Teriknya matahari menyapaku. "Ini hari senin," Lucid menghela napas dengan keringat yang bercucuran. Ia menyekanya dengan tissue yang hanya tersisa beberapa lembar.
Cuaca hari ini terlalu panas untuk keluar dari rumah. Ia harus pergi ke kampus. Kelas di pagi hari dibatalkan. Sedikit menyesal, pergi ke kampus di siang bolong. Tapi juga terlalu mengantuk, berangkat terlalu pagi. Semalam tidur terlambat. Bukan hanya semalam, sering kali begitu. Sulit untuk tidur cepat. Ada kalanya juga bisa tidur cepat, selain karena lelah tapi juga bisa tiba-tiba tertidur saja tanpa menyadarinya.
Kacaunya, ia keluar dengan memakai hoddie. Waktu masih panjang tapi, ia selalu panik. Seperti dikejar-kejar. Memakai baju seadanya. Dilihatlah hoddie berwarna kelabu yang tergantung di belakang pintunya. Lucid melindungi kepalanya dengan tudung pada hoddienya. Itu seperti berguna dan tidak berguna. Memang terlidungi tapi panas yang menyengat lebih berkuasa. Benar-benar di atas kepala, seperti terbakar.
"Apa hujan akan turun? Aku tidak bisa menahannya, ini terlalu panas. Lihatlah! Bajuku basah," keluh seorang wanita pada temannya. Mereka berbicara dengan keras. Temannya juga menyahutnya dengan keluhan yang sama. Sepatu hak tingginya membuatku lelah. Tidak bisa membayangkan naik bus yang berdesak-desakan dengan memakai sepatu yang haknya kelewat tinggi. Wah, apa dia baik-baik saja?
"Apa? Kau sedang menatapku?"ucap wanita itu entah pada siapa. Tapi mengapa matanya yang hampir keluar itu tertuju padaku? Lucid memastikannya, siapa tahu itu bukan dirinya. "Ah, kau pura-pura tidak tahu?" wanita itu mengencangkan volume suaranya.
Wanita itu mendekat, memberi tatapan yang mengintimidasi, dan membuatku ingin tertawa dengan ekspresi mukanya. Ingin membuatku takut tapi, wanita itu tidak terlihat menakutkan meski bola matanya hampir keluar. "Saya?" dia pasti lebih tua dariku. Jadi, aku akan menghormatinya. Kelihatannya dia tipe orang yang meledak-ledak. "Iya, kau. Siapa lagi, kenapa kau menatapku? Tidak sopan menatap orang asing di depan umum," ucapnya dengan suara yang keras dan intonasi yang cepat.
Semua orang di halte bus, melihat ke arahku. Karena suara kerasnya itu, mengundang banyak orang yang hanya ingin tahu. Wah, bukan hari keberuntunganku. Lucid membalas tatapan wanita itu. "Stoking Kakak robek dan ada luka di lutut. Apa Kakak mau ini?" teriknya matahari membuat stoking yang robek dan luka itu terlihat. Wanita itu juga tidak bisa diam, terus-menerus menghentakkan kakinya. Lututnya sepertinya tergores tas yang ia bawa.
Lucid memberinya plester luka pada wanita itu. Perhatian banyak orang pun berpaling. Kegaduan yang wanita itu lakukan, seketika membuat wajahnya tertunduk dan dengan santainya mengambil plester luka itu dari tanganku tanpa mengucapkan terima kasih. Tidak masalah bagiku, itu urusannya. Meski wanita itu sempat melihat ke arahku dengan tatapan yang tajam, tidak peduli.
Wanita dan dua temannya itu sedikit bergeser lebih jauh dari tempat sebelumnya. Mereka berbicara dengan berbisik. Kini suara berisik berganti pada sekumpulan laki-laki yang mungkin seusiaku, mereka baru saja datang. Membicarakan perempuan, sudah biasa.
Ponsel di saku hoddienya bergetar, sengaja tidak dibiarkan pada mode suara Karena, ia selalu lupa dan tidak ingin terulang kembali. Ponselnya berdering dengan suara nyanyiannya dan saat itu berada di kelas saat suasana sedang fokus. Itu ulah Kakaknya, Kale. Meski tidak mengundang tawa. Ada yang lebih memiluhkan. Teman sekelasnya berniat untuk menolongnya tapi caranya itu, tragis. Membanting ponsel satu-satunya yang kupunya sampai terpecah belah. Ya, ponsel itu sudah tidak bernyawa lagi.
"Hah? Benarkah? Wah!" Lucid buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Tempat duduk yang diincar banyak orang di halte bus. "Ibu, bisa duduk di sini," ucapku pada Ibu paruh baya yang baru saja datang. Tidak akan kuberikan pada laki-laki berisik itu.
Lucid berlari sekuat tenaga. Langit berubah menjadi kelabu. Benar ucapan wanita itu, hujan akan turun. Tidak ada salahnya memakai pakaian tebal di siang hari yang terik. Siapa tahu hujan akan turun.
Drrrrrrr....
Ponselnya bergetar. "Ha—lo?"
Terdengar suara keras yang mengganggu pedengaran. "Hei, keluarlah! Aku tidak bisa dengar apa pun," apa kelas dibatalkan? Benakku berbicara seperti itu dan ya.
Kelas dibatalkan, lagi.
Lucu sekali, 5 menit yang lalu kelas tiba-tiba berubah jadwal. Entahlah, sudah berapa lama aku berlari dan kelas justru dibatalkan. Sebegitu cepatnya seseorang berubah pikiran?
"Ah, baiklah. Terima kasih," ucapnya. Lucid memutuskan untuk meneruskan perjalanannya menuju kampus. Tidak perlu terburu-buru. Ia berjalan dengan santai dengan earphone di telinganya.
Hmm, jalan yang ia lalui terlalu berisik. Ia tidak ingin dengar suara orang-orang yang berlalu lalang dengan keluh kesah yang mereka ucapkan dengan terang-terangan.
Kenapa tidak ada yang memilih diam dan tidak membicarakan diri sendiri untuk didengar banyak orang? "Entahlah...."
Pukul setengah 3 sore. Tidak terasa, waktunya. Lelahnya? Hmm, sedikit. Tapi tidak tahu, pasti di malam hari akan terasa di saat menjelang tidur.
Tepat saat sampai di kampus, hujan turun. Tempat yang terdekat untuk bisa menepi, perpustakaan. Mengapa, ya? Dari sudut kampus yang begitu luas. Selalu ada tempat yang terdekat yaitu perspustakaan.
Sesampainya di sana, ramai. Penuh pasangan yang saling menghangatkan. "Sungguh pemandangan indah," muka Lucid masam. Ia melihat sekitar, mencari space untuk dirinya berteduh.
Brukk...
"Sorry," ucapnya, entah siapa tidak tahu. Terlalu banyak orang, tidak ada space. Dua lengan yang saling bertemu, itu lumayan sakit. Sepertinya lengan laki-laki, tidak sengaja bertabrakkan denganku.
Hujan cukup deras. Tapi satu per satu orang-orang yang berteduh di dekatku, memilih untuk menerjang hujan. Mungkin bosan menunggu hujan. Termasuk mereka para pasangan yang mengumbar keromantisan di depan umum.
Daya pada ponselku masih terisi penuh, earphone sudah ada di telingaku. Hanya memakainya saja, tidak ada yang kudengarkan. Selain ada suara gemuruh hujan yang sudah cukup berisik, ada juga yang lebih berisik. Mereka yang sedang berbicara dengan volume suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar saat berbicara. Sebenarnya tidak apa tapi membuatku ingin tertawa. Sungguh aneh bila aku tertawa di tengah banyak orang.
"Ya, Tuhan aku tidak bisa menahannya," Lucid menggigit bawah bibirnya. Ada garis senyuman yang tertutup dengan tangannya, seperti berpura-pura menyentuh hidung.
Lucid bergeser agak ke belakang, Kakaknya meneleponnya. Menelepon disaat yang tidak tepat. "Halo, apa?" ucap Lucid ketus. Lucid menyimak suara Kakaknya yang bergabung dengan suara gemuruh hujan.
"Apa kau bilang? Kau melakukannya lagi?" seketika raut wajahnya berubah. Kakaknya berulah lagi. Kale, Kakak yang baik tapi juga Kakak yang mengecewakan. Tapi bukan salahnya, ia seperti itu ada sebabnya. "Hei, kenapa kau terus-menerus melakukannya?" Lucid sedikit berteriak, andai tidak banyak orang atau ia berada di rumah. Ia akan leluasa mengeluarkan amarahnya.
Kale berkelahi lagi dan berurusan dengan kepolisian, untuk kesekian kalinya. Bukan hanya itu saja. Kakaknya itu, juga merusak barang di supermarket dan masih banyak lagi.
Tut...tut...tut...
Ponselnya ramai, secara bergantian anggota keluarganya saling menghubunginya seperti panggilan darurat. Lucid melihat ke arah luar dengan tatapan yang kosong, di tangannya ada banyak permen yang ia makan langsung dengan jumlah yang banyak.
"Perempuan itu, apa dia sedang frustasi? Permen?" Laki-laki yang tak jauh di mana Lucid berada, sedang memperhatikannya.
Tap...tap....tap....
Laki-laki itu mendekat tapi perempuan di sampingnya tidak menyadari akan kehadirannya.
"Ada apa denganku?" Laki-laki itu melihat ke arahnya tanpa berpaling. "Lucid dream?" gelang nama yang dipakai mahasiswa baru pada ospek beberapa bulan yang lalu.
"Lucid Dream," Keenan mengucap nama itu dengan lirih.