Pernikahan Aurora berlangsung di taman vila, di bawah pohon-pohon yang sudah berdiri di sana jauh sebelum siapa pun dalam keluarga itu lahir.
Gazebo tua di tepi taman dihias bunga putih. Di salah satu tiangnya, jika seseorang cukup teliti, masih terlihat ukiran G, T, dan I yang dibuat tiga anak kecil bertahun-tahun lalu dengan pisau lipat curian: huruf-huruf yang miring, tidak rapi, dan sampai sekarang tidak pernah dihapus siapa pun.
Tidak ada media. Tidak ada undangan yang dikirim demi kesopanan. Setiap tamu hadir karena memang diinginkan kedua mempelai, dan jumlahnya cukup sedikit sehingga semua orang tahu nama satu sama lain.
Pagi itu Gavin mengetuk pintu kamar putrinya dan menunggu dipersilakan masuk, sesuatu yang dua puluh tahun lalu tidak akan pernah terpikir olehnya.
Aurora sudah siap, dengan gaun sederhana dan rambut yang ditata sendiri oleh Larissa.
"Papa mau bilang apa?" tanyanya. "Kalau mau bilang aku masih boleh batal, Larissa sudah bilang tiga kali."
"Bukan itu." Gavin berdeham. "Aku cuma mau bilang, kalau nanti kamu berdiri di ujung sana dan tanganku sudah lepas, itu bukan karena aku melepaskanmu. Itu karena aku percaya."
Aurora memeluknya dan merusak sedikit riasannya sendiri.
Upacara dimulai menjelang sore, ketika matahari sudah miring dan cahayanya berwarna madu.
Gavin mengantar Aurora sampai ujung lorong. Langkahnya pelan, lebih pelan daripada yang diperlukan, dan Iris yang duduk di deretan depan tahu persis kenapa.
Di ujung lorong, Gavin berhenti. Ia menunduk, mengatakan sesuatu yang tidak terdengar siapa pun, lalu melepaskan tangan putrinya ketika Aurora melangkah menuju Raka.
Ia berbalik dan duduk di samping istrinya.
Iris melihat mata suaminya berkaca-kaca.
"Papa berhasil melepaskan," bisik Iris.
"Untuk sementara." Gavin menggeleng pelan, masih memandang ke depan. "Dia tetap harus pulang saat liburan."
Iris menahan tawa dan menggenggam tangan suaminya sampai upacara selesai.
Setelah upacara, keluarga berkumpul untuk berfoto di depan gazebo. Butuh waktu lama karena tidak ada yang bisa diam.
Regina duduk di kursi tengah bersama Richard dan Emiliana, dan terus-menerus memberi aba-aba tentang siapa harus berdiri di mana sampai akhirnya ia sendiri yang salah menghadap. Tiffany menggendong Leo yang sudah terlalu besar untuk digendong dan tetap saja minta digendong hari itu. Larissa berdiri di samping Iris tanpa kecanggungan yang dulu selalu ada di antara mereka; ia bahkan bersandar sedikit ke bahu perempuan itu ketika kameranya berbunyi.
Fotonya jadi tiga puluh empat lembar. Hanya dua yang benar-benar rapi, dan tidak ada yang memilih dua itu.
Menjelang malam, ketika musik mulai pelan dan tamu-tamu sibuk dengan piring masing-masing, Iris dan Gavin berjalan ke tepi danau.
Tubuh mereka telah menua. Langkah Gavin lebih lambat sekarang, dan ia berpegangan sebentar pada pagar batu sebelum menuruni anak tangga terakhir. Rambut Iris tidak lagi seluruhnya hitam, dan ia sudah lama berhenti menutupinya.
Namun danau masih memantulkan langit persis seperti ketika mereka datang ke sini dengan kebohongan bertahun-tahun lalu: dua orang yang sama-sama menyembunyikan sesuatu, sama-sama yakin bahwa cinta adalah sesuatu yang harus dimenangkan.
Mereka berdiri di tepi air agak lama tanpa bicara.
"Kamu ingat kita berdiri di sini pertama kali?" tanya Gavin.
"Aku ingat aku menghitung berapa kali kamu melihat ponselmu."
"Sebelas kali?"
"Empat belas." Iris tersenyum tipis. "Aku menghitung semuanya waktu itu. Jam pulangmu, jumlah pesan, panjang jeda sebelum kamu menjawab pertanyaanku."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku sering lupa di mana ponselku."
Gavin tertawa pelan, suaranya tenggelam di suara air.
"Itu kemajuan paling besar dalam hidup kita," katanya.
"Apa kamu masih tidak bisa melepaskanku?" tanya Iris.
Gavin menoleh. Tersenyum.
"Aku bisa," katanya. "Itu bedanya sekarang."
Ia mengangkat tangannya, lalu membuka telapaknya menghadap ke atas, di udara di antara mereka. Tidak meraih. Tidak menunggu dengan tuntutan.
Iris bebas mengambilnya atau membiarkannya kosong.
Ia memandangi telapak tangan itu; garis-garisnya yang sudah berubah, bekas luka kecil di pangkal ibu jari yang ia tahu asal-usulnya, cincin yang sudah longgar setengah ukuran.
Iris meletakkan tangan di sana.
"Aku juga bisa pergi," katanya. "Tapi aku memilih tinggal."
Mereka memahami akhirnya bahwa cinta bukan ketidakmampuan melepaskan seseorang. Cinta adalah kemampuan membuka tangan tanpa ancaman, lalu bersyukur ketika orang yang dicintai tetap memilih kembali.
Dari arah gazebo terdengar suara Aurora memanggil mereka untuk memotong kue, disusul suara Leo yang mengulanginya dua kali lebih keras karena merasa panggilan pertama kurang berhasil.
Iris dan Gavin berbalik bersama.
Sebelum berjalan, Iris berhenti sebentar dan memandang vila yang berdiri di atas bukit kecil itu; tempat yang dahulu menjadi lokasi kecurigaannya terbongkar, tempat ia pernah berdiri sendirian dengan dada terbakar dan berjanji akan membalas semuanya.
Ia tidak ingin menghapus perempuan muda itu. Perempuan itu telah berbuat salah, memang, tetapi ia juga berani mencari jawaban ketika jauh lebih mudah baginya untuk terus marah tanpa bertanya.
Gavin pun bukan lelaki sempurna. Ia pernah mengira cinta memberinya hak membuat keputusan atas hidup orang lain. Bertahun-tahun bersama Iris telah mengajarkan bahwa menjaga seseorang dimulai dengan mendengarkan, bukan dengan mengunci pintu.
Mereka kembali ke tengah keluarga.
Tidak ada lagi rahasia yang meminta dibalas. Tidak ada lagi cinta yang harus direbut dari tangan orang lain. Tidak ada lagi nama besar yang wajib dipertahankan dengan kebohongan.
Yang tersisa adalah kehidupan yang mereka bangun dari percakapan, batas, kesalahan, dan pilihan untuk memperbaiki.
Aurora menyerahkan pisau kue kepada mereka, dengan gaun yang ujungnya sudah kotor kena rumput.
Gavin, karena kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar mati, hendak mengambil alih gagangnya.
Iris lebih dahulu.
"Kita lakukan bersama, Boss."
Gavin memandang istrinya sedetik, lalu tertawa pendek. Ia menutupkan tangannya di atas tangan Iris dengan lembut, tanpa menekan, hanya menyertai.
"Bersama."
Kue terpotong tidak rapi. Lapisannya miring, krimnya menempel di bilah pisau, dan potongan pertama nyaris jatuh sebelum Leo menangkapnya dengan piring. Semua orang tertawa.
Iris ikut tertawa sambil memandang berkeliling: orang-orang yang pernah menjadi sumber luka paling dalam di hidupnya, kini berdiri di halaman yang sama sebagai keluarga yang belajar bertanggung jawab atas perbuatan masing-masing.
Ia memang tidak dapat melepaskan seluruh masa lalu. Tidak seorang pun benar-benar bisa.
Namun ia tidak lagi dibelenggu olehnya.
Selama tangan mereka tetap terbuka dan pilihan itu tetap bebas, Iris akan terus memilih Gavin—dan Gavin akan terus memilihnya.
TAMAT