CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 7: Cerita di Balik Hujan
Jaket itu masih di pundak Maya sampai jam makan siang.
Dia tidak melepasnya. Bukan karena bajunya belum kering. Sudah kering sejak dua jam lalu. Tapi karena dia tidak mau. Karena jaket itu wanginya Arka. Karena setiap kali dia menunduk, dia melihat lengan abu-abu yang terlalu panjang itu dan teringat pagi ini. Tangan Arka di pundaknya. Napas Arka yang dekat. Suara Arka yang hampir berbisik.
Kamu masih menggigil.
Itu karena Bapak memegang pundak saya.
Maya menggeleng sendiri sambil tersenyum. Dia sedang duduk di pantry, menyusun laporan mingguan. Tapi matanya terus tertarik ke luar jendela. Langit sudah cerah. Hujan benar-benar berhenti. Sisa-sisa air masih menetes dari daun tanaman di balkon lantai dua puluh.
“Kamu senyum sendiri.”
Maya kaget. Sarah berdiri di ambang pintu pantry dengan segelas kopi di tangan. Matanya mengamati Maya dari ujung rambut sampai jaket abu-abu yang membungkus tubuhnya.
“Itu jaket Pak Arka,” kata Sarah. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Maya tersentak. Tangannya langsung merapikan jaket itu, seperti hendak melepasnya. Tapi tidak jadi.
“Iya. Saya pinjam. Saya kehujanan tadi pagi.”
Sarah masuk, duduk di seberang Maya. Matanya tidak lepas dari jaket itu.
“Pak Arka tidak pernah meminjamkan jaketnya ke siapa pun.”
Maya diam.
“Dua tahun aku di sini,” lanjut Sarah. “Banyak karyawan wanita yang kedinginan karena AC. Banyak yang lupa bawa jaket. Tapi Pak Arka tidak pernah bilang pakai ini.”
Maya menggigit bibir.
“Kamu istimewa, Maya.”
“Saya cuma asisten baru, Mbak.”
“Itu yang membuatnya lebih istimewa.”
Sarah minum kopinya, lalu berdiri. Di ambang pintu, dia berbalik.
“Hati-hati sama dia. Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia tidak pernah membuka hatinya untuk siapa pun. Kalau dia buka untuk kamu, itu berarti kamu sangat berarti. Dan kamu harus siap dengan semua yang menyertainya.”
Sarah pergi. Meninggalkan Maya di pantry dengan jaket abu-abu di pundak dan seribu pertanyaan di kepala.
---
Jam tiga sore, Maya mengirim laporan harian ke email Arka. Seperti biasa, dia menulis detail semua yang sudah dikerjakan. Juga menambahkan catatan kecil di akhir.
Jaketnya masih saya pakai, Pak. Nanti saya cuci dulu sebelum dikembalikan.
Balasan datang lima menit kemudian. Hanya satu kalimat.
Jangan dicuci. Nanti wanginya hilang.
Maya membaca kalimat itu tiga kali. Empat kali. Lima kali. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya dia hanya membalas dengan satu kata.
Baik, Pak.
Dia menekan tombol kirim. Lalu menyandarkan kepalanya di meja pantry, tertawa kecil karena gugup dan bahagia sekaligus.
Jam lima sore, Maya belum pulang. Dia sengaja menunda, menunggu sampai semua karyawan lain pergi. Bukan karena ada kerjaan. Tapi karena dia ingin mengembalikan jaket itu langsung ke Arka. Tidak lewat meja. Tidak lewat orang lain.
Pintu ruang CEO terbuka. Maya mengetuk pelan.
“Masuk.”
Arka sedang berdiri di depan jendela, memegang ponsel. Langit sore mulai jingga. Cahaya matahari masuk lewat kaca, menyinari wajahnya dari samping. Dia menoleh sebentar, lalu kembali ke ponselnya.
“Sebentar. Rapat dengan tim Singapura.”
Maya mengangguk. Dia berdiri di dekat pintu, tidak berani duduk. Jaket itu masih di pundaknya. Dia belum melepas. Tadi dia bilang mau mengembalikan. Tapi begitu berdiri di depan pintu, tangannya tidak bergerak untuk melepas jaket.
Arka selesai bicara. Dia meletakkan ponsel di meja, lalu menatap Maya. Matanya jatuh ke jaket abu-abu di pundaknya.
“Kamu belum mengembalikan.”
“Saya mau kembalikan sekarang, Pak.”
“Tapi kamu belum melepasnya.”
Maya tersenyum canggung. “Iya. Saya... saya belum sempat.”
Arka berjalan mendekat. Berhenti satu langkah di depan Maya.
“Kamu suka jaket itu?”
“Suka, Pak.”
“Wanginya?”
Maya tersenyum malu. “Wanginya juga.”
Arka diam sebentar. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak Maya duga. Dia membuka kancing jaket itu satu per satu. Pelan. Jari-jarinya yang panjang dan rapi bergerak dari kancing atas sampai bawah. Maya berdiri diam, tidak bergerak, tidak bernapas.
Arka membuka jaket itu. Tapi tidak mengambilnya. Dia hanya membukanya. Seperti membuka bungkusan. Lalu dia mundur selangkah.
“Kembalikan nanti,” katanya. “Kalau sudah tidak kamu suka lagi.”
Maya menunduk. Jaket itu masih di pundaknya. Terbuka. Tapi masih hangat.
“Saya rasa tidak akan ada saatnya saya tidak suka jaket ini, Pak.”
Arka tersenyum. Senyum kecil. Tapi matanya lembut.
“Pulanglah. Hari sudah sore. Nanti hujan lagi.”
“Bapak belum pulang?”
“Masih ada kerjaan.”
Maya ragu. Dia ingin bilang jangan terlalu malam, Pak. Tapi itu terdengar terlalu perhatian. Terlalu pribadi. Tapi dia sudah sering melanggar batas hari ini. Satu lagi tidak masalah.
“Jangan terlalu malam, Pak.”
Arka mengangkat alis.
“Saya pulang dulu.” Maya berbalik, berjalan ke pintu.
“Maya.”
Dia berhenti.
“Kamu pulang naik apa?”
“Angkot, Pak.”
“Masih ada angkot jam segini?”
Maya cek jam. Sudah setengah enam. Angkot masih ada. Tapi tidak banyak.
“Masih ada, Pak. Saya biasa pulang malam.”
“Kamu biasa pulang malam?”
“Iya. Kos saya tidak terlalu jauh. Saya sering jalan kaki kalau angkot sudah habis.”
Arka diam. Wajahnya berubah. Tidak marah. Tapi ada sesuatu di matanya. Seperti saat dia melihat Maya basah kuyup tadi pagi.
“Aku antar.”
Maya membeku. “A-antar, Pak?”
“Kamu mau aku ulang? Aku antar.”
“Pak Arka, tidak usah. Saya bisa—”
“Maya.” Suaranya datar. Tapi ada perintah di dalamnya. “Tunggu di lobi. Lima menit.”
Dia tidak menunggu jawaban Maya. Arka sudah mengambil kunci mobil dari laci mejanya.
---
Maya berdiri di lobi dengan jaket abu-abu masih di pundak. Sarah sudah pulang. Resepsionis malam menggantikan. Gadis itu sesekali melirik Maya, mungkin penasaran kenapa karyawan baru ini belum pulang padahal sudah jam segitu.
Lima menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung. Arka membuka pintu dari dalam.
“Masuk.”
Maya mendekat. Mobil itu besar. Bersih. Masih baru. Jauh berbeda dari angkot yang biasa dia naiki. Dia membuka pintu, masuk, duduk di kursi penumpang. Kulit kursinya lembut. Dingin AC menyelimuti. Wangi dalam mobil sama seperti wangi jaket di pundaknya.
Arka tidak bicara. Dia hanya fokus menyetir. Mobil melaju pelan di jalanan Jakarta yang mulai macet.
Maya tidak tahu harus bicara apa. Dia hanya duduk diam, sesekali melihat ke luar jendela. Rute yang biasa dia tempuh dengan angkot dan jalan kaki sekarang terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih nyaman. Lebih... aman.
“Belok kiri setelah lampu merah, Pak,” kata Maya pelan.
Arka mengikuti instruksi. Mobil masuk ke jalan kecil, melewati pasar malam yang mulai ramai, melewati deretan warung makan, melewati gang-gang sempit.
“Kamu tinggal di sini?”
“Iya, Pak. Tidak terlalu jauh dari sini.”
Mobil berhenti di depan gang yang tidak bisa dimasuki mobil. Arka melihat ke luar. Jalanannya sempit. Lampu jalan mati di beberapa titik. Air hujan pagi masih menggenang di sana-sini.
“Kamu jalan kaki dari sini setiap hari?”
“Iya, Pak. Gangnya tidak terlalu panjang. Cuma lima puluh meteran.”
Arka tidak menjawab. Dia matikan mesin. Membuka pintu.
“Pak, Bapak tidak perlu—”
“Aku antar sampai depan kos.”
Maya tidak bisa melarang. Arka sudah turun. Dia berdiri di samping mobil, menatap gang gelap di depannya. Wajahnya tidak berubah. Tapi tangannya mengepal.
Maya turun. Mereka berjalan berdampingan di gang sempit itu. Genangan air membuat Maya harus melompat-lompat kecil. Sekali dia hampir terpeleset. Arka menangkap sikunya. Cepat. Tepat.
“Hati-hati.”
Maya menunduk. “Makasih, Pak.”
Arka tidak melepas tangannya. Dia tetap memegang siku Maya sampai mereka sampai di depan pintu kos. Sebuah rumah tua yang diubah menjadi petak-petak kecil. Dindingnya catnya mengelupas. Di lantai atas, jemuran masih tergantung meskipun sudah malam.
Maya berhenti di depan pintu. Arka melepas tangannya.
“Ini kos saya, Pak.”
Arka melihat sekeliling. Dia tidak bicara. Tapi Maya bisa melihat rahangnya mengeras lagi. Seperti tadi pagi saat dia tahu Maya berjalan di hujan.
“Makasih sudah diantar, Pak,” kata Maya cepat. Dia ingin Arka pergi. Bukan karena dia tidak suka. Tapi karena dia tidak tahan melihat ekspresi Arka saat melihat tempat tinggalnya. Ada sesuatu di mata pria itu. Bukan kasihan. Tapi... sakit. Seperti dia yang merasakan beratnya hidup Maya.
“Maya.”
“Ya, Pak?”
“Besok aku jemput.”
Maya mengerjapkan mata. “Apa?”
“Besok aku jemput. Jam enam pagi. Siap-siap.”
“Pak Arka, tidak usah. Saya bisa naik angkot—”
“Jam enam. Jangan telat.”
Arka berbalik. Dia berjalan kembali ke gang gelap itu, melompati genangan air dengan langkah panjang. Maya berdiri di depan pintu kos, memegang jaket abu-abu di pundaknya, menatap punggung lebar itu sampai hilang di tikungan.
Dia masuk ke kamarnya. Kecil. Sempit. Kipas angin di atas masih bunyi krek-krek-krek. Ember plastik di sudut kamar masih menampung air hujan. Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda.
Maya duduk di kasur. Dia melepas jaket Arka perlahan. Melipatnya rapi. Lalu dia memegangnya, menempelkan wajahnya ke kain abu-abu itu.
Masih wangi. Wangi sabun. Wangi kopi. Wangi Arka.
Dia berbaring, memeluk jaket itu seperti memeluk bantal. Di luar, suara orang jualan mie ayam masih terdengar. Motor lalu lalang. Tapi Maya tidak merasa sendiri.
Ponselnya bergetar.
Dia buka.
Sampai rumah. Jangan lupa, jam enam. Aku tunggu.
Maya tersenyum. Dia membalas.
Baik, Pak. Saya tidak akan telat.
Jangan lupa bawa jaketnya.
Iya, Pak.
Dan jangan dicuci.
Maya tertawa kecil.
Saya sudah janji tidak akan mencuci, Pak.
Bagus.
Maya menunggu. Tidak ada pesan lagi. Tapi dia masih memegang ponselnya, membaca tiga pesan pendek itu berulang kali.
Sampai rumah.
Jam enam. Aku tunggu.
Bagus.
Tiga kata. Tiga kalimat. Tapi cukup untuk membuat malam ini terasa hangat.
Dia memeluk jaket itu lebih erat. Kipas angin di atas masih bunyi krek-krek-krek. Air hujan masih menetes di ember plastik. Tapi Maya tidur dengan senyum di wajahnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, dia tidak sabar menunggu pagi.
Bersambung ke Episode 8