Hi.... perkenalkan aku Hafine Foulie, gimana ? namaku susah untuk disebut?, tenang.. nama panggilanku HAFI kok.Udah ngak susah lagi nyebutnya kan?.
Aku membuat arti untuk namaku sendiri HAFINE FOULIE
(anak pertama yang baik baik saja dalam keadaan buruk). Kalian pasti bertanya tanya mengapa aku mengartikannya seperti itu.
Sebelumnya aku juga ragu ragu sih buat mengartikannya, tapi keadaan memaksaku untuk selalu mengartikannya seperti itu.
Papa dan Mama sengaja memberi nama itu. Aku juga tidak tau motif mereka itu apa?.
Kata mama, aku anak yang pembawa sial jadi nama itu sangat cocok untukku.
Kalian pasti bertanya, mengapa aku itu disebut anak pembawa sial ?nih aku kasih tau
Sekitar 15 tahun lalu, aku lahir ke dunia, awalnya mama sangat senang sekali karena kehadiranku sebagai anak sulung di keluarga CHANDRAWINATA.
Dia telah mempersiapkan kelahiranku dengan berbagai macam keperluan yang diatas standar, serta berharap bahwa aku menjadi pewaris semua kekayaan keluarga CHANDRAWINATA.
Namun tiba tiba,papa datang membawa kabar buruk, semua perusahaan yang ia punya bangkrut secara beruntun. Seketika senyuman yang merekah karena kehadiranku lenyap.
Semuanya memandangku dengan tatapan yang begitu membunuh.Omma,Opa,Om,Tante,Papa,dan Mama tidak berhenti menghujat.
Papalah yang pertama kali mengatakan bahwa aku adalah pembawa sial.
"Kelahiran anak ini telah membuat semua perusahaanku bangkrut,dia adalah anak yang pembawa sial!", teriak papa sambil menunjukku yang baru beberapa menit menghirup oksigen.
Gara gara ucapannya, semua orang juga ikut terpengaruh dan sampai sekarang, mereka tetap menganggapku sebagai seorang yang selalu sial dalam hidup.
Sebenarnya mereka ingin membuangku jauh jauh, namun karena takut image keluarga akan jatuh, mereka pun tidak jadi melakukannya.
Sekitar 1 tahun berlalu, mama dan papa dikaruniai seorang anak lagi, dia juga perempuan, sama sepertiku.
Ketika dia lahir, perusahaan kecil kecilan yang dibuat papa secara berangsur angsur berubah jadi perusahaan besar sampai sekarang.
Mereka begitu bahagia dan menganggap adikku sebagai pembawa keberuntungan dan aku si pembawa sial.
Adikku bernama Loren Luckye
( gadis yang beruntung). Dia sangat dimanja, semua orang sayang padanya ,tidak sepertiku, semua yang ia inginkan dipenuhi, namun sayang, dia bersikap tidak baik kepadaku.
Dia mempunyai barang barang merek kelas atas,kamarnya juga. sangat mewah dan bagus dengan nuansa pink didalamnya.
Sedangkan aku, jangankan mempunyai barang barang mahal seperti itu, aku saja tidur di kamar pembantu dekat dapur.
Loren selalu menganggapku sebagai pembantunya, dia tidak pernah menganggap saudara, padahal aku sangat menyayanginya. Apapun yang dia mau akan aku turuti.
Dia bersekolah di sekolah yang sama denganku. Rajawali Senior High School , namanya .Hanya orang orang kelas atas saja yang bisa memasuki sekolah tersebut.
Loren masuk sekolah itu karena papa telah memberikan sumbangan yang sangat besar, sedangkan aku masuk karena prestasi.
Sejak dulu aku selalu satu kelas dengan Loren. Oh iya kenapa tingkat pendidikanku bisa sama dengan loren?.
Karena Loren itu cepat masuk sekolah, dengan tujuan agar aku bisa selalu mengawasi dan menuruti perintah Loren di sekolah, serta mengerjakan semua tugas tugasnya.
Aku sering menukar nilai hasil ujianku dengan nilainya. Karena nilai dia sangat buruk.Takut Loren akan dimarahi Mama dan Papa, aku pun selalu menukar nilaiku dengan nilainya.
" Yahh, nilai gue jelek amat,pasti mama marah deh!" ucap Loren dengan wajah memelas berharap aku akan menolongnya.
" Nih, nilai aku kamu tipe x aja ,namaku lalu tukar dengan namamu" lalu aku memberikan kertas ujianku dengan begitu berat hati.
Tanpa ragu, Loren langsung mengambilnya dari tanganku, tanpa mengucapkan terimakasih.
Kemudian kami dipanggil mama untuk memperlihatkan nilai.
" Wah sayang ini nilai yang sangat sempurna,kamu dapat matematika 100? kamu memang anak yang sangat beruntung" ucap mama lalu memeluk Loren didepanku.
Next, adalah giliranku, mama mengambil kertas ujian itu dengan kasar dari tanganku.
" Ini nilai apaan Hah!!" teriak mama kepadaku.
" Maaafkan aku nyooonyaa " ucapku gugup.
"Dasar ! dari dulu saya memang sudah benci sekali sama kamu, anak sial ! dari dulu kamu hanya membawa kesialan, aku tidak akan yakin kau akan bisa jadi orang sukses!" bentak mama yang menusuk dalam ke hatiku.
Namun , aku sudah terbiasa dengan kata kata mama yang kasar , karena sejak kecil mama memang berbicara dengan nada kasar kepadaku.
Aku tidak pernah sekali pun dibolehkan memanggil ibuku dengan sebutan mama, begitu juga dengan papa.
Mereka menyuruhku untuk memanggil mama sebagai nyonya, papa sebagai tuan.
Aku seolah olah sudah sangat tabah jadi orang, dan aku berharap suatu saat nanti ada seseorang yang menyayangiku dengan tulus. walaupun Just One Day with me.
By arifa
aku harap kalian suka ya
Btw jangan lupa follow akun aku ya....
Dan kasih vote sebanyak banyaknya....
Kan kasih vote dan follow ngak sesulit menulis , bener ngak ?
Kalo gitu dimohon agar kalian memberikan bintang pada cerita ini