Aurora pulang untuk selamanya pada musim hujan.
Bukan pulang untuk beristirahat. Ia pulang membawa rencana yang sudah disusun rapi: sebuah studio dokumenter kecil, empat orang, satu ruangan sewa di lantai dua sebuah ruko, dan daftar proyek untuk dua tahun ke depan.
"Kenapa tidak di Eropa saja?" tanya Regina waktu itu, dengan nada yang lebih ingin tahu daripada menuntut. "Di sana kau sudah punya nama."
"Karena cerita yang ingin aku kerjakan ada di sini, Oma."
Ia tidak masuk ke Mikhail Group. Tidak juga ke After Storm.
Yang terjadi justru lebih menarik. Kedua perusahaan itu beberapa kali menjadi klien studionya, dan Aurora memperlakukan mereka persis seperti klien lain. Ada penawaran tertulis. Ada tenggat. Ada pasal yang menyebutkan bahwa isi film tidak bisa diubah sepihak oleh pemberi dana.
"Kau memasang pasal ini untuk ayahmu sendiri?" tanya Gavin waktu membaca kontrak pertama.
"Aku memasangnya untuk semua klien, Pa. Kebetulan Papa salah satunya."
Gavin menandatanganinya sambil menggeleng-geleng, dan menyimpan salinannya di laci meja seperti orang menyimpan piagam.
Tahun-tahun berikutnya berjalan lebih pelan.
Iris dan Gavin sama-sama mengurangi pekerjaan, tidak dengan pengumuman besar, hanya dengan cara mencoret satu per satu hal yang ternyata tidak harus mereka kerjakan sendiri. Hari-hari mereka terbagi antara rumah di Jakarta, vila Como pada musim panas, dan kunjungan rutin ke Rumah Pilihan yang sekarang punya tiga cabang.
"Kita jadi orang tua yang membosankan," kata Gavin suatu pagi, sambil menyirami tanaman yang bahkan bukan miliknya.
"Kita jadi orang tua yang akhirnya punya waktu," koreksi Iris. "Itu beda."
"Dulu aku mengira kalau aku berhenti, semuanya akan runtuh."
"Dan?"
Gavin memandangi selang di tangannya. "Dan tidak ada yang runtuh. Itu agak menyakitkan, sebenarnya."
Iris tertawa dan merebut selang itu sebelum tanaman tetangga mati kebanyakan air.
Pada suatu sore di bulan Juni, tanpa rencana, mereka mampir ke mansion.
Regina sedang di kebun bersama Jeffery, memarahi tanaman yang tidak mau tumbuh. Rumah itu kosong dan sunyi seperti biasanya.
"Mau lihat-lihat sebentar?" tanya Gavin.
Mereka naik ke lantai dua.
Koridor itu tidak berubah. Lantai kayunya masih berbunyi di tempat yang sama, di ubin ketiga dari tangga. Lampu dindingnya masih yang lama.
Iris berhenti di depan satu pintu.
Kamar Minah. Kosong sekarang. Kasurnya sudah lama dipindah, lemarinya tinggal rangka, dan tirainya diganti warna lain oleh entah siapa.
Ia berdiri di ambang pintu itu cukup lama.
"Dulu aku berlari ke sini setiap malam," katanya.
Gavin tidak menjawab.
"Setiap kali kau pulang larut dan aku tidak tahu harus percaya yang mana. Setiap kali aku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya kudengar." Iris menyentuh kusen pintu. "Aku tidak pernah mengetuk. Dia selalu sudah membuka pintunya sebelum aku sampai."
Ia mendengar suami di belakangnya menarik napas.
"Maaf," kata Gavin.
Iris menoleh.
"Aku tahu sudah bertahun-tahun. Aku tahu kita sudah membicarakannya sampai habis." Suaranya serak. "Tapi berdiri di sini, di lantai ini, aku baru benar-benar mengerti bahwa ada waktu ketika kau tidak merasa aman di rumah yang seharusnya jadi rumahmu. Dan itu karena aku."
Iris menggeleng, perlahan.
"Aku tidak datang ke sini untuk mengulang kesalahan kita," katanya. "Aku datang untuk mengingat bahwa kita berubah."
Ia mengulurkan tangannya, dan Gavin menerimanya.
"Kamar itu mau diapakan nanti?" tanya Iris sambil menutup pintu.
"Tiffany usul dijadikan ruang tunggu untuk orang tua yang mengantar anak konseling," jawab Gavin. "Supaya ada tempat duduk yang enak."
Iris memikirkannya sebentar, lalu mengangguk. "Mbok pasti suka. Dia paling tidak tahan lihat orang berdiri kelamaan."
Mereka turun lewat tangga belakang, dan entah bagaimana berakhir di gudang.
Tempat itu penuh barang yang tidak ada yang berani membuang. Kursi rusak. Lukisan yang tidak disukai siapa pun. Kotak berisi piala perusahaan dari tahun-tahun yang sudah tidak ada artinya.
Dan di sudut, di bawah kain penutup yang tebal oleh debu, ada koper.
Iris mengenalinya sebelum kainnya terangkat penuh.
Koper bulan madu pertama mereka. Warnanya sudah pudar, gagangnya retak, dan stikernya masih menempel separuh.
"Masih ada," gumam Gavin.
Kuncinya macet, lalu terbuka dengan bunyi keras.
Isinya masih utuh. Sepatu yang tidak pernah dipakai. Buku yang tidak pernah selesai dibaca. Botol krim yang isinya sudah mengering menjadi batu kecil.
Dan di lapisan paling bawah, terlipat rapi, sebuah gaun.
Iris mengangkatnya. Kainnya masih halus. Warnanya masih persis seperti yang ia ingat waktu membelinya, dengan tangan gemetar dan hati yang penuh harapan bodoh.
Ia tidak pernah memakainya. Tidak sekali pun. Semua rencana di perjalanan itu hancur sebelum sempat sampai ke malam ketiga.
Gavin melihat gaun itu, lalu melihat istrinya, dan tersenyum.
"Mungkin dua puluh tahun terlambat?"
Iris menatapnya sedetik.
Lalu ia melempar kain itu tepat ke wajah suaminya.
Gavin terjengkang ke belakang, menabrak tumpukan kotak, dan gaun itu tersangkut di kepalanya seperti kerudung. Iris tertawa sampai harus memegang perutnya, tertawa sampai matanya berair, tertawa dengan suara yang bertahun-tahun tidak pernah keluar sekeras itu.
Dari balik kain, Gavin berkata dengan nada tersinggung yang dibuat-buat, "Aku memberi pujian."
"Kau memberi pujian dua puluh tahun terlambat."
"Itu tetap pujian."
Malamnya mereka kembali ke rumah sendiri dan duduk di balkon. Jakarta di bawah sana masih bising, lampunya masih terlalu banyak, dan angin membawa bau hujan yang belum jadi turun.
Tangan mereka saling menggenggam di atas sandaran kursi.
Genggaman itu longgar. Tidak mencengkeram. Ibu jari Gavin bergerak pelan di punggung tangan Iris, kebiasaan lama yang mungkin ia sendiri tidak sadari.
"Aku pernah takut kalau melepaskan tanganmu, kau akan pergi," kata Gavin.
Iris memandang lampu-lampu di kejauhan.
"Aku pernah takut kalau menerimanya, aku kehilangan diriku."
Keduanya diam setelah itu, cukup lama, sampai hujan akhirnya benar-benar turun dan mereka tetap tidak beranjak.
Telapak tangan mereka bisa terbuka kapan saja sekarang. Tidak ada lagi yang menahan. Tidak ada lagi yang harus dibuktikan, dimenangkan, atau dijaga supaya tidak lari.
Namun keduanya tetap memilih menyentuh.
Perjalanan mereka mendekati akhir bukan karena semua persoalan sudah hilang. Persoalan tidak pernah benar-benar habis, dan mereka sudah cukup tua untuk berhenti berharap begitu.
Mereka hanya sudah memahami satu hal yang butuh seumur hidup untuk dipelajari: bahwa cinta tidak membutuhkan genggaman yang menyakitkan agar dapat bertahan.