Dua puluh tahun.
Iris masih sempat berhenti di tengah tangga vila ketika menyadari angka itu. Dua puluh tahun sejak ia berdiri di depan altar dengan tangan dingin dan dada penuh rencana yang tidak satu pun berjalan sesuai bayangannya.
Danau Como pagi itu setenang kaca. Udara awal musim panas, angin yang membawa bau rumput basah dan sedikit bensin dari perahu di kejauhan.
Gavin datang dari arah mobil sambil menjinjing sesuatu yang dibungkus kain.
"Kau bawa apa?" tanya Iris.
"Kau tahu aku bawa apa."
Album itu. Sampul kulitnya sudah retak di sudut, jahitannya pernah diperbaiki dua kali. Iris tidak melihat benda itu bertahun-tahun.
"Aku pikir kau menyimpannya di brankas kantor."
"Aku memindahkannya sejak Aurora belajar membuka brankas."
Aurora ikut dalam perjalanan itu. Ia lima belas tahun sekarang, tinggi hampir menyamai ibunya, dengan kamera kecil yang tidak pernah lepas dari lehernya. Tiffany juga datang, bukan untuk ulang tahun pernikahan itu, melainkan untuk peringatan Sofia yang jatuh di minggu yang sama.
Mereka duduk di teras. Gavin membuka album di atas meja kayu.
Halaman demi halaman lewat. Foto-foto lama dengan warna yang sudah menguning di tepinya, lalu foto-foto yang lebih baru, lebih cerah, lebih ramai.
"Itu aku?" Aurora menunjuk satu foto sambil menyipit. "Kenapa bajuku seperti tirai?"
"Itu selimut," kata Iris. "Kamu menolak memakai baju seharian."
"Sejak umur berapa?"
"Sejak lahir sampai empat tahun."
Tiffany menahan tawa di balik cangkirnya. Gavin membalik halaman sebelum putrinya sempat protes lebih jauh.
Dan halaman terakhir.
Iris ingat halaman itu. Dulu kosong. Kosong yang dulu terasa seperti ancaman, seperti pertanyaan yang tidak ada yang berani menjawabnya.
Sekarang halaman itu penuh.
Foto Aurora beberapa menit setelah lahir, merah dan berkerut dan marah pada dunia. Foto pembukaan Rumah Pilihan, dengan spanduk yang dipasang miring dan tidak ada yang sempat membetulkannya. Foto Minah di depan warungnya di kampung, tersenyum sambil memegang baskom, matahari tepat di belakang kepalanya. Foto tim After Storm di depan toko pertama yang benar-benar milik mereka sendiri.
Iris menyentuh sudut kanan bawah halaman itu dengan ujung jari.
Masih ada satu ruang kecil yang kosong. Cukup untuk satu foto ukuran kartu pos.
"Apa yang akan kita letakkan di sana?" tanya Gavin.
Iris memandang danau agak lama sebelum menjawab.
"Belum tahu," katanya. "Hidup kita belum selesai."
Gavin tidak memaksa. Dua puluh tahun lalu, ia pasti sudah menyiapkan jawaban sendiri dan menganggap itu keputusan bersama.
Mereka berjalan ke gazebo setelah makan siang. Jalan setapaknya sudah diperbaiki, tetapi akar pohon tetap menonjol di tempat yang sama.
Gazebo itu masih berdiri. Catnya sudah diganti dua kali, tetapi kayunya asli.
Dan ukiran itu masih ada. Huruf G dan T, digores dalam-dalam oleh tangan dua anak kecil yang belum tahu bahwa nama mereka kelak akan dipakai orang-orang untuk hal yang jauh lebih rumit.
Hanya saja sekarang ada tambahan.
Di bawah kedua huruf itu, tergores huruf I. Rapi, lebih kecil, jelas dikerjakan dengan hati-hati.
Iris menoleh.
"Aurora," kata Gavin datar.
"Aku minta izin dulu," sahut anak itu cepat dari belakang. "Aku telepon Elena. Aku tanya boleh atau tidak. Dia bilang boleh."
"Kamu telepon Elena?"
"Ya. Masa aku mengukir kayu orang tanpa tanya."
Tiffany tertawa keras sampai burung di pohon dekat situ berhamburan.
"Sekarang malah terlihat semakin membingungkan," katanya, masih terkekeh. "Orang yang lewat akan mengira ini teka-teki."
"Biar saja," kata Aurora sambil mengangkat kamera dan memotret ukiran itu. "Memang keluarga kita membingungkan."
Tidak ada yang membantah.
Sore itu Tiffany pergi sendiri ke tepi danau, membawa seikat bunga putih yang ia beli di desa pagi tadi. Iris melihatnya dari jendela dapur: sosok itu berdiri lama sekali, tidak berlutut, tidak menangis, hanya berdiri dengan bunga di tangan seperti orang yang sedang menyelesaikan percakapan yang sudah bertahun-tahun berjalan.
Iris tidak menyusul. Ada kesedihan yang tidak boleh ditemani, dan hari Sofia adalah milik Tiffany.
Ketika perempuan itu kembali, matanya merah, tetapi ia tersenyum dan langsung bertanya apakah ada kopi. Tidak ada yang bertanya bagaimana rasanya. Itu pun sebuah bentuk hormat.
Malamnya mereka makan di teras belakang dengan lampu gantung yang sebagian bohlamnya mati. Ada pasta, ikan panggang yang terlalu asin, dan roti yang dibeli Aurora di desa.
Yang aneh bagi Iris bukan makanannya, melainkan ketiadaan sesuatu. Tidak ada ketegangan. Tidak ada kalimat yang diukur dulu sebelum diucapkan. Tidak ada mata yang saling mengawasi di balik gelas.
Di tengah makan, Tiffany meletakkan garpunya.
"Aku sedang dekat dengan seseorang," katanya.
Gavin berhenti mengunyah.
"Namanya Daniel. Dokter. Kami ketemu di pelatihan yang aku isi tahun lalu."
"Dokter apa?" tanya Gavin.
"Dokter yang tidak perlu kau cek riwayat kreditnya."
"Aku cuma tanya spesialisasinya."
"Kau tidak cuma tanya spesialisasinya."
Gavin membuka mulut. Iris melihat kalimat berikutnya sudah tersusun rapi di wajah suaminya. Berapa umurnya. Kerja di mana. Keluarganya siapa. Rentetan pertanyaan yang selama dua puluh tahun terakhir menjadi kebiasaan seorang kakak yang merasa harus memeriksa semua pintu.
Lalu Gavin menutup mulutnya lagi.
"Ya sudah," katanya akhirnya. "Kalau kau mau cerita, aku dengar. Kalau tidak, ya tidak."
Tiffany menatapnya, sedikit terkejut. "Siapa kau dan di mana kakakku?"
"Dia sudah tua dan capek," jawab Gavin.
Aurora tertawa sampai tersedak.
Matahari terbenam sekitar pukul sembilan di sana, lambat sekali, seperti enggan pergi. Iris dan Gavin turun ke tepi danau setelah Aurora dan Tiffany masuk. Air memantulkan langit yang berubah jingga, lalu ungu, lalu warna yang tidak ada namanya.
Mereka duduk di batu yang sama dengan batu bertahun-tahun lalu.
"Aku pernah datang ke sini untuk membuktikan kau jahat," kata Iris.
"Dan aku membawamu tanpa meminta izin."
"Kita berdua mengerikan."
Gavin tersenyum. "Tapi kita belajar."
Iris menyandarkan kepala pada bahunya. Bahu itu tidak sekeras dulu. Ada uban di pelipis suaminya yang tidak pernah ia komentari karena tahu Gavin diam-diam menghitungnya.
Ia memikirkan ruang kecil di halaman terakhir album itu. Dua puluh tahun lalu, kosong berarti gagal. Kosong berarti ada sesuatu yang belum berhasil ia rebut, belum berhasil ia buktikan, belum berhasil ia menangkan.
Sekarang kosong berarti hal lain.
Mereka belum mengisi ruang terakhir album. Ruang itu bukan kekosongan yang harus ditakuti, melainkan tempat bagi pilihan yang belum dibuat.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak membutuhkan rencana balas dendam, bukti, atau janji bahwa semuanya akan sempurna.
Cukup ada dua orang yang masih bersedia bertanya dan mendengarkan jawabannya.