Aku tidak bermaksud menghancurkan kariernya sendiri. Sungguh.
Namun nasib berkata lain. Atau lebih tepatnya, sebuah kesalahan kecil di pagi hari justru berubah menjadi bencana besar saat sore tiba.
Namaku Loni. Desainer junior di Arya Corp, perusahaan mode terbesar dan paling bergengsi se-Jakarta. Bosku? Arya Wijaya. CEO termuda, terkaya, dan paling dingin di seluruh industri. Pria yang dijuluki sebagai “Es Batu Berjalan”. Tidak pernah tersenyum, tidak pernah bercanda, dan tatapannya setajam pisau — cukup untuk membekukan darah siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
Hari ini adalah hari penting: presentasi koleksi musim panas. Aku bertanggung jawab penuh atas desain pakaian dalam — khususnya seri “Candy Pop” berwarna merah muda cerah dengan motif polkadot putih. Desainnya lucu, manis, dan sangat sesuai seleraku sendiri.
Masalahnya dimulai tepat pukul delapan pagi.
Aku terburu-buru masuk kantor karena hampir terlambat. Di tangan kanan ada secangkir kopi panas yang hampir tumpah, di tangan kiri ada amplop cokelat tebal berisi sampel desain yang harus diserahkan ke bagian produksi. Dalam keadaan panik dan tidak fokus, tanpa sadar aku terlupa memisahkannya, lalu memasukkan amplop itu ke dalam tumpukan dokumen penting yang akan dibawa asisten pribadi Arya, Raka, langsung ke ruang rapat direksi.
Baru saat jam makan siang, aku sadar telah melakukan kesalahan fatal.
Jantungku berhenti berdetak seketika. Darah serasa mengalir deras ke wajahku, membuatnya terasa panas menyengat. Amplop itu… berisi sampel desain. Desain yang seharusnya ada di meja produksi, bukan di hadapan para direktur tua dan Arya Wijaya yang terkenal sedingin es itu.
“Astaga…” bisikku pelan, tanganku gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan sendok. “Aku mati. Aku benar-benar mati.”
Sepanjang sore, aku terus mencoba menghubungi Raka, tapi ponselnya tidak aktif. Bahkan aku nekat berdiri berjam-jam di luar pintu ruang rapat, berharap bisa menyelinap masuk dan mengambil amplop itu sebelum dibuka. Namun penjaga keamanan menatapku curiga, memaksaku mundur dengan perasaan malu yang membakar d**a.
Pukul empat sore. Suara riuh rendah rapat perlahan mereda.
Pintu ruangan terbuka lebar. Para direktur keluar satu per satu dengan wajah datar dan sopan. Lalu muncul sosok tinggi tegap mengenakan jas hitam mahal yang disesuaikan sempurna. Arya.
Wajahnya pucat pasi. Matanya yang biasanya tajam kini terbelalak lebar. Tangannya menggenggam erat sesuatu yang berwarna merah muda cerah.
Itu sampel desainku.
Dia menatapku. Tatapan itu bukan penuh amarah, bukan jijik, melainkan… panik? Ya, Arya Wijaya, sang Es Batu Berjalan, tampak persis seperti kucing yang baru saja melihat mentimun.
“Loni,” suaranya serak, hampir terdengar seperti bisikan. “Masuk ke kantorku. Sekarang.”
Semua mata tertuju padaku. Aku merasa ingin lenyap ditelan lantai. Dengan kaki yang terasa lemas dan gemetar, aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam kantor yang luas, mewah, dan hening. Pintu tertutup rapat. Bunyi kunci yang diputar terdengar jelas.
Aku berdiri kaku di tengah ruangan, jantungku berdebar kencang seolah sedang dipukul gendang tanpa henti.
Arya meletakkan sampel desain itu di atas meja besarnya dengan hati-hati, seolah benda itu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ia menatapku, lalu menatap benda itu, lalu kembali menatapku lagi.
“Kamu tahu apa ini?” tanyanya, suaranya masih bergetar dengan cara yang aneh.
“S-sampel desain baru, Pak,” jawabku pelan, wajahku memanas hingga ke akar rambut. “Maafkan saya, Pak. Itu… itu kesalahan. Seharusnya dikirim ke bagian produksi, bukan ke rapat.”
Arya menghela napas panjang. Ia mengusap dahinya, lalu duduk di kursi besarnya dengan tubuh yang tampak goyah.
“Kesalahan?” gumamnya. “Loni, kamu tidak hanya mengirim sampel biasa. Kamu mengirim prototipe yang belum selesai. Dan yang lebih parah…”
Ia terdiam sejenak, menatapku dengan ekspresi yang sulit aku mengerti. Takut? Malu? Atau… sesuatu yang lain?
“Investor utama kita, Tuan Hendrawan, adalah kolektor pakaian dalam antik. Ia sangat tertarik dengan desain yang ‘unik’ ini. Dan ia memintaku untuk mempresentasikannya besok malam di acara gala makan malam.”
Aku melongo tak percaya. “Hah? Maksud Bapak…?”
Arya menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya naik turun, napasnya terasa berat dan tidak teratur.
“Aku tidak tahu apa-apa soal ini, Loni! Aku tidak tahu cara menjelaskannya! Aku tidak tahu cara… membicarakannya tanpa terlihat seperti orang gila!”
Ia mendongak, matanya berkaca-kaca karena stres yang luar biasa.
“Ajari aku. Tolong. Ajari aku cara menjelaskan dan mempresentasikannya sebelum aku dihina habis-habisan di depan seluruh elit Jakarta besok malam.”
Aku terpaku. Otakku serasa kosong total.
CEO paling dingin dan ditakuti itu… meminta bantuanku? Untuk mengajarinya menjelaskan desain pakaian dalam?
Apakah ini mimpi buruk? Atau justru… awal dari bencana kantor yang jauh lebih besar?