Celin kembali menuju ruang perawatan sang suami, setelah mengetahui berapa jumlah uang yang harus ia bayar selama hampir dua minggu sang suami dirawat di rumah sakit, yang membuatnya terus berpikir, harus mencari ke mana uang sebanyak itu untuk membayar biaya rumah sakit.
Namun, saat sudah masuk ke dalam ruang perawatan sang suami. Celin yang tadi terus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang yang cukup banyak untuk melunasi biaya rumah sakit sang suami, sebelum di rujuk ke rumah sakit besar.
Kini ia mengukir senyum, ketika melihat sang suami sudah terjaga dari tidurnya.
"Mas, sudah bangun?" tanya Celin tak lepas mengukir senyum pada sang suami yang ia sayangi, setelah setahun lebih menikah. Meskipun keduanya sudah dekat beberapa tahun lalu, setelah Celin memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan meninggalkan pekerjaannya.
Arga pun membalas senyum sang istri, dari tempatnya, dimana ia masih merebahkan tubuhnya diatas ranjang perawatan.
"Dari mana Dek?" tanya Arga lemah.
"Biasa Mas, tadi menghirup udara segar di taman depan. Maaf ya Mas, tadi aku tinggal." tentu saja Celin akan berbohong dari mana ia sebenarnya. Tidak ingin, memberi tahu berapa besar uang yang harus ia bayar untuk pengobatan sang suami.
Karena Celin takut, jika sang suami tahu berapa besar uang yang harus di bayar, akan memperburuk keadaannya.
"Dek, Mas mau pulang saja," kata Arga.
Tentu saja Celin yang baru menghampiri sang suami dan duduk di kursi tepat di samping ranjang perawatan sang suami, langsung menatap Arga. "Mas masih sakit, dan harus mendapat perawatan lebih lanjut,"
"Nanti Mas akan sembuh, dan Mas ingin pulang," kata Arga dan coba beranjak dari tidurnya, tapi tidak bisa karena tubuhnya sangat lemas.
Membuat Celin langsung beranjak dari duduknya, lalu membetulkan bantal agar posisi kepala sang suami lebih nyaman. "Bagaimana Mas mau pulang, bangun saja belum bisa kan?"
"Tapi Dek, sudah lama Mas berada di rumah sakit, dan kondisi Mas masih seperti ini tidak ada perubahan. Lagi pula banyak uang yang harus dikeluarkan jika Mas masih terus berada disini,"
Mendengar ucapan sang suami yang intinya mengkuatirkan tentang biaya rumah sakit, Celin sekarang menggenggam satu tangan Arga yang tidak terpasang selang infus, tentu sambil mengukir senyum.
"Mas, jangan pikirkan tentang uang. Yang terpenting kesehatan Mas membaik. Lagian, mau berapa lama Mas di rumah sakit, kita tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun, semua di tanggung pemerintahan. Kebetulan kartu kesehatan yang aku urus sudah jadi dan bisa langsung digunakan," bohong Celin, untuk membuat tenang sang suami.
Padahal pengajuan Celin mengenai kartu kesehatan, agar tidak perlu membayar biaya rumah sakit beberapa bulan lalu. Di tolak mentah-mentah dengan alasan yang tidak masuk akal, membuat Celin hanya pasrah.
"Benarkah?" tanya Arga.
"Iya Mas," jawab Celin, lalu mengambil tisu yang ada di atas meja tepat disamping ranjang perawatan, ketika melihat sang suami ingin batuk.
Dan Celin tahu persis, pasti Arga batuk hingga berdarah.
"Mas, kamu..."
"Dek," sambung Arga pelan memotong perkataan dari Celin. "Mas, mau istirahat," ucapnya sambil menahan sakit yang sedang ia rasakan, sambil memejamkan kedua matanya, berharap bisa menetralisir sakit yang sedang ia rasakan, setelah batuk berdarah.
Membuat Celin langsung menitikan air mata, meskipun Arga tidak pernah mengeluh sakit. Tapi ia tahu suaminya tersebut sedang menahan sakit. Kemudian ia mengambil tisu yang sudah terdapat darah di salah satu tangan Arga, dengan bulir air mata yang semakin deras.
Celin akhirnya keluar dari dalam ruang perawatan sang suami, ketika tangisnya tidak kunjung reda, dan ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya pada Arga.
"Jangan menangis Mbak," ucap seorang perawat yang tiba-tiba duduk tepat di samping Celin, dimana ia sedang duduk sambil menangis, di bangku tunggu tidak jauh dari ruang perawatan sang suami.
Membuat Celin langsung menoleh pada perawat tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat dirinya dan juga sang suami. "Ra, Mas Arga..."
"Mas Arga pasti sembuh Mbak," sambung Sera memotong perkataan dari Celin, lalu menepuk punggungnya. "Aku dengar Mas Arga harus di rujuk ke rumah sakit besar, apa itu benar Mbak?"
Celin langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sera, salah satu sahabat di kampung tempatnya tinggal yang bekerja di rumah sakit dimana sang suami berada.
"Kapan Mas Arga akan di rujuk, Mbak?"
"Aku tidak tahu kapan Ra,"
"Kenapa Mbak? Apa ini ada hubungannya dengan biaya rumah sakit?" tebak Sera, tahu keadaan ekonomi sahabatnya tersebut.
Dan Celin menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Sera.
"Sebentar lagi aku gajian, Mbak boleh pakai uang aku untuk membayar pengobatan Mas Arga, meskipun gaji aku tidak seberapa, tapi mudah-mudahan membantu,"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sera. Celin yang masih menangis, kini menghentikan tangis. Lalu menatap pada sahabatnya tersebut.
"Terima kasih Ra, tapi aku tidak ingin merepotkan kamu lagi," kata Celin tidak ingin merepotkan Sera lagi, karena selama ini sahabatnya tersebut selalu ada untuknya. "Ra, aku ingin minta tolong padamu,"
"Apa Mbak?"
"Maukah kamu menjaga Mas Arga disini, selama aku pergi,"
"Mbak mau pergi ke mana?"
"Ke ibu kota, disana aku mempunyai kerabat dan dia pasti mau meminjamkan uang untuk melunasi biaya rumah sakit Mas Arga," bohong Celin. Karena ia sudah tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan uang yang jumlahnya tidak sedikit.
Menjadi wanita malam, pekerjaan yang sempat Celin lakoni dulu. Dan ia ingin melakoni pekerjaan tersebut lagi, demi sang suami. Meskipun ia tahu keputusannya tersebut tidaklah benar, tapi dengan menjadi wanita malam, Celin akan dengan mudah mendapatkan uang.
"Baik Mbak, aku akan menjaga Mas Arga saat Mbak tidak ada disampingnya,"
"Terima kasih Ra,"
***
Dan benar saja, keesokan harinya dengan berat hati. Celin pergi ke ibu kota meninggalkan sang suami.
Untuk terjun lagi ke dunia malam, pekerjaan yang dengan mudah dan cepat bisa menghasilkan uang cukup besar.
Meskipun keputusan yang di ambil salah, tapi Celin yakin tidak sampai seminggu, ia kembali menjadi wanita malam, pasti bisa mendapatkan uang lima belas juta.
Setelahnya tiba di ibu kota. Malam harinya Celin langsung pergi menuju sebuah klub malam untuk menemui seseorang yang menjadi perantara para pria nakal agar dapat menghabiskan malam dengan wanita keinginannya.
Pria dengan tangan gemulai menatap pada Celin dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak percaya setelah beberapa tahun tidak bertemu dengan Celin, sekarang ia kembali melihatnya.
Membuat pria dengan tangan gemulai tersebut kini beranjak dari duduknya. "Benar kamu Celin?" tanya pria gemulai dan berjalan mendekatinya.
"Iya, Be," jawab Celin pada pria gemulai tersebut yang sering di panggil Babe.
"Ya ampun, kamu masih sama seperti dulu Celin, tidak ada yang berubah dan selalu mempesona, hanya kulit kamu yang terlihat gelap. Tapi membuat kamu semakin wow," Babe mengagumi kulit eksotis Celin.
"Be, aku ingin bekerja disini kembali,"
Babe menatap wajah Celin secara intens. "Apa aku tidak salah? Kamu benar mau bekerja disini lagi?"
"Ya, dan malam ini aku siap malayani pria,"