Dokter dan perawat mengerubungi Kiara untuk memeriksa kondisinya. Semua orang bekerja dengan cekatan. Seorang dokter melakukan pijat jantung alias CPR. Bahkan ada yang menggunakan alat yang ditempelkan dadanya Kiara.
Aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca yang kelambunya terbuka. Karena jam besuk sudah selesai, para keluarga dan teman pasien nggak bisa masuk begitu saja. Sangat berbeda dengan pasien opname biasa yang bisa dikunjungi kapan saja.
“Semoga ada kabar baik,” ungkapku sambil menggigit kuku.
Tapi aku sadar kalau Kiara dalam kondisi sangat mengenaskan. Kalau dokter sampai mengerubungi dan melakukan pijat jantung, itu artinya nyawa Kiara sedang terancam.
“Apa keluarganya nggak ada yang jaga?” tanya Peter kepada Permana yang selalu ada di ruang tunggu, menunggui artisnya yang