Suara ketukan di pintu membuat aku dan Steve menoleh dengan cepat. Sosok pria tinggi dengan pakaian serba cokelat muncul di sana. Perawakannya nggak terlalu besar dan cenderung kurus, dan sepertinya pria itu sudah berusia lima puluh tahunan.
“Mbak Bunga dan Masnya ya?” ucap pria itu dengan suara rendah dan sopan.
Aku beranjak dari sofa dan mengulurkan tanganku untuk terlihat sopan. Kalau kata orang bijak sih, ini namanya pencitraan. “Bapak Sarjimin, betul?”
Pria itu membalas jabatan tanganku. Terlihat sekali kulitnya sudah banyak yang dipenuhi keriput. Bahkan ketika Bapak Sarjimin mengulas senyum di bibirnya yang pucat, dia sudah sangat mirip dengan Mbah-Mbah yang sering kutemui di rumah masa kecilku dulu.
“Betul.” Aroma minyak wangi yang menyengat langsung tercium olehku. Sepertinya