Rustam Effendi ditemukan bukan oleh teknologi, tapi oleh kebiasaan lama Bisma: berpikir seperti orang yang bersembunyi.
'Orang yang bersembunyi tiga puluh satu tahun tidak berpindah-pindah,' katanya di ruang komando, dengan peta Sumatera terbuka di layar. 'Pindah itu mahal, berisiko, dan meninggalkan jejak. Orang seperti Rustam memilih satu kota kecil, satu nama baru, satu rutinitas yang membosankan — dan berdoa tidak ada yang pernah mencarinya. Jadi kita tidak mencari orang yang bergerak. Kita mencari orang yang terlalu diam.'
Petunjuk Sigit — kota kecil di Sumatera — dipetakan ke tiga kandidat. Yang mempersempitnya adalah satu detail kecil dari koper Sigit: di catatan tangan jaksa tua itu tertulis satu baris, 'Rustam paling takut pada satu hal — laut. Tidak pernah mau naik kapal seumur hidupnya.' Maka kota-kota pesisir dicoret, dan yang tersisa adalah kota kecil di dataran tinggi, dua jam dari kota terdekat, dengan satu pasar, satu masjid tua, dan satu bengkel motor milik lelaki bernama 'Pak Rahman' — nama yang terlalu umum untuk dicurigai siapa pun.
'Foto Rustam muda dari arsip Sigit kuperkecil polanya,' lanjut Bisma, menampilkan dua foto berdampingan: lelaki tiga puluhan di tahun sembilan puluhan, dan foto ktp bengkel yang didapatnya dari satu koneksi terakhir. 'Tiga puluh satu tahun mengubah banyak hal. Tapi tidak mengubah jarak mata, bentuk telinga, dan tahi lalat di rahang kiri. Ini dia. Pak Rahman si pemilik bengkel adalah Rustam Effendi.'
Masalahnya: mereka bukan satu-satunya yang menemukannya.
'Orang-orang Darmadi mulai bergerak dua hari lalu,' lapor Bram, yang memantau jaringannya sendiri. 'Aktivitas tidak biasa di dua kantor cabang Sutanto Nusantara di Sumatera. Dia belum tahu kotanya — tapi dia sedang menyisir dengan pola yang sama dengan kita. Kita unggul mungkin empat puluh delapan jam. Tidak lebih.'
Maka malam itu juga, tiga orang terbang ke Sumatera: Om Aji, Bram, dan Bisma — kombinasi yang dipilih dengan sengaja. Om Aji untuk bicara dengan orang tua yang ketakutan. Bram untuk menjawab satu-satunya pertanyaan yang pasti akan ditanyakan Rustam: 'siapa kalian?' Dan Bisma untuk segala hal yang tidak terduga — karena dalam perburuan seperti ini, selalu ada yang tidak terduga.
Di pesawat itu, Bram duduk di kursi jendela dan tidak tidur semenit pun. Bisma yang duduk di sebelahnya membiarkan keheningan itu berlangsung sampai setengah perjalanan, sebelum akhirnya berkata tanpa menoleh: 'Keluarkan. Apa yang sedang berputar di kepalamu.'
'Banyak hal,' jawab Bram pelan. 'Tapi satu yang paling keras: lelaki ini mungkin orang terakhir yang melihat ayahku hidup-hidup sebagai lelaki bebas. Dia bekerja di lantai yang sama, menghitung uang yang sama. Aku sudah menyiapkan tiga puluh satu tahun untuk menghakimi semua orang yang berdiri di sekitar kejatuhan ayahku — dan besok aku harus duduk di depan salah satunya dan memintanya bicara. Aku tidak tahu apakah aku akan memeluknya atau mencekiknya, Bis.'
'Dua-duanya wajar,' kata Bisma. 'Tapi dengarkan orang yang pekerjaannya membaca manusia: bendahara yang kabur tiga puluh satu tahun dan tidak pernah membelanjakan sepeser pun untuk hidup mewah bukan orang yang menikmati hasil kejahatannya. Itu orang yang dihukum oleh ingatannya sendiri. Orang seperti itu tidak perlu dicekik — dia sudah mencekik dirinya sendiri setiap malam selama tiga puluh satu tahun. Yang dia butuhkan bukan hakim. Dia butuh alasan untuk berhenti bersembunyi.'
Bram menatap awan malam di luar jendela lama sekali. 'Kapan kamu jadi sebijak ini?'
'Sejak ada perempuan yang menyuruhku menurunkan kaki dari mejanya. Ternyata efeknya menular ke mana-mana.'
Yang tidak terduga datang lebih cepat dari dugaan.
Mereka tiba di kota kecil itu siang bolong, dan bengkel motor itu tutup — gembok baru, pintu rapat, tapi ada motor pelanggan yang masih terparkir di depan. Tetangga sebelah, seorang ibu penjual sayur, memberi tahu dengan ramah: 'Pak Rahman? Pagi tadi ada dua orang cari beliau. Bukan orang sini. Setelah itu beliau tutup bengkel dan pergi bawa tas. Tidak bilang mau ke mana.'
Darah ketiganya berhenti sepersekian detik. 'Dua orang?' tanya Om Aji menahan suaranya tetap tenang. 'Seperti apa, Bu?'
'Tinggi-tinggi, pakai kacamata hitam. Sopan sih, tapi bikin merinding. Nanyanya baik-baik, tapi matanya jelek.' Ibu itu menggeleng. 'Pak Rahman ketakutan sekali setelah mereka pergi. Kasihan.'
Mereka terlambat. Bukan oleh Darmadi — tapi Rustam sudah lari, dan orang yang lari dalam ketakutan di kota kecil punya pilihan tempat yang terbatas. Bisma yang menemukannya: satu-satunya penginapan di kota itu tidak mencatat tamu baru, tapi terminal kecilnya punya satu tujuan bus yang masuk akal untuk orang yang takut laut dan takut kota besar — kecamatan tetangga, lebih dalam ke pegunungan.
'Dia tidak akan kabur jauh,' kata Bisma, sudah bergerak ke mobil. 'Orang ketakutan kabur ke tempat yang dia kenal, bukan ke tempat baru. Dan orang yang tidak mau naik kapal dan tidak berani ke kota besar hanya punya satu arah: masuk lebih dalam.'
Mereka menemukannya menjelang maghrib, di losmen kecil di kecamatan pegunungan itu — lelaki enam puluh lima tahun yang duduk di tepi ranjang dengan tas yang sudah dikemas dan mata yang sudah pasrah, seperti orang yang sudah lama tahu hari ini akan datang dan hanya tidak tahu dari arah mana.
Dan saat pintu kamar losmen itu terbuka, Rustam Effendi tidak berteriak, tidak lari. Ia hanya menatap tiga lelaki di ambang pintu dan berkata dengan suara yang lelah luar biasa:
'Kalian orangnya Darmadi, atau orangnya Wirawan? Karena kalau kalian orangnya Darmadi, tolong cepat saja — saya sudah tiga puluh satu tahun lelah menunggu.'
'Bukan dua-duanya, Pak,' jawab Bram, melangkah masuk dengan kedua tangan terbuka. 'Saya Bramantyo. Anak Hardjono Wirawan. Dan kami datang bukan untuk membunuh Bapak — kami datang karena hanya Bapak yang bisa membunuh satu kebohongan yang sudah berumur tiga puluh satu tahun.'