Steve menghentikan ambulan tepat di hadapannya sampai aku merem takut kalau kami ditabrak. Tapi rupanya mereka berhenti tepat di depan kami.
Sopir ambulan mengeluarkan kepala dari jendela. “Woy, sinting!” serunya.
Memang Steve sinting dari dulu makanya nggak heran kalau tiba-tiba dia ekstrim begitu. Meskipun sudah lama aku lupa kalau dia bisa melakukan sesuatu secara tiba-tiba.
“Edan kowe. Gimana kalau mereka sampai menabrak kita,” makiku sambil memukul pundaknya.
“Ya minta pertolongan pertama, Hon. Kan mereka petugas medis juga,” jawaban Steve sontak bikin aku kembali memukulnya.
“Kalau pacaran jangan ngawur. Kalo mati disini, nyesel kalian,” kata petugas yang duduk di sebelah pak sopir.
Yaelah siapa juga yang pacaran ih, wong kita suami istri kok.
“Malah turun. Woy, kalian nggak