Kasus itu resmi dibuka kembali pada hari Selasa — dan hari itu juga, berita membanjiri seluruh negeri.
**'KEJAKSAAN BUKA KEMBALI KASUS KENCANA GRAFIKA: ADA BUKTI BARU, KETERLIBATAN PIHAK KETIGA DISELIDIKI'**
Tidak ada nama Darmadi di pemberitaan resmi — penyidik bekerja dengan hati-hati, dan tim Danu memastikan tidak ada satu pun kebocoran dari sisi mereka. Tapi publik tidak butuh nama untuk mulai menghubungkan: artikel-artikel analisis bermunculan, menggali ulang sejarah Grup Sutanto Nusantara, menemukan pola yang sama yang ditemukan ruang komando: pengusaha dermawan yang tidak pernah mau membicarakan tujuh belas tahun pertama kariernya.
Dan Rabu malam, telepon Danu berbunyi. Nomor tidak dikenal — tapi kali ini, Danu tahu persis siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Semua orang di ruang komando tahu. Bram mengangguk pelan: *angkat.*
'Danudaru Abisatya.' Suara di seberang itu tenang, ramah, hampir hangat — suara lelaki yang terbiasa dihormati di ruang-ruang tertinggi. 'Kita belum pernah berbicara langsung, padahal aku sudah mengenalmu sejak kamu masih di London. Perkenalkan: Darmadi Sutanto.'
'Saya tahu siapa Anda,' kata Danu datar.
'Tentu. Anak didik Gunawan selalu tahu siapa lawannya — ayahmu mengajarkan itu dengan baik.' Darmadi tertawa kecil, tawa yang terdengar tulus dan justru karena itu mengerikan. 'Aku menelepon bukan untuk mengancam. Orang sepertiku tidak perlu mengancam — ancaman itu untuk orang yang kehabisan akal. Aku menelepon untuk menyampaikan satu nasihat, dari satu pembangun kerajaan ke pembangun kerajaan lain: berhentilah sekarang, dan kita semua bisa menua dengan tenang. Kasus tiga puluh satu tahun tidak akan mengembalikan satu pun orang mati. Tapi kasus itu bisa memakan orang-orang hidup — dan kamu, Anak Muda, sedang punya terlalu banyak orang hidup untuk dilindungi.'
'Kalau Anda begitu yakin posisi Anda aman, Anda tidak akan menelepon,' kata Danu. 'Orang yang aman tidak perlu menyampaikan nasihat pada musuhnya.'
Ada jeda kecil di seberang — jeda yang memberi tahu Danu bahwa tembakannya kena.
'Kamu persis seperti Gunawan muda,' kata Darmadi akhirnya, dan kali ini tidak ada tawa di suaranya. 'Itu bukan pujian. Ayahmu juga pernah berdiri di titik yang sama: yakin bahwa kebenaran adalah perisai. Tiga puluh satu tahun lalu aku membiarkannya hidup karena aku menghormati pemain yang bagus. Tapi hormatku ada batasnya, Danudaru. Penyidik itu akan berjalan ke mana-mana, menemukan potongan-potongan kecil, dan pada akhirnya berhadapan dengan kenyataan bahwa orang sebesar aku tidak bisa dijatuhkan oleh dua saksi tua dan pembukuan lapuk. Sementara itu, kamu punya perusahaan yang mulai berdarah di kawasan timur, ayah yang sedang melawan kanker...'
Ia berhenti — dan jeda berikutnya adalah jeda yang paling mengerikan dari semuanya.
'...dan istri yang sedang mengandung. Anak pertama, kalau informasiku benar. Selamat, ya. Keluarga baru di tengah perang — berani sekali. Atau bodoh sekali. Aku sendiri tidak pernah bisa membedakan keduanya.'
Ruangan itu membeku. Danu berdiri dari kursinya tanpa sadar; Bram sudah berdiri di sampingnya; Om Aji memegang telepon satelitnya. Danu menjawab dengan suara yang berubah sepenuhnya — bukan lagi suara CEO, tapi suara sesuatu yang lebih tua dari itu:
'Dengarkan baik-baik, karena saya hanya akan mengatakannya sekali. Kasus ini akan berjalan sampai ujung dengan atau tanpa persetujuan Anda. Tapi kalau satu saja orang dalam keluarga saya tersentuh — satu saja — maka saya akan melepaskan semua aturan yang selama ini saya pegang. Dan Anda sudah cukup lama bermain untuk tahu: pemain yang paling berbahaya bukan yang paling kejam, tapi yang paling bersih — karena ketika dia akhirnya bergerak tanpa aturan, tidak ada satu pun catatan buruk yang bisa menyelamatkan lawannya.'
Telepon itu ditutup dari seberang — tanpa salam, seperti dibuka.
Dan malam itu, keputusan-keputusan baru dibuat dengan cepat: pengamanan berlipat di rumah besar, Mitha tidak lagi bepergian tanpa pengawalan penuh, dan satu permintaan khusus dari Gunawan yang tidak bisa dibantah siapa pun: 'Pindahkan semua kegiatan ke rumah ini. Ruang komando, kerja, semuanya. Mulai malam ini, keluarga ini berkumpul di satu atap. Musuh kita orang yang menyerang dari kejauhan — dan orang seperti itu paling tidak suka target yang berdiri bergerombol.'
Di kamarnya malam itu, Mitha berdiri di depan cermin, menyentuh perutnya yang mulai berubah samar-samar, dengan gelang mamanya di pergelangan tangan dan cincin ibu mertuanya di jarinya. Dua benda dari dua perempuan yang sudah tiada. Satu nyawa baru yang sedang tumbuh. Dan satu musuh tua yang sudah tahu segalanya.
Danu memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya di kepala Mitha, dan berkata pelan: 'Dia ingin kita takut. Itu satu-satunya senjata yang tersisa untuknya.'
'Aku tidak takut,' jawab Mitha, dan kali ini ia sendiri terkejut betapa benar kalimat itu terasa. 'Aku marah, Danu. Dia membunuh ayahku sebelum aku sempat melihat wajahnya. Dia mencoba membunuh nama mamaku. Dan sekarang dia mengucapkan nama anakku dengan nada filantropis.' Ia berbalik menghadap suaminya, dan matanya adalah mata Larasati — mata yang sama yang dulu menandatangani naskah terakhir seminggu setelah kekasihnya dikuburkan. 'Selesaikan ini. Bukan karena kita terdesak. Karena sudah waktunya orang itu berdiri di tempat yang selama ini dia hindari: di depan kebenaran, tanpa pintu keluar.'
Dan di papan tulis ruang komando di lantai bawah, di bawah semua nama dan semua garis yang menghubungkannya, satu kalimat dituliskan malam itu juga — dengan huruf yang lebih besar dari semua catatan sebelumnya:
*'Orang yang menikmati permainan tidak tahan tidak menonton hasilnya. Kita tidak perlu mencarinya. Kita hanya perlu memastikan dia datang menonton — ke pertunjukan yang kita yang memilih panggungnya.'*