"BRUK! BRAK!"
Tubuh tong sampah bergetar hebat, menahan serangan sesuatu dari dalam yang menyusuri tiap inci dan sudut tubuh nya.
"AKHIRNYA! DAPAT BUAT MAKAN MALAM KU HARI INI!" Kepalaku muncul dari tong sampah itu.
Dengan mata biru lautku berbinar-binar, wajahku kotor apalagi tubuh nya, memegang sebungkus roti panggang kecil yang sudah termakan setengah nya.
Lalu, melompat keluar dari tong sampah dan berlari kecil menuju rumah yang berada di kedalaman kota, dimana keburukan nya tertumpuk disana. Angin jalanan kencang membuat rambut panjang biru langitku berhamburan mengikuti angin yang menyapa.
Hiruk-pikuk kota yang tak pernah padam itu sudah menjadi nyanyian di telinga ku, gedung-gedung tinggi, mal-mal megah, dan kantor-kantor berderet rapih dan gagah di setiap langkah. Manusia-manusia menjadi arus laut yang tak pernah berhenti walaupun sedetik.
"Nggak sabar rasanya aku makan malam, setelah ngeskip makan dua hari... Yang beli roti panggang nya juga nggak tau syukur ih!
Makanan seenak ini berani-beraninya dia buang, padahal bisa aja dia kasih ke orang yang lebih butuh." Aku melompat-lompat kesana kemari menginjak bentuk batu segi enam itu dengan bahagia dengan sedikit bumbu kesal.
Setelah melewati toko perhiasan bergengsi di kota ini, aku belok kiri ke g**g rumah ku yang hanya terbuat dari apa saja tapi kardus yang paling mencolok. Aku membuka pelan pintu kardus itu- takut sekali kalau tiba-tiba rumah ini ambruk -
Lengkungan kecil muncul di bibir ku."Rumah aku kembali!"
Hampa tanpa jawaban. Seperti biasanya.
Setelah menutup pintu, aku duduk manis di atas kasur tipis ku yang bahkan sudah menyaingi seprai tipis yang kumal, aku membuka bungkusan plastik itu dengan hati berdebar-debar.
Dan mengambil roti panggang itu pelan-pelan roti itu meluncur ke mulut -
"GUBRAK!"
"Aduhh.. SIAPA SIH YANG GANGGU MOMEN AKU YANG MAU MENIKMATI MAKAN MALAM KU SIH!" Sesuatu benda keras jatuh, suaranya menggema karena sang kegelapan membuat manusia di g**g itu beristirahat. Muka ku mengembung.
Aku meletakkan roti panggang ku, lalu berdiri mengambil senter tua yang dekat dengan pintu masuk membuka pintu dan mengecek keluar dengan cahaya yang mulai samar ke sekeliling area.
"Aneh, tidak ada apa-apa. Padahal aku mendengar suara itu jelas." Aku merapikan baju buruk ku.
"Eh, itu..."
Cahaya samar senter ku menangkap siluet yang bersandar tak berdaya di bawah cahaya lampu jalan yang kelap-kelip tak tentu.
Apakah aku harus mendekati nya?
Atau membiarkan nya? Bagaimana kalau dia terluka?
Tapi, kalau dia orang jahat?
Suara-suara sudah menghebohkan pusat kendali tubuh ku, otak dan hati ku sedang tak sinkron, keringat dingin mulai mengucur tanpa sadar.
"Sudahlah! Kita nekat aja." Aku masuk kedalam rumah mengambil beberapa obat dan plester yang aku punya. Dan keluar menuju ke sosok itu.
Langit malam cerah, bintang-bintang bermain tanpa malu bahkan sang bulan juga turut bergabung walau hanya mengamati.
Semakin dekat semakin jelas pula rupanya yang pria sekali.
Rambut panjang hitam, umur sekitar 25 tahunan, tinggi sekitar 190 cm- karena aku yang 145 cm ini merasakan dia ini tiang listrik!- . Dari pakaiannya dia bukan orang biasa tapi dari kantung mata dan bawaan nya yang berhamburan dimakan dingin dan diamnya malam keadaanya sekarang seperti buih pantai.
"Tuan... Apakah Tuan baik-baik saja?" tanyaku sambil menggoyangkan pelan tangannya setelah memastikan angin berhembus dari hidungnya.
Pria itu mengerang pelan memegang kepalanya, sebelum matanya terbuka dan pupil nya mengecil.
" Pergi. Tinggalkan aku sendiri." Dia menutup muka nya dengan tasnya.
Aku tersenyum dingin padanya.
Enak banget mengusirnya ya! Padahal dia baru saja menganggu 'ritual' ku sebelum melahap hidangan ku.
Aku menendang kakinya cukup kuat."Minta maaf dulu gitu kek, udah bikin orang makan malam terganggu."
Pria itu hanya mengangkat tas se- centi dari wajahnya. Melirik, lalu menutupnya kembali."Maaf."
Asem.
Sudahlah, dari pada darah ku naik percuma aku akan makan saja yang tertunda, dan setelah menyelidik sedikit tubuh pria itu semuanya aman tak terluka. Jadi tak perlu apa yang sedang ku tenteng ini.
"Ngapain kamu liat-liat saya?" Aku terkejut ternyata pria ini masih sadar bahkan dengan tas yang menutupi wajahnya.
"Bukan apa-apa."
Aku hampir beranjak pergi sebelum angin menerpa semakin kuat dan tanah tercium, lalu hujan turun tanpa permisi.
Membuat kami berdua basah kuyup.
"Tuan, ayo kerumah ku untuk berteduh, mengenaskan sekali jika kamu disini."
"Tidak, terima kasih."
"Tuan, ayolah jangan biarkan tubuhmu sakit." Aku mengangkat tas kerjanya dan menatap mata merah ruby kosong di balik tas itu.
Tuan itu terkejut bukan main."Jika tuan menolak lagi, saya yang akan menyeret tuan masuk ke rumah saya." tambahku dengan sorot serius.
Dia memijat dahinya. " Gadis aneh." gumamnya. Sebelum dia berdiri dan mengikutiku dengan muka dingin nya ke rumah kardus ku.
Aku tertawa kecil sendiri, tak tahu apa yang sedang ku tertawakan sikap ku atau dia.
Dan tanpa kami tau, pertemuan kecil itu akan mengubah kami berdua.