Penangkapan itu sendiri berjalan hampir tanpa suara — dan justru karena itu, ia menjadi salah satu penangkapan paling terkenal dalam sejarah kriminal negeri itu.
Tim bergerak pukul dua belas lewat tiga puluh menit, dari tiga arah, dengan surat perintah lengkap dan rencana yang sudah dilatih berhari-hari. Tidak ada tembakan. Tidak ada kejar-kejaran. Darmadi Sutanto ditemukan di dalam ruangan terkunci itu — ruangan yang ternyata bukan brankas uang, bukan gudang dokumen, tapi sesuatu yang membuat petugas pertama yang masuk berhenti di ambang pintu:
Sebuah ruang kerja yang utuh, membeku dari tiga puluh satu tahun lalu. Peta jaringan distribusi Kencana Grafika di satu dinding. Foto-foto dari masa jayanya. Satu lemari berisi piala-piala dan plakat penghargaan perusahaan itu. Dan di meja kerjanya, dibingkai rapi di bawah kaca: halaman pertama serial investigasi Larasati Arjanti — tulisan yang menghancurkan kerajaannya — dengan satu kalimat ditulis tangan di bingkainya, dengan tinta yang sudah memudar: *'Yang bisa menghancurkanmu hanyalah yang lebih baik darimu.'*
Darmadi berdiri di tengah ruangan itu dengan koper setengah terisi — plakat, piala, dan bingkai itu — dan saat pintu terbuka, ia tidak terkejut. Ia hanya menatap para petugas, lalu menutup kopernya pelan-pelan, merapikan kerah jasnya, dan berkata:
'Darmadi Sutanto. Saya tidak akan menyulitkan. Tapi izinkan saya membawa satu barang — bingkai di meja itu. Bukan untuk melarikan diri. Untuk mengingatkan saya di sel nanti bahwa saya pernah dikalahkan oleh tulisan yang lebih baik dari kehidupan saya.'
Bu Ratih, yang memimpin langsung penangkapan itu, kemudian mencatat dalam laporannya: *'Tersangka kooperatif sepenuhnya. Tidak ada perlawanan. Satu hal yang tidak bisa saya tuliskan secara resmi: dia tampak sudah selesai. Seperti orang yang akhirnya sampai di akhir buku yang ditulisnya sendiri — dan menemukan bahwa halaman terakhirnya sudah ditentukan sejak lama.'*
Dan sebelum dibawa masuk ke kendaraan, Darmadi meminta satu hal: satu telepon. Bukan ke pengacara — itu sudah diurus stafnya. Ke Danudaru Abisatya.
Permintaan itu sampai ke ruang komando rumah besar lewat Ratih, dengan satu komentar khasnya: 'Kalian boleh menolak. Tapi kalau saya jadi kalian, saya angkat — bukan untuknya, untuk arsip sejarah. Orang seperti Darmadi hanya jujur dua kali dalam hidupnya: saat menang besar, dan saat kalah total. Kalian tidak ada di momen pertamanya. Jangan lewatkan momen keduanya.'
Danu mengangkatnya di ruang komando, dengan telepon di pengeras suara dan seluruh keluarga mendengarkan.
'Danudaru.' Suara lelaki tua itu tenang seperti biasa — ketenangan yang tidak bisa dilatih, ketenangan orang yang sudah tidak punya apa-apa untuk dipertahankan. 'Kamu menang. Sampaikan pada ayahmu: bacanya tentang diriku akurat sampai akhir. Trofi itu memang kelemahanku. Empat puluh tahun membangun citra, dan aku mempertaruhkan kebebasanku untuk lemari berisi piala.'
'Anda bisa saja kabur bersih,' kata Danu. 'Tujuh negara sudah siap. Kenapa kembali ke rumah itu?'
Ada jeda panjang — dan untuk pertama kalinya, sesuatu yang jujur keluar dari mulut Darmadi Sutanto: 'Karena kabur bersih berarti hidup sebagai orang lain sampai mati. Aku sudah menjalani itu sekali, Danudaru — tiga puluh satu tahun menjadi "pengusaha dermawan Sutanto", sementara Darmadi yang sebenarnya tinggal di ruangan terkunci itu, bersama piala-pialanya, menunggu seseorang datang membebaskannya. Aku lelah menjadi dua orang. Kamu dan keluargamu... kalian memberiku satu hal yang tidak bisa kuberikan pada diriku sendiri: akhir cerita.'
'Itu bukan hadiah,' kata Danu dingin. 'Itu konsekuensi.'
'Bagiku, tidak ada bedanya.' Darmadi berhenti sebentar. 'Satu hal lagi — dan catat ini bukan sebagai pembelaan, karena aku tidak akan menggunakannya di sidang: tentang ayahmu. Tiga puluh satu tahun lalu aku punya kesempatan menghabisinya juga. Satu telepon, dan Gunawan Abisatya akan mengalami "kecelakaan" di perjalanan ke kantornya. Aku tidak melakukannya — bukan karena hormat, seperti yang kubilang di telepon dulu. Tapi karena aku membaca serial itu, dan aku tahu: orang yang membiarkan jurnalisnya menulis kebenaran tentang mitranya sendiri adalah orang yang lebih baik dariku. Dan aku tidak bisa membunuh orang yang lebih baik dariku — itu satu-satunya aturan yang kumiliki, aturan yang kutulis di bingkai itu. Kejam, mungkin. Tapi bahkan orang sepertiku punya satu garis yang tidak diseberanginya.'
Telepon itu ditutup. Dan di ruang komando itu, tidak ada yang bersuara cukup lama.
Yang memecah keheningan adalah Bram — dengan satu helaan napas panjang yang terdengar seperti tiga puluh satu tahun keluar dari paru-parunya sekaligus. 'Aku membayangkan hari ini seumur hidupku,' katanya pelan. 'Dalam semua bayanganku, hari ini terasa seperti menang. Tapi yang kurasakan sekarang cuma... kosong. Dendam itu ternyata bukan musuh yang kubunuh. Dia rumah yang kutinggali — dan malam ini rumahnya rubuh, dan aku tidak tahu harus tinggal di mana.'
'Kamu tinggal di sini,' jawab Dara sederhana, sebelum siapa pun sempat berpikir. 'Di keluarga yang sama anehnya dengan keluargamu sendiri. Besok pagi ada Pa Handi yang membuatkan sarapan terlalu banyak, ada kakakku yang akan membahas ini sampai bosan, dan ada Gunawan Abisatya yang akan mengalahkanmu di catur sembilan kali berturut-turut. Hidup setelah perang tidak glamour, Bram. Hidup setelah perang itu justru membosankan — dan kamu sudah lama sekali tidak diizinkan bosan.'
Dan untuk pertama kalinya sejak ruangan terkunci itu digerebek, Bram tertawa — lepas, sampai matanya basah, sementara di layar besar berita penangkapan itu mulai membanjiri semua saluran.
'Orang paling berbahaya,' kata Gunawan akhirnya, pelan, 'adalah orang jahat yang masih menyimpan satu halaman kecil kejujuran. Karena halaman itulah yang membuatnya tidak pernah bisa dibaca sepenuhnya — dan tidak pernah bisa dibenci sepenuhnya.'
'Dan halaman itu,' tambah Mitha, dengan tangan di perutnya, 'adalah halaman yang membuat cerita ini bisa berakhir. Kalau tiga puluh satu tahun lalu dia menyeberangi garisnya, tidak akan ada satu pun dari kita di ruangan ini malam ini.'
Malam itu juga, berita penangkapan Darmadi Sutanto meledak di seluruh negeri — dan untuk pertama kalinya, berita tentang kasus tiga puluh satu tahun itu tidak lagi berakhir dengan tanda tanya.
Ia berakhir dengan satu kata yang ditunggu dua generasi: **tertangkap**.