Hidup setelah perang, seperti yang pernah diramalkan Dara, ternyata memang membosankan — dan tidak ada satu pun orang di rumah besar itu yang mengeluhkannya.
Hari-hari berjalan dengan ritme baru: pagi-pagi diisi tangis Arka yang lapar (yang menurut Gunawan 'bersuara seperti cucu yang tahu haknya'), siang diisi Danu yang berangkat ke kantor dengan ritual perpisahan yang makin lama makin panjang ('Satu pelukan lagi. Satu lagi. Terakhir. Beneran terakhir—') sampai Mitha mengusirnya tertawa, dan sore diisi kunjungan-kunjungan yang tidak pernah habis.
Anya datang setiap akhir pekan dengan kado-kado yang makin absurd — mainan, baju, dan satu kali, satu set dasi bayi ('Supaya dia siap kerja sejak dini, Mit. Ekonomi tidak menunggu'). Dara dan Bisma yang menetap di rumah baru tidak jauh dari rumah besar, tapi praktis makan malam lima kali seminggu di rumah besar ('Rumah kalian lebih rame,' alasan Dara. 'Mesin kopinya lebih bagus,' alasan Bisma, yang membuat semua orang menatapnya karena semua tahu itu bukan soal mesin kopi).
Bram dan Saraswati menjadi tamu yang paling tidak disangka kehadirannya — dan paling dinanti. Saraswati membuka praktik psikologi anak di Jakarta, memutuskan menetap setengah waktu antara Jakarta dan Melbourne, dan menjadi orang yang paling sabar menghadapi Arka ('Profesinya akhirnya berguna di rumah ini,' katanya). Ratna memilih tetap di Melbourne, tapi kini terbang ke Jakarta tiap dua bulan — dan setiap kedatangannya, beranda belakang rumah besar itu selalu punya dua orang tua yang mengobrol sampai sore, tentang cucu-cucu dan hal-hal kecil, persis seperti ramalan Saraswati dulu.
Dan Bram — Bram menemukan panggilannya di tempat yang tidak pernah dibayangkannya: ia menjadi pembicara di sekolah-sekolah dan kampus-kampus, bercerita tentang dendam. Tentang anak tujuh belas tahun di lobi kantor koran. Tentang tiga puluh satu tahun yang hilang. Dan tentang apa yang terjadi ketika seseorang akhirnya turun dan berkata 'maafkan kami'. 'Saya tidak mengajar apa-apa,' katanya di undangan pertamanya, yang dihadiri keluarga besar itu di barisan depan. 'Saya hanya menceritakan harga yang harus dibayar ketika tidak ada satu pun orang dewasa yang mau turun ke lobi. Kalau di ruangan ini ada satu saja orang yang memutuskan untuk turun ke lobi suatu hari nanti — untuk satu anak yang berteriak mencari penjelasan — maka tiga puluh satu tahun saya tidak sia-sia.'
Di barisan depan, Mitha menangis tanpa suara. Di sebelahnya, Danu menggenggam tangannya. Dan di gendongan Mitha, Arka tidur pulas, tidak tahu bahwa ia sedang menyaksikan pamannya sendiri — paman dari cerita yang aneh dan panjang — berdiri di panggung untuk pertama kalinya sebagai orang bebas.
Proyek buku 'Tiga Puluh Satu Tahun' berjalan memasuki bab-bab akhir. Bab tulisan Gunawan tentang Larasati di redaksi selesai — dan ditolaknya untuk diedit, sesuai prediksi, sampai akhirnya Mitha membacanya dan berkata satu kalimat yang menyelesaikan semua perdebatan: 'Bab ini tidak perlu editor, Pak. Bab ini perlu dibiarkan persis seperti ini.' Dan bab terakhir buku itu — bab tentang pertemuan dua keluarga di satu meja — ditulis bergantian oleh Mitha dan Bram, dua orang yang paling tidak mungkin menulis bersama, yang justru karena itu menulis dengan kejujuran yang tidak bisa ditulis orang lain.
Suatu sore di beranda, saat semua kesibukan itu berhenti sejenak, Mitha dan Danu duduk berdua dengan Arka yang bermain di matras di depan mereka. Langit mulai jingga — warna yang selamanya akan menjadi warna mereka.
'Kamu pernah bilang di rooftop dulu,' kata Mitha, 'bahwa tidak ada langkah mundur, dan kamu akan terus bergerak maju, denganku di setiap langkahnya.'
'Aku ingat. Aku bahkan ingat aku mengatakannya dalam bahasa Inggris karena terlalu gugup untuk mengatakannya dalam bahasa Indonesia.'
'Kita sudah jauh sekali sejak sore itu.' Mitha menatap putranya yang sedang berjuang keras meraih mainannya. 'Kadang aku masih tidak percaya semua ini nyata. Lorong gelap itu, gelang ini, perang tiga puluh satu tahun yang ternyata menunggu kami di ujung jalan... Dan sekarang kita duduk di sini, dengan dia.'
Danu menatap Arka, lalu menatap istrinya — perempuan yang ditemukannya karena sebuah gelang berinisial "P" di lorong gelap, yang menjadi rumahnya, yang memberinya seorang putra bernama cahaya matahari.
'You know what?' katanya pelan, kembali ke bahasa yang selalu dipakainya saat hatinya terlalu penuh. 'I moved forward, with you in every step of the way. Just like I promised. And I will keep moving forward — the three of us now.'
'English again,' Mitha tertawa.
'Some things are only allowed to be said in English. It's the rule.'
'Rules are made by you, apparently.'
'Exactly. CEO privileges.'
Dan mereka tertawa di beranda itu, dengan langit jingga di atas mereka dan seorang bayi bernama Arka yang akhirnya berhasil meraih mainannya — dan mengangkatnya tinggi-tinggi, seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu.