Bagi kebanyakan orang atau bagi umumnya orang jika kita berada di situasi baru maka kita akan cepat dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekitar; contohnya ketika beberapa bulan yang lalu kita masih memakai seragam putih abu kemudian berangkat ke sekolah tetapi perubahan yang ada sekarang kita bebas menentukan outfit yang ingin kita pakai untuk datang ke kampus. Termasuk perubahan jam pelajaran dimana ketika berada di sekolah, jam pelajaran merupakan jam tetap, maka kemudian ketika berkuliah menjadi jam mata kuliah yang berpindah - pindah, diikuti oleh ruang kelas yang juga berpindah - pindah.
Selain kegiatan belajar, mahasiswa mulai mengenal kegiatan ekstra kampus seperti bermacam-macam organisasi mahasiswa yang berada di dalam kampus maupun organisasi yang bergerak di luar kampus, circle pertemanan menjadi makin beragam, baik sesama jurusan, di tingkat fakultas maupun berbeda jurusan dan berbeda fakultas, dan berbeda universitas.
Meski baru beberapa bulan resmi menjadi mahasiswa, tak sedikit yang sudah mulai aktif organisasi, mengikuti kompetisi sana-sini, nongkrong-nongkrong mengisi waktu luang sebelum jam mata kuliah berlanjut, dan kesibukan lain sebagai mahasiswa. Di lain sisi aktivitas mahasiswa yang beragam, terlihat satu mahasiswi yang masih selalu sendiri, rumor - rumor aneh tentang mahasiswi itu pun sudah menyebar luas, tak hanya terdengar ke teman satu kelas dan satu jurusan dengannya, tetapi rumor tak berdasar itu sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus.
Satu angkatan di mana merupakan mahasiswa baru sebagai besar sudah mengenal gadis pemilik tatapan tajam yang ditujukan pada setiap orang yang hendak mengajaknya berbicara. Bukan hanya karena tatapan tajamnya saja, gadis itu pun selalu berbicara ketus dan memutuskan pembicaraan secepat mungkin terhadap orang-orang yang mengajaknya berbicara sekali pun mereka berada dalam lingkup diskusi kelompok. Karakternya yang agak lain dari kebanyakan orang, membuat gdis itu sulit mendapat teman, atau bahkan sebenarnya gadis yang masih berada di msa remaja akhir itu memang tak memiliki keinginan untuk membentuk jaringan pertemanan di sekitarnya.
" Ayara! Lo mau langsung pulang? " Teriak seseorang dari belakang kelas.
Gadis yang sudah berusaha cepat-cepat keluar dari ruang kelas tersebut pun akhirnya menghentikan langkah, lalu menoleh.
"Iya." Jawabnya singkat, dengan cepat dia memalingkan wajahnya kembali.
"Bukannya lo ikut KOPMA Kampus? Hari ini disuruh kumpul, lho. Barangkali lo lupa." Ucap teman kelasnya lagi.
"Gue nggak bisa hadir sekarang. Tolong izinin ya. Thanks! " Ucap Ayara cepat, dia berjalan terburu - buru meninggalkan kelas tanpa repot menatap gadis yang mengajaknya bicara itu.
"Ayara ..."
"Ayara ..."
Gadis itu mendengar suara lirih yang terus memanggil namanya, namun bukan lantas berhenti, ia malah mempercepat tempo langkah kakinya.
" Ayara ... Ayara... Yara... lo bisa lihat gue kan?"
Ayara tak memperdulikan suara tersebut, ia hanya terus melangkahkan kakinya menuruni gundukan anak tangga dengan sedikit berlari.
Langkahnya agak melambat ketika dia sudah tiba di depan pintu gerbang sebelah selatan kampus, gadis itu merogoh tote bag yang disampirkan di kiri bahunya guna mengambil handphone.
"Ayara! Lo bisa denger gue kan?!"
Seolah tak mendengar, gadis itu sibuk mengetikkan sesuatu pada layar handphonenya, mengirim sebuah pesan pada kontak Line bernama Aji
••••Room Chat••••
Aji:
kabarin aja kalo udah kelar kak
gerbang selatan kan biasa?
Ayara:
Iya
Lo dimana?
Aji:
oh iya astaga...
lupa nonton film hehe...
Ayara:
CEPET!!!
Aji:
iya sabar kak, gue OTW sekarang...
nguengg!
••••Room Chat••••
"Yaraaa!"
"Ayara! "
Meski namanya dipanggil puluhan kali, gadis itu tetap tak menggubris. Dia terus menatap layar handphonenya walaupun sudah tak lagi bertukar pesan dengan Aji.
Cukup lama ia pura-pura tak mendengar, tetap saja mata gadis itu susah untuk pura-pura tak melihat, terlebih ketika wajah yang berbentuk tak karuan melongok dari bawah menatap ke arahnya dengan senyum aneh yang ditujukan padanya.
•••Brukkk•••
Cukup terkejut karena akhirnya berkontak mata, Ayara terjatuh ke belakang dengan tote bagnya yang agak terlempar jauh dari tangannya.
"Benar kan! Lo bisa lihat gue! " Ucapnya girang.
Ayara agak bergidik, dia langsung bergerak mengambil Tote bag hendak berdiri. Namun bahunya hampir tertabrak oleh makhluk tak kasat mata yang terus mendekat ke arahnya. Membuat dia menghindar dan terjatuh dua kali.
"Ow, sorry!"
Ayara menoleh ke samping kanannya, dengan sedikit mendongak matanya menatap laki-laki tampan yang berkata maaf dengan pelafalan yang cukup unik.
Gadis itu lantas membenarkan posisi serta bajunya sambil memainkan handphone. Mengabaikan laki-laki yang masih berdiri di tempat memperhatikan tingkahnya yang sedikit aneh.
"Lo bisa lihat gue! Lo bisa lihat gue! Berhenti pura-pura nggak lihat!" Makhluk aneh itu terus mengganggu Ayara.
Ayara menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, dia berjalan keluar dari area kampus menyebrang jalan berdiri di wilayah tempat makan yang tersedia di luar seberang gedung kampus.
"Leo! Ngapain lo berdiri di situ?"
Ayara menatap lurus ke depan, gadis itu melihat laki-laki yang berteriak dari atas motor ke arah laki-laki yang mengucapkan maaf padanya, mungkin laki-laki itu berpikir Ayara jatuh karena tertabrak olehnya, namun tentu saja bukan karena itu, Sheila jatuh karena makhluk tak kasat mata yang mengganggunya. Makhluk tak tahu situasi itu kini tengah berdiri di depan gerbang dengan senyum meledek, mereka kini berseberangan.
"Gue kumpul UKM dulu. Lo duluan aja, Kak. Nanti gue ke sana bareng Kak Nathan."
"Yaudah!"
Percakapan laki-laki itu menenggelamkan pikiran Ayara sesaat. Lalu pikirannya benar - benar kosong.
"Oy! Kakak! Kak Aya! Aya b***t! Ayara Nandreswara!"
Ayara tersadar, dengan sedikit kaku dia menoleh dan mendapati adiknya yang duduk di atas motor memandangnya aneh.
"Ngelihatin siapa sih?" Tanyanya sambil menengok ke kanan dan kiri. Mencari objek yang ditatap oleh kakaknya.
Karena kesadaran gadis itu telah kembali, ia cepat-cepat duduk di belakang jok motor Honda CB yang dikendarai Aji, menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Aji.
"Cepetan! " tegasnya.
Aji menurut, dia menyalakan mesin motornya.
"Hayo, tadi lihatin apa? Kakak-Kakak yang di motor atau Kakak yang di gerbang?" Godanya sambil menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.
"Mau tahu?" Tanya Ayara. Ide jahil muncul tiba-tiba dalam pikirannya.
"Sebenarnya mah nggak penting mau itu siapa---"
"Gue lihat perempuan yang udah lama berkeliaran di kampus." Potong gadis itu.
Aji yang terkejut mendadak mengerem laju motornya, hal itu membuatnya mendapati kepala belakangnya ditoyor oleh Ayara.
"Kak, apa dia ngikutin kita?" Tanyanya parno.
Ayara menarik senyum simpul. "Iya, di depan lo." Ucapnya jahil. Tentu saja dia berbohong, penampakan itu tak mengikuti mereka.
"Kak! Jangan bercanda ya! Nggak lucu! Ntar kalo Aji nggak konsen nyetir gimana?!" Protes sang adik.
"Suruh siapa tanya." Jawab Ayara.
"Yaudah Aji tarik lagi pertanyaan nya!"
"Tapi gue nggak bisa narik jawabannya." Ucap Ayara datar, tak bosan menjahili adiknya itu.
"Kaaaaak!"
"Bercanda! Takut banget bocil!"
"Gue bukan bocil!"
"Iya terserah lo." Ayara mengalah.
•••| Can You See Me? |•••
Chandra turun dari motor yang dikendarai Mevin dengan membawa dua koper sekaligus, tentu saja koper itu miliknya dan milik Mevin. Dua koper besar tersebut Chandra simpan begitu saja kemudian dirinya berjalan membuka pintu gerbang dengan kunci yang sudah diberikan pemilik kontrakan sebelumnya.
Chandra mendorong lebar pintu gerbang menggunakan punggungnya, setelah gerbang terbuka, Mevin masuk memarkirkan motornya di depan garasi rumah yang masih tertutup.
"Kuncinya." Mevin bermonolog mengambil kumpulan kunci dari gembok gerbang dan berjalan ke pintu rumah.
" Eyyy Bang! Koper lo mau ditinggal di luar?! " Tanya Chandra yang hendak mengambil kopernya itu sedikit tercengang ketika Mevin lebih dulu masuk ke dalam rumah tanpa membawa koper miliknya.
"Lo bawain lah ke dalam." Ucap Mevin sambil tersenyum lebar.
Chandra melebarkan kedua matanya, karena kesal dia bergerak menendang koper hitam yang tergeletak tak jauh dari posisinya.
"Aduh! aduh! " Namun karena kurang hati-hati jari kakinya terjepit di antara badan koper.
" Chan, cepetan masuk!!! "
Mendengar teriakkan Mevin, laki-laki itu memutar kedua matanya malas, dengan kesal ia menarik kedua koper itu dengan sembarangan dan masuk ke dalam rumah menyusul Mevin.
"Bang, gue mau di kamar tengah ah, biar kalo nonton TV gampang, tinggal buka kamar." Ucap Chandra to the point, dia meninggalkan koper Mevin di ruang tamu, sedangkan dirinya berjalan menuju kamar yang diinginkan nya dengan membawa koper miliknya sendiri.
Kunci tiap kamar sudah tergantung di masing - masing pintu oleh pemilik kontrakan dengan sengaja, mereka hanya perlu membuka pintu setiap kamar agar tidak pusing membagikan kunci pada tiap orang.
Chandra memilih kamar di sebelah selatan dengan pintu menghadap ke arah utara. Usai pintunya terbuka, laki - laki itu berjalan masuk tanpa menutup pintunya lagi, dia tak langsung mengemasi barang-barangnya dari dalam koper melainkan mengambil posisi tiduran di atas kasur polos yang masih belum terpasang sprei.
Mevin berniat mengambil kamar terdekat dari pintu utama rumah, karena kamar pertama itu masih menjadi kamar anak pemilik kontrakan, dia memilih kamar kedua yang bersebelahan dengan kamar anak pemilik kontrakan itu, siapa tahu mereka juga bisa akrab. Pikirnya.
"Bang Mevin!" Teriak seseorang dari arah luar.
Raykan masuk ke dalam dengan menggendong tas carrier yang terlihat lebih berat dan berisi dari pada proporsi badannya.
"Oy Ray! Lo kesini naik apa?"
"Motor lah!" Jawab Raykan santai.
"Lo sendirian? " Tanya Raykan kemudian.
"Tuh sama si curut." Jawab Mevin sambil menunjuk kehadiran Chandra menggunakan dagunya.
"Kok cuma ada motor lo doang? Motor dia kemana? "
"Masih di kosan lama. Masih banyak barang yang belum di bawa juga."
Raykan mengangguk-angguk paham.
"Lo mau kamar disitu Bang?" Tanya Raykan yang melihat Mahen sudah memegang gagang pintu kamar kedua sejak ia pertama masuk.
"Iya, gue mau yang praktis aja sih biar nggak terlalu jauh keluar rumah."
"Si Nathan titip pesan ke gue dia mau pakai kamar yang itu katanya, biar kalo nugas nggak keganggu sama suara TV. Lo ngalah aja ya Bang? Tapi kalo lo lebih butuh nggak apa-apa sih, nanti gue kasih tahu Nathan buat pake kamar lain."
"Euhm...." Mevin menimbang perkataan Raykan. Nathan mungkin lebih membutuhkan kamar itu dibandingkan dirinya. Tetapi dia juga butuh kamar itu barangkali keseringan bolak-balik kampus agar tak mengganggu yang lain.
"Banyak mikir ah Bang." Raykan protes.
Ketika itu, seseorang masuk ke dalam rumah dan menatap dingin ke arah mereka.
Tatapan Mevin dengan orang itu bertemu. "Eh, Halo." Mevin melupakan pertimbangannya akan kamar tidur, alih-alih dia menyapa seseorang yang terlihat seumuran dengan mereka.
Raykan menoleh, dia ikut tersenyum menyapa orang yang sama sekali tak terlihat ramah pada mereka.
"Kita pengontrak baru disini, salam kenal gue Raykan." Meski tak ramah, dia harus tetap menyapa anak dari pemilik kontrakan ini, bukan?
"Gue Mevin, semoga kita bisa berteman. Lo dari jurusan apa?"
Orang itu hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak menjawab pertanyaan Mevin. Seketika Raykan tersadar dia berdiri menghalangi pintu, dia menggeser posisinya lalu pria yang amat tak ramah itu berjalan memasuki kamar pertama, kamar miliknya.
"Wah Bang! Merinding gue, jutek parah! Serius lo mau di kamar ini? Mending lo di sana aja, Lo kan berisik, nanti kalo dia marah gara-gara lo berisik bahaya." Ucap Raykan berapi-api.
Mevin berdecak, perkataan Raykan tak sepenuhnya salah. Akhirnya dia menarik kopernya lalu berjalan menuju ruang tengah. Raykan berjalan mengekor dari belakang Mevin.
"Lo di depan kamar Chandra aja, gue ngisi kamar di tengah-tengah kalian, sama Leo." Raykan mendorong koper yang sedang ditarik Mevin menuju kamar sebelah utara yang menghadap ke kamar Chandra di selatan. Mevin menurut saja, lagi pula dia tidak akan sering mengisi kamar itu.
Raykan hendak berjalan ke arah pintu kamarnya, dia melirik Chandra yang sudah tertidur pulas. Dia menggeleng - gelengkan kepalanya singkat melihat orang dan koper yang sama-sama tergeletak begitu saja.
"Si Leo kapan kesini?" Tanya Mevin.
"Abis kumpul UKM." Jawab Raykan sambil membuka pintu kamarnya.
"Eh, iya, bed gue sama Leo belum di tambah ya?" Raykan baru tersadar ketika melihat suasana kamar yang hanya memiliki satu kasur ukuran single.
"Nanti malam Pak Daniel mau kesini tenang aja, sekalian ngasih duplikat kunci rumah." jawab Mevin.
Raykan mengangguk paham. "Yaudah gue mau beresin barang-barang dulu Bang." Ucap Raykan sambil berjalan masuk tanpa menutup pintu kamarnya.
Mevin mengangguk, dia juga mulai masuk ke pintu kamar, berbeda dari dua orang yang membiarkan kamarnya terbuka lebar, Mevin memilih menutup pintu kamar lalu mulai menata barang-barang nya di sana.