Pesawat Tiffany mendarat pada Selasa sore, dan tidak ada seorang pun dari keluarga Mikhail yang menunggunya di terminal kedatangan.
Itu permintaannya sendiri.
Ia menolak penjemputan, menolak mobil perusahaan, dan menolak makan malam penyambutan yang sudah dipesan Regina di restoran yang meja besarnya harus dipesan sebulan sebelumnya. Ia naik taksi ke apartemen sewaan berukuran satu kamar, menaruh dua koper di lantai, lalu tidur empat belas jam.
Dua hari kemudian, tawaran pertama datang.
Kepala bagian sumber daya manusia Mikhail Group menelepon dengan nada yang terlalu ramah. Posisi direktur program sosial. Kantor di lantai delapan belas, anggaran tahunan, mobil, dan pekerjaan yang isinya kurang lebih sama dengan yang ingin Tiffany kerjakan.
Tiffany menolaknya dalam satu percakapan yang tidak sampai lima menit.
Ia menyewa dua ruangan di lantai tiga sebuah gedung tua di kawasan yang tidak ada hubungannya dengan bisnis keluarganya. Lift-nya lambat, air kerannya harus dipancing, dan papan namanya dicetak di percetakan biasa.
Pusat pendampingan trauma. Bukan yayasan keluarga, bukan sayap sosial perusahaan mana pun.
Regina menangis selama tiga hari.
"Mama pikir kamu pulang untuk pulang," katanya di telepon, cukup keras sampai Gavin yang duduk di sebelah Iris ikut mendengarnya.
"Aku memang pulang, Ma. Aku cuma tidak tinggal di rumah itu."
"Kamarmu masih sama. Mama tidak mengubah apa pun."
"Aku tahu. Terima kasih." Suara Tiffany melembut. "Aku akan datang tiap Minggu bareng Kak Gavin."
Regina tidak langsung menerimanya. Butuh dua bulan sebelum ia berhenti menyebut apartemen itu sebagai tempat sementara.
Gavin membantu dengan cara yang paling sulit baginya: seperlunya.
Ia mencarikan tenaga hukum untuk mengurus pendirian badan, akta, izin, dan semua berkas yang bisa membuat orang menyerah di minggu pertama. Ia mengenalkan dua nama, lalu mundur.
Tiffany membayar jasa pengacara itu penuh, lewat yayasannya, dengan tagihan resmi yang tercatat di pembukuan.
"Aku tidak ingin pusat ini menjadi pemberian Kak Gavin," katanya kepada Iris, sore itu, di ruangan yang catnya masih berbau. "Aku harus berdiri tanpa menjadikannya pusat hidupku lagi."
Iris memandang sekeliling. Dua meja bekas, satu papan tulis, kursi tunggu yang belum genap enam.
"Kamu butuh apa yang benar-benar kamu butuhkan?" tanyanya. "Bukan yang sopan."
Tiffany tertawa kecil. "Orang yang mau datang."
Maka Iris menawarkan sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak di pesawat pulang dari Singapura beberapa minggu sebelumnya: kampanye kesehatan mental bersama, melalui After Storm.
Bukan sumbangan. Kerja sama.
After Storm menyediakan jangkauan dan biaya produksi. Pusat Tiffany menyediakan isi dan pendampingan bagi siapa pun yang menghubungi setelah melihat kampanye itu.
Semua syaratnya ditulis. Batas peran masing-masing, siapa yang boleh berbicara atas nama siapa, apa yang terjadi kalau salah satu pihak ingin berhenti, dan aturan bahwa tidak ada data korban yang boleh menyentuh sistem perusahaan.
Seluruh perjanjian diperiksa tim independen sebelum ditandatangani, dan Larissa ikut membaca bagian keuangannya.
"Kalian tidak percaya satu sama lain, ya," kata Larissa datar setelah selesai.
"Kami sedang belajar," jawab Iris. "Kontrak ini bagian dari belajarnya."
Acara pertama digelar di aula sebuah kampus, dihadiri seratus dua puluh orang, sebagian besar mahasiswa.
Berjalan baik selama satu setengah jam. Materinya jelas, sesi tanya jawabnya hidup, dan dua orang menangis di bagian tentang pola hubungan yang terasa perhatian tetapi sebenarnya pengawasan.
Lalu seorang wartawan berdiri di barisan belakang.
"Untuk Ibu Tiffany. Ada catatan lama yang beredar, bahwa Anda sendiri pernah menguntit dan memanipulasi seseorang. Apakah itu benar?"
Ruangan langsung senyap.
Iris, yang duduk di baris kedua, merasakan dadanya mengencang. Ia siap berdiri, siap mengambil alih mikrofon, siap melakukan apa pun yang perlu dilakukan.
Tiffany tidak melarikan diri.
Ia tidak menoleh ke arah panitia. Ia tidak berkata bahwa pertanyaan itu di luar topik. Ia tidak menangis.
"Benar," katanya.
Beberapa orang menoleh ke sebelahnya.
"Saya pernah melukai orang karena menolak batas," lanjut Tiffany, suaranya tetap. "Saya mengirim pesan yang tidak diinginkan. Saya mengumpulkan informasi tentang seseorang yang menganggap saya sahabatnya. Saya memutar kenyataan sampai dia meragukan ingatannya sendiri."
Wartawan itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Perubahan saya tidak menghapus luka itu. Karena itulah pusat ini memiliki pengawasan profesional. Saya tidak menangani klien sendirian, seluruh berkas saya diperiksa orang lain, dan riwayat saya diketahui pengurus sejak hari pertama."
Ia berhenti sebentar.
"Kalau ada di antara Anda yang merasa tidak nyaman saya berada di sini, itu wajar, dan kami punya rekan lain yang bisa menemani Anda."
Tidak ada tepuk tangan. Bukan momen yang pantas ditepuktangani.
Tetapi tidak ada yang keluar dari ruangan, dan tiga orang menghampiri meja pendaftaran setelah acara selesai.
Iris memperhatikan semuanya dari baris kedua tanpa berdiri sekali pun.
Yang ia lihat bukan permintaan maaf lagi. Tiffany mengakui masa lalunya tanpa menempatkan dirinya sebagai korban utama cerita itu, tanpa menceritakan masa kecilnya yang sulit, tanpa satu pun kalimat yang meminta orang lain merasa kasihan.
Butuh bertahun-tahun sampai perempuan itu bisa berdiri seperti tadi.
Seusai acara, mereka minum kopi di kedai seberang kampus. Gelas kertas, meja plastik, mahasiswa berisik di meja sebelah.
Percakapannya masih canggung. Ada dua atau tiga jeda yang terlalu panjang, dan keduanya sama-sama berhati-hati memilih topik.
Namun tidak ada lagi yang saling mengukur. Tidak ada pertanyaan bernada memeriksa, tidak ada perbandingan diam-diam tentang siapa yang lebih dekat dengan siapa.
"Aku merindukan sahabatku," kata Tiffany, memandang gelasnya.
Iris tidak menjawab cepat. Ia menimbangnya, seperti menimbang semua hal penting belakangan ini.
"Kita tidak bisa kembali menjadi orang yang sama."
"Aku tahu." Tiffany mengangguk pelan. "Mungkin kita bisa mengenal versi yang baru."
Iris tidak memberi janji. Ia hanya berkata bahwa ia akan datang ke acara berikutnya, dan bahwa laporan kampanye bulan depan harus dikirim sebelum tanggal sepuluh.
Tiffany tertawa, dan mereka berpisah di trotoar seperti dua rekan kerja.
Namun ketika pulang, di lampu merah yang lama sekali menyala, Iris membuka daftar kontak di ponselnya.
Nama itu masih tersimpan seperti dulu, lengkap dengan huruf kapital yang ia tambahkan sendiri pada malam terburuk dalam hidupnya, peringatan supaya ia tidak pernah lagi mengangkat teleponnya.
Ia menghapus peringatan itu. Ia menyimpan nomor Tiffany hanya dengan namanya.