"Tunggu, maksud Papa sama Mama apa? Zayyin menikah?" Kedua orang setengah baya yang sedang duduk di hadapanku menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka sudah menjawab pertanyaan ku. Mereka orang tua ku.
Oke, namaku Zayyin Ashkilla. Gadis plin-plan yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Anak ke-dua dari pasangan suami istri Mr. dan Mrs. Faisal dari tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah menikah dan seorang adik laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA.
Mengenai nama aku memang biasa dipanggil Zayyin, tapi di sekolah aku selalu dipanggil Zen dengan alasan namaku terlalu ribet. Menurutku sih, itu nama yang bagus dan benar-benar tidak pasaran. Tentang kekasih, aku pernah pacaran dua kali saat kelas XI dan tidak ada yang serius. Tapi sekarang? Mama sama Papaku malah bilang kalau aku harus menikah? Yang benar saja? Baru sebulan yang lalu aku menerima KTP ku.
"Tapi kenapa pa? Ma? Zayyin masih mau sekolah! Apa kata temen-temen Zayyin nanti?"
"Kamu masih tetap sekolah, Zayyin sayang.. Calon kamu juga masih seorang Mahasiswa, baru masuk semester empat." Jelas Mama.
"Jadi calonnya udah ada? Tapi siapa? Zayyin kenal orangnya?" Tentu saja aku tidak lengah begitu saja dengan jawaban itu, masih terlalu banyak pertanyaan di kepalaku.
"Sepertinya kamu udah lupa, dulu kalian pernah ketemu sekali. Dan itu udah lama banget, waktu umur kamu kira-kira dua atau tiga tahun. Dia cucu dari sahabat Kakek kamu."
"Terus apa hubungannya? Pokoknya Zayyin ga mau menikah sekarang! Gimana kalo dia bukan orang baik-baik?!" Aku melipat kedua tanganku di d**a dan memalingkan wajah yang sudah kusut.
"Dia orang baik, Papa sama Mama udah ketemu dia kemarin. Dia juga pintar, dapat beasiswa seratus persen kuliah di jurusan... teknik elektro kalo ga salah. Iya ga Pah? Ga tau deh, pokoknya teknik. Dan beasiswanya sampai lulus karna dia anak yang pinter. Dia bener-bener baik, Yahh.. Mama bisa liat dari sikap dia yang sedikit pendiam."
"Justru pendiem orang yang bisa membahayakan Ma.. Kita ga pernah tau motifnya."
"Huuss.. Kamu ini! Pernikahan ini memang udah direncanain sejak kamu lahir. Kakek kamu yang rencanain, dia pengen banget ngeliat kamu menikah sama cucu sahabatnya. Tapi sayang kakek kamu pergi terlalu cepat." Papa menunduk, aku mengerti Papa teringat sosok Ayah yang dicintainya telah pergi meninggalkan dunia.
"Setelah kakek kamu meninggal, kita pindah ke tempat yang lumayan jauh dari mereka. Awalnya kita masih berhubungan lewat telpon, tapi sempat kehilangan kontak selama hampir lima tahun. Dan baru-baru ini temen kakek kamu mencari keberadaan kita, akhirnya kami berjumpa lagi. Ternyata mereka tinggal dekat dengan kita." Lagi-lagi Mama yang antusias menjelaskan.
"Tapi tetap aja ini terlalu cepat Ma.. Pa, bantuin bilang ke Mama dong.."
"Dengar, Zayyin. Papa sama Mama ga bisa tunda pernikahan ini. Dan ini harus segera dilaksanakan. Kalian cuma harus melakukan akad, hanya akad. Kalian tidak akan tinggal di rumah yang sama."
"Jadi, apa tujuan kami menikah sekarang?" Aku masih mengernyit heran tak mengerti apa maksud tersembunyi dari semua pembicaraan ini. Hanya melakukan akad? Kulihat Mama menghembuskan nafasnya pelan.
"Sahabat Kakek kamu sakit parah, dan mengira umurnya udah ga lama lagi. Dia terbaring lemah di rumah sakit, dan betapa senangnya dia saat ketemu Papa. Jadi dia mau liat dan mastikan kalo Cucunya bener-bener menikah sama kamu Zayyin.."
Aku tak lagi bisa berkata-kata, ini sangat membingungkan. Di satu sisi aku benar-benar tidak ingin menikah di usia ini, tapi di sisi lain aku merasakan kesedihan saat mendengar cerita dari Papa Mama dan ingin meringankan beban Sahabat Kakekku.
*********
Kupandangi pantulan diriku di cermin untuk memastikan penampilanku. Dress orange selutut yang melekat bebas di tubuhku, rambut panjang yang ku ikat setengah, olesan bedak tipis, dan lipgloss soft pink untuk menambah kesan natural. Aku rasa ini sudah cukup sederhana untuk bertemu dengan pria yang disebut-sebut calon suamiku yang datang ke rumah bersama keluarganya.
Sebenarnya aku belum memutuskan akan menikah dengannya atau tidak. Aku berjanji pada orang tuaku akan memutuskan setelah bertemu dengannya. Mama bilang nama pria itu Afka, lebih tepatnya nama panggilan. Sengaja orang tuaku tidak memberitahu bagaimana rupa seorang Afka barang sekedar menunjukkan fotonya, biar surprise kata Mama. Ada sedikit rasa penasaran tentang bagaimana rupa dan penampilan calon suamiku itu.
Kuhembuskan nafas putus asa, aku sangat gugup. Kududukkan diriku di ujung tempat tidur. Selang satu menit terdengar ketukan dari luar pintu kamarku.
"Zayyin, mereka udah datang." Kudengar suara Mama bergumam pelan di balik pintu. Dengan segera aku membukanya. Mama memandangku dari atas hingga ke bawah, lalu tersenyum."Anak Mama emang selalu cantik. Ayo, turun. Mereka udah nunggu."
Kami berjalan menuruni tangga menuju ke meja makan lantai satu dimana saat ini semua orang sedang berkumpul di sana. Kulihat pria dan wanita asing setengah baya yang duduk di meja makan bersama Papa dan Refa adikku. Seketika tatapan semua orang beralih padaku membuatku tersenyum kaku. Mama terus berjalan menuntunku ke meja makan, kedua orang asing tadi berdiri sambil memasang ekspresi wajah yang tak ku mengerti.
"Selamat malam Om.. Tante.. Saya Zayyin." Berusaha bersikap ramah, aku mencium bergantian tangan kedua orang tadi yang bisa kupastikan bahwa mereka adalah orang tua dari yang katanya calon suamiku. Afka.
"Ya ampun, ternyata kamu lebih cantik dibanding di foto yaa Zayyin.." Ucap wanita yang terlihat seumuran dengan Mama.
"Iyakan Mah, di foto aja udah cantik tapi ternyata aslinya lebih cantik." Aku hanya bisa tersipu menanggapi pujian yang diberikan mertua ku ini.
"Jadi, ini Om Joli dan ini Tante Fira. Mereka adalah orang tua dari calon suami kamu." Jelas Papa.
"Yaudah, makanannya udah siap, kita makan dulu. Ayo, silahkan duduk." Om Joli dan Tante Fira sudah duduk masih dengan senyum di wajahnya. Mataku mulai menjelajah ke sekeliling sambil mendudukkan diri perlahan.
"Afka lagi di toilet sayang.. Bentar lagi balik kok." Astaga, aku ketahuan sedang mencari keberadaan pria bernama Afka? Dan sekarang semua orang terkekeh melihat reaksi ku yang ketahuan? Ya ampun, Zayyin! Kenapa kau jadi terlihat agresif sekarang?
"Nah, itu dia Afka udah dateng." Kulihat Mama yang duduk di depanku tersenyum ke arah belakangku. Perlahan aku memutar kepala mengikuti arah pandangangan Mama layaknya slow motion di drama korea. Hingga sekarang penglihatanku fokus pada seorang pria yang berjalan ke arah kami. Seketika mataku melebar dan dengan gerakan kilat aku berdiri dari kursi untuk memperjelas penglihatanku pada pria bernama Afka itu.
TIDAK SALAH LAGI, DIA MEMANG AFKA.
***