Bab 2 • Mengobati Luka
___
Rina Cempaka terbangun karena rasa dingin dan sentuhan asing yang menjalar di tubuhnya.
Sebelum akal sehatnya sempat bekerja, ia sudah merasakan seluruh tubuhnya terasa lemas dan nyeri, seolah-olah baru saja dipaksa berlari sejauh dua puluh kilometer sambil memikul beban berat.
“Uuh—” Ia tak kuasa menahan rintihan pelan, setiap gerakan terasa seolah tulang-tulangnya akan berderai.
“Sudah bangun?”
Suara berat dan dalam terdengar dari samping.
Rina memutar kepalanya, mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk mencari sumber suara itu.
Belum sempat ia melihat wajah orang tersebut, rasa dingin itu kembali menyentuh kulitnya.
Kesadaran yang sempat berkabut seketika menjadi jernih.
Rina tersentak bangkit, menatap lelaki di sampingnya dengan tak percaya.
Apa… apa yang sedang dilakukan tangannya?!
Lelaki itu tampan luar biasa. Tulang alisnya menonjol, jembatan hidungnya tinggi, dan wajahnya memiliki garis tegas bagaikan pahatan arca yang makin memikat saat terkena cahaya dan bayangan. Ada juga tahi lalat yang mencolok di sudut matanya.
Kalau saja mereka tidak berada dalam posisi yang sangat memalukan ini, Rina pasti sudah memujinya, “Pria yang tampan sekali.”
Lelaki itu bangkit berdiri dengan tenang, merobek selembar tisu untuk membersihkan tangannya yang masih terkena salep.
Tubuh berotot yang memancarkan wibawa dan daya tarik kejantanan tampak jelas di hadapan mata Rina.
Peristiwa semalam kembali terbayang seperti film yang berputar cepat di kepalanya.
Kepala Rina terasa pening, dan pipinya memerah padam hingga terasa panas terbakar.
Ia segera menarik selimut di sampingnya dan menutupi seluruh wajahnya, persis seperti burung unta yang mencoba bersembunyi dari rasa malunya.
Bayu Pratama menatap gadis itu dengan senyum tipis, melihat kulitnya yang memerah merona.
Ia bahkan sudah lupa berapa kali mereka melakukannya semalam. Bagian tubuh manapun dari dirinya sudah pernah ia lihat dan sentuh, jadi untuk apa masih merasa malu?
“Semalam aku tidak dapat mengontrol kekuatanku, hingga ada bagian tubuhmu yang terluka. Aku sudah mengoleskan obat untukmu. Istirahatlah sebentar lagi. Aku akan mandi dulu, setelah itu kita bicara.”
Barulah setelah mendengar jawaban tertahan “Mmm” dari balik selimut, Bayu merasa cukup tenang untuk melangkah masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Rina langsung melempar selimutnya. Dengan kaki gemetar dan nyeri hebat, ia turun dari tempat tidur dan mulai mencari pakaiannya.
Siapa yang mau bicara dengannya? Ini hanya hubungan sesaat yang terjadi karena kebetulan. Seharusnya mereka sadar bahwa setelah tidur bersama, tidak ada lagi yang saling berhutang apa-apa.
Lagipula, ini adalah kali pertamanya! Dan kali pertamanya langsung… dilakukan berkali-kali sampai ia hampir kehabisan nyawa di atas kasur semalam!
'Tidak boleh, tidak ada yang perlu dibahas lagi!'
Beruntung, meski tubuhnya terasa remuk, pakaian dalam dan gaunnya tidak robek sedikitpun.
Rina segera mengenakan gaunnya, tak lupa meraih ponsel dan tas yang berserakan di lantai.
Sebelum keluar, ia melirik nomor kamar di pintu.
'Astaga, benar saja aku masuk ke kamar yang salah!'
Meskipun semalam adalah pengalaman pertamanya, Rina bukanlah tipe orang yang sok suci atau berpura-pura polos.
Ia memang mabuk dan salah masuk kamar. Namun lelaki itu mampu memuaskannya sepenuhnya, mulai dari wajah, tubuh, hingga… urusan di ranjang.
Singkatnya, ia tidak merasa dirugikan. Anggap saja semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk sekaligus mimpi indah yang berlalu begitu saja.
...
Rina naik taksi menuju rumahnya.
Baru saja melangkahkan kaki masuk, telepon genggamnya berdering. Peneleponnya adalah Hesti Santika.
“Rina, kamu sudah bangun? Mau turun sarapan atau makan siang bersama? Maaf ya, semalam aku terlalu banyak minum sampai lupa menjagamu. Kamu tidak kenapa-napa kan?”
Rina duduk di sofa sambil berusaha menenangkan diri. Pikirannya masih berantakan, dan ia sama sekali tidak sanggup menceritakan kejadian memalukan—salah masuk kamar hingga tidur dengan lelaki asing.
Setelah berpikir sejenak, ia menjawab, “Tidak apa-apa kok, kemarin aku sangat menikmati acaranya. Tidak ada masalah, jadi kamu jangan khawatir. Aku tidak ikut makan siang ya, ada desain yang harus segera diperbaiki. Aku sudah di rumah sekarang.”
Hesti tampak menghela napas lega di seberang telepon. “Syukurlah kalau kamu senang. Nanti aku ajak kamu ke acara seru lainnya, kali ini aku pastikan kamu tetap di sisiku.”
“Ngomong-ngomong Rina, koleksi pakaian baruku sudah jadi. Besok ada waktu bantu aku mencobanya? Bayarannya tetap seperti biasa, 1.500 Yuan per jam.”
Mata Rina seketika berbinar. Mana mungkin menolak uang yang sudah di depan mata, apalagi saat ini ia sangat membutuhkannya.
“Tentu saja ada. Kita bertemu di tempat biasa ya?”
Suara Hesti terdengar sedikit terengah-engah, seolah sedang berlari kecil. “Iya, tetap di tempat biasa jam dua siang. Aku baru saja menemukan hal luar biasa, sebentar lagi aku akan mengumumkannya ke semua orang, hehe. Aku harus pergi dulu ya. Sayang kamu, muach!”
Setelah sambungan terputus, Rina berniat mengambil pakaian ganti untuk mandi.
Baru saja ia berdiri, ia merasakan sesuatu yang aneh. Entah karena obat yang dioleskan tadi pagi atau sisa kejadian semalam, ada cairan yang perlahan keluar dari tubuhnya.
Rina tiba-tiba teringat satu hal penting: lelaki itu sama sekali tidak menggunakan pengaman semalam!
Wajahnya seketika menjadi pucat pasi. Dengan tangan gemetar, ia segera memesan obat pencegah kehamilan darurat lewat aplikasi pesan antar. Ia juga membeli alat tes mandiri penyakit menular seksual. Lelaki itu begitu mahir dan tidak malu-malu pagi tadi, pasti sudah sering melakukannya. Siapa yang tahu apakah ia membawa penyakit atau tidak?
Rina baru merasa sedikit tenang setelah obat sampai, ia meminumnya, dan hasil tes mandiri menunjukkan hasil negatif.
“Besok setelah mencoba pakaian Hesti, aku harus periksa ke dokter lebih teliti.”
Tak lama kemudian, Rina masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sebersih-bersihnya.
Kulit Rina memang aslinya putih dan halus, sedikit saja tergores atau terbentur akan meninggalkan bekas yang jelas.
Setelah kejadian semalam, seluruh tubuhnya penuh dengan bekas ciuman dan cengkeraman lelaki itu, bahkan hingga ke pergelangan kaki!
Terutama di bagian pinggang dan paha bagian dalam, ada yang sampai memar!
'Benar-benar lelaki yang tidak punya hati!'
Rina menggosok tubuhnya berkali-kali dengan sabun hingga kulitnya terasa wangi dan segar, barulah ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan sedikit lega.
Ia merebahkan diri di atas kasur empuknya yang wangi, kelopak matanya terasa sangat berat.
Ia sungguh lelah, bahkan lebih melelahkan daripada berlari sejauh dua puluh kilometer. Mau datang raja sekalipun, ia tetap harus tidur dulu sampai puas.
Lelaki apa, hubungan sesaat apa? Bisa dipikirkan lagi nanti setelah bangun tidur.
...
Bayu Pratama baru saja keluar dari kamar mandi, namun tempat tidur itu sudah kosong melompong.
Bukannya janji mau menunggu sampai ia selesai mandi baru bicara?
Biasanya, ia akan memandang rendah perempuan yang dengan mudah menaruh dirinya di tempat tidurnya.
Namun perempuan ini ternyata begitu manis dan menggoda, membuatnya kecanduan dan tak sanggup melepaskan.
Karena dia yang datang kepadanya duluan, dan ia pun tidak keberatan, sebaiknya ia ikut bersamanya saja.
Tas, baju, uang, atau rumah, apa saja bisa ia berikan asalkan dia mau patuh dan memenuhi keinginannya.
Tapi siapa sangka, dia malah kabur lebih cepat dari kelinci yang melihat musuh.
Bayu Pratama mengertakkan gigi belakangnya.
Apakah ini cara dia bermain jula mahal?
Menarik juga.
“Ming, cari tahu siapa yang masuk ke kamarku semalam. Lapor padaku dalam waktu setengah jam.”
Bayu berpakaian perlahan sambil menelepon asistennya.
Saat ia membungkuk mengambil dasi, pandangannya tertuju pada noda merah di seprai.
Mata Bayu meredup pekat—ternyata ini memang kali pertamanya.
Pantas saja dia begitu kaku dan terus menangis semalam.
Kali ini ia memang benar-benar tidak dapat menahan diri...
Lain kali ia akan lebih berhati-hati.
Setengah jam berlalu, asistennya mengirimkan rekaman pengawas dan data diri Rina ke ponselnya.
Bayu membuka pesan tersebut.
Rekaman menunjukkan bahwa Rina memang datang sendiri ke kamarnya dengan langkah sempoyongan, bahkan sempat menggesekkan kartu kuncinya ke pintu yang sudah terbuka sebelum masuk.
Ia membaca data yang tertera: nama Rina Cempaka, dua puluh dua tahun, lahir di Haicheng, lulusan Universitas Jingbei, kini bekerja di sebuah perusahaan periklanan.
Latar belakangnya bersih, tidak ada hal yang mencurigakan.
“Rina Cempaka.” Bayu menatap sosok dalam rekaman, lalu teringat rasa manis semalam—seperti permen karet rasa jeruk yang lembut, manis, dan membuat ketagihan.
Apakah perempuan ini sengaja dikirim orang dengan niat buruk?
Atau ini benar-benar sekadar kecelakaan?
“Kak Bayu? Kamu ada di dalam?”
Suara Hesti terdengar dari luar. “Ibu menyuruh kita pulang makan malam ke rumah lama—”
Begitu pintu terbuka, Hesti melihat pakaian berserakan di lantai dan aroma yang khas masih tercium samar di udara.
Lalu ia menatap Bayu yang tampak santai namun jelas terlihat baru saja puas melampiaskan hasratnya.
“Astaga!” Hesti buru-buru menutup mulutnya, namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar.
Bayu mengerutkan kening menatapnya. “Hesti Santika, kamu tidak tahu sebelum masuk ke kamar orang lain harus mengetuk pintu dulu?”
Hesti segera mundur ke luar, berdiri tegak di depan pintu dengan sopan. “Maaf Kak Bayu, Ibu berpesan agar kita pulang ke rumah lama untuk makan malam. Apakah Kakak bisa ikut?”
Bayu mengikat dasinya di depan cermin besar tanpa menoleh sedikitpun. “Ada urusan penting hari ini. Sampaikan pada mereka aku akan pulang lain kali.”
Hesti mengangguk sambil mundur perlahan. “Baik Kak, akan aku sampaikan semuanya persis. Kalau begitu aku pamit dulu ya.”
Begitu tak terlihat lagi oleh Bayu, Hesti langsung melompat kecil dan seolah memukul udara dengan penuh semangat.
“Ya ampun! Apa yang baru saja kulihat?! Mataku yang tajam ini tidak salah lihat kan?! Nenek tidak perlu khawatir lagi soal Kak Bayu! Dia hebat sekali!!”
___