Baru kali ini aku melihat Pak Trisno bergitu kaget dan panik. Ia masih berada di posisi yang sama untuk beberapa lama sampai akhirnya terbangun karena sentuhan tangan Wanto yang memanggilnya.
"Maaf-maaf,” ujarnya sambil membenarkan dirinya sendiri.
Pak Trisno basah kuyup lagi padahal badan n pakaiannya baru kering. Ia berdehem lalu memandangi kami satu persatu.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan,” ujarnya sambil meminta Pak Wanto untuk berjalan lebih dulu lalu dia ada di belakangnya.
Aku memandang gedebong pisang yang tadi disangka mayat itu. Benar-benar penampakan yang estetik.
Perjalanan dilanjutkan lagi dengan menyusuri aliran sungai yang airnya makin lama makin deras.
“Kemungkinan nggak jauh lagi ada air terjun, Pak,” ujar Pak Wanto, tapi Pak Trisno masih terdiam saja.
Sepertinya P