Pagi itu Jakarta kembali sibuk. Langit abu-abu, jalanan macet, klakson bersahut-sahutan. Tapi di balik kaca hitam mobil sedan mewah yang meluncur di antara hiruk pikuk kota, suasana di dalamnya jauh berbeda. Hening. Tegang.
Arga duduk bersandar di jok belakang, matanya menatap layar tablet yang menampilkan laporan lama—dokumen keuangan dari tahun 2017, tahun ketika nama Adrian Lesmana terakhir tercatat dalam daftar karyawan aktif Arion Pictures.
Tangannya mengepal.
Ada angka yang tidak masuk akal. Transfer dana ratusan juta ke rekening proyek fiktif—lalu tanda tangan Adrian di bawahnya.
Namun di berkas asli yang baru saja dikirim staf kepercayaannya semalam, tanda tangan itu tidak identik. Seseorang memalsukannya.
“Ayah, apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?” gumam Arga lirih.
Ia menutup tablet itu, menarik napas panjang. Sejak semalam ia tak bisa tidur. Bayangan wajah Nayla terus terlintas—bagaimana gadis itu menatapnya di ruang rias dengan mata berkaca-kaca, saat gosip masa lalunya memenuhi layar media sosial.
🎬 Di sisi lain: Studio Syuting Sinemania
“Aku... aku nggak ngerti kenapa berita itu muncul lagi, Kak Dinda,” suara Nayla terdengar lirih di sela-sela ruang ganti. Tangannya gemetar memegang ponsel, membaca komentar jahat yang membanjiri akun i********:-nya.
“Anak penipu!”
“Pantesan dulu bapaknya kabur bawa uang investor!”
“Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.”
Ia memejamkan mata. d**a sesak.
Dinda, asisten merangkap sahabatnya di lokasi, mencoba menenangkan. “Nay, kamu harus kuat. Aku udah lapor ke manajemen, mereka lagi urus klarifikasi ke media. Jangan baca komen dulu, ya?”
Nayla mengangguk lemah. Tapi yang paling menyakitkan bukan komentar netizen—melainkan kenyataan bahwa gosip lama itu datang tepat setelah Clara Adeline muncul di lokasi kemarin.
Seolah semua ini bukan kebetulan.
Sementara itu, Arga melangkah ke dalam ruang rapat besar lantai 28. Semua orang menatapnya—karyawan senior, direktur, hingga sekretaris pribadi ayahnya.
Hari ini ia tidak lagi “Rey si kru sinetron”, tapi kembali sebagai Arga Mahendra, CEO muda Arion Pictures.
Senyumnya tipis, dingin.
“Ada beberapa file lama yang saya minta dibuka,” katanya tegas. “Proyek Aurora 2017 dan laporan audit berikutnya. Saya ingin lihat siapa saja yang terlibat.”
Sekretarisnya menatap gugup. “Tapi, Pak, itu proyek yang sudah ditutup oleh—”
“—Ayah saya,” potong Arga pelan. “Saya tahu. Tapi sekarang saya yang bertanggung jawab atas nama Arion. Tolong buka arsipnya.”
Beberapa menit kemudian, layar besar menampilkan data lama.
Arga memperhatikan setiap nama di sana—dan matanya terhenti pada satu baris kecil:
Adrian Lesmana – Manajer Produksi
Status terakhir: Diberhentikan permanen, alasan: penyalahgunaan dana produksi.
Arga menatap catatan itu lama. Ia tahu dari hasil pemeriksaan forensik dokumen bahwa tanda tangan Adrian dipalsukan. Tapi siapa yang melakukannya?
Dan kenapa Clara Adeline, yang waktu itu baru menjadi aktris pendatang baru, muncul sebagai investor diam-diam di proyek yang sama?
Langit mulai jingga ketika Nayla keluar dari ruang ganti. Matanya bengkak tapi ia memaksa tersenyum.
“Syuting hari ini tetap jalan, ya?” katanya ke Dinda. “Aku nggak mau mereka pikir aku kabur cuma gara-gara gosip.”
Dinda menghela napas. “Kamu keras kepala banget, tahu nggak?”
“Kalau aku berhenti sekarang, Clara menang,” jawab Nayla pelan tapi tegas.
Saat itu, suara langkah kaki terdengar di belakang. Nayla menoleh—dan melihat Rey berdiri di sana dengan jaket hitam dan tatapan lembut yang sama seperti biasa.
“Nayla,” ucapnya perlahan. “Kamu nggak apa-apa?”
Ia mencoba tersenyum, meski hatinya hampir runtuh. “Aku baik-baik aja. Aku udah biasa kok jadi bahan gosip.”
Arga—atau Rey—menatapnya lama. Ada rasa bersalah yang begitu berat di matanya. Ia ingin bilang kalau dia sedang menyelidiki semuanya, kalau dia tahu nama ayah Nayla bukan sekadar catatan kelam di arsip lama, tapi kunci dari rahasia besar di Arion Pictures. Tapi ia tidak bisa.
Belum sekarang.
“Kalau butuh tempat tenang,” katanya lirih, “aku tahu satu tempat. Di rooftop, nggak banyak orang ke sana.”
Matahari sore perlahan turun di balik gedung tinggi. Angin berhembus lembut.
Nayla berdiri di tepi rooftop studio, menatap langit yang mulai berwarna oranye keemasan. Arga berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikannya diam-diam.
“Dunia ini aneh, ya,” kata Nayla pelan. “Sekali gosip muncul, semua orang percaya. Padahal yang tahu kebenarannya cuma segelintir.”
“Kadang orang lebih suka cerita yang dramatis daripada yang benar,” jawab Arga.
Nayla menoleh, menatapnya. “Kamu nggak takut deket sama aku, Rey? Semua orang ngomongin aku sekarang. Bisa-bisa kamu juga kena imbasnya.”
Arga tersenyum kecil. “Aku nggak peduli omongan orang. Aku cuma pengin tahu kamu baik-baik aja.”
Ada jeda. Angin berembus di antara mereka, membawa aroma hujan dari kejauhan.
Mata mereka bertemu—hening, tapi dalam.
Sekilas, Nayla merasa aman. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Namun sebelum ia sempat membalas, ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Dari: Clara Adeline
“Kamu pantasnya nggak di depan kamera, Nayla. Kamu cocoknya di berita kriminal, sama bapakmu dulu.”
Napas Nayla tercekat.
Tangannya gemetar, ponsel hampir terjatuh.
Arga melihat wajahnya berubah. “Kenapa? Siapa yang kirim?”
“Bukan apa-apa.” Nayla buru-buru menyembunyikan ponsel itu, berusaha tersenyum lagi. Tapi senyum itu palsu.
Arga tahu. Ia tahu karena ia juga pernah memakai senyum yang sama—saat harus menyembunyikan kebenaran dari dunia.
Malamnya, Arga duduk sendirian di ruang kerjanya. Hanya cahaya layar monitor yang menerangi wajahnya.
Ia membuka email dari staf penyelidik pribadinya, Rian.
“Bos, kami temukan file arsip suara dari rapat internal tahun 2017. Ada pembicaraan antara Mahendra Pradipta dan Adrian Lesmana. File-nya rusak separuh, tapi terdengar jelas satu kalimat terakhir: ‘Saya nggak mau nama putriku terseret, Pak Mahendra.’”
Arga terdiam.
Putriku.
Nayla.
Darahnya berdesir dingin.
Jadi Adrian tahu ada sesuatu yang bisa menyeret keluarganya—dan mungkin ia dikorbankan untuk melindungi seseorang.
Ia berdiri, memandangi kota dari balik jendela kaca besar. Lampu-lampu Jakarta berkilau, tapi hatinya gelap.
Kalau semua ini benar, berarti ayahnya sendiri terlibat dalam skandal yang menghancurkan hidup Adrian Lesmana.
“Tuhan...” gumamnya. “Gimana aku bisa minta maaf ke Nayla kalau kebenarannya sekejam ini?”
Saat Arga hendak menutup laptop, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Clara Adeline.
“Besok malam gala Arion Pictures. Aku harap kamu datang sebagai dirimu yang sebenarnya. Jangan lupa, aku tahu siapa Rey sebenarnya.”
Arga tertegun.
Jantungnya berdegup kencang. Clara tahu?
Itu berarti... permainan ini baru saja berubah arah.
Malam itu Jakarta berkilau. Gedung Arion Tower disulap menjadi aula megah untuk perayaan ulang tahun ke-25 perusahaan hiburan terbesar di Indonesia. Lampu-lampu kristal memantul di dinding kaca, para tamu berdatangan dengan gaun dan jas terbaik mereka. Para wartawan sudah berbaris di karpet merah, mikrofon dan kamera siap mengabadikan setiap detik.
Bagi publik, malam itu hanyalah pesta glamor.
Tapi bagi Arga Mahendra, malam itu adalah perang antara cinta dan kebenaran.
Arga berdiri di depan cermin besar di ruang VIP, mengenakan setelan jas hitam dengan dasi perak. Rambutnya disisir rapi, sikapnya tegas, tapi di balik pantulan matanya, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan.
“Sudah waktunya, Pak Arga,” ujar Rian, asisten pribadinya. “Semua media menunggu di depan.”
Arga mengangguk pelan, tapi suaranya serak.
“Rian, pastikan file rekaman itu dijaga baik-baik. Jangan ada yang tahu selain aku.”
“Baik, Pak.”
Begitu Rian keluar, Arga menatap pantulan dirinya lagi.
Malam ini ia akan tampil di depan semua orang—bukan sebagai Rey, kru biasa yang ramah dan konyol—melainkan sebagai CEO muda Arion Pictures.
Dan di tengah pesta itu, seseorang yang paling tidak ingin ia sakiti akan hadir tanpa tahu kebenaran apa pun.
Mobil sewaan berhenti di depan gedung gala. Dari dalam keluar seorang gadis dengan gaun sederhana berwarna lavender muda. Rambutnya digerai, riasan lembut menghiasi wajahnya yang tampak canggung di antara para selebritas dan sosialita.
Itu Nayla.
Dinda menggamit tangannya. “Kamu yakin mau masuk, Nay? Ini acara Arion Pictures. Aku takut Clara bakal—”
“Aku tahu,” potong Nayla, menatap gedung tinggi itu. “Tapi aku juga nggak mau terus lari. Aku datang bukan buat mereka. Aku datang buat buktikan kalau aku nggak seburuk yang mereka bilang.”
Dinda tersenyum samar. “Kamu berani banget.”
“Aku cuma... capek sembunyi.”
Keduanya melangkah di karpet merah. Blitz kamera langsung menyambar. Para wartawan mulai berbisik, beberapa langsung mengenali wajah Nayla.
“Itu dia! Nayla Lesmana!”
“Kenapa dia bisa diundang ke gala Arion?”
“Apa dia bagian dari proyek baru?”
Nayla menunduk, mencoba tetap tenang. Tapi detak jantungnya semakin cepat.
Acara gala dimulai. Musik orkestra lembut mengalun, pembawa acara memperkenalkan tokoh-tokoh penting satu per satu. Lalu, lampu panggung menyorot ke tangga utama.
“Hadirin sekalian, mari kita sambut CEO muda Arion Pictures... Tuan Arga Mahendra!”
Suara tepuk tangan bergemuruh.
Dan dari balik cahaya putih, muncul sosok pria tinggi berjas hitam—wajahnya tegas, mata gelapnya memantulkan sorot lampu.
Nayla yang berdiri di barisan tamu, menatap panggung itu… dan matanya membesar.
Langkahnya terhenti.
Rey.
Untuk sesaat dunia seperti berhenti berputar.
Orang yang selama ini menemaninya di lokasi syuting, orang yang membuatnya tertawa di tengah gosip, ternyata adalah CEO Arion Pictures, perusahaan yang dulu menghancurkan karier ayahnya.
Mulut Nayla terbuka, tapi tak ada suara keluar. Dinda memegang lengannya, kaget. “Nay… itu—itu kan—”
Nayla mundur satu langkah. Wajahnya pucat.
Clara Adeline tersenyum di sudut ruangan, mengenakan gaun merah menyala. Tatapannya tajam, penuh kemenangan.
Ia menyesap sampanye dengan anggun, lalu berbisik pada jurnalis di sebelahnya.
“Tulis baik-baik. CEO Arga Mahendra datang bersama tamu kejutan malam ini. Katakan saja... ‘mereka punya hubungan spesial di balik layar.’”
Reporter itu segera menulis cepat.
Rencana Clara berjalan sempurna.
Setelah sambutan dan sesi foto, Arga meninggalkan panggung sejenak. Ia butuh udara.
Namun di koridor belakang aula, langkahnya terhenti.
Di sana, berdiri Nayla—menatapnya dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan.
“Jadi ini… kamu,” suaranya pelan tapi tajam.
Arga terpaku. “Nayla, aku bisa jelaskan—”
“Berarti selama ini kamu bohong?”
Suara Nayla bergetar, tapi sorot matanya tajam. “Kamu datang ke lokasi syuting bukan karena iseng, tapi karena kamu CEO Arion Pictures. Perusahaan yang bikin ayahku... kehilangan segalanya.”
“Nayla, aku nggak tahu kalau—”
“Berhenti!” seru Nayla. “Kamu tahu kenapa aku nggak pernah mau dekat sama orang dari dunia atas? Karena mereka semua sama. Pura-pura peduli, padahal cuma mau mainkan hidup orang kecil kayak aku.”
Arga menatapnya dengan perasaan campur aduk. “Aku nggak main-main. Aku jatuh cinta sama kamu.”
“Cinta?” Nayla tersenyum getir. “Cinta yang dibangun dari kebohongan?”
Ia berbalik, tapi Arga menahan tangannya.
“Nayla, dengar aku dulu—aku sedang berusaha membongkar kebenaran tentang ayahmu. Aku nemu dokumen, rekaman… semuanya nggak seperti yang kamu kira.”
Nayla menatapnya, air mata menetes. “Kalau kamu benar-benar tahu, kamu akan ngerti kenapa aku nggak bisa percaya siapa pun dari Arion Pictures.”
Tiba-tiba, suara kamera dan wartawan terdengar dari ujung koridor. Beberapa reporter berlari mendekat, berteriak:
“Tuan Arga! Benarkah wanita ini kekasih Anda?”
“Apakah benar dia anak dari mantan karyawan Arion yang dipecat karena kasus korupsi?”
“Apakah ini bentuk simpati pribadi atau hubungan rahasia?”
Nayla menegang. Arga melangkah ke depan, melindunginya.
“Cukup! Jangan ganggu dia,” ucapnya tegas.
Namun blitz kamera terus menyala, membuat Nayla panik.
Clara muncul dari balik kerumunan, pura-pura terkejut. “Oh, jadi rumor itu benar? Kamu datang dengan dia, Arga?”
“Clara, jangan ikut campur,” kata Arga dingin.
Clara tersenyum sinis. “Kamu lupa siapa yang membantumu menutupi semua rahasia Arion dulu? Kamu pikir kamu bisa bersih dari masa lalu perusahaanmu? Semua orang tahu siapa Adrian Lesmana!”
“Cukup, Clara!”
Suara Arga bergema keras, membuat semua orang terdiam.
Tapi terlambat. Kata “Adrian Lesmana” sudah keluar.
Semua kamera merekam.
Semua wartawan tahu.
Dan Nayla berdiri di tengahnya—membeku, tak bisa bernapas.
Tanpa berpikir, Nayla berlari meninggalkan aula. Hujan deras turun di luar gedung, memantulkan cahaya lampu kota di jalanan basah.
Ia berlari tanpa arah, air mata bercampur hujan, gaun lavender-nya menempel di kulit.
Arga mengejarnya sampai ke depan gedung, memanggil, “Nayla! Tunggu!”
Tapi gadis itu terus berlari, seolah semua yang menahannya selama ini runtuh.
“Aku cuma pengin hidup normal,” bisik Nayla di antara isak tangis. “Kenapa semua orang selalu tarik aku balik ke masa lalu…”
Arga berdiri di bawah hujan, tanpa payung.
Gaun Nayla sudah menghilang di tikungan jalan, hanya sisa bayangannya yang tertinggal di pikirannya.
Rian datang membawa payung. “Pak, Anda harus masuk. Media masih di dalam.”
Arga tak bergeming. “Dia tahu semuanya sekarang.”
Rian terdiam sejenak. “Lalu apa langkah Anda selanjutnya?”
Arga menatap langit yang gelap, hujan turun deras.
Langkahnya berat, tapi tekadnya jelas.
“Aku akan bersihkan nama Adrian Lesmana,” katanya pelan, “meski harus melawan keluargaku sendiri.”
Nayla duduk di halte tua, menatap kota dari kejauhan.
Hujan perlahan reda, tapi dadanya masih penuh sesak.
Ia memegang liontin kecil—foto ayahnya, Adrian Lesmana, terselip di dalam.
“Ayah... ternyata dunia ini masih sama. Tapi kalau memang kebenaran itu ada... aku bakal temuin.”
Ia menatap ke langit yang berangsur cerah.
Di tempat lain, Arga melakukan hal yang sama, berdiri di balkon tinggi menatap langit malam.
Dua dunia berbeda, dua hati yang saling terikat, tapi kini terpisah oleh rahasia.