris.
Maya menyebutkan jumlahnya. Ruangan hening.
"Setidaknya tunggu hasil laboratorium," kata yang lain. "Tiga hari saja."
"Tiga hari itu tujuh ribu botol lagi," jawab Iris. "Dan entah berapa wajah."
"Bu Iris, dengan hormat, ini keputusan yang sangat mahal."
Iris meletakkan kedua tangannya di meja.
"Kepercayaan pelanggan lebih sulit dikembalikan daripada uang," katanya. "Uang bisa kita pinjam besok pagi. Tidak ada bank yang meminjamkan kepercayaan."
Malam itu Iris tidak pulang. Ia duduk di ruang layanan pelanggan bersama empat staf, menelepon satu per satu orang yang melapor, memperkenalkan diri dengan nama dan jabatannya.
"Ini benar-benar Anda?" tanya seorang perempuan di telepon kesembilan belas.
"Benar, Bu. Maaf, saya yang bertanggung jawab atas produk itu."
Perempuan itu menangis di ujung sana, bukan karena marah, melainkan karena tidak menyangka ada yang mengangkat teleponnya.
Penarikan berjalan sepuluh hari. Pemeriksaan berjalan lebih lama.
Hasilnya bukan kesalahan formula. Formulanya persis seperti yang diuji.
Pemasok yang menggantinya. Bahan pengawet dalam kontrak ditukar dengan bahan lain yang lebih murah, pada batch produksi ketiga dan keempat, tanpa izin dan tanpa pemberitahuan. Dokumennya dipalsukan rapi sekali, lengkap dengan nomor lot dan tanda tangan penguji yang tidak pernah menguji apa pun.
"Palsunya bagus," kata Larissa, yang firmanya diminta memeriksa seluruh rantai pasok. "Kalau cuma dicocokkan di berkas, ini lolos terus. Ketahuan karena kami minta contoh fisiknya, bukan kertasnya."
Iris menarik seluruh produk dari pasar, termasuk batch yang aman.
Ia menanggung biaya perawatan kulit setiap pelanggan yang melapor, tanpa syarat, tanpa meminta mereka menandatangani surat yang melarang bercerita.
Dan ia membuka hasil audit kepada publik. Seluruhnya, termasuk bagian yang menunjukkan bahwa pemeriksaan internal After Storm tidak menangkap pemalsuan itu selama dua bulan.
Media tetap menyerangnya.
Judul-judul itu ditulis oleh orang yang jelas tidak membaca laporannya sampai halaman kedua. Pemimpin lalai. Perusahaan yang mengejar ekspansi sampai mengorbankan mutu. Satu artikel menempelkan kembali foto lama Iris di sidang keluarga Mikhail, seolah semuanya satu paket.
"Aku bisa menutup dua dari tiga portal itu minggu ini," kata Gavin di dapur, tengah malam.
"Jangan."
"Aku juga bisa menambal kasnya. Mikhail Group punya dana yang menganggur. Besok pagi masuk, tanpa bunga, tanpa siapa pun tahu."
Iris menggeleng, dan menggeleng lagi ketika Gavin hendak membuka mulut.
"Kalau uang suamiku masuk ke perusahaanku tanpa proses, seumur hidup aku akan mendengar kalimat yang sama. After Storm bertahan karena Mikhail. Aku tidak mau Aurora besar mendengar itu."
"Ini cuma pinjaman."
"Kalau memang pinjaman, ajukan lewat bagian yang benar dan biar dewan yang menilai."
Gavin memandang istrinya lama, lalu mengangkat tangan menyerah.
Pada akhirnya After Storm mengambil pinjaman komersial dari bank, dengan bunga pasar dan jaminan yang dihitung ketat, setelah dewan menyetujuinya dalam rapat resmi. Mikhail Group tidak menaruh satu rupiah pun.
Bulan-bulan itu menggerus Iris dengan cara yang tidak kelihatan.
Ia pulang pukul sebelas, kadang pukul satu. Ia makan di mobil. Ia menjawab pertanyaan wartawan, pertanyaan bank, pertanyaan pelanggan yang menangis di telepon karena wajahnya belum pulih sebelum pernikahan adiknya.
Suatu malam ia pulang pukul sepuluh dan Aurora masih terjaga.
Iris membuka lengannya. "Sini, Sayang."
Aurora memandangnya. Lalu berpaling, memeluk leher Gavin, dan menyembunyikan wajahnya di bahu ayahnya.
"Dia ngantuk," kata Gavin cepat.
"Iya."
"Iris."
"Tidak apa-apa."
Iris masuk ke kamar mandi, menutup pintu, menyalakan keran, dan menangis dengan tangan menutup mulut supaya tidak terdengar.
Gavin menunggu di luar. Ketika pintu akhirnya terbuka, ia tidak mengatakan bahwa itu wajar, atau bahwa semua anak begitu, atau bahwa Iris terlalu lelah sampai berlebihan.
"Ceritakan," katanya.
"Aku merasa dia melupakanku."
Gavin mengangguk pelan. "Aku pernah merasa begitu juga. Waktu kakiku digips dan dia cuma mau kamu."
"Sungguh?"
"Aku sempat cemburu pada istriku sendiri. Memalukan sekali."
Iris tertawa di antara tangisnya.
Mereka duduk di tepi ranjang malam itu dan mengatur ulang jadwal. Bukan jadwal yang membagi Aurora seperti membagi aset, melainkan yang memastikan ada waktu yang tidak boleh diganggu siapa pun: pagi hari sampai pukul delapan, dan dua jam penuh setiap Sabtu.
"Dan kita berhenti menghitung dia lebih suka siapa," kata Gavin. "Itu pertandingan yang tidak ada pemenangnya."
Perkara hukum dengan pemasok berjalan lambat, seperti semua perkara hukum. Dalam pemeriksaan, pemiliknya akhirnya mengakui: harga bahan asli naik empat puluh persen, marginnya habis, dan ia memilih menukarnya diam-diam daripada kehilangan kontrak.
"Saya pikir tidak akan ada yang sadar," katanya.
Iris tidak menunggu putusan pengadilan untuk memperbaiki sistemnya sendiri. Setiap batch diuji ulang secara acak di laboratorium independen. Contoh fisik disimpan enam bulan. Pemasok diaudit mendadak, bukan dengan jadwal yang dikirim sebulan sebelumnya.
Serum itu diluncurkan kembali berbulan-bulan kemudian, dengan pengawasan berlapis dan kemasan yang mencantumkan nomor batch di tempat yang mudah dilihat.
Penjualannya tidak meledak seperti dulu. Tetapi tidak ada satu pun keluhan iritasi.
Pada rapat penutup tahun, salah satu anggota dewan yang dulu paling keras menentang penarikan mengakui sesuatu di depan semua orang.
"Saya salah waktu itu."
Iris hanya mengangguk. Ia tidak merasa menang.
Kegagalan itu mengajarkan bahwa kepemimpinan paling nyata terlihat saat Iris mengakui masalah yang tidak sepenuhnya dibuatnya sendiri.