Dingin langsung menyergap aku tanpa ampun, menusuk dan tiap helaan nafas ku muncul asap tipis saat aku berjalan ke tujuan ku. Jalanan hampa hanya selingan satu dua mobil atau motor lewat saat aku keluar g**g. Lampu kota menyala terang seperti biasanya.
Aku menghampiri toko fast food 24 jam langganan ku yang bercat merah putih yang sudah menua vibes nya seperti arena balap motor karena pemilik tokonya sangat maniak motor terlihat dari plang toko 'Rude' itu saja berbentuk motor dan jendela lebar toko itu saja penuh dengan poster motor dan balap motor tahun ke tahun.
Area parkiran nya saja ada hiasan start dan hiasan seperti area balap motor, dan sekarang sedang sepi pengunjung hanya ada beberapa motor pegawai toko Rude itu aja.
Untuk meminta sisa hasil penjualan mereka.
Kringg!
Suara bel berbunyi saat aku memasuki toko itu yang yang makin memperjelas bahwa pemilik tokonya sangat maniak pertandingan motor.
"Selamat datan- Eii Fira! Kau datang lagi hari ini, ini jatah kau." Seorang gadis rambut coklat pendek menyambut kedatanganku dari balik meja kasirnya. Disampingnya bungkusan plastik putih cukup besar berada di sampingnya dan karung.
"Haii Kak Mira! gimana penjualan kemarin?" kataku sambil duduk di kursi putar depan kasir itu.
"Kemarin rame banget tau! Semua kenalan Pak Edwan -pemilik toko- datang semua, karena kemarin ulang tahun Pak Edwan."
Mataku melebar."Apa! Kemarin Tuan Edwan ulang tahun. Dan aku nggak ngasih dia apa-apa setelah semua kebaikannya..." Aku tertunduk sedih seperti kucing yang melakukan kesalahan.
Tangan besar menepuk punggungku yang membuat tubuhku tersentak dan menoleh, seorang pria besar berusia 59 sekarang memasang senyum kuda khasnya kepadaku.
"Kau tak perlu hadiah untuk ku, Fira. Sudah cukup dengan kau yang menghidupi toko ini dan bantuan ringan yang sering kau lakukan." Tuan Edwan mengelus rambutku cepat membuat rambutku berantakan. Aku mendengus kecil.
"Tapi tetap saja, aku merasa tidak enakan kepada Tuan..." Tanganku langsung diletakkan plastik putih dan ini cukup berat! Dan karung itu.
"Sudahlah, aku juga sudah bilang tak masalah kalau kau masih tak enak hati aku ambil lagi jatahmu." Tuan Edwan pura-pura ingin mengambil lagi plastik putih di tangan ku yang membuatku langsung menggeleng panik, dan Tuan Edwan tertawa." Jatahmu jauh lebih banyak sekarang karena saat ulang tahun makanan terlalu banyak, daripada dibuang aku berikan kepadamu saja. Tenang saja, aku pilih yang masih higenis." Tuan Edwan mengancungkan jari jempolnya sambil menyipitkan satu matanya dengan senyuman lebar.
Mataku berbinar-binar. Artinya makanan ku cukup untuk makan bersama Tuan itu!
"Terimakasih Tuan! Besok saya akan mencuci piring seperti biasanya, hari ini saya mengumpulkan botol seperti biasa." Aku menunduk dalam-dalam kepada sang pahlawan tanpa tanda jasa untuk ku ini.
Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya di hari yang matahari memasak manusia, air menguap tanpa bekas dan angin yang menyejukkan sekarang menjadi padang pasir. Aku di keadaan malaikat nyawa tinggal seujung kuku mengais nyawaku karena tenggorokan mentandus. Aku terbujur kaku di pinggir jalan dengan tatapan kosong.
Keinginan mati sudah terbayangkan, bahkan hatiku sudah ikhlas jika aku harus mati diusia ku yang baru 6 tahun itu.
Sampai beliau datang memasukkan botol berisi air itu ke mulut ku lalu memberikan makan tanpa ragu padaku, selintas aku melihat wajah tegangnya dibalik senyuman dan keteduhannya. "Syukurlah, kau masih hidup. Nak." Mataku melebar mendengar kata yang keluar dari mulutnya.
Aku diperhatikan? Untuk pertama kalinya di jalan tanpa kata jeda?
Sejak hari itu aku mengikuti dan menunggu nya di depan tokonya, berjanji aku akan membalas kebaikannya.
Sekarang aku melangkah pergi, menuju tempat sampah untuk mengumpulkan botol plastik bekas seperti biasanya.
"Seperti biasanya ya, tempat ini yang paling banyak botol plastiknya. Bahkan lebih banyak dari biasanya, kalau gini aku nggak harus kemana mana lagi." Aku menatap belakang sebuah gedung perkantoran yang terkenal berkuasa di kotaku sambil menggelengkan kepala dan menaruh plastik makanan ku ditempat yang aman.
Gedung itu 10 lantai bercat biru putih- kek gedung bank BCA- dan aura elit menyerebak bahkan dari jauh.
Tapi di balik semua itu kebusukan juga terjadi disini. Di sini tempat uang di cuci aku mengetahui dari percakapan karyawan disana secara tidak sengaja, dan disini pula pesta terlarang di lakukan yang membuat tempat ini penuh sampah perlengkapan makan plastik bertebaran.
Apakah pihak berwajib tau? Mereka tahu tapi tersumpal uang.
Aku memungutnya dengan senyuman karena hari ini aku akan pulang cepat dan mendapatkan uang banyak! - ya 50 ribulah kira-kira - tiap cela aku selidiki memastikan tidak ada sampah tak tertinggal. Dan membawanya dengan cara mengeret karung itu 15 menit menuju tempat rongsokan terpecaya ku.
"Hoii, tangkapan kau besar kali ya Fira. Ini upah kau 50 ribu." kata pria menggunakan topi koboi tua yang penuh tembelan tanpa menoleh kearah ku sangking sibuknya memilah sampah bersama anak buahnya. Bermodalkan suara langkah kaki ku saja dia sudah tau bahwa aku yang datang mengeret karung.