Aku dibawa masuk ke sebuah rumah warga yang nggak jauh dari mobil yang terpaksa diparkir di tengah jalan.
Rumah yang sederhana dan seperti rumah jaman dulu itu ternyata banyak penghuninya. Ada enam bapak-bapak, empat ibu-ibu, delapan remaja dan empat anak kecil.
Begitu aku dan Steve masuk, empat orang lelaki langsung menggeser meja dan kursi serta menumpuk barang-barang di pintu seakan hendak menghalangi sesuatu.
Aku mau bertanya, tapi melihat kecemasan di wajah mereka pun akhirnya memilih menunggu sampai waktu yang tepat.
Wajah mereka sama-sama tegang. Tapi nggak heran sih sebab ada orang gilaa seperti perempuan tadi yang bisa menyakiti siapapun.
“Silakan duduk! Tolong jangan kaget dengan kejadian tadi. Dia hanya satu dari sekian banyak orang yang menjadi seperti itu sejak….” Laki-laki yang tadi menolongku nggak melanjutkan ucapannya. Tapi secara langsung aku tahu kalau ternyata ada banyak orang segila perempuan tadi.
“Siapa perempuan itu dan sebenarnya kenapa dia?” tanyaku sambil duduk lesehan di atas tikar yang terbuat dari daun pandan yang kering.
Steve duduk di sebelahku, memandangi orang-orang yang tadinya berdiri kini ikut duduk bergerombol di depanku.
Ruang tamu rumah ini sangat luas dan bisa menampung puluhan orang. Jadi pas kami duduk di atas tikar, ruangan menjadi terasa semakin luas.
“Anda siapa dan bagaimana anda bisa sampai sini?” tanya laki-laki tadi.
“Oh, ya. Saya Pak Parman, saya kepala desa disini,” ujar Pak Parman sambil mengulurkan tangan kepada Steve.
“Steve,” ujar Steve sambil menjabat tangannya.
“Bunga,” ucapku sambil menjabat tangannya.
Aku terkejut sebab kupikir mereka menghubungi Ki Mengkis untuk meminta bantuan. Tapi kalau Pak Parman bilang kenapa kami kesini, jelas mereka nggak tahu menahu.
“Kami kesini karena diminta orang untuk datang,” ujar Steve dengan logat Peter.
Rupanya Peter sudah menguasai badan Steve lagi. Dia memang sering muncul dalam kondisi dan situasi mendesak seperti sekarang. Kalau nggak ada masalah, Steve pasti yang akan muncul dan membuatku stress tapi jadi kangen kalau dia nggak ada.
Kasak-kusuk antar warga yang saling memandang satu sama lain membuatku sedikit menelengkan kepala.
“Tolong kami. Mereka sudah membuat desa ini hancur,” ujar seorang pria berkulit sawo matang yang mengenakan kemeja putih gading serta celana coklat gelap dan peci hitam.
Aku dan Steve saling memandang kemudian aku melihat lagi wajah-wajah sedih dan tegang dari orang-orang ini. Seorang gadis kecil menangis sesenggukan di pinggir pintu. Membuatku merasa kasihan meskipun belum tahu mengapa dia menangis.
“Kedua orang tuanya digigit Siti, perempuan yang menyerang mobil kalian,” ujar Pak Parman seakan tahu jalan pikiranku.
“Apa mereka sakit keras atau….” Aku nggak berani melanjutkan pertanyaanku takut kalau sampai mereka merasa tersinggung.
“Mereka tertular virus,” ujar Pak Parman.
“Apa maksud anda?” tanya Steve.
Pak Parman menghela napas berat sambil memandang atap rumah. “Mereka tertular. Menjadi zombie seperti Siti,” ucapnya dengan lemah.
OK-OK. Dia bilang zombie? Mana ada zombie di dunia ini? Wah nggak bener nih.
Aku merogoh gawai yang ada di tasku karena mau menghubungi Ki Mengkis. Aku harus tahu duduk masalahnya karena tadi Ki Mengkis nggak ngomong apa-apa.
Waktu mencari HP, nggak sengaja kompasku jatuh ke atas tikar. Jarum kompas itu berputar-putar nggak tentu arah. Aku heran dan akhirnya menunjukkan itu kepada Peter. Biasanya jarum kompas akan menunjuk ke hantu yang harus kutangkap. Tapi kalau muter-muter nggak jelas seperti ini apa jangan-jangan kompasnya rusak?
“Tolong aku! Bukakan pintunya!” seru seseorang dari luar.
Belum sampai mendapat jawaban dari Peter. Tiba-tiba pintu diketuk beberapa kali. Orang-orang sontak kaget dan wajah mereka menjadi sepucat mayat. Mereka serentak berdiri yang membuatku dan Peter ikut berdiri.
Empat laki-laki yang tadi bertugas menumpuk barang langsung siaga. Mereka menahan agar pintu nggak bisa dibuka.
“AAA.” Suara jerit kesakitan membuat suasana yang tegang semakin lebih menegangkan.
Teriakan dan suara aneh seperti hewan buas kelaparan membuat anak-anak memeluk orang-orang yang dewasa. Suara itu terdengar keras bersaingan dengan suara gedoran pintu dari banyak orang.
Meskipun nggak tahu jumlah pastinya, tapi dari suara itu aku bisa membayangkan ada puluhan orang yang menggedor pintu.
“Tahan, jangan sampai terbuka. Bawa anak-anak masuk ke kamar!” perintah Pak Parman yang membuat orang-orang bergerak cepat.
“Jangan lupa kunci pintu dan tahan!” lanjut Pak Parman.
Ibu-ibu, remaja dan anak-anak langsung masuk ke tiga kamar yang ada. Sementara para laki-laki membawa alat-alat seadanya untuk dijadikan senjata melindungi diri.
Ada yang bawa sekop, cangkul, linggis, celurit, golok dan bahkan ada yang hanya bawa tongkat kayu karena nggak dapat bagian senjata tajam.
Aku dan Peter pun bersiap dengan apapun yang terjadi meskipun aku masih merasa seperti masuk ke sebuah film tapi langsung di bagian tengah-tengah. Masih heran kenapa ini bisa sampai terjadi.
Pintu digedor dan didorong dengan keras. Membuat orang-orang semakin berusaha keras untuk menahan pintu agar nggak sampai dibuka. Peter pun ikut membantu. Sementara aku berdiri di belakang mereka, memasang kuda-kuda dan bersiap melakukan serangan kalau memang diperlukan.
Pak Parman dan dua orang laki-laki yang membawa linggis dan cangkul berada di sampingku. Membawa sekop dengan cara yang sangat kaku. Sudah jelas kalau orang itu hanya orang biasa yang nggak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Semua orang disini selain aku dan Peter tampak siap menyerang tapi aku bisa melihat ketegangan di wajah mereka.
Setelah perjuangan beberapa lama akhirnya perlahan pintu mulai bercela. Cela kecil itu terjadi karena orang-orang sudah nggak mampu melawan.
Cela itu semakin lama semakin besar hingga akhirnya terbuka lebar dan ada puluhan orang yang serupa mayat hidup menerobos masuk. Siti yang kepalanya berdarah ikut masuk dan baru kali ini aku melihatnya dari dekat.
Wajah Siti belepotan darah. Matanya putih semua dan jalannya kaku seperti robot. Membuatku ingat dengan kasus beberapa hari lalu.
Semua orang berusaha menyelamatkan diri dengan alat-alat seadanya yang mereka bawa. Tapi dengan lawan manusia serupa zombie seperti ini membuat mereka kocar kacir.
Siti mendekatiku dengan langkah kaku tapi pasti. Kuku-kukunya menghitam yang diulurkan untuk menangkapku. Gigi-giginya bertumbukan dengan bibir yang belepotan darah. Matanya putih semua dan kulitnya seputih mayat –dalam arti yang sebenarnya—.
Aku segera membaca ajian untuk membuat bola api kuning. Terus merapal hingga akhirnya api yang berbentuk seperti bola berwarna kuning yang menyala-nyala itu pun terbentuk. Aku segera melemparnya ke Siti, membuat perempuan itu terbakar dan jadi bergerak serampangan hingga menabrak pria berpeci dan kemejanya putih gading tadi.
Pak Parman memukul punggung pria berpeci hitam itu untuk mematikan api yang berasal dari Siti. Sementara Siti terus bergerak serampangan yang membuatku langsung menangkapnya waktu mendekati kayu-kayu yang menumpuk di dekat pintu.
Kalau sampai rumah ini terbakar pasti repot semuanya.
Zombie laki-laki, perempuan, nenek-nenek dan anak-anak mendekatiku dan hendak menggigitku. Tapi aku langsung menghajar mereka dengan tekhnik silat yang sudah lama nggak kupakai. Menendang, memukul dan sekaligus berusaha menghindar membuat mereka tumbang satu persatu.
Peter melakukan hal yang sama denganku. Hanya saja alih-alih membuat bola api, ia malah membuat tangannya bersinar seperti bara api. Dengan kedua tangan yang disentuhkan ke badan zombie-zombie itu hingga membuat mereka terbakar.
Zombie yang terbakar hebat pun masih bisa bergerak kemana-mana yang membuat api menyala dari kayu dekat pintu.
“STEVE, KURSINYA TERBAKAR. JANGAN SAMPAI KENA PINTU!” teriakku.
Aku menyerang zombie-zombie yang menghadang jalanku menuju kursi yang terbakar. Aku nggak mau kalau sampai pintu terbakar dan membuat kami dalam kondisi yang jauh lebih berbahaya lagi.
Aku mengambil kursi yang terbakar mau kubuang keluar tapi Siti malah menghadangku membuatku spontan memukulkan kursi yang terbakar itu di kepalanya.
Dengan kondisi yang seperti ini aku nggak bisa main mengeluarkan kemampuan. Bahkan Peter pun akhirnya nggak menggunakan kekuatannya karena terlalu berbahaya.
Pria berpeci hitam yang tadinya bisa melawan pun akhirnya tumbang. Lehernya digigit zombie nenek-nenek yang memakai kebaya tapi jariknya sudah nggak rapi.
“AAA!” teriaknya. Membuatku langsung mendekati mereka dan menghajar nenek-nenek yang kurus itu lalu dengan kekuatan penuh kulempar ke zombie yang menyerang bapak-bapak yang memakai kaos hitam.
Nggak lama setelah digigit, orang itu langsung menggelepar di lantai.
“Bersihkan tempat ini! Maksudku, usir mereka keluar rumah. Aku yang akan berhaga disini!” kata Peter yang membuatku langsung mengangguk menerima perintahnya.
Aku dan Peter bahu membahu mendorong zombie-zombie itu keluar dari rumah. Dibantu Pak Parman dan orang-orang yang masih selamat.
Pak Parman menarik kaki laki-laki berpeci yang lehernya berlubang dan berdarah-darah. “Bantu aku, Amir!” ujarnya kepada pria yang memakai kaos hitam.
Tapi sewaktu Pak Amir memegang kakinya, tiba-tiba ia terbangun dengan kondisi sudah seperti layaknya zombie.
Aku pun jadi tahu kalau ternyata zombie benar-benar ada.