“Pak, boleh lihat selimutnya?” tanyaku bikin Pak Tu aitu menghentikan langkah lalu memutar badan.
Mbah-mbah itu sama seperti mbah-mbah pada umumnya. Memakai kaos abu-abu lusuh dan celana panjang dekil semata kaki. Rambutnya abu-abu keputihan dan kulitnya sawo matang yang sudah penuh kerutan.
Beberapa lama mbah-mbah itu memandangku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku nggak tahu kenapa dia melakukannya, tapi kelakuannya sangat nggak sopan. Seperti orang yang ingin melakukan sesuatu kepada perempuan saja. Ini salah satu bagian dari pelecehann bukan?
“Kenapa, Mbah?” tanyaku jengah.
“Nggak papa. Maaf, Nduk. Tapi selimut ini udah ada pemesannya,” ujarnya.
Mbah-mbah itu langsung memutar badan dan melangkah menjauh. Aku mau mengejarnya tapi Peter menahan lenganku.
"Kita ikuti dari belak