Kerja sama itu tidak langsung mulus — dan tidak ada yang pura-pura bahwa ia mulus.
Ada canggung di minggu-minggu pertama: Bisma yang tetap memeriksa ulang setiap dokumen yang diserahkan Bram ('kebiasaan, bukan tidak percaya — oke, sedikit tidak percaya'), Bram yang belum bisa memanggil Gunawan dengan panggilan lain selain 'Pak Gunawan' yang kaku, dan satu momen di mana Bram dan Om Aji berdebat sengit soal metode penelusuran sampai Dara harus masuk membawa dua cangkir kopi dan berkata: 'Dua orang yang sama keras kepalanya tidak akan menemukan apa-apa dengan saling menabrak. Duduk. Minum. Kerja.'
Tapi perlahan, di antara dokumen-dokumen tua dan kopi yang tidak pernah habis, sesuatu yang lain tumbuh: pengertian.
Puncaknya terjadi di satu sore, ketika Bram datang lebih awal dan menemukan Mitha sendirian di beranda, sedang membaca ulang surat-surat mamanya — kebiasaan barunya di sore hari. Bram berdiri di ambang pintu, ragu, sampai Mitha menyadarinya dan mengangguk ke kursi sebelah.
Duduk itu berjalan sunyi beberapa menit. Lalu Bram berkata, tanpa menoleh: 'Aku menghitungnya kemarin. Berapa banyak yang kucuri darimu. Pesan-pesan ancaman itu, paket di hari pengumuman timmu, artikel yang menyeret namamu, kartu soal ayahmu — aku menghitungnya dan jumlahnya membuatku tidak bisa tidur.'
'Kenapa kau hitung?'
'Karena aku psikolognya bukan, tapi aku tahu satu hal dari adikku: luka tidak sembuh dengan dilupakan. Luka sembuh dengan dihitung, diakui, lalu dibayar — sebisanya, dengan apa pun yang tersisa.' Bram menatap taman. 'Aku tidak bisa mengembalikan malam-malam yang kucuri darimu, Mitha. Tapi aku bisa memastikan satu hal: nama Raka Wijaya akan bersih dari kata "kecelakaan" sebelum aku mati. Ayahmu tidak mati karena rem blong. Ayahmu dibunuh karena dia berdiri terlalu dekat dengan kebenaran — dan aku akan membuktikannya, dengan atau tanpa sisa umurku.'
Mitha menatap lelaki itu — lelaki yang tiga bulan lalu mengiriminya kartu ancaman, yang sekarang duduk di berandanya menjanjikan keadilan untuk ayah yang tidak pernah dikenalnya — dan ia mengerti bahwa inilah bentuk sebenarnya dari memaafkan: bukan melupakan, tapi menerima bahwa orang yang melukaimu hari ini bisa jadi orang yang berjuang untukmu besok.
'Ayahku akan senang mengenalmu,' kata Mitha pelan. 'Dari cerita Pak Hendra, dia juga tipe yang tidak berhenti sebelum selesai. Kalian berdua akan berteman baik — atau berantem terus. Susah kutebak.'
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, Bram tertawa — tawa kecil, kaku, tapi asli. 'Kemungkinan besar berantem terus. Aku tidak pernah akur dengan orang yang sekeras kepala aku.'
'Maka kalian pasti berteman baik.'
***
Di hari lain, giliran Saraswati yang datang ke rumah besar itu — diundang resmi oleh Gunawan sendiri, yang menyambutnya di beranda dengan teh yang diseduhnya sendiri karena 'tamu keluarga tidak boleh diseduhkan orang lain'.
Percakapan mereka berjalan pelan, seperti dua orang yang sama-sama berjalan di atas tanah yang rapuh. Gunawan bertanya tentang Ratna — kesehatannya, harinya, hal-hal kecil yang tidak penting dan justru karena itu penting. Dan Saraswati bercerita: tentang ibunya yang bertahun-tahun menjahit di rumah kecil di Melbourne sambil menyekolahkan dua anak, tentang ibunya yang tidak pernah mau membicarakan Jakarta tapi tidak pernah bisa melewati berita tentang Indonesia tanpa berhenti menonton.
'Ibu tidak pernah membenci Bapak, Pak Gunawan,' kata Saraswati akhirnya. 'Justru itu yang paling sulit untuknya. Lebih mudah membenci daripada merindukan kota yang tidak bisa kau datangi. Dia menolak tawaran Bapak dulu bukan karena marah — tapi karena dia harus memilih antara harga diri dan kenyamanan, dan dia membesarkan kami untuk selalu memilih yang pertama. Tapi tiga puluh satu tahun, setiap kali nama Bapak muncul di berita, dia berhenti sejenak lebih lama dari yang dia sadari.'
Gunawan mengangguk pelan, menatap tamannya. 'Bilang pada ibumu — tidak, jangan lewat telepon. Suatu hari, kalau keadaan sudah memungkinkan, Bapak ingin mengatakannya langsung: bahwa tidak ada satu hari pun dalam tiga puluh satu tahun ini Bapak tidak memikirkan keluarganya. Dan bahwa anak-anak yang dibesarkannya dengan harga diri itu tumbuh menjadi orang-orang yang lebih berani dari kami semua.'
'Aku akan menyampaikannya, Pak.' Saraswati tersenyum kecil. 'Dan siapa tahu — suatu hari dua orang tua itu bisa duduk di beranda ini, membicarakan cucu-cucu mereka alih-alih membicarakan kuburan.'
'Amin,' kata Gunawan, dan untuk pertama kalinya kata itu terdengar seperti rencana, bukan harapan.
***
Sementara itu, kehidupan lain di rumah besar itu berjalan ke arah yang jauh lebih hangat — dan puncaknya terjadi di dapur, lagi-lagi di depan mesin kopi yang sama.
Bisma datang malam itu dengan satu keputusan yang sudah ditimbangnya berminggu-minggu. Ia menemukan Dara di sana, dan untuk pertama kalinya tidak membawa laptop, tidak membawa dokumen, tidak membawa alasan apa pun.
'Dara. Beberapa waktu lalu kamu bilang: mungkin orang itu cuma menunggu orangnya berani menyebut namanya sendiri.' Bisma menarik napas — dan Dara menyadari, dengan jantung yang tiba-tiba tidak stabil, bahwa Bismadikara Hanenda sedang gugup. Bisma. Gugup. 'Baik. Aku sebut sekarang. Namanya Daradiani Abisatya. Dia dua puluh delapan tahun, keras kepala, tidak pernah kalah debat, dan sudah dua bulan membuatku rela tidur empat jam demi keluarganya — padahal seumur hidupku aku tidak pernah rela melakukan apa pun untuk siapa pun. Aku tidak akan bilang aku berubah karena dia, karena itu klise dan dia akan menertawakanku. Tapi aku akan bilang ini: untuk pertama kalinya, aku ingin jadi orang yang pantas untuk seseorang. Dan seseorang itu dia.'
Dara diam cukup lama sampai Bisma mulai kehilangan keberaniannya. Lalu ia berkata: 'Kamu tahu berapa lama aku menunggu kalimat itu?'
'Berapa lama?'
'Dua bulan. Sejak kamu memperbaiki mesin kopi itu.' Dara tersenyum — senyum yang selama ini hanya disimpannya untuk pintu kamar yang tertutup. 'Aku tidak akan membuatnya mudah untukmu, Bis. Kamu punya dua puluh tahun reputasi untuk diluruskan, dan aku punya standar yang bahkan kakakku bilang tidak masuk akal. Tapi...' ia mengambil cangkir Bisma dan mengisinya, menyerahkannya kembali, '...kamu boleh mulai dari sini. Dari dapur ini. Dari kopi yang kamu buat sendiri, karena aku tidak akan selalu membuatkannya untukmu.'
Dan malam itu, di rumah besar keluarga Abisatya, satu lagi pintu terbuka — pelan, tanpa gembar-gembor, seperti semua hal baik yang pernah terjadi di rumah itu.