Berjalan di belakang Pak Kades yang jalannya santai banget sambil mengeluarkan asa rokok dari mulut dan hidungnya, bikin aku gemas sebab tempat yang kami tuju ternyata lumayan jauh. Melewati pematang sawah yang bentuknya terasiring, melewati tanjakan lalu turunan dengan jalan yang berbatu.
Pak Kades mendesis, tapi bukan karena memikirkan sesuatu. Aku bisa sangat yakin sebab kebanyakan perokok yang kutemui sering melakukan itu. Tapi aku nggak tahu alasannya.
“Desa disini memang masih agak … tergolong tertinggal. Rumah-rumah juga jarang sekali,” ungkapnya kepada Peter yang berjalan di sampingnya.
"Kok Bapak santai sekali, padahal ada warga yang meninggal, nggak wajar pula,” ucap Peter yang bikin Pak Kades mengangkat satu alisnya.
“Dia sudah meninggal. Nggak mungkin jadi hidup meskipun ak