° Dingin dan cuek adalah awal dari sebuah perhatian mendalam dan munculnya kehangatan °
~ Hafi
5 bulan kemudian
Pagi itu bel masuk berbunyi, seluruh siswa masuk ke kelas masing masing , termasuk kelas X ipa 1.
Bu Ana masuk ke dalam X ipa 1
" Selamat pagi anak anak " ucap beliau sambil duduk di kursinya.
Pagi buuuu
jawab seluruh siswa.
" Anak anak sekarang kita kedatangan teman baru, dia pindahan dari New York " ucap bu Ana.
Semua siswa disana terkejut dan mereka tebak menebak.
Kita kedatangan murid baru guys
Kira kira bakalan gimana ya ?
Kalo dia cowok dan ganteng dia harus jadi pacar gue
Kalo dia cewek dia harus jadi milik gua
Semoga ngak cupu kayak si Hafi
Pasti cerdas
Ohh gue ngak sabar
ganteng ngak ya ?
cantik ngak ya ?
Pasti orang kaya, soalnya pindahan dari New York
Pokoknya dia harus jadi temen gue
dan bla bla bla ucapan mereka membuat kelas jadi riuh.
" Anak anak dimohon tenang " ucap bu Ana berusaha mengembalikan suasana hening.
" Bu mana murid barunya ?" Vena tidak sabar.
" Kalian diam dulu, baru ibu panggil " balas bu Ana.
"Kalian diam diam! bu Ana mau manggil murid barunya " teriak Vena. Lalu semuanya pun diam.
" Semoga murid baru itu adalah orang yang baik dan tidak mengejekku " batin Hafi berharap penuh.
" Nak , silakan masuk " panggil bu Ana kepada murid baru yang sudah agak lama menunggu di luar.
Lalu masuklah seorang murid laki laki tampan yang telah berhasil membuat siswi siswi dikelas histeris.
Wajahnya sangat tampan, rahang yang kokoh , d**a bidang , tinggi sekitar 178 cm , bibir seksi, kulit putih, memiliki senyum kotak, hidung yang mancung serta sedikit t**i lalat di ujung hidungnya , serta style yang sangat keren.
Siswi siswi di sana langsung mempertebal make up agar terlihat memesona dimata sang murid baru.
Woahhhh
aduh ganteng banget
dia harus jadi pacar gue nih
Ohh ya ampun
dia bakalan jadi yang terganteng di kelas ini pastinya
bla bla bla
" Ampun dia cowok paling sempurna yang pernah gue liat " batin Loren.
" Silakan perkenalkan dirimu " suruh bu Ana dan diikuti anggukannya.
"Perkenalkan nama saya Steven Youne , panggilan Steven " ucap si anak baru bernama Steven dengan dinginnya.
Hi steven sapa seluruh siswi kecuali para cowok dan Hafi.
" Loh, kok perkenalannya gitu doang si ? sekarang ayo jelaskan sedikit alasan kamu pindah ke sini " suruh bu Ana dan Steven pun mengangguk.
" Baiklah , saya akan menjelaskan tentang sebab pindah ke sini, hal itu terjadi karena kedua orang tua saya memang memutuskan untuk kembali ke tanah air karena bosan berada di negri orang , saya disuruh juga pindah karena mama tidak mau jauh dengan saya . Sebelumnya saya sekolah di salah satu Senior High School di New York , hanya itu dan terimakasih " Jelas Steven agak panjang lalu kembali diam dengan tampang yang cool.
" Terimakasih karena sudah memperkenalkan diri, dan kamu silakan duduk di sana " tunjuk bu Ana pada kursi paling belakang , yang tepatnya lagi dibelakang Hafi.
Tanpa pikir panjang dan pilih memilih tempat duduk, Steven langsung berjalan menuju kursinya.
Sorotan mata yang memuja tak henti hentinya melantun di setiap langkahnya Steven, dan sorotan kebencian mengarah kepada Hafi si cupu yang notabenya duduk di depan Steven yang begitu sempurna.
" Ih liat deh itu cupu, bisa deket deket sama Steven " bisik Della
" Dia pasti salting deket orang ganteng " timpal Sherly.
" Ih mana mungkin Steven tertarik sama cewek seperti dia " ejek Vena.
" Kalian bener, hanya orang cantik aja yang bisa milikin orang seperti Steven " Loren mulai membanggakan dirinya sendiri.
Tiba tiba Loren memanggil Hafi
"Heh sial, ntar kita tukeran duduknya awas aja kalo lo ngak mau , gue aduin lo " ancam Loren kepada Hafi agar dia bisa selalu berada dekat dengan Steven.
" I......iya Ren" angguk Hafi.
Sementara itu Steven duduk santai dan diam karena dia masih setia dengan matanya yang selalu melihat kearah Hafi yang kucel.
" Ppsst, woi woi nama lo siapa ?" tanya Bintang kepada Steven.
" Nama gua Steven " Singkatnya
" Oh, kenalin gua Bintang dan yang satu ini Cheo " ucap Bintang sambil menepuk pundak Cheo yang duduk di depannya.
" Aduh lo apa apaan si ?" Cheo merasa terganggu.
" Ya sory sory , btw kita bakalan dapet member baru nih " bisik Bintang kepada Cheo.
" Siapa ?" lirih Cheo kareja dari tadi dia fokus terhadap pelajaran yang diterangkan bu Ana .
" Itu Steven, ayo kenalan dulu sana " suruh Bintang.
" Oke " balas Cheo.
" Psstt, kenalin gua Cheo temennya Bintang " Cheo mengulurkan tangannya kepada Steven yang tetap dalam keadaan Stay cool melihat bu Ana menerangkan .
" Oh , gua Steven " ucap Steven dingin lalu kembali fokus pada pelajaran.
" Woi, lo mau ngak jadi temen kami ?" tawar Bintang.
" Oke " jawab Steven singkat disertai oleh anggukannya.
" Wah, ni orang bener bener dingin nih " terka Cheo.
" Iya lo bener banget Che " Bintang setuju.
" Woi , woi , woi, woi ,woi " ujar Bintang dan Cheo memanggil Steven yang terdengar agak sedikit berteriak.
" Ehemm Bintang , Cheo kalian ngapain disana ? " gumam bu Ana membuat seluruh siswa melihat kearah mereka berdua.
" Mm ngak ada kok bu kami cuma latihan jadi tukang parkir aja , ni contohnya Woi kiri kiri kanan " ucap Cheo.
" Kalian kenalan sama Steven nanti pas jam istirahat, sekarang jam belajar " bu Ana telah mengetahui hal yang diperbuat Bintang dan Cheo jadi riuh seketika.
"Iya bu iya " balas Cheo dan Bintang serentak lalu diikuti oleh gelak tawa seluruh siswa.
Kringgg
Bel tanda istirahat berbunyi dengan lantangnya.
Bintang dan Cheo bergegas menghampiri Steven yang hanya duduk diam tanpa suara.
" Eh Steve, ke kantin yuk " ajak Cheo dan Bintang.
" Ohh , oke " Steven mulai beranjak dari kursinya.
Tiba tiba...
" Emmm, hai Steve kenalin aku Loren " ujar Loren mengulurkan tangan dan menghadang langkah Steven dan kedua teman barunya.
" Yah, ni cewek gatel ngapain lagi nih " gerutu Bintang.
" Palingan mau godain si Steven "
sahut Cheo.
" Semoga aja dia ngak terpengaruh sama cewek kayak Loren " kata Bintang dan diaminkan Cheo.
" Oh, gua Steven " gumam Steven tanpa menjabat tangan Loren.
Melihat kejadian itu Cheo dan Bintang tertawa, namun tawa mereka meredup karena Loren mengetahui bahwa mereka berdua menertawakannya.
" Hai Steven , aku Sherly "
" Aku Vena "
" Aku Della "
ucap ketiga member The Queena lainnya.
" Hai juga " balas Steven ringan.
" Kamu mau kemana ?" tanya Loren.
" Gua mau ke kantin " jujur Steven.
" Apa kami boleh ikut " sahut Della.
" Ahh, ngak boleh ! " Cheo tidak mengizinkan.
" Ehh, apan lo yang ngejawab kami itu bicara sama Steven bukan sama lo " Vena emosi.
" Serah gua dong napa lo yang sewot " bentak Cheo.
" Ihh, lo kalo jadi cowok jangan cerewet !" timpal Sherly.
" Eh cabe ! mending lo diem " gerutu Bintang.
" Enak aja lo bilang gue cabe !" Sherly tidak terima.
Sementara itu Steven merasa muak dengan perdebatan yang terjadi.
" Kalian boleh ikut " Steven memberi ijin kepada geng The Queena untuk pergi bersamanya.
" Ttapi kan " Bintang dan Cheo mendadak lesu.
" Udah, biarin aja daripada ribut trus keburu bel masuk bunyi gimana ? kan kita juga yang bakal keroncongan " jelas Steven.
Bintang dan Cheo hanya mengangguk lesu , karena yang dikatakan oleh Steven itu memang benar. Jadi mau tidak mau mereka harus menjalaninya.
Makasih ya Steven
Seluruh member The Queena berterimakasih kepada Steven lalu mereka pergi bersama Tiga serangkai ( Steven, Bintang , dan Cheo).
Loren mencibir kepada Hafi yang dari tadi duduk di kursinya menyaksikan Loren dan gengnya berkenalan dengan Steven.
Hafi hanya bisa tersenyum melihat sang adik bahagia, walaupun Loren sering menyakitinya tapi kasih sayang akan tetap tercurahkan kepada Loren.
" Semoga laki laki seperti Steven bisa jadi orang yang baik bagi Loren" batin Hafi mendoakan.

hope you enjoy
by Arifa
TBC